Janda. Apakah Tidak ada Sebutan Lain?


*Ika Ariyani- www.Konde.co

Di Indonesia, istilah janda rasanya selalu dianggap negatif. Tidak peduli apa penyebabnya seseorang menjadi janda, tetep aja kesannya jelek. Yang terkenal adalah istilah janda dengan embel-embel ‘janda gatel’, ‘janda perebut suami orang’, begitu ya?siapa ya yang kira-kira mencetuskan istilah ini dulu? Hmmm...

Beda dengan duda. Duda seperti punya kelas yang lebih baik dibandingkan janda. Duda dianggap laki-laki yang dewasa, ngemong, sudah mapan dan masih tampan. Yang terkenal adalah istilah ‘duren’ duda keren, nggak ada kan istilah ‘jaren’ janda keren? Memang enak jadi laki-laki itu ya.

Kenapa status janda dan duda menjadi sangat penting bagi penilaian orangtua bila anaknya akan menikah dengan duda atau janda?

Karena sebetulnya konstruksi di masyarakat yang saya lihat, menikah dengan duda tidak masalah, bahkan banyak orangtua yang senang menikahkan anaknya dengan duda. Tapi menikah dengan janda? hmm…sepertinya orangtua akan berpikir dua kali kalau anaknya jatuh cinta dengan janda. Apa kata orang?. Begitu yang sering saya dengar.

Menurut penilaian masyarakat, seorang janda itu semestinya menikah dengan duda atau hidup sendiri saja, seorang janda menikah dengan bujangan itu adalah hal yang merugikan laki-laki, mungkin karena kalau janda artinya sudah tidak perawan lagi atau stereotype apa lagi yang diberikan pada janda?

Setiap kali merenungkannya, saya selalu sedih dibuatnya.

Kalau memang hanya perkara ini yang jadi masalahnya, maka mungkin benar lebih baik janda itu hidup sendiri sampai mati di Indonesia, atau tak menikah. Memangnya kita tahu kita akan kembali jatuh cinta dengan siapa?

Lalu pertanyaan berikutnya, apakah memiliki pernikahan yang menyakitkan adalah aib? Apakah jika seseorang bercerai, maka akan ada kemungkinan ia juga akan bercerai dengan pasangan selanjutnya?

Lalu apakah jika bercerai, maka yang salah adalah perempuan? Bagaimana bila perempuan yang menjadi korban dalam perceraian tersebut? Apakah tetap saja menjadi janda adalah hal yang memalukan? Apa sih bedanya dengan seseorang yang pernah punya pacar lalu putus dan mungkin selama pacaran telah melakukan hubungan suami istri lalu akhirnya malah menikah dengan orang. Apa bedanya coba dengan janda?

Kenapa hanya melihat perawan atau jandanya saja?

Mengapa tidak melihat kepribadiannya? Berkarir sejak muda, bertanggungjawab untuk keluarga, tidak pernah berhenti belajar hal baru, serius menekuni bidang yang disukai, apa kualifikasi itu kurang keren untuk seorang perempuan? Walau memang segala prestasi itu bukan untuk menjadi ‘bahan jualan’ agar seseorang bisa diterima.

Menjadi janda di tengah lingkungan konservatif mungkin agak mempersempit ruang, jika ramah sedikit disangka menggoda, diampun disangka depresi. Maka lingkungan akan tetap selalu begitu.

Buat saya, yang penting yaitu: perempuan adalah pemilik kehidupannya sendiri, bukan milik siapa saja yang doyan menghakimi.


*Ika Ariyani, Sehari-hari bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah Kabupaten di Sumatera Utara. Tulisan ini merupakan pendapat/ opini pribadi.