Setundun Harapan Perempuan Penjual Buah

Poedjiati Tan- www.konde.co

Pasuruan, konde.co- Ini adalah cerita sederhana dari seorang perempuan penjual buah-buahan yang saya temui beberapa hari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia, beberapa waktu lalu. Rumahnya di Pandaan-Pasuruan, Jawa Timur. Namanya Ika Farida.

Ika Farida telah 24 tahun berjualan buah-buahan khususnya pisang di parkiran sebuah rumah makan Ayam Goreng Sri di Pandaan-Pasuruan. Dia bersama suami dan  adiknya, kini menggantikan ayah  mereka yang sebelumnya berjualan disitu.

Kini usianya telah 45 tahun dan anaknya dua orang, berusia 24 tahun dan 19 tahun. Anak pertamanya perempuan, sudah menikah dan sudah memiliki putra yang berusia 5 tahun. Anak pertamanya ini kini bekerja sebagai Caddy di Trawas.

Suaminya dulu bekerja tapi kini membantu dia berjualan dan kulakan buah. Ika mengatakan kalau kini ia harus membeli buah dari tengkulak, karena di sekitar sini sudah tidak ada lagi perkebunan pisang atau petani buah yang bisa menjual dagangannya. Ini sangat ironi tentu karena seharusnya di Indonesia, buah seperti pisang tumbuh dengan subur dan gampang didapat. Dulu, pisang bahkan banyak ditanam di kebun-kebun pekarangan penduduk.

“Kadang kalau tidak musim buah pisang, suami saya sampai harus ke Kediri untuk mencari pisang dan harganya sangat mahal, bisa sampai 500 ribu satu tundun,” ujar Ika Farida.

Dengan kondisi ini, maka Ika tak pernah bisa meramalkan berapa keuntungannya setiap bulan. Yang penting dia bisa kulakan lagi, bayar arisan, cicilan, beli elpigi, bayar lampu dan beli pulsa.

Sebulan saya mendapat, mungkin sekitar 3juta- 4 juta, Mbak!,” Katanya sambil sibuk melayani pembeli.

Dia tidak tahu sampai kapan dia akan berjualan pisang, dan dia juga tidak tahu apakah anaknya mau menggantikan dia berjualan pisang di parkiran restoran. Karena berjualan pisang seperti ini sudah turun-menurun di keluarganya. Sehabis ayahnya, kini menurun ke dia dan adiknya.
Saya iseng-iseng bertanya, apa sebenarnya harapan para perempuan penjual buah di moment kemerdekaan ini?

Ika menjawab jika ia ingin harga bisa murah dan para pembeli lebih menghargai pedagang kecil seperti mereka.

“Kalau mereka beli di supermarket nggak pernah nawar dan langsung bayar! Padahal pisang satu cengkeh itu 40rb sampe 50rb di supermarket. Disini satu tundun isi 6 cengkeh ditawar 100rb, saya tawarkan 150rb kepati nggak mau lho mbak! Padahal kalau diitung 1 cengkeh cuma 25rb lho. Padahal saya cuma untung 10rb daripada nggak laku!,” Ceritanya dengan semangat.

Lalu ia berkata lagi.

“Kalau bisa supermarket itu menjual buah dari petani dan pedagang lokal bukan beli dari China, mbangkok, Australi!,” Sahutnya lagi.
Mungkin yang dimaksud tidak menjual buah import tapi lebih mengutamakan menjual buah lokal. Beginilah nasib pedagang buah di Indonesia, selalu bersaing dengan pasar buah import yang dijual di supermarket-supermarket besar.

Banyak nasib pedagang seperti Ika ini. Tak hanya penjual buah, tetapi juga penjual sayur, beras dan masih banyak lagi. Mereka harus bersaing secara ketat dengan buah impor yang terlihat lebih segar dan dalam kemasan yang dibuat menarik. Padahal menurut saya, buah lokal rasanya tak bisa dibandingkan dengan buah impor. Buah lokal selalu terasa manis dan berbeda.

Dan berjualan di pinggir jalan dengan modal kecil seperti Ika dan keluarganya, pasti tak sama dengan menjual pisang bermodal besar di supermarket, dengan tempat yang serba dingin dan enak.


Ika berharap, nasib penjual buah akan lebih baik, maka pemerintah harus mengatur ini semua. Kini, keinginannya yang terbesar adalah ia bisa punya toko sendiri dan bisa berjualan di rumah. Karena jika berjualan di rumah, pekerjaan lainnya bisa disambi, misalnya sambil momong cucu. Dan juga tidak lagi jualan di parkiran mobil, pekerjaan yang telah ditekuninya puluhan tahun lamanya.

Foto :Koleksi Pribadi