Literasi Media Perempuan


Luviana – www.konde.co

Apa pentingnya literasi media bagi perempuan, dan mengapa perempuan harus mengetahui soal ini? Secara umum, awalnya definisi literasi media atau melek media merupakan kemampuan untuk membaca dan menulis.

Dalam teori komunikasi misalnya, literasi media kemudian dipahami sebagai sebuah kemampuan untuk: menganalisis berita secara kritis. Kemampuan tersebut antaralain kemampuan untuk menuliskan berita dan menyebarkan tulisan dari perspektif masyarakat marginal.

Literasi media ini tumbuh ketika banyak media yang dinilai tidak kritis, hanya menjadikan media untuk kepentingan bisnis, menyukai hal yang sensasional, dll.

Praktek literasi media kemudian banyak tumbuh subur dengan tumbuhnya media komunitas yang mengedepankan suara warga yang selama ini tak pernah terdengar atau ditulis oleh media mainstream. Media komunitas radio dan televisi misalnya kemudian tumbuh di kalangan masyarakat pedesaan. 

Tujuan media komunitas menurut salah satu ahli komunikasi Denis McQuail adalah: memberikan pelayanan informasi isu-isu dan problem universal, tidak sektoral dan primordial. Selain itu mengembangkan budaya interaksi yang pluralistik, untuk penguatan eksistensi kelompok minoritas dalam masyarakat dan memfasilitasi atas proses menyelesaikan masalah menurut cara pandang masyarakat lokal.


Literasi Media bagi Perempuan

Definisi dari melek media yang muncul pada awalnya yaitu kemampuan untuk membaca dan menulis, seringkali justru digunakan untuk mendiskriminasi perempuan minoritas dan perempuan dunia ketiga. Dalam Maggie Humm, Dictionary Feminist Theory, Charlotte Bunch kemudian mendeskripsikan politik feminis mengenai apa itu literasi media bagi perempuan:

1. Literasi media merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan dan informasi

2. Literasi merupakan akses perempuan terhadap interpretasi realitas untuk meningkatkan kapasitas pemikiran.

3. Sekaligus tindakan ketidaktaatan terhadap norma-norma budaya dan persepsi alternatif untuk bertindak secara politik

Bagi feminis, literasi kemudian digunakan sebagai kritik untuk melihat naskah-naskah yang patriarkhi dan tidak berpihak pada perempuan. Kritik sastra feminis misalnya digunakan untuk mendekonstruksi politik patriarkhi yang sebagaimana sering direpresentasikan dalam tulisan-tulisan atau bahasa yang misoginis atau membenci perempuan.


Strategi Literasi Media Perempuan

Strategi penulisan dalam literasi perempuanpun dibuat secara berbeda karena mengambil sudut pandang perempuan, dengan bahasa yang berbeda. Di negara kepulauan seperti Indonesia yang sangat beragam penduduknya, media komunitas berperspektif perempuan dipandang paling berpeluang untuk memenuhi semua tujuan tersebut.

Karena secara definitif media komunitas kemudian diyakini berpeluang sebagai medium antisipasi, untuk memfasilitasi dan sebagai mediasi dialog. Bentuknya bisa macam-macam, bisa radio, televisi maupun cetak dan online. Media komunitas perempuan intinya harus mengedepankan suara-suara perempuan yang selama ini tidak pernah terdengar atau ditulis oleh media mainstream.

Media inilah yang kemudian yang dibutuhkan perempuan untuk menulis secara kritis tentang sejarah yang salah tentang perempuan, praktek patriarkhi maupun menuliskan norma-norma yang mengekang perempuan.