Natal, Perempuan dan Juru Damai

Poedjiati Tan www.konde.co 

Ucapan natal dari salah seorang teman di group Whats App mengingatkan saya kembali akan makna natal yang sederhana:
“Natal merupakan kelahiran Yesus. Yesus tidak lahir di istana megah namun di kandang domba yang hina. Berita kelahirannya diperdengarkan bukan kepada para penguasa melainkan pada para gembala, rakyat jelata yang hidup dalam keterbatasan. Pada peristiwa sesudahnya, Yesus kemudian mati. Saat menunjukkan dirinya untuk pertamakali, yang ditemuinya adalah para perempuan biasa yang saat itu dianggap sebagai warga negara kelas dua. Yesus lahir dengan keberpihakan pada yang lemah, pada mereka yang kecil dan tertindas.”

Umat kristiani tanggal 25 Desember hari ini memperingati hari Natal. Natal sejatinya adalah kabar damai. Natal turun ke bumi untuk membawa damai, pada para gembala, pada rakyat jelata. Namun ada sejumlah peristiwa yang justru tidak memberikan rasa damai. Peristiwa ini dan peristiwa lain yang terjadi di Indonesia adalah karena adanya kontestasi politik yang sedang terjadi di tanah air sekarang ini.

Sejumlah peristiwa konflik yang terjadi misalnya ketika ada larangan penggunaan atribut natal, penyisiran di mall-mall, padahal penggunaan atribut keagamaan adalah sesuatu yang dipakai hanya digunakan sebagai simbol belaka. Peristiwa lain, yaitu banyaknya kasus intoleransi yang mengatasnamakan agama yang terjadi di tanah air ini. Konflik ini makin memuncak di akhir tahun ini. Hal lain, setiap menjelang Natal juga selalu terjadi polemik, apakah umat lain boleh mengucapkan selamat Natal atau tidak. Padahal seharusnya hari raya apapun seharusnya membawa pesan damai bagi semua orang.

Lalu dimanakah perempuan diposisikan dalam polemik yang terjadi ini? Kita semua tahu para penjaga toko di mall misalnya merasakan ketakutan ketika terjadinya penyisiran, sebagian besar adalah perempuan, para pembuat kue-kue natal adalah perempuan, penjual kue atau parcel natal juga perempuan dan perayaan keagamaan adalah moment dimana para perempuan bekerja lebih keras untuk dapat menghasilkan uang lebih untuk keluarganya, anak-anaknya, sebagai bekal menghadapi tahun mendatang. Dalam konflik soal toleransi yang pernah terjadi misalnya, perempuan adalah orang yang menderita karena ia tak hanya harus mengurus dirinya, namun juga anak dan keluarganya.

Perempuan dan Perdamaian
Dalam konsep feminisme misalnya, Pusat Studi Agama dan Demokrasi (Pusad Paramadina) mencatat, dalam setiap konflik politik, perempuan adalah orang yang mengalami korban dua kali. Mereka harus menanggung derita saat ketegangan berlangsung dan mereka jugalah yang harus mengatasi penderitaan akibat ketegangan pasa konflik. Alih-alih memberi tempat untuk mengambil keputusan di meja perundingan, mereka cenderung ditempatkan sebagai orang yang ditempatkan di belakang layar.

Hal ini disebabkan oleh pandangan bahwa perempuan selalu ditempatkan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa, tak bisa mengakses informasi soal peristiwa terkini, dan hal lain yaitu dimitoskan sebagai perempuan yang mengedepankan emosi ditimbang akal sehat.

Studi tentang perempuan dan perdamaian yang dicatat Pusad Paramadina dari Mark Tessler, Jodi Nacthtwey dan Audra Grand (1999) misalnya menyebutkan sejumlah hipotesis mengenai hubungan perempuan dan perdamaian. Ada 3 argumen pokok mengapa perempuan menjadi juru damai:
  1. Perempuan adalah penjaga. Ia adalah pendorong agar kekerasan berhenti dan pembangun jembatan antar kelompok yang membangun jembatan antar mereka.
  2. Perempuan adalah duta perdamaian. Sebab dia adalah orang yang paling berdampak dalam konflik. Konflik tidak hanya menyesengsarakan mereka tetapi juga mereka harus memenuhi kebutuhan pokok yang tinggi.
  3. Konsep feminisme adalah melawan ketidakadilan dalam wujud hierarkhi, dominasi dan ekspolitase. Prinsip-prinsip dasar ini pada intinya anti pada militeristik, anti kekerasan dan anti penindasan. Dalam konteks inilah perempuan lalu menjadi juru damai.
Dalam konflik yang terjadi saat ini terjadi, sudah seharusnya kita memberikan kesempatan bagi perempuan menjadi bagian dari proses perdamaian, maka perempuan harus menjadi juru damai dalam peristiwa-peristiwa konflik ini.

Moment natal seharusnya menjauhkan semua orang dari kekerasan dan konflik, karena kekerasan tak bisa diselesaikan dengan kekerasan dan konflik. Natal juga sebagai peneguh, soal keberpihakan perempuan selama ini pada kelompok kecil yang tertindas dan lemah


(Referensi: www.paramadina-pusad.or.id/publikasi/kolom/kartini-perempuan-dan-perdamaian.html)