Hoax, Janji Palsu untuk Perempuan



Luviana- www.konde.co

Hoax. Kalimat ini terdengar dimana-mana. Akhir-akhir ini. Semua orang membahasnya. Dari presiden hingga pengamat, masyarakat, elit-elit parpol. Media media membahasnya setiap hari.

Hoax, dalam kamus Inggris artinya mengolok-olok. Namun dalam terminologi kita akhir-akhir ini, pesan dalam hoax kemudian dilakukan untuk menyiarkan kabar bohong yang bisa mengakibatkan efek bermacam-macam. Menyebarkan kebencian. Hoax juga bikin Pilkada jadi riuh-rendah dengan kehebohan. Olok-olokan, kabar bohong yang membuat wall sosial media kita, jadi bertimbun sampah.

Teman saya sampai takut membuka wall di sosial medianya. Karena tiap hari ketika ia membuka sosial media, ada ada saja kabar yang membuatnya sakit kepala pada informasi yang disebarkan. Banyak informasi hoax. Dalam konteks Pilkada, ini banyak dilakukan karena merupakan bagian dari propaganda. Sebagai penebar iming-iming. Janji-janji palsu. Lalu semua orang mendiskusikannya, berantem karena ini, padahal apakah janji-janji Pilkada ini nyata atau hanya merupakan hoax, kabar bohong, hanya untuk mengolok-olok masyarakat?

“Pusing ya, orang membincangkan janji-janji calon-calon di Pilkada, seolah ini semua akan terwujud, padahal kebanyakan janji ini menurutku kog hoax ya. Lalu buat apa kita membicarakan hoax yang terus-menerus ini?,” itu ujar teman saya.

Teman saya bukan orang yang apolitis. Maksud teman saya, mengapa orang tidak memilih untuk kritis terhadap janji-janji ini, namun justru kemudian melakukan pembelaan, pelabelan atas nama janji yang belum tentu kebenarannya.

Selain di sosial media, kita juga bisa lihat janji-janji politikus ini di televisi. Pada pidato-pidato yang mengambil jatah frekuensi milik publik. Pada lagu-lagu partai yang mengambil jatah frekuensi yang harusnya menjadi publik. Pada talkshow, berita berita sampai infotainment. Apakah pidato-pidato dan lagu-lagu perjuangan parpol ini bukan hoax?

Apa yang menguatirkan bagi perempuan? menurut saya, perempuan sudah lama diberikan janji-janji palsu dalam kampanye-kampanye politik elit. Apakah ini bukan hoax? ini jelas hoax. Janji palsu kampanye ini adalah hoax. Jadi hoax bukan saja kalimat yang menebarkan kebencian agar kita benci pada agama lain, benci pada suku yang tak sama, namun janji politik siapapun jika tak dipenuhi, ini meupakan hoax.

Apakah janji pemerintah, para pemilik parpol yang hampir tiap hari ada pidatonya di tv, ada lagu-lagunya, menjanjikan Indonesia subur makmur aman sentosa itu bukan hoax? Karena indonesia makmur sentosa yang mereka iming-imingkan, itu banyak yang cuma slogan saja. Buktinya, mereka para elit ini senengnya cuma berkelahi saja, tak memperjuangkan perempuan agar aman sentosa. Jadi saya pastikan, itu banyak sekali hoaxnya.

Lalu, ini yang sering terjadi. Bertahun-tahun kita menyaksikan ini: janji perusahaan kosmetik lewat iklannya yang mau menjadikan perempuan berkulit ayu, kulit halus mulus setelah umur 50 tahun itu hoax bukan? Saya pastikan ini juga hoax karena usia tidak bisa menipu. Penuaan bagi semua manusia dan perempuan akan terjadi dengan sendirinya.

Lalu, apakah kalimat kalimat yang sering kita dengar, bahwa perempuan harus terlihat cantik jika mau menikmati hidup, Itu hoax bukan? Ini pasti juga hoax. Karena banyak yang tidak memenuhi kriteria cantik seperti kata iklan, mereka juga bisa menikmati hidup kog. Hidupnya baik-baik saja.

Jadi perempuan, hati-hati dengan hoax. Ia hidup dimana mana. Menyebar kemana-mana. Sejak ratusan tahun lalu. Hanya, hoax ini sekarang sudah mengglobal. Menghubungkan kita dengan manusia manapun di dunia ini. Tiap hari nangkring di sosial media, lalu dibahas dalam percakapan-percakapan dimana-mana.

Lewat ramalan Marshal Mc Luhan, terbukti bahwa kita semua sudah terhubung di dunia ini. Sekitar 30 tahun lalu, Marshall McLuhan telah memprediksikan lahirnya sebuah Global Village (desa global). Dalam prediksinya MC Luhan melihat  bahwa dunia yang kita tinggali sekarang, akan berubah menjadi dunia yang dapat terhubung dari satu daerah ke daerah lainnya. Hal ini dihubungkan oleh sistem saraf elektronik yang akan membuat hal tersebut menjadi sebuah budaya. Sistem saraf ini sama seperti sistem saraf yang ada pada tubuh manusia, dimana semuanya akan terhubung oleh sebuah jaringan. Dia menggambarkan keadaan dunia di masa depan adalah dunia dimana masyarakat dapat berinteraksi dengan bebas dan leluasa, tidak lagi terbentur oleh jarak maupun waktu. Bukan tidak mungkin hal itu terjadi, karena perkembangan teknologi bisa menjadi solusi dari yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Lewat kemenangan Donald Trump yang kabarnya menyebarkan kampanye hitam-hoax. Lewat iklan yang hilir mudik, juga lewat pidato bombastis di televisi.

Apakah jika ada yang mengatakan sayang kepada kita, yang dia ungkapkan lewat whats app, sayang selalu, setiap saat setiap hari, lalu berselingkuh di dunia nyata itu bukan hoax?

Jadi perempuan, kita mesti hati-hati, karena kita sudah terhubung dengan banyak hoax, yang dilakukan hanya untuk mengolok-olok perempuan.



(Gambar/ Ilustrasi: Pixabay.com)

(Referensi: Marshall McLuhan’s ‘global village’ and the Internet (PDF Download Available). Available from: https://www.researchgate.net/publication/274383916_Marshall_McLuhan's_'global_village'_and_the_Internet [accessed Apr 9, 2016])