Diversity Award, Sebuah Penghormatan pada Keberagaman


Luviana – www.konde.co

“Sekarang lihatlah kanan kiri anda, ada yang berbaju batik, ada yang kotak-kotak, ada yang memakai kaos dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa kita ini beragam. Dan dalam keberagaman inilah kita harus menurunkan subyektifitas kita dan menghormati keberadaan manusia lain.”


Jakarta, Konde.co – Karlina Supelli, dosen filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara dan juga seorang astronom perempuan pertama di Indonesia, menutup pidato kebudayaan pada Rabu, 31 Agustus 2016 malam kemarin, dalam acara “Diversity Award” yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) dengan kalimat yang sederhana.

“Negara ini tidak bisa diserahkan kepada mereka yang tidak menghargai keberagaman, pada mereka yang takut akan keberagaman,” ujar Karlina Supeli.

Kalimat ini ia ucapkan dengan banyaknya kejadian di Indonesia, persepsi tentang ilmu pengetahuan yang mengalahkan kemanusiaan, datangnya teknologi yang kemudian justru menyebarkan kebencian, juga desas-desus soal rasisme yang juga menebar kebencian.

Teknologi yang merupakan salah satu hasil dari temuan ilmu pengetahuan misalnya yang seharusnya hadir untuk membantu menyelesaikan persoalan, namun justru malah digunakan untuk menebar kebencian. Teknologi di dunia maya adalah teknologi yang digunakan banyak orang saat ini seperti di sosial media, Karlina menyatakan bahwa teknologi dunia maya adalah teknologi luar biasa yang membuat demokratisasi pengetahuan berjalan cepat dan tidak terbatas. Namun teknologi ini juga bisa menyebarkan komentar dan komentar itu kadang melukai dan menyingkirkan orang lain dan bahkan membuat kita saling membenci orang lain.

“Masalahnya memeriksa akan membutuhkan jerih payah yang lebih besar ketimbang sekedar meneruskan kabar, jika tak memeriksa maka bisa menimbulkan kebencian,” ujar Karlina.

Karlina dalam pidato kebudayaan berjudul “Masyarakat ilmiah vs Masyarakat takhayul” ini kemudian menyatakan bahwa pemikiran ilmiah adalah sebuah pemikiran yang masuk akal.

“Pemikiran ilmiah adalah pemikiran yang masuk akal, jadi berpikir, bertindak, bersikap yang masuk akal. Sedangkan pemikiran takhyul di masa demokrasi sekarang ini adalah pemikiran orang-orang yang begitu mudah berubah bentuk, misalnya pura-pura menjadi orang baik, namun sebetulnya ia korupsi ,” ujar Karlina.

Karlina juga menyoroti sejumlah kelompok yang tidak menyukai adanya kelompok lain karena kelompok ini terlihat berbeda.

“Saya mengambil kalimat dari salah satu teman saya yang mengatakan, jika kamu membenci seseorang dan tidak mau ia ada di dunia ini, ini sama artinya kamu tidak menyukai Tuhan yang menciptakan mereka.”

Sejuk di tahun 2016 ini kembali memberikan diversitiy award pada sejumlah jurnalis yang banyak menulis soal keberagaman.  Koordinator Sejuk, Ahmad Junaedi menyatakan bahwa Diversity award ini memang selalu diadakan oleh Sejuk setiap tahunnya bagi para jurnalis untuk mengapresiasi isu-isu keberagaman di Indonesia, isu minoritas yang belum banyak mendapat tempat selama ini. Para jurnalis yang terpilih inilah yang kemudian banyak menuliskan soal perbedaan dan keberagaman di Indonesia.

“Penghargaan ini diberikan kepada pemberitaan media dan jurnalis yang dianggap memberikan kontribusi dalam merawat keberagaman, dan membela kelompok yang selama ini terpinggirkan dan menjadi sasaran kampanye kebencian kelompok yang tidak toleran,” ujar Ahmad Junaedi.

Dalam pidato kebudayaannya, Karlina juga menyinggung soal keberadaan media. Ia menyatakan bahwa di media ada hukum ekonomi, ada supply dan demand. Jika merujuk pada pertimbangan bisnis, pasti rujukannya dari apa yang paling laku. Namun jurnalis seharusnya bekerja bukan hanya memuaskan selera masyarakat, tetapi menjadikan informasi sebagai dasar untuk membangun pengetahuan dan membantu memperluas pemahaman kita akan dunia.

“Dengan kata lain, wartawan bukan hanya menyatakan kejadian atau memberi informasi, namun menjelaskan kepentingan dan akibat kejadian pada penghidupan sekitar.”


Dalam acara ini, pasangan penyanyi Ari-Reda juga menyajikan musikalisasi puisi dari puisi-puisi karya Sapardi Joko Damono, mereka tampil dengan sangat memukau pengunjung yang hadir dalam acara ini.


(Karlina Supelli, dosen filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara dan juga seorang astronom perempuan pertama di Indonesia, menutup pidato kebudayaan pada Rabu, 31 Agustus 2016 malam kemarin, dalam acara “Diversity Award” yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) dengan kalimat yang sederhana/ Foto: Luviana)