Siti Soendari, Perempuan Berpena Tajam (1)



“Apa faedahnya menyekolahkan gadis-gadis? Biar diajar terbang ke langit sekalipun, kalau tidak pandai memasak nasi dan sayur, maka suaminya tidak akan menyenanginya.”


Kalimat ini membuat jengkel Siti Soendari. Dengan kesal Soendari menanggapi, “Ah, ah, kalau memang demikian watak laki-laki, maka lebih baik dia kawini saja tukang masak Gubernur Jendral, pastilah setiap hari dia akan makan enak.”

Siti Soendari adalah perempuan Indonesia yang sering harus berurusan dengan kepolisian rahasia Belanda di jaman Belanda melakukan penjajahan pada Indonesia di jaman dulu. Ia harus berurusan dengan Belanda karena tulisan-tulisannya.

Kalimat Siti Soendari yang menyanggah bahwa perempuan tidak harus melulu pandai memasak disampaikan kepada beberapa orang yang risih dengan keberadaan perempuan yang mau belajar untuk kemajuannya. Karena, Siti Soendari adalah seorang perempuan yang pada masanya punya ketajaman pena, cerdas dan berani. Berulang kali, ia bahkan berurusan dengan kepolisian rahasia negara Belanda. Tulisannya membuat berang Belanda dan membuat merah telinga para lelaki.

Perempuan Penulis

Ia mengawali karir menulisnya di Poetri Hindia yang didirikan oleh Tirto Adi Soerjo dan R.T.A Tirtokoesoemo pada Juli tahun 1908 silam. Nama Siti Soendari juga muncul dalam salah satu karya Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula, pada bab III bagian pertama ketika Pram berbicara tentang Poetri Hindia surat kabar perempuan bumiputera pertama yang diterbitkan Tirto Adi Soerjo.

Siti Soendari kemudian menjadi penulis dan redaktur di Wanita Swara yang terbit pada tahun 1913. 

Soendari adalah jurnalis perempuan didikan langsung Tirto. Selain itu, Siti Soendari juga dikenal sebagai pemimpin redaksi koran yang menggunakan bahasa Jawa dan selanjutnya pada 1914 mengeluarkan Sekar Setaman yang memakai bahasa Melayu. Bahkan, ia didaulat menjadi satu dari sembilan perempuan yang didapuk oleh komisi yang bertugas meneliti sebab kemerosotan kemakmuran penduduk Jawa dan Madura dengan menuliskan atau memetakan kebutuhan perempuan kala itu.

Dalam tulisannya ia kemudian menyebut dirinya sebagai redaktris Wanita Swara. Namun, Siti Soendari bukanlah redaktur pertama koran tersebut. Ia berkisah bahwa ia seringkali menerima surat dari pelanggan perempuan yang berisi permintaan yang ia sendiri tidak dapat memenuhinya, tercatat ia tak menemukan surat semacam itu di arsip lama. Ia menduga salah satu sebabnya adalah, pemimpin redaksi terdahulu adalah seorang lelaki.

Siti Soendari kemudian berpikir pentingnya sebuah surat kabar khusus perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan.


Apa yang Diperjuangkan Soendari?


Hal yang menarik terjadi ketika Siti Soendari menjadi pemimpin redaksi. Ia didorong oleh para perempuan pembaca melalui surat-surat mereka yang meminta agar pemimpin redaksi mau menuliskan perihnya hati perempuan ketika dengan mudahnya lelaki menceraikan istrinya dan kebiasaan lelaki beristri lebih dari satu.

Bahkan mereka meminta Siti Soendari menulis tentang persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Di dalam surat mereka ini, seringkali mereka mengolok-olok lelaki sebagai buaya darat, tiran, dan egois padahal kebanyakan pelanggan adalah lelaki.

Sayang perempuan tamatan KS (Sekolah rendah) ini justru membakar surat-surat kaleng yang masuk dengan pertimbangan menjaga napas surat kabar yang banyak juga dilanggani para lelaki. Hal itu ia lakukan karena ia memilih menyelamatkan majalahnya daripada memuat surat para pelanggan perempuan tersebut.

Sebagai gantinya, Siti Soendari menulis laporan dengan panjang lebar ke Komisi Kemakmuran. Dari laporan tersebut, tertuang fakta adanya usulan supaya perempuan tidak dipermainkan lelaki dalam institusi perkawinan. Termasuk diantaranya adalah tentang penolakannya terhadap poligami.

Di dalam Wanita Swara, Siti Soendari menuliskan agar perempuan mau belajar membaca dan menulis. Dengan membaca, menurut Siti Soendari, perempuan bisa memahami situasi sosial yang melingkupi perempuan kala itu, yang membuat mereka sulit diajak bersekolah.

Minimnya kesadaran bersekolah dari perempuan ini, tak lepas dari pelabelan masyarakat patriarki yang  melekat di alam bawah sadar para lelaki dan perempuan sebagaimana yang disampaikan orang-orang kepada Siti Soendari, bahwa perempuan meski bersekolah tinggi, tetap saja tidak akan disukai suami karena tak pandai masak nasi sayur.

Wanita Swara sendiri adalah sebuah surat kabar yang didirikan oleh Boedi Oetomo cabang Pacitan dan merupakan surat kabar perempuan permulaan  sebagai organ atau corong organisasi perempuan meski hanya sayap wanita dari sebuah organisasi. Menjadi redaktur di Wanita Swara tanpa digaji tidak menjadi persoalan bagi Siti Soendari karena ia berharap besar bahwa Wanita Swara akan benar-benar menyuarakan hak perempuan.

Wanita Swara, terbit bersamaan dengan Sekar Setaman. Bagi yang berlangganan Wanita Swara, akan memperoleh juga Sekar Setaman secara gratis. Sebagai redaktur sebuah koran yang tidak bergaji, Siti Soendari tidak keberatan, bahkan dengan banyak hambatan dan tantangan seperti masih sedikitnya rakyat, terutama perempuan yang berlangganan Wanita Swara.

Tentang hal ini, mantan menteri sosial pada Kabinet Sjahrir II, Maria Ulfah mengungkapkan “Entah berapa ribu lembar selebaran yang sudah kuedarkan agar kaum perempuan membeli Wanita Swara. Nyatanya walaupun tahun ini sudah menyebarkan 3000 helai selebaran dengan biaya yang ia pikul sendiri, hanya 150 langganan baru datang, semuanya hanya dari golongan priyayi rendahan.” (Bersambung)


Tulisan ini disadur dari https://marsinahfm.wordpress.com/2012/07/12/siti-soendari-perempuan-berpena-tajam-cerdas-dan-berani/ dan dari naskah dari buku “Seabad Pers Perempuan” karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Hajar Nur Setyowati serta tulisan Vivi Widyawati


(Foto: geraibuku.wordpress.com)