Laporan Ketimpangan, Perempuan Tetap Paling Sengsara

Melly Setyawati - www.konde.co

Jakarta, Konde.co - Hari ini, 23 Februari 2017, INFID dan OXFAM  mengadakan peluncuran Laporan Ketimpangan yang bertemakan Menuju Indonesia yang Setara di hotel Arya Duta.

Data – data hasil Laporan telah membenarkan rasa yang dialami oleh sehari – hari, contoh kecil saja terkait dengan infrastruktur jalan di wilayah DKI Jakarta yang terlihat rapi dan halus namun ini berbeda dengan kondisi jalan di wilayah pinggiran Jakarta seperti sekitaran Bogor.

Miris dan semakin mengernyitkan dahi. Tatkala,  Dini Widiastuti dari OXFAM  mengatakan “empat orang terkaya di Indonesia itu biaya hidupnya bisa setara dengan 100 juta orang miskin di Indonesia”.

Nikmah Khoirun, INFID, turut menegaskan bahwa orang superkaya di Indonesia itu bisa berpendapatan 10 milyar per tahun. Hampir bersamaan, seorang ibu menceritakan kepada saya kalau dirinya tidak bisa membayar persalinan sebesar 250 ribu rupiah. Hingga dirinya harus menyerahkan anaknya kepada keluarga yang mau membiayai persalinannya.  Derai air mata menetes saat ibu itu bercerita. Sungguh lebar ketimpangan itu terjadi di Indonesia.

Pada tahun 2016, sebanyak 1 persen individu terkaya dari total penduduknya menguasai hampir separuh (49 persen) total kekayaan. Jumlah miliarder mengalami peningkatan dari hanya satu orang pada tahun 2002 menjadi 20 orang pada tahun 2016, yang kesemuanya adalah kaum laki-laki

Laporan Ketimpangan pada tahun 2014 menunjukkan kesempatan perempuan mendapatkan pendidikan jauh lebih pendek dari laki – laki, hampir dikatakan kurang dari sembilan tahun.

Iya perempuan adalah wajah kemiskinan nyata. Rantai kemiskinan berkelindan tiada terputus,

“Ini seperti sebuah rantai, yang saling terkait, dia miskin karena pekerjaannya rendahan, dia mendapatkan pekerjaan itu karena pendidikannya juga rendah, dia bisa berpendidikan rendah karena miskin,” ungkap Dhanif Dhakiri, Menteri Tenaga Kerja, pada saat menjadi pembicara kunci.

Dalam dunia kerja, perempuan sangat rendah sekali mendapatkan posisi penting. Salah satu penyebab diantaranya adalah diskriminasi dunia kerja. Padahal perempuan lebih berkeinginan bekerja namun perempuan lebih banyak menganggur ketimbang kaum laki-laki. Laporan ini juga mendorong pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan.

Dari data yang ada, baik tahun 2014 maupun data selama lima tahun terakhir (2009–2014), persentase pekerja laki-laki penuh waktu di tiap kelompok usia berada di atas persentase pekerja perempuan. Sayangnya, tidak ada perbaikan atau perubahan ketimpangan pekerja antara laki-laki dan perempuan selama empat tahun terakhir (2009–2013).

Selain kesempatan kerja, dari data Survei Barometer Sosial 2013 juga tampak bahwa perempuan juga mengalami kesenjangan dalam hal pendapatan: semakin besar jumlah pendapatan maka semakin kecil proporsi perempuan dalam kelompok pendapatan tersebut. Pada tingkat penghasilan tertinggi (lebih dari Rp 5 juta) proporsi pria hampir dua kali lipat (1,7 kali) ketimbang perempuan. Sementara itu, pada tingkat penghasilan terendah (kurang dari Rp 500 ribu), proporsi perempuan 1,5 kali dibandingkan laki-laki.

Peningkatan kapasitas (skill)  tenaga kerja menjadi salah satu jalan keluar untuk mengentas ketimpangan. Meskipun orang – orang kaya juga sibuk untuk menitipkan kekayaannya di negara bebas pajak.

“Ada sekitar 653 ribuan orang mengikuti program tax amnesty, ini masih sedikit padahal saya menargetkan dua juta orang ikut” demikian kata Sri Mulyani, Menteri Keuangan, saat menjadi salah satu pembicara kunci pada kegiatan peluncuran tersebut.

Dalam sesi talkshow  penutup, Chusnunia Chalim selaku Bupati Lampung Timur mengatakan:

 “Jakarta tidak hanya meributkan soal PILKADA saja padahal di daerah ketimpangan itu sehari – hari terjadi."

Iya benar, ketimpangan sudah terjadi dan masyarakat sudah mewajarkannya.88% warga negara Indonesia yakin sekali pemerintah dapat mengurangi ketimpangan itu.

Lebih lanjut laporan dapat diklik disini