Kartun, Sebuah Komitmen untuk Perempuan



Luviana – www.Konde.co

Ada yang spesial dari peringatan hari anti kekerasan seksual beberapa waktu lalu di The Warehouse Plaza Indonesia, Jakarta pada 25 November-10 Desember 2016. Di pinggir ruangan The Warehouse dimana sejumlah acara diskusi diadakan terus menerus selama 10 hari, ada pameran komik dan kartun bertajuk “Planet 50-50, Comic and Cartoon Exhibition on Gender Equality” yang dibuat oleh anak-anak muda Indonesia.

Mau tahu kartunnya seperti apa? Ini kartun-kartun mereka.

Bagus Aji mandiri, yang bekerja sebagai senior executife designer di Jakarta misalnya, melukiskan komiknya yang bergambar laki-laki dan perempuan yang berada di garis start untuk lari. Bagus menyatakan bahwa semua, baik laki-laki dan perempuan harus memulai dengan garis start yang sama. Kesetaraan gender menurut Bagus yaitu ketika memberikan perempuan dan laki-laki sebuah kesempatan yang sama. Kartun karya Bagus ini kemudian memenangi juara 1.

Sedangkan I Kadek Noorwatha dari Bali yang memenangi lomba juara kedua, memotret stereotype yang ditanamkan pada perempuan Indonesia, yang harus mengurus dapur, sumur, kasur dan anak. Hal ini dengan sendirinya mengurangi kesempatan perempuan untuk ‘berkompetisi’ dalam mengembangkan diri, karir maupun status sosialnya. Pesan yang ingin disampaikan I Kadek yaitu semua pihak harus mewujudkan kesetaraan gender agar perempuan dapat berkompetisi secara adil tanpa diskriminasi.

Sedangkan Muhammad Arifin, mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang, menampilkan komik ketidaksetaraan denger dalam pekerjaan. Ia memenangi juara ketiga.

Karya-karya komik dan kartun yang dipamerkan ini merupakan 20 karya terpilih dari 500 karya yang masuk dalam kompetisi komik dan kartun planet 50-50 yang diadakan UN Women dan Uni Eropa. 3 orang sebagai pemenang lomba, sedangkan 17 lainnya merupakan peserta yang karyanya masuk dalam nominasi.


Lily Puspasari dari UN Women Indonesia menyatakan bahwa komik yang terpilih, merupakan komik yang mampu memecah pembatas yang menghalangi ruang gerak perempuan dan anak-anak perempuan.

“Bahkan tanpa satu potong kata, karya seni ini mampu menggambarkan realita dengan cara yang jujur, membuka mata, membuat kita berpikir, berefleksi, dengan cara yang menghibur dan mudah dimengerti. Melalui setiap goresan, terkandung makna dan pesan akan sebuah tantangan dan harapan,” ungkap Lily Puspasari

Pameran ini juga merupakan kampanye yang digagas Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertajuk #HeforShe. Ini merupakan kampanye dimana mengajak semua orang terutama mengajak laki-laki untuk bersama-sama membuat komitmen perjuangan bagi perempuan dan anak-anak perempuan.

Dari 20 karya yang dipamerkan ini, karya-karya lain yang dipilih oleh dewan juri: Alti Firmansyah, Beng Rahadian, Haryadhi, Sri Danti Anwar, Charles Michael Geurts dan Lily Puspasari ini antaralain karya Bobby Kurniawan, Cipta Vidyana, Danny Lenour Dwi Putra, Dhany Pramata, Dieksa Bebadito, Isabela Beatrix, Labib Ahmadin, Laurencia Marchelina, Linny Wibisono, Muhammad Alfata Ramadhan, Rafli Noor Sukandar, Salma Safia, Samuel Thiofilus dan Yuni Santy.

Lily Puspasari menyatakan, bahwa dengan beragam cara, termasuk cara-cara kreatif yang dilakukan anak-anak muda dalam komik dan kartun karya mereka, mempunyai arti bahwa setiap orang mau berupaya untuk mewujudkan dunia yang bebas dari dikriminasi.


(Pameran “Planet 50-50, Comic and Cartoon Exhibition on Gender Equality” yang diadakan UN Women dan Uni Eropa di The Warehoseu Plaza Indonesia, Jakarta pada 25 November-10 Desember 2016/ Foto: Luviana)