Siti Soendari, Menulis Adalah Caraku Melawan (2)


Siti Soendari adalah seorang perempuan yang pada masanya punya ketajaman pena, cerdas dan berani. Berulang kali, ia bahkan berurusan dengan kepolisian rahasia negara Belanda. Tulisannya membuat berang Belanda dan membuat merah telinga para lelaki.

Minat Siti Soendari untuk menulis sudah muncul sejak masih sekolah. Tulisannya kerap mewarnai majalah dinding sekolah. Tak heran bila Siti Soendari menguasai bahasa Belanda dengan baik sehingga sering dimuat di terbitan Belanda. Selain memiliki kemampuan berbahasa Belanda, Soendari juga menguasai bahasa Inggris, Jerman dan Perancis. Namun, Siti Soendari lebih memilih menulis dengan menggunakan bahasa Melayu sekolahan yang dengan keras mengecam kolonialisme Belanda. Hingga segala aktivitasnya menjadi perhatian pemerintah Belanda waktu itu.

Sebagaimana gadis pada umumnya seperti yang dialami Kartini, Siti Soendari juga menjalani pingitan di rumahnya, di Pemalang. Namun hal itu tidak menghentikan keaktifannya menulis untuk mengecam Belanda. Tulisan – tulisan Kartini dan pertemuannya dengan Tirto Adi Soerjo dan Marco Hadikromo memicu semangatnya untuk terus menulis.


Siti Soendari Kecil


Siti Soendari sendiri merupakan anak perempuan dari seorang Pegawai Pegadaian Negeri Pemalang dan  dibesarkan oleh bapaknya–yang lulusan STOVIA —dalam lingkungan yang sadar pendidikan. Dia terlahir dengan nama Siti Soendari Ruwiyo Darmobroto, anak terakhir dari dua bersaudara. Ayahnya adalah sahabat dari Tirto Adhi Suryo.

Selain aktif menulis, Siti Soendari juga merupakan orator ulung. Dalam novel Pramoedya Ananta Toer, dikisahkan Siti Soendari sempat memimpin rapat akbar buruh yang diadakan oleh VSTP (Serikat buruh kereta api) di Semarang. Disana, ia berorasi tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semua peserta rapat akbar terkagum-kagum dengannya, bukan hanya karena ia perempuan namun juga keunggulannya berpidato sama hebatnya dengan Soekarno.

Selain itu, Soendari adalah anggota dan juga pengurus VSTP, dia aktif dan ikut membangun cabang-cabang VSTP, terutama di Pacitan dan sekitarnya. Situasi politik pada waktu Soendari mulai terlibat dalam pergerakan memang sedang meninggi, aksi-aksi pemogokan terjadi dimana-mana, organisasi-organisasi perlawanan pribumi tumbuh, pembakaran ladang-ladang tebu, memberikan landasan obyektif mendorong kemajuan Soendari.


Ditangkap Terus-Menerus oleh Belanda


Seperti  pejuang-pejuang pembebasan nasional lainnya, Siti Soendaripun tak lepas dari pengamatan intelejen Belanda. Ketika sebuah rapat akbar tengah diselenggarakan oleh VSTP di saat yang bersamaan terjadi pembakaran ladang-ladang tebu oleh para petani tebu di Pemalang. Pemerintahan Belanda tidak tinggal diam, Siti Soendari menjadi tersangka utama pembakaran ladang tebu dan Siti Soendari kemudian hendak ditangkap. Namun,  dia berhasil lolos pada waktu itu karena diselamatkan oleh anggota VSTP dan bapaknya yang kemudian melarikannya ke Belanda.

Sebelumnya, Siti Soendari mengenyam pendidikan HBS di Semarang, Soendari sudah aktif dalam kegiatan keorganisasian seperti menjadi aktivis Jong Java, Pemalang Bond . Setelah lulus HBS, Soendari menjadi guru disebuah sekolah swasta di Pemalang dan tidak lama berlangsung dia pindah ke Pacitan tetap menjadi seorang guru pada salah satu sekolah dasar Budi Moeljo—sekolah yang disubsidi oleh Pemerintahan Belanda— Akhirnya Soendari dipecat oleh sekolah tersebut karena tekanan Belanda yang tidak suka dengan aktivitas politik Soendari. Ini dikarenakan kekhawatiran di kalangan para orang tua muridnya, jika anak mereka dididik oleh seorang yang dibenci dan diawasi pemerintah penjajah, maka tidak akan pernah bisa menjadi pegawai negeri di lingkungan Gubermen (pemerintah penjajah).

Tanpa sepengetahuannya pemerintah Hindia Belanda meminta kepada sang bapak untuk meredam aktivitasnya karena dianggap berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan Hindia Belanda, yakni dengan meminta sang Bapak untuk mengawinkan Siti Soendari. Dengan perkawinan, menurut Belanda akan mengakhiri aktivitas politik dan organisasi. Tetapi sekali lagi, dia menolak perkawinan atas dirinya, meski atas permintaan sang bapak sekalipun. Bagi sang ayah, ini menjadi dilema.

Di satu sisi ia selalu mengajarkan Soendari sedari kecil untuk memiliki pilihannya sendiri, tapi di sisi lain ia takut dengan keselamatan Soendari dan ketakutan apabila dilepas dari jabatannya dan kehilangan kehormatannya sebagai priyayi. Kemudian sang ayahpun mencari Siti Soendari kemana-mana, dari Pacitan, Malang, Surabaya hingga akhirnya bertemu di Semarang ketika Siti Soendari sedang menjadi orator dalam rapat akbar di gedung wayang orang, Semarang. 

Setelah itulah, Siti Soendari dipingit di rumahnya, di Pemalang tapi tetap bisa melakukan aktivitas menulis. Seakan tak mau mengulang tragedi Kartini, Siti Soendari memutuskan lari dari rumah dan meneruskan aktivitasnya. Hingga suatu hari ketika Belanda hendak menangkapnya, sang ayah pun bertindak cepat dengan menyelamatkan Siti Soendari dan melarikannya ke Belanda.


Tulisan Tajam Siti Soendari


Pandangan-pandangan Siti Soendari tentang pentingnya organisasi sebagai alat perjuangan rakyat, akan terus terekam dalam sejarah. Berikut adalah sedikit kutipan pidato Siti Soendari ketika menghadiri rapat akbar pembentukan serikat buruh yang dimuat di Majalah Dunia Bergerak No.2 tahun 1914

“Sekalian saudara-saudara tentu sudah tahu bahwa manusia itu banyak  yang tidak sama fikirannya, tabiatnya atau kelakuannya. Oleh karena itu seringkali terjadi mana² yang tidak cocok fikirannya, lalu tidak bisa setuju. Terkadang berdekatan sahaja tidak mau. Tetapi lama² jikalau hatinya yang tidak setuju itu sudah dialahkan sendiri, tentu lantas tumbuh cita kasihnya. Dan merasa bahwa tabiatnya yang demikian tadi tak baik, tidak membikin rukun malah mengadakan benih selisihan, melainkan terbawa dari kurang kesabarannya sahaja; tidak cocoknya fikiran atau pendapat itu, tidak menjadikan sebab apa-apa. Karena seumpama manusia itu hanya serupa sahaja fikirannya, malahan lebih tidak baik, sebab batu itu tidak ada yang terbuat menggosok. Sedang batu intan sekalipun bisanya bercahaja, dari gosok juga.

Oleh karena itu maka serta saya fikir-fikir orang ada di dalam perkumpulan itu boleh dimisalkan seperti seperangkat gamelan. Beda-bedanya fikiran dan tabiatnya itu seperti beda-bedanya suara satu persatunya gamelan, umpamanya: gender, gambang, rabab, kandang, dan sebagainya. Adalah orang yang banyak   bicara, itulah boleh dimisalkan gender atau cente. Ada lagi orang yang lemek bicaranya boleh diumpamakan rebab, dan ada pula orang yang pendiam itulah boleh disamakan gong, sebab bunjinya jarang² sahaja. Seandainya manusia itu sama saja fikirannya umpama suaranya gamelan melainkan kandang atau gong sahaja, sudah barang tentu tidak merdu didengarkan. Dari itu baiklah rupa-rupa suaranya tetapi yang perlu: bisanya runtut larasnya. Adapun yang meruntutkan, yaitu niyogonya. Halnya manusia itu ya niyogonya gamelan.

Menjadi patutlah ia berikhtiar sendiri supaya pikirannya bisa runtut dengan pikiran orang lain. Cente jangan menyesal kepada gong bolehnya jarang-jarang berbunyi. Sebaliknya gong jangan susah hati karena dari cerewetnya cente. Yang perlu sendiri cuma runtutnya suara, sebab apabila runtut suaranya dan pandai yang memukulnya niscaja merdu didengar, bisa membikin kesenangan hati. Sebaliknya gamelan yang dipalu oleh anak-anak yang belum pandai, itulah tidak enak terdengar di telinga, dan tidak bisa menarik hati orang.

Adapun melaras runtutnya hati itu sungguh sukar sekali. Tetapi apabila dibiasakan dari sedikit, lama² bisa juga kesampaian. Kesampaiannya itu dari pada hati kemakluman. Adapun yang menjadi benih kemakluman itu, saya punya pendapat, dari cinta kepada sesamanya. Karena jikalau seorang sudah menaruh cinta kepada orang lain, biasanya seberapa saja kelakuannya yang tidak disetujuinya, tidak juga dirasanya; benci dan kekesalan hatinya hilanglah semata². Yang ada melainkan sayang atau pengharapan supaya menjadi baik. Makanya jikalau lid²nya perkumpulan apa saja semua sepakat hati, dan sama membesarkan kemakluman dan menaruh cinta kasih, sudah barang tentu perkumpulan of paguyuban itu bakal tambah menjadi besar.

Perkataan paguyuban itu asal dari guyub; yang disebut guyub itu hendaklah pakai teman. Tidak ada orang guyub bersendirian saja. Menjadi berdirinya paguyuban of perkumpulan itu pada dayanya orang² banyak   yang sama larasnya dia punya budi pekerti. Adapun lid²nya yang diwajibkan mengatur (Bestuur) itu umpamanya rumah, menjadi perkakas yang berupa kayu. Adapun lid² yang lain menjadi sebagian dari perkakas itu juga, sepertinya: tiang menjadi cagaknya blandar yang memikul atap; dinding menjadi aling². Begitu juga lidnya suatu perkumpulan, patutlah menjalani apa yang telah ditetapkan dalam anggaran atau peraturan. Jikalau tidak begitu, niscaja rusaklah perkumpulan itu. Adapun pengharapan atau kehendak orang membuat kebaikan itu tidak gampang. Seandainya gampang, tentu banyaklah barang yang baik tertimbang yang busuk.

Oleh karena itu supaya suatu perkumpulan bisa baik kejadiannya, janganlah alpa bolehnya mengerjakannya. Dari sebab yang jadi perkataannya sesuatu perkumpulan itu Bestuurnya, maka pendapat saya perlu sekali mereka itu menetapi kewajiban seperti yang tersebut di bawah ini:

1.    Hendaklah memikul kesukarannya pekerjaan yang tiada dengan upah.
2.    Ridla mengeluarkan sedikit uang yang tidak bakal dapat ganti, akan gunanya perkumpulan. Momong kepada sekalian lid.
3.    Maklum di atas beda²nya pendapatnya lid². Terima menjadi tutuhannya orang banyak.
4.    Mencari daja upaya yang bisa memajukan dan menambahkan kebajikan lid²nya.
5.    Menderita semua kesukarannya perkumpulan dengan sabar.
6.    Melayani semua kehendaknya lid² yang menuju kepada kebajikan.
7.    Tiada boleh mempunyai milik supaya dirinya sendiri terpuji, dan
8.    Tiada boleh mengharap ganjaran

Apabila belum bisa menjalani yang tersebut di atas itu semua, niscaja bakal berbantah sehari² dengan hatinya sendiri. Kemudian permohonan dan pengharapan saya, mudahmudahan sekalian saudara-saudara lid I.J.B. yang sama terpilih menjadi Bestuur, supaya bisa menjalani semua perkara yang sudah saya katakan itu.


Dan,sebagai bentuk penghargaan, Pramoedya Ananta Toer suatu kali pernah menuliskan dalam novelnya Rumah Kaca “ Untuk kesekian kali kuakui dia sudah sepenuhnya beremansipasi, dan, secara Barat. Ia sudah cerah. Bagiku ia wanita Pribumi hasil terindah dari awal jaman modern di Hindia”. (Tamat)



(Tulisan ini disadur dari https://marsinahfm.wordpress.com/2012/07/12/siti-soendari-perempuan-berpena-tajam-cerdas-dan-berani/ dan dari naskah dari buku “Seabad Pers Perempuan” karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Hajar Nur Setyowati serta tulisan Vivi Widyawati)

(Foto: Asia Culture)