Pesan Perempuan di Ruang Sidang


Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Kursi-kursi itu selalu banyak yang kosong, warnanya yang cokelat tua makin menambah kemuraman. Walau gedung ini adalah gedung baru, namun ruangan ini memang bukan ruang yang menyenangkan bagi banyak orang.

Namun para buruh perempuan, berhasil menyulap ruang kelam ini menjadi keriaan. Coba saja anda datang setiap selasa, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Anda akan melihat hal yang berbeda. Ruang pengadilan Negeri di jalan Bungur Raya ini selalu terlihat semarak setiap Selasa datang. Ruangan yang biasanya sunyi senyap, yang biasanya hanya berisi beberapa pengunjung pengadilan yang duduk, kini jadi ramai ketika selasa tiba.

Puluhan buruh memenuhi ruang sidang pengadilan untuk mengikuti persidangan kasus kriminalisasi 26 aktivis buruh, satu mahasiswa dan 2 pengacara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. 4 diantara yang ditangkap merupakan buruh perempuan. Sudah 5 bulan berlalu, dan kasus kriminalisasi belum juga selesai.

Bagi para buruh perempuan, ruang pengadilan yang biasanya sunyi senyap, selalu bisa disulap seperti panggung teater.

Hari ini misalnya, 2 buruh perempuan anggota Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP), Jumisih dan Dian Septi membacakan puisinya ketika hakim mulai memasuki ruang pengadilan untuk mendengarkan kesaksian dari Direktur LBH Jakarta, Alghifari Aqsa.

“ Pengadilan bisa terlambat, kami hanya aksi “telat” membubarkan diri langsung ditangkap.”
Begitu protes para buruh perempuan menyikapi kasus yang menimpa mereka, pengadilan yang lama, juga persidangan yang selalu terlambat.

Sebelumnya pada tanggal 25 Oktober 2015, para buruh ditangkap setelah menggelar aksi penolakan terhadap PP Pengupahan 78/2015. Dan kini para aktivis buruh dan pengacara ini menjadi terdakwa di pengadilan.

Di hari lain, para buruh perempuan kemudian merangkai berbagai aksi menarik. Para terdakwa harus masuk ke ruang sidang dengan menggunakan baju bertuliskan: terdakwa. Hari lain lagi, mereka memasuki ruangan dengan bernyanyi.

9 Mei 2016 lalu para buruh perempuan juga menggelar teater di depan Pengadilan. Teater mereka sampai dibubarkan polisi yang berada di pengadilan. Para buruh terlihat berjejer di halaman pengadilan. Mereka menggelar pementasan teater di siang kemarin. Teater ini menggambarkan para buruh yang berjuang dan akhirnya meninggal karena perjuangannya. Ada juga tentang buruh yang duduk di meja terdakwa. Cerita ini menggambarkan bagaimana buruh perempuan asal Sidoarjo, Marsinah yang tewas terbunuh, Bastian, buruh yang meninggal karena membakar diri dalam perjuangannya di Senayan setahun silam.

Tak hanya di dalam gedung, namun mereka juga menggelar teater, aksi, membacakan puisi di jalan raya di depan pengadilan.

Teater dan pembacaan puisi yang digagas para buruh perempuan ini memang menjadi salah satu bagian perjuangan mereka. Dalam kasus ini misalnya, jalur hukum tetap mereka ikuti. Namun disisi lain, mereka juga menunjukkan kekuatan dalam pementasan teater, pembacaan puisi yang mereka gagas. Bahasa-bahasa perjuangan inilah yang kemudian selalu mereka narasikan. Bagi para feminis, hal yang dilakukan ini merupakan perjuangan perempuan bagaimana menjadikan ruang dari suara perempuan yang harus diperdengarkan kepada semua orang.

Teater, puisi adalah alat untuk berbicara, dan bagaimana mereka kemudian menyampaikan pesan politik mereka.