Dunia yang Berubah?


Sica Harum – www.konde.co

DUA BELAS TAHUN yang lalu, ada editor surat kabar yang pernah berkomentar, “Kalian ini yang muda-muda cepat sekali belajar hal baru.”

Now I feel her.

Dulu ia mengomentari cara saya dan teman-teman seanggkatan saya, mendapatkan ide berita dari informasi yang deras di internet. Dan sekarang, saya merasa seperti dia. Padahal saya belum tua-tua amat. 

Di sekeliling saya, anak-anak muda yang cepat sekali mengonsumsi konten, lewat kanal-kanal informasi yang mungkin tak sempat saya datangi. Di sekeliling saya, anak-anak muda yang mengunggah konten kreasi mereka, ada yang bagus, ada yang enggak, dan tetap mengundang perhatian.

Mereka, anak-anak muda yang sudah memegang kendali di keluarga -padahal belum berkeluarga- untuk keputusan traveling dan pembelian produk elektronik (berdasarkan survey Nielsen terbaru tentang pengaruh remaja dalam pengambilan keputusan berbelanja di keluarga).

Zaman saya remaja, ibulah yang memutuskan kami akan jalan-jalan ke mana, hingga apa merek sabun yang akan dipakai oleh seluruh anggota keluarga. Saya-yang saat itu masih remaja- boleh memilih baju yang akan saya pakai, dan buku yang akan saya baca. Selebihnya, urusan ibu. Semua urusan domestik dan anak-anaknya menjadi urusan ibu. Sesuatu yang tak banyak berubah, dari dulu hingga kini. Jaman tetap tak bisa merubahnya.

Namun dalam gaya parenting yang lebih demokratis saat ini, orang tua memang mendengarkan apa pendapat anak-anak mereka.

Lalu dua hari ini saya berusaha melihat lebih banyak konten yang menjadi trending. Mencari tahu apa yang betul-betul dinilai penting oleh para millennials. Memang ini bagian dari sebuah project, tapi juga karena terpacu dari acara Coffee PR gelaran PRNewswire Indonesia di Morrisey, Rabu, 19 Oktober 2016 lalu.

Saya cek lagi portal berita kekinian ala rapppler dan beritagar. Masuk ke LineToday. Cek video trending di Youtube. Cek sebentar ke Hipwee.

Lalu, saya pusing. Overloaded.

Berita-berita itu bersliweran. Mulai dari pembacaan pembelaan terakhir Jessica, riuh Pilkada DKI, hingga 7 jenis makanan yang harus dihindari agar kentut tak bau keterlaluan.

Semua informasi seolah-olah menjadi sangat penting. Tapi apakah itu membuat kita lebih pintar?

Apa yang penting dan tidak, mungkin juga sudah mulai bergeser. Dalam bisnis media seperti yang saya jalankan saat ini, praktik jurnalisme yang dulu sempat saya jalani dengan senang hati dan keyakinan utuh, sepertinya tak lagi saya temui dengan mudah.

Audiensnya sudah berubah. Cara mereka mengasup informasi juga sudah berbeda.

Apakah kita harus menyesuaikan diri? Well, it depends.

Untuk kebutuhan bisnis, ya iya lah. Apalagi bisnis perbukuan yang saya tekuni saat ini. Berubah itu , memang tidak mudah.  Tapi saya mau berubah. Agar bisnis perbukuan yang saya bangun setengah mati ini bisa berkembang.

Tapi dalam personal life, takaran untuk berubah bisa disesuaikan. Like dinosaurs?

Selamanya, saya kira, saya enggak akan bisa bangun tidur lalu ambil ponsel, ber-selfie, dan update ke media sosial, hanya demi ikut dalam arus kekinian. Atau sibuk memotret foto sebelum dimakan. Atau ber-wefie bersama pesohor lalu update.

Bahkan di akhir pekan, saat minim urusan pekerjaan, saya sebisa mungkin putus hubungan dengan whatsapp. Beberapa kali, keinginan itu malah didukung oleh whatsapp saya eror entah kenapa, atau ponsel saya mendadak tidak peka saat di tap; touch screen-nya tak bekerja.

Buat saya, akhir pekan ideal ialah hari yang bisa dijalani tanpa khawatir dan penuh rasa syukur, tanpa saya harus melihat layar ponsel berkali-kali, dengan secangkir kopi atau teh manis hangat, sebuah buku atau dvd, dan sesekali tawa riang si bocah. Selamanya, saya rasa, gambaran akhir pekan ideal itu tak akan berubah.

Bagaimana dengan kamu?