Bukit Duri, Kemana Aku Akan Pulang Hari Ini?


Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co- Sandyawan Sumardi, tampak tergetar saya menemuinya pagi ini. Setelah ‘menunggu’, akhirnya hari itu datang juga, begitu batin saya. Hari dimana Kampung Bukit Duri di Jakarta diluluhlantakkan buldozer. Hari dimana kekuasaan telah menghabisi air mata anak-anak dan perempuan Bukit Duri.

Kami adalah penyaksi para perempuan Bukit Duri yang menangis, penyaksi anak-anak yang kehilangan tempat tinggalnya. Menyaksikan dari dekat bagaimana kampung yang sudah membesarkan mereka selama ini, telah rata dengan tanah.

Enyah kau buldozer, enyahlah kepongahan. Makan saja kekuasaanmu. Puas kau lihat anak-anak dan perempuan kini lari terbirit mencari tempat tinggal barunya? Berdesak-desakan mengontrak rumah di Poncol, tak jauh dari tempat gusuran?. Hanya agar tetap dekat dan menyimpan rumah yang telah tergusur sebagai kenangan, hanya biar masih bisa mengintip luka dan kenangan manis lebur jadi satu disana?

Dengan mengenakan baju putih semburat keunguan, Rabu 28 September 2016 hari ini, Sandyawan Sumardi, pendamping dan guru bagi anak-anak Bukit Duri dengan tenang selalu berada diantara masyarakat yang tergusur.

Ia penyaksi bagaimana buldozer menghabisi Sanggar Ciliwung, tempat dimana anak-anak Bukit Duri selama ini belajar dan berkesenian. Sandyawan adalah guru, yang melihat sekolah anak-anaknya dirubuhkan secara serakah.

Atap yang pelan-pelan runtuh, rumah yang rontok, bersama serpihan sajak-sajak anak-anak Ciliwung. Mengalir deras hingga turun ke kali.

Saya tak sempat mengatakannya,” tuhan tidak pernah tidur, pak Sandy.”

Tapi mulut ini kelu. Tak bisa mengatakan apa-apa. Benarkah tuhan tak pernah tidur, setelah saya menyaksikan kampung ini rata dengan tanah?. Saya memilih untuk berdiri berada di dekat Pak sandy. Siapa tahu, bisa sedikit meringankan bebannya.

Di sekitar saya, banyak ibu, anak-anak perempuan Bukit Duri dan pengurus Sanggar Ciliwung yang membunyikan kentongan dari bambu, dari ember sisa-sisa gusuran, dan sekenanya bertepuk tangan. Mereka mundur, meringsek ke belakang setelah diminta mundur oleh polisi dan Satpol PP. Mundur, kami akan menggusur rumah-rumah kalian.


Bagaimana kami bisa mundur jika kau mengambil rumah kami?. Bagaimana kami bisa mundur jika kau mengambil seluruh jantung hidup kami? Saya merasakan betul jeritan banyak anak-anak dan perempuan disana. Pemuda-pemuda berbaju kuning hitam yang memanggul botol air mineral yang mereka tabuh sebagai kentongan. Airmata yang telah habis, kecemasan yang terus-menerus. Dan inilah saatnya. Berteriak sekerasnya agar bisa menghentikan buldozer jahanam itu.

Tapi apa mau dikata. Semua usaha sudah dilakukan. Semua daya upaya sudah dikerahkan.

“Tak ada yang mau menemui kami hingga sampai titik terakhir. Banyak orang menghindar ketika tahu kami akan tergusur,saya menemui mereka satu-persatu, namun tak ada yang mau menemui kami,” kata Sandyawan Sumardi.

Kami semua tertunduk di atas bongkahan batu gusuran. Diantara suara ramai polisi dan Satpol PP yang tetap berdiri berjejer di rumah-rumah tergusur.

Beberapa kawan aktivis perempuan seperti Dhyta Caturani yang datang ke Bukit Duri tadi mengatakan,” Bagaimana mungkin ya pak, padahal bapak sudah menolong banyak orang selama ini?”

Sandyawan hanya tersenyum kecil. saya tahu, ia tak mau membuat yang lainnya jadi frustasi. Ia tetap berdiri tenang dan menceritakan apa yang sudah dilakukan warga Bukit Duri untuk menghentikan buldozer menghabisi kampung hari ini.

Walau suaranya gemetar. Kecewa, geram dengan janji Jokowi yang pernah berjanji tidak akan menggusur dan membangun kampung deret di Ciliwung ini. Namun, nyatanya buldozer tetap datang hari ini, bersama musnahnya janji-janji itu.

“Dulu anak-anak disini menciptakan lagu untuk Presiden Jokowi, untuk Gubernur Jokowi. Tapi apa yang terjadi sekarang ini? Anak-anak telah digusur di rumah mereka sendiri, di tanah air mereka sendiri.”


Merinding. Kawan saya yang lain berkomentar melihat ‘pertunjukan’ di pinggir Ciliwung hari ini. Ia ingat bagaimana Sanggar Ciliwung selama ini sebagai tempat untuk pendidikan anak-anak Ciliwung. Sanggar ini sudah melahirkan banyak pemain teater baru, penyanyi baru. Anak-anak yang belajar percaya diri untuk pentas di depan umum. Anak-anak yang percaya bahwa perjuangan tanpa titik akhir akan membuahkan hasil.

Namun apakah Gubernur DKI Jakarta, Ahok Basuki Purnama tahu hal-hal yang hidup di kampung ini? Denyut yang menghidupkan kampung?. Ia tak pernah tahu. Tak pernah memahami bahwa buruknya hidup dan menjadi tergusur. Meninggalkan trauma. Mematikan harapan anak-anak Ciliwung. Atas nama pembangunan. Lagi-lagi hanya itu. Terlalu dibuat-buat. Sekarang kutanya, pembangunan apa yang telah menggusur anak-anak dan perempuan?

Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani sangat heran dengan penggusuran ini. Padahal proses hukum soal gugatan warga masih berjalan di pengadilan dan Komnas HAM sudah meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menghentikan penggusuran sampai ada proses inkracht, namun yang terjadi hari ini sangat diluar dugaan.

“Inilah yang membuat frustasi warga negara Indonesia. Warga sudah menyelesaikan proses ini di pengadilan, namun penggusuran tetap dilakukan. Bagaimana warga tidak frustasi melihat pemerintah tidak menghormati proses hukum yang sedang berjalan?” kata Siane Indriani. Siane datang di tengah warga yang tergusur siang hari tadi.

LBH Jakarta menyatakan bahwa tindakan penggusuran yang dilakukan aparat pagi hari tadi justru membuat warga menjadi resah, aparat kepolisian seharusnya memberi perlindungan dan rasa aman supaya tidak terdampak kekerasan. Namun apa yang terjadi? Satu-persatu rumah sudah rata bersama puing.

“Mereka hanya polisi dan Satpol PP yang menjadi pesuruh saja. Mereka hanya petugas di lapangan, namun mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan,” ujar Sandyawan mencoba menenangkan anak-anak muda disana.

Sejak Desember 2015 lalu, kecemasan ini  terus melanda Kampung Bukit Duri karena mereka terancam akan digusur. Tempat ini akan digunakan sebagai proyek normalisasi sungai. Jika digusur, tak ada lagi perbincangan di kampung di malam hari, keriuhan dan kesederhanaan kampung seperti yang selama ini mereka rasakan.

Para ibu juga akan kehilangan pemasukan ekonomi. Karena rata-rata mereka sehari-harinya berjualan kelontong di rumah-rumah mereka atau menjadi buruh cuci dan seterika di sekitar kampung ini. Penggusuran ini membuat warga harus pindah ke rumah susun.

Sejumlah warga sudah mulai diminta mengosongkan rumah dan mengambil kunci rumah susun. Warga kebingungan, bagaimana soal ganti rugi atas rumah mereka? Ini tak pernah dibicarakan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Penggusuran atas nama apapun, selalu tak pernah mudah bagi perempuan. Pada penggusuran yang terjadi sebelumnya di Jakarta, para ibu korban penggusuran yang dipindahkan ke rumah susun mengeluhkan, mengapa harus menyewa lahan untuk berjualan, karena itu tak mudah bagi mereka buat yang pendapatannya pas-pasan. 

Mereka juga tak lagi bisa menjadi buruh mencuci dan mengosok di sekitar rumah mereka dulu karena jarak yang menjadi jauh. Kebiasaan-kebiasaan seperti harus naik turun lift serta kehidupan yang berbeda dari suasana kampung harus mereka ikuti, seperti tak pernah bertemu dan berbincang dengan warga lain seperti dulu, hal ini membuat mereka merasa terasing tinggal di rumah susun. Semua serba tertutup dan tak ada acara ngobrol dengan tetangga lagi di sore hari. Karena rumah bagi perempuan bukan hanya menjadi tempat tinggal, namun tempat untuk berbagi dan bercerita.

Di rumah susun mereka juga harus membayar biaya sewa, membayar air dan harus menyewa tempat berjualan yang relatif mahal bagi warga. Sebulan warga bisa mengeluarkan uang 1 juta rupiah untuk membayar tempat tinggal dan menyewa tempat berjualan di rumah susun. Ini yang selalu membuat warga cemas. Para ibu tentu harus berjualan dengan cara menyewa tempat disana, padahal selama ini uang pendapatan mereka untuk berjualan selalu hanya cukup untuk makan saja.

Sore ini saya kembali datang melihat Bukit Duri dengan beberapa jurnalis lain. Waktu beranjak malam. Ada suara seorang ibu di tengah tumpukan puing.

“Rumah kami telah digusur tanpa adanya kompensasi. Baju-baju kami sudah kami masukkan di dalam gerobak biar kami bisa pakai buat besok.Mbak bisa bayangkan, kemana kami akan pulang malam ini? ”

Saya terduduk.

Tak sanggup mengatakan apa-apa.



( Penggusuran Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan Rabu 28 September 2016 hari ini. Foto: Damar Juniarto dan Ardi Bramantyo)