Febriana Shinta- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co – Bagaimana kondisi perempuan di Indonesia saat ini? Apakah dalam kondisi tertekan, sulit keluar dari kekerasan yang mereka alami, menjadi korban kekerasan yang berlarut-larut?

Sejumlah perempuan Indonesia menyatakan mendapat perlakuan: dijambak, ditampar, didorong oleh pasangannya. Sedangkan perempuan lain mendapat perlakuan seperti: dipaksa melakukan hubungaan seksual, diraba, disentuh dengan paksa.

Survey yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) September 2016 lalu menyebutkan hal ini. Sebanyak 2.925 perempuan yang berusia 15 hingga 64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik. Artinya adalah: 1 dari 3 perempuan pernah mengalami kekerasan.

Data menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan rata-rata dilakukan oleh pasangan dan bukan pasangannya. Sedangkan 824 diantaranya mengalami kekerasan dalam jangka waktu setahun terakhir.Survey ini dirilis BPS pada Kamis 30 Maret 2017 kemarin di Jakarta.

Dari data yang dilansir BPS menyebutkan bahwa perempuan yang hidup di perkotaan lebih rentan menjadi korban kekerasan dibanding perempuan di pedesaan. Hasil penelitian menunjukkan 3.178 perempuan yang hidup di kota pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual. Sedangkan perempuan di desa 2.610 korban.

Tekanan hidup yang tinggi di wilayah perkotaan yang menyebabkan peningkatan emosional. Akibatnya perempuan menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh pasangan maupun bukan pasangannya korban.

Data lain dalam survei ini menunjukkan jumlah korban kekerasan fisik dan seksual terbanyak dialami oleh perempuan dengan latar pendidikan  SMA ke atas yaitu 3.450 perempuan. Sedangkan perempuan lulusan SMP dan SD yang menjadi korban sebanyak 3.073.

Survey BPS ini dilakukan terhadap 9.000 perempuan dalam 1 rumah tangga, namun dari  angka itu 243 perempuan menolak memberikan jawaban. Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2016 ini dilakukan untuk mengetahui besarnya prevalensi kekerasan terhadap perempuan sekaligus mengetahui profil dan bentu kekerasan yang dialami korban.


  Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) BPS dan Kemen PPPA

NO
Bentuk kekerasan yang  terjadi :
Prosentase
Jumlah
1.
Kekerasan seksual dan fisik yang terjadi antara usia 15 – 64 tahun
15,3%
1.339
2.
Kekerasan seksual dan fisik yang terjadi antara usia 15 – 64 tahun yang terjadi satu tahun terakhir
9,4%
876
3.
Kekerasan fisik dan seksual di wilayah perkotaan
36,3%
3.178
4.
Kekerasan fisik dan seksual di wilayah pedesaan
29,8% 
2.609
5.
Kekerasan yang dialami perempuan dengan jenjang pendidikan SMA ke atas
39,4%
3.450
6.
Kekerasan yang dialami perempuan dengan jenjang pendidikan SD dan SMP
35,1 %
3.073
7.
Kekerasan ekonomi :
a.            Dilarang bekerja  sebanyak 19,5%  (1.707 perempuan)
b.            Tabungan atau penghasil diambil paksa sebanyak 3,6% (315 perempuan)
c.             Tidak diberi uang belanja 5,1% (447 perempuan)
28,2%
2.469
Catatan:
1.            Jumlah responden 9000 perempuan berusia 15 – 64 tahun. 
2.            Tidak bersedia menjawab  243 orang. 


Pelaku Kekerasan

Dalam survey tersebut juga disebutkan bahwa: pasangan banyak melakukan kekerasan fisik, psikis, seksual, ekonomi serta pembatasan aktivitas perempuan. Sejumlah pasangan yang melakukan kekerasan tersebut antaralain: suami, pasangan yang hidup bersama (tidak menikah) dan pasangan seksual yang tinggal terpisah.

Sedangkan pelaku lain yang melakukan kekerasan adalah: orangtua, mertua, keluarga, guru/pendidik, orang tak dikenal, aparat keamanan dan majikan. Rata-rata mereka melakukan kekerasan fisik dan psikis.

Selain mengalami kekerasan fisik dan seksual, perempuan juga mengalami kekerasan ekonomi. Kekerasan ekonomi ini terbagi dalam tiga bentuk, yaitu larangan yang dilakukan oleh pasangannya untuk tidak bekerja, pasangan mengambil hasil tabungan atau penghasilan dan tidak adanya uang belanja.

Dari tiga jenis kekerasan ekonomi paling sering menimpa perempuan adalah larangan bekerja oleh pasangannya yaitu 2.145. Pengambilan paksa uang tabungan atau penghasilan oleh pasangannya dialami 315 perempuan. Sedangkan sebanyak 447 atau 5,1% perempuan pernah mengalami kejadian tidak menerima uang belanja dari pasangannya.


Jenis Kekerasan yang Dialami Perempuan

Survey BPS juga menyebutkan: 4 jenis kekerasan fisik yang paling banyak dialami perempuan adalah;

1.Ditampar

2.Dijambak/ Didorong

3.Dipukul

4.Ditendang, diseret dan dihajar


Sedangkan 3 jenis kekerasan seksual yang paling banyak dialami perempuan:


1.Melakukan hubungan seksual karena takut

2.Dipaksa secara fisik berhubungan saat tidak ingin

3. Dipaksa melakukan tindakan seksual yang merendahkan/ memalukan

4. Pelaku berkomentar/ mengirim pesan bernada seksual

5. Pelaku menyentuh/ meraba tubuh

6. Pelaku memperlihatkan gambar seksual

7. Pelaku memaksa berhubungan seksual



Jenis kekerasan psikis/ emosional yang dialami perempuan antaralain:


1.Menghina/membuat rendah diri

2.Menaku-nakuti/mengintimidasi

3.Merendahkan/mempermalukan di depan orang lain



Sedangkan jenis kekerasan ekonomi antaralain:


1.Tidak diperbolehkan kerja oleh pasangan

2.Pasangan menolak memberikan uang belanja padahal ia punya uang

3.Pasangan mengambil penghasilan/tabungan tanpa persetujuan



Sedangkan pembatasan aktivitas yang dilakukan pasangan antaralain:


1.Pasangan selalu ingin tahu keberadaan perempuan setiap saat

2.Mengharuskan perempuan meminta ijin

3.Marah jika perempuan pasangannya berbicara dengan laki-laki lain

4.Selalu curiga perempuan tidak setia




*Ega Melindo- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co - Kepemilikan media hari ini  yang penguasaannya dikuasai oleh sejumlah pengusaha dan politisi, telah mengakibatkan terjadinya  korporasi media  yang akhirnya menggiring isi dan pemberitaan media pada masa ini terasa tidak berimbang.

Media dalam penguasaan korporasi ini mengakibatkan jurnalis tidak lagi leluasa menuliskan dan melaporkan berita, karena berita yang dimuat sepenuhnya harus didasarkan atas persetujuan pimpinan redaksi dan persetujuan  pemilik media.

Melihat  situasi tersebut keberadaan jurnalisme warga sangatlah berpengaruh dalam menjaga keseimbangan informasi yang berputar dalam sirkulasi publik jurnalisme warga yang penggunaannya mengandalkan ketersediaan internet.

Hal tersebut terpapar dalam acara launching aplikasi “MyReport” yang merupakan aplikasi jurnalisme warga yang dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) di Jakarta, pada Rabu 29 Maret 2017 kemarin.

Internet sebagai alat yang juga dipakai dalam dunia politik dan alat perubahan kebijakan di era ini, menurut Damar Juniarto, Koordinator Regional Safenet, juga digunakan sebagai  upaya kontestasi terhadap kekuasaan.

“Internet yang menempati posisi nomor dua setelah televisi  hari ini menjadikan internet sebagai sumber informasi, sekaligus sebagai alat kekuasaaan,: ujar Damar Juniarto.


MyReport Hadir Menyuarakan Persoalan Perempuan 


Direktur Eksekutif PPMN, Eni Mulia dalam paparannya mengatakan bahwa kehadiran MyReport  adalah sebagai ruang interaksi secara langsung antara jurnalis warga  yang melakukan reportase persoalan-persoalan warga  dan kemudian pemerintah bisa menjawabnya dalam aplikasi ini MyReport.

Dalam pemaparannya, Eni Mulia menjelaskan bahwa MyReport hadir untuk menyoroti persoalan kebijakan publik yang terkait soal perempuan, kelompok difabel dan kelompok rentan lainnya.

“MyReport hadir untuk menyuarakan persoalan situasi yang dialami oleh perempuan. Hal ini juga didorong  oleh temuan Riset Dewan Pers yang menyebutkan bahwa media sebagai ruang informasi publik seringkali tidak berperspektif perempuan dan difabel  dan cenderung tidak berpihak pada perempuan dan difabel,” ujar Eni Mulia.

MyReport selanjutnya akan hadir sebagai solusi  teknologi untuk membantu jurnalis warga melaporkan persoalan kebijakan publik yang tidak berperspektif perempuan dengan target dapat merubah kebijakan publik yang tidak berpihak tadi.

“MyReport hadir seluas-luasnya berjejaring juga dengan berbagai organisasi masyarakat serta mendorong terciptanya relasi simbiosis mutualisme antara media komunitas dengan jurnalisme warga dalam menyarakan persoalan-persoalan perempuan di wilayah yang tersebar jurnalisme warga MyReport,” kata Eni Mulia.

Pada tahap awal, MyReport bersama sejumlah organisasi mitra The Asia Foundation akan bekerja dan melakukan pemantauan kebijakan pemerintah di 12 Kabupaten di Indonesia pada tahun 2017-2018, antaralain: Kabupaten Bantaeng dan Kabupaten Pangkep (Sulawesi Selatan), Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pacitan (Jawa Timur), Kabupaten Pemalang, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pekalongan (Jawa Tengah), Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat) dan Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Biereun dan Kabupaten Aceh Barat (Aceh).

Para jurnalis warga juga akan melakukan pemantauan di 12 Kabupaten tersebut dan menuliskan pemantauan sekaligus hasil kebijakan pemerintah yang akan diunggah ke dalam aplikasi MyReport.

“Para jurnalis warga di desa-desa yang kami latih untuk menulis kemudian menggunakan aplikasi MyReport untuk menuliskan hasil tulisan mereka. Pada tahap awal ini, kami akan fokus pada isu pendidikan dan kesehatan bagi perempuan, diffable dan anak buruh migran,” ujar Eni Mulia.

Media komunitas merupakan media alternatif di Indonesia yang hadir di tengah media mainstream yang bertumbuh secara pesat. Namun dengan kegigihannya, media komunitas kemudian mampu memberikan informasi alternatif bagi warga yang tidak didapatkan di media mainstream. Para pengelola media komunitas termasuk jurnalis warganya kemudian bekerja secara kolektif atas dasar perjuangan bagi publik.

Jurnalis warga bersama pengelola media komunitas tersebut saat ini bekerja untuk media-media komunitas melalui siarannya di radio, televisi sekaligus melalui online dan dengan sistem konvergensi yaitu integrasi diantara media online dan media penyiaran.

(Suasana acara launching MyReport di Jakarta pada 29 Maret 2017 kemarin,Luviana/ PPMN, Eni Mulia/ PPMN, Damar Juniarto/ SafeNet dan Gibran Sesunan/ LAPOR Kantor Staff Presiden/ Foto: Ega Melindo)

*Ega Melindo, sehari-hari aktif di Solidaritas Perempuan dan di jaringan advokasi nasional untuk demokrasi dan hak asasi perempuan.



Febriana Sinta, www.konde.co

Jogjakarta, konde.co - Wajah Fitri dan Ari kebingungan saat gurunya menerangkan tanda – tanda kedewasaan.Dua perempuan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Rela Bakti, Kulon Progo itu berusaha mengikuti penjelasan gurunya, Ibu Sri.

Untuk mempermudah, Ibu Sri menerangkan tanda – tanda seseorang telah beranjak dewasa dengan menggambarkan perempuan hamil, dan menstruasi.

Guru - guru  pun mengaku  sulit untuk mengajarkan murid - murid di SLB tentang kesehatan reproduksi terutama kepada murid perempuan. Hal ini disebabkan siswa tuna rungu dan netra kesulitan untuk menangkap informasi yang disampaikan.

Selama ini anak didiknya hanya tahu tentang perubahan fisik mereka menuju dewasa, misalnya tumbuhnya payudara , menstruasi dan orang hamil.Di SLB informasi tentang kesehatan  reproduksi hanya disampaikan dengan alat peraga, seperti patung manusia atau manikin atau gambar.

“Pengetahuan tentang reproduki seharusnya penting untuk diketahui anak yang sudah berusia rata – rata di atas 18 tahun agar tidak hamil di luar nikah, dan tahu menjaga diri,”ujar Bu Sri.

Saat ini kurikulum kesehatan reproduksi di SLB hanya diajarkan di pelajaran agama dan kesehatan jasmani saja.

Guru olahraga SLB Rela Bakti, Arisman mengaku siswa penyandang disabilitas  kesulitan untuk diajak berbicara tentang masalah reproduksi, karena mereka tidak pernah mendapatkan pengetahuan  dari keluarga dan minimnya mendapatkan akses kesehatan reproduksi dari fasilitas kesehatan.

“ Mendapatkan (pelajaran) iya, tapi kadang yang murid SLB  B itu sulit mengerti karena kadang salah persepsi . Secara umum sulit untuk menerjemahkan karena bahasanya khusus.”

Untuk mengatasi minimnya informasi yang diperoleh perempuan penyandandang disabilitas, Direktur Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA), , Nurul Sa'adah Andriani mengatakan  lembanganya membantu disabilitas khususnya perempuan mendapatkan informasi kesehatan reproduksi dengan mudah .

Dirinya dan beberapa relawan selama beberapa tahun terakhir ini gencar melakukan kampanye kesehatan reproduksi. Menurutnya perempuan penyandang disabilitas merupakan kelompok yang rawan terkena pelecehan seksual.

“Kami melakukan kampanye dan memberikan edukasi semua pihak mulai pemerintah daerah, sekolah sampai keluarga yang mempunyai anak penyandang disabilitas. Karena memang minim informasi tentang itu.”

Nurul juga mengkritisi program pemerintah yang menyediakan akses informasi kesehatan reproduksi berupa leaflet atau buku ke penyandang disabilitas. Menurutnya program itu salah sasaran.

“Program ini untuk remaja bukan penyandang disabilitas.  Untuk penyandang disabilitas tuna grahita misalnya, tulisan yang terlalu banyak akan menyebabkan mereka kesulitan mengakses informai tersebut.”

Di tahun 2016, Komnas Perempuan menyoroti tentang pelayanan kesehatan reproduksi di rumah sakit.
Ketua Sub Komisi Pengembangan Sistem Pemulihan Komnas Perempuan, Indriyati Suparno mengatakan perempuan penyandang disabilitas mengalami pelanggaran hal atas pelayanan kesehatan dari institusi kesehatan.

“ Mereka dipaksa menjalani sterilisasi paksa atas reproduksinya.”

Menurutnya sterilisasi paksa terjadi karena opini publik yang keliru menganggap perempuan disabilitas tidak akan mampu merawat anaknya.

Padahal dalam UU Penyandang Disabilitas, Bab 3 Pasal 5 ayat 3 disebutkan penyandang disabilitas berhak menerima informasi kesehatan reproduksi dan menerima atau menolak penggunaan alat kontrasepsi.

Indriyati mengingatkan UU Nomer 8 Tahun 2016, tentang Penyandang Disabilitas harus segera diimplementasikan oleh pemangku kebijakan di tingkat pusat dan daerah.

Referensi :
https:m.merdeka.com/amp/peristiwa/komnas-perempuan-catat-29-kasus-kekerasan-perempuan-disabilitas.html

Luviana- www.konde.co

Jakarta, Konde.co - Network for Education Watch Indonesia (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia-JPPI) mengeluarkan sebuah index layanan pendidikan di Indonesia 2016, yang disebut Right to Education Index (RTEI) bekerjasama dengan RESULTS International.

Index  RTEI ini juga dilakukan di beberapa negara, yaitu Indonesia, Inggris, Kanada, Australia, Philipina, Korea Selatan, Palestina, Ethiopia, Nigeria, Honduras, Tanzania, Zimbabwe, Kongo, dan Chile. RTEI merupakan indeks yang dirancang untuk mengukur pemenuhan hak atas pendidikan, yang akan mendorong akuntabilitas dan tranparansi dalam pengelolaan pendidikan.

Dalam pernyataan persnya pada Senin 27 Maret 2017 kemarin, disebutkan ada lima indikator utama yang diukur dalam Index ini antaralain: governance, availability, accessibility, acceptability, dan adaptability.

Dari beberapa indicator tersebut, Indonesia mendapatkan skor 77%.  Ubaid Matraji, Koordinator Nasional JPPI menyatakan bahwa skor ini tidak membanggakan, karena menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia sejajar dengan negara Nigeria dan Honduras.

“Ironisnya lagi, ternyata kualitas pendidikan di Indonesia berada di bawah Philipina dan Ethiopia.”


Peringkat Kualitas Pendidikan Berdasarkan RTEI 2016:

Dalam Index ini Indonesia menempati tempat ke-7 dari 14 negara yang lain.

1. UK : 87%
2. Canada : 85%
3. Australia : 83%
4. Philippines : 81%
5. Ethiopia : 79%
6. South Korea : 79%
7. Indonesia : 77%
8. Nigeria : 77%
9. Honduras : 77%
10. Palestine : 76%
11. Tanzania : 73%
12. Zimbabwe : 72%
13. Kongo : 70%
14. Chile : 65%


Catatan Hasil Penelitian

Dari beberapa temuan penelitian, ada 3 isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian karena skornya masih rendah, yaitu:

1.Kualitas guru (availability)

2.Sekolah yang tidak ramah anak (accepatability)

3. Diskriminasi terhadap kelompok marginal (adaptability).

Skor kualitas guru yang rendah ini disebabkan karena rasio ketersediaan guru khususnya di daerah terdepan, terluar dan terpencil. Juga, berdasarkan hasil uji kompetensi guru 2016 yang masih di bawah standar. Ini tidak sebanding dengan anggaran yang dihabiskan untuk gaji guru, tapi tidak berpengaruh banyak terhadap peningkatan kualitas.


Lingkungan Sekolah di Indonesia


Lingkungan sekolah di Indonesia yang dianggap masih belum ramah anak. Hal ini disebabkan masih maraknya kekerasan di sekolah, baik fisik maupun non fisik.

Kasus tentang bullying, kekerasan fisik, dan juga kekerasan seksual masih sering menghiasi pemberitaan media. Setidaknya ada enam tipe kekerasan utama yang terus terulang di lingkungan sekolah:

1.Penganiayaan guru kepada siswa

2.Penganiayaan siswa kepada guru

3. Penganiayaan siswa kepada siswa

4. Penganiayaan wali murid kepada guru

5. Pelecehan seksual

6. Tawuran antarsekolah

“Problem lainnya adalah akses pendidikan bagi kelompok marginal. Kelompok marginal yang masuk kategori ini adalah perempuan, anak di penjara, kelompok difabel, anak keluarga miskin, dan juga para pengungsi. Di antara kelompok marginal ini, yang paling rentan adalah pengungsi,” ujar Ubaid Matraji.

Di Indonesia, ada banyak pengungsi dari berbagai negara, antara lain Myanmar, Irak, Somalia, Afganistan, dan Palestina. Belum lagi ada juga pengungsi dari dalam negeri, akibat konflik dan kemiskinan. Penanganan pengungsi di Indonesia masih bersifat sektoral, yakni hanya berdasarkan koordinasi lintas lembaga pemerintahan tanpa dipayungi oleh kebijakan dan kerangka hukum.

Ketiadaan hukum ini menyebabkan berbagai institusi pemerintahan mencoba melakukan terobosan, namun terkendala karena keterbatasan wewenang yang dimiliki masing-masing lembaga dalam menangani para pengungsi. Akibatnya, hak pendidikan bagi anak-anak tersebut menjadi terbengkalai.


Rekomendasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Sekolah


Berdasarkan temuan-temuan RTEI 2016, ada beberapa rekomendasi  untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia antara lain yaitu: kualitas guru harus ditingkatkan. Jangan hanya gajinya saja yang naik, kualitasnya juga harus meningkat.

“Untuk itu, pemerintah harus lebih serius dalam mengembangkan kapasitas guru. Langkah ini harus dilakukan berdasarkan roadmap yang jelas, terukur, dan berkesinambungan. Evaluasi dan monitoring juga harus dilakukan secara berkala. Lalu, menindaklanjuti temuan-temaun evaluasi di lapangan. Jika tidak, maka kualitas guru akan terus masih menjadi dilema yang berkepanjangan.”

Yang kedua, untuk menciptakan rasa aman dan ramah anak di sekolah, pemerintah dan juga pihak sekolah harus memberikan sangsi tegas kepada pihak-pihak manapun apabila melakukan kekerasan di lingkungan sekolah. Selain itu, partisipasi orang tua juga sangat penting untuk digenjot. Ini bagain dari mekanisme kontrol yang harus diperankan orang tua dan juga stakeholder lain di sekolah.

Ketiga yaitu perlunya kebijakan afirmasi untuk kelompok marginal. Diskriminasi pendidikan bagi kelompok marginal harusnya tidak terjadi. Khususnya bagi kalangan miskin, difabel dan para pengungsi. Mereka juga punya hak atas pendidikan.

“Untuk itu, pemerintah harus memberikan kebijakan afirmasi kepada kelompok-kelompok rentan. Karena masih banyak anak yang tidak bisa sekolah, disebabkan identitas yang tidak sesuai dengan domisili. Ini sering menimpa anak-anak pengungsi, baik karena konflik atau akibat kemiskinan yang mendera,” ungkap Ubaid Matraji, Koordinator Nasional JPPI.



Estu Fanani - www.konde.co.


Jakarta, Konde.co -  Koalisi Untuk Kendeng Lestari pada 27 Maret 2017 kembali melakukan aksi menyemen kaki hari ke-14 sejak aksi #DipasungSemen2.

Aksi ini juga sekaligus memperingati 7 hari meninggalnya ibu Patmi, salah satu Kartini Kendeng yang meninggal  karena serangan jantung pada 20 Maret lalu beberapa waktu setelah pasung semen dikakinya dilepas paska perwakilan petani Kendeng diterima oleh KSP.
Aksi #PasungSemen2 yang melibatkan 25 relawan dari berbagai elemen masyarakat sipil. (Foto: Estu Fanani, 27/3)
Aksi kali ini melibatkan 25 relawan yang dipasung kakinya dengan semen sebagai bentuk solidaritas pada petani Kendeng. Hingga kemarin (25/03/17) tercatat aksi solidaritas #KendengLestari ini terus meluas dan dilakukan di 35 lokasi di seluruh Indonesia.

Sayangnya, belum nampak niat baik dan pernyataan yang membesarkan hati petani Kendenh dari presiden Jokowi, selain "berpaling muka" dengan menyerahkan keputusannya pada Gubernur Jawa Tengah. Padahal persoalan Kendeng ini sudah mempunyai dasar hukum yang kuat dimana Mahkamah Agung sudah memenangkan petani Kendeng.

Ya, bu Patmi dan petani Kendeng lainnya berjuang dengan keyakinan hukum, putusan pengadilan dapat ditegakkan. Mereka juga percaya Pemerintah RI tidak akan diam melihat rakyatnya disengsarakan perusahaan pelanggar hukum. Bu Patmi dan petani Kendeng juga percaya Presiden adalah pimpinan tertinggi negara dan pemerintahan yang dapat menertibkan kepala daerah yang melanggar hukum.
Replika nisan dan lukisan ibu Patmi mewarnai aksi sekaligus doa bersama tujuh hari meninggalnya  (Foto: Estu Fanani, 27/03)

Tak Hanya Menyelematkan Kendeng, Namun Pulau Jawa

Sejatinya, sikap warga Kendeng menolak pertambangan dan pabrik semen tak semata untuk menyelamatkan pegunungan Kendeng, tapi menyelamatkan pulau Jawa. Bentang alam karst memiliki fungsi hidrologi yang mengontrol sistem ekologi di dalam kawasan, permukaan bukit karst berperan sebagai penyimpan utama air. Pulau Jawa memiliki luasan karst paling kecil  dibanding pulau besar lainnya di Indonesia.

Padahal sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di pulau Jawa, sekitar 145.143.600 jiwa (BPS, 2015).  Sebaran batu gamping di Jawa hanya sekitar 1.112.418 hektar,  dan sekitar 11, 18 juta jiwa tinggal di dalam kawasan batu gamping. Tekanan terhadap kawasan karst  saat ini adalah pertambangan dan pabrik semen. Saat ini sudah ada 21 pabrik semen beroperasi di Jawa (Falah, 2016) baik yang dimiliki oleh perusahaan BUMN maupun swasta dalam negeri dan luar negeri. Bertambahnya tambang gamping dan pabrik semen akan memperburuk kualitas lingkungan di pulau Jawa.

Ditengah akhir penyusunan KLHS, terdengar kabar gembira lewat pernyataan dari Ketua Tim Penyusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), yang menyebutkan  bahwa Daerah Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih yang merupakan area tambang PT. Semen Indonesia adalah Wilayah yang tidak layak ditambang .

Jauh-jauh hari sebelumnya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada 16 Januari 2016 juga mengirim surat kepada Ganjar Pranowo mengingatkan daerah CAT WAtuputih mengindikasikan Kawasan Bentang Alam Karst yang tidak boleh ditambang. Ini semakin menegaskan kesalahan Gubernur Jawa Tengah dan PT. Semen Indonesia. 

Perginya bu Patmi ke Sang Pemilik Hidup tujuh hari yang lalu dalam aksi menolak pabrik semen, bukannya menyurutkan perjuangan. Justru memberikan energi baru terhadap perjuangan dulur-dulur Kendeng menolak pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng. Beliau pun juga menginspirasi gerakan penolakan terhadap pabrik semen di berbagai daerah seluruh Indonesia.

Sore tadi di depan istana – Koalisi untuk Kendeng Lestari meneruskan perjuangan sekaligus mengadakan selamatan Brokohan untuk mendoakan kepergian Bu Patmi dan keberhasilan perjuangan menyelamatkan pegunungan Kendeng.

Sayangnya  kematian Ibu Patmi hanya ditanggapi dengan ucapan belasungkawa oleh pemerintah serta pemberian uang santunan. Pemerintah seakan tutup mata dan pura-pura tidak memahami alasan kenapa Ibu Patmi memasung kakinya dengan semen hingga ajal menjemputnya.



Febriana Sinta-www.konde.co

Konde.co-Cerita ini tentang perempuan yang pernah disebut sebagai perempuan terjelek di dunia. Di usia yang masih muda, 16 tahun,  Lizzie Velasquez menyadari dirinya menjadi korban bullying saat menemukan video di YouTube. Video yang telah dilihat jutaan orang itu diberi judul " Perempuan Terjelek Di Dunia."

Video itu berisi tentang dirinya saat berpidato tentang penyakit langka yang dideritanya. Video berdurasi singkat itu telah mengundang jutaan orang melihatnya dengan ribuan Komentar tidak mengenakkan. Beberapa komentar yang diingat Lizzie adalah komentar yang mempertanyakan alasan orang tua Lizzie tidak membuang anak perempuannya, atau julukan monster terjelek yang ditujukan padanya. Komentar-komentar ini pernah Lizzie pernah berniat melakukan bunuh diri.

Elizabeth Ann Velasquez lahir di Texas, Amerika Serikat, 13 Maret 1989. Dia terlahir dengan menderita Sindrom Marfan, yaitu keadaan dimana tubuhnya tidak bisa menyimpan atau menerima lemak . Sindrom yang diderita sejak bayi ini menyebabkan tulang Lizzie menonjol dan menjadikannya sangat kurus.

Bullying akibat menderita penyakit langka pertama kali dirasakan saat Lizzie duduk di Taman Kanak - kanan (TK). Tidak ada satupun teman yang mau bermain dengan dirinya.

Dalam Sebuah film dokumentar berjudul Heart Brave: The Lizzie Velasquez Story, diceritakan teman - temannya memandang dirinya dengan aneh, dan enggan untuk berteman. Keadaan ini terjadi hingga dirinya duduk di SMA.

Dalam film diceritakan bagaimana dorongan orang tua Lizzie, Rita dan Lupe  Velasquez menjadi penyemangat utama dirinya untuk bangkit sebagai korban bullying dan pelecehan.

Tahun 2006 atau setahun setelah dirinya dijuluki sebagai perempuan terjelek di dunia, Lizzie bertekad melakukan perubahan. Salah satunya dengan membuat video singkat di YouTube. Dia bercerita tentang dirinya,dan bagaimana menerima kenyataan menjadi perempuan yang dianggap tidak menarik, serta pendapatnya sebagai korban cyber bullying.

Selanjutnya kampanye anti bullying terus dilakukannya. Setiap bulan Oktober yang merupakan Bulan Penvegahan Bullying dirinya selalu mengingatkan perempuan dan anak perempuan untuk berjanji tidak melakukan tindakan diskriminasi.

Tekad untuk membantu korban bullying mejadikannya motivator bagi perempuan yang kerap di bully. Selain itu dia menjadi aktivis yang menyusun rancangan undang - undang anti intimidasi bersama anggota konggres Amerika Serikat.

Salah satu kutipan kata-kata inspiratif Lizzie yang tertera di bukunya "Ted Talk"(2013), berbunyi tentang kisah dan curahan hatinya. “Apakah saya akan membiarkan orang-orang memanggil saya sebagai monster? Tidak, saya akan meraih tujuan saya, keberhasilan dan prestasi saya menjadi hal yang saya tentukan sendiri.”

Saat ini Lizie tetap berjuang menyuarakan anti intimidasi dan bullying.


Referensi :

1. Film dokumenter "Heart Brave: The Lizzie Velasquez Story"
2. http://m.solopos.com/2015/10/14/kisah-inspiratif-kerap-dihina-wanita-terjelek-di-dunia-ini-jadi-motivator-andal-651484

Sumber foto Instagram littlelizziev

Luviana- www.Konde.co

Seminggu yang lalu, anak perempuan saya mengikuti ujian musik di sekolahnya. Ia memainkan pianika dan melantunkan lagu “Tanah Airku.”

“Tanah airku tidak kulupakan.
Kan terkenang selama hidupku.
Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu.
Tanah ku yang kucintai, engkau kuhargai.”


Ketika saya mencertakan ini kepada salah satu sahabat saya yang tinggal di Perancis, ia terenyuh mendengar cerita ini. Bukan karena cerita anak saya yang bisa bermain pianika, namun karena ia gemetar, anak-anak Indonesia menyanyikan lagu ini.

Tiba-tiba ia ingat Indonesia, ingat Solo, kota yang membesarkannya dulu.

“Kalau dengar lagu ini, rasanya pengin nangis. Pengin pulang. Tidak mau balik lagi kesini.” Begitu ujarnya ketika menelepon saya malam-malam.

Lagu-lagu seperti ini selalu mengingatkannya pada rumah. Ia berulangkali bercerita, kalau ketemu teman Indonesia disana, mereka tak berhenti untuk bercerita tentang Indonesia, tentang kota, tentang kampung, tentang desa yang telah membesarkan mereka.

Hari ini, pencipta lagu “Tanah Airku”, saridjah Niung atau Ibu Soed ini genap berusia 109 tahun. Google Doodle hari ini di lamannya menuliskan ulangtahun Ibu Soed ini, perempuan yang banyak jasanya untuk anak-anak Indonesia.

Lahir di Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Maret 1908. Ibu Soed kemudian meninggal tahun 1993 pada usia 85 tahun. Ibu Soed adalah seorang pemusik, guru musik, pencipta lagu anak-anak, penyiar radio, dramawan dan seniman batik Indonesia. Lagu-lagu yang diciptakan Ibu Soed sangat terkenal di kalangan pendidikan Taman Kanak-kanak Indonesia. Ibu Soed dikenal sebagai tokoh musik tiga zaman (Belanda, Jepang, Indonesia)

Sebagai pemusik yang mahir memainkan biola, Ibu Soed turut mengiringi lagu Indonesia Raya bersama W.R. Supratman saat lagu itu pertama kali dikumandangkan dalam acara Sumpah Pemuda di Gedung Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928.

Jauh sebelum meninggal, Ibu Soed sempat mengungkapkan perasaannya yang menyayangkan bahwa lagu anak-anak sekarang telah menjadi serba komersil. Ibu Soed telah menciptakan 480 lagu anak-anak Indonesia, antara lain: Burung Kutilang, Naik Delman, Lihat Kebunku, Kupu-Kupu, Naik-Naik ke Puncak Gunung, Desaku, Hai Becak, Berkibarlah Benderaku, Bendera Merah Putih dan Tanah Airku.

Lagu-lagu Ibu Soed, menurut Pak Kasur, salah seorang rekannya yang juga tokoh pencipta lagu anak-anak, selalu mempunyai semangat patriotisme yang tinggi. Sebagai contoh, patriotisme terdengar sangat kental dalam lagu Berkibarlah Benderaku. Lagu itu diciptakan Ibu Soed setelah melihat kegigihan Jusuf Ronodipuro, seorang pimpinan kantor RRI menjelang Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947, dimana Jusuf menolak untuk menurunkan Bendera Merah Putih yang berkibar di kantor RRI, walaupun dalam ancaman senjata api pasukan Belanda

Hingga sekarang, setiap hari kita masih mendengar lagu “Tanah Airku” ini dalam penutup siaran di sejumlah stasiun televisi. Lagu ini selalu mengingatkan saya akan Indonesia, alamnya yang indah, namun juga kemiskinannya, problem sosial masyarakat, persoalan perempuan yang tak kunjung usai. Ibu Soed selalu mengingatkan, pada perjuangan kemanusiaan untuk mencintai Indonesia.


(Referensi: http://www.biografi.id/2016/01/biografi-lengkap-ibu-soed-saridjah-niung.html)
(Foto/ ilustrasi: Google.co.id)

Sica Harum- www.Konde.co


Minggu lalu, saya bertemu teman.  Kami kenal sudah lama, dan sesekali berjumpa -baik sengaja atau tidak- dalam sejumlah penggalan episode kehidupan.
Saat ia masih belasan, saya di awal 20-an.

Saat ia di momen absurd seperempat abad, saya di awal 30-an.

Kini,  usianya pas 30 tahun.

Buat saya, usia itu sungguh menyenangkan. Usia tanpa galau. Udah mulai punya duit sendiri, (biasanya) juga udah mulai mapan dalam karier, dan sudah terbiasa dengan sejumlah kekecewaan. Jadi, saya siap menghadapi segala sesuatunya, tak terlalu galau dalam menghadapi masalah hidup, dan jika terjadi lagi pun, tak terlalu lama untuk bangkit kembali.

“Iya tau, Kak. Enak banget. Bebas kemana-mana. Bener-bener fearless dan worry free.”

Haha. Iya. I know.

Apakah ia masih ditanyai “kapan menikah”?

Ya, tapi biasanya umur segitu mah sudah kebal. Dan sudah biasa memberi banyak versi jawaban tanpa harus menjadi selalu sebal.  Dan mengapa pertanyaan seputar menikah dan anak ialah hal-hal yang akan terus mengelilingi perempuan? Itu katanya.

Jika ditelp, yang ditanya: kapan menikah?

Ketika diajak kenalan di sebuah forum, yang ditanya: sudah menikah?

Ketika bertemu orang di sebuah pesta perkawinan, yang ditanya: kenapa datang sendirian? pasangannya kemana?

Ketika bertemu teman lama, yang ditanya: mengapa tidak menikah juga?

Menikah seolah menjadi status yang menjadi jawaban yang melegakan bagi orang lain, yang membuat orang lain menjadi lega ketika kita bisa menjawabnya. Benarkah jika kita membawa pasangan kita ke pesta dan mengenalkan pasangan kita pada orang lain, bisa membuat orang lain menjadi lega? Benarkah begitu?

Teman saya yang lain memutuskan untuk tidak menikah, hidupnya happy. Yang harus bekerja dan kuliah di luar negeri dan meninggalkan pasangannya yang selingkuh, masih bisa menghirup udara segar-keluar dari persoalan.

Dan yang belum menemukan pasangan seperti teman-teman saya, tetap enjoy hidupnya, mempunyai banyak waktu untuk back packeran, jalan-jalan, minum coklat di sore hari sepulang kerja, lebih bisa full membantu di organisasi yang ia ikuti, menjadi volunteer di sejumlah organisasi dan lebih punya banyak waktu untuk merenung, mengembangkan karir. Menulis buku, membuat film, mengelola platform baru. Bertemu banyak orang yang berbeda.

Banyak hal yang bisa dilakukan perempuan di usia 30 tahun.

Tak perlu menjadi sedih dan merasa sendiri di usia ini.

Dalam perjalanan hidup yang saya tempuh, di usia ini, justru kita menemukan banyak sekali tantangannya.

Happy 30, ya!


Ika Ariyani - www.konde.co

“Menjadi istri yang baik itu adalah kewajiban dan tuntutan yang harus dijalani seorang anak perempuan setelah ia menikah. Tujuan akhir hidup seorang perempuan adalah menjadi istri dan ibu. Sebanyak apapun kontribusimu bagi dunia, kalau kamu tidak menikah, kamu tetap saja nothing.”

Itulah kalimat yang sering saya dengar. Hmm..sebenarnya, dogma itu asalnya dari siapa ya?

Menjadi Istri yang “Baik”?

Menjadi istri yang baik versi normal itu bagaimana maksudnya? Bisa memasak, bisa beres-beres rumah, menanam bunga dan menata rumah, bisa memijat suami, rajin ikut arisan, disayang mertua, pintar atur keuangan, harus jaga kecantikan, telaten urus anak, rajin ibadah, plus sambil kerja nyari uang. Ini istri atau siluman sih?

Kalau seorang perempuan dibiarkan melakukan itu semua, kapan waktunya dia memikirkan diri sendiri? Sering (banget) temen-temenku yang sudah menikah, merasa bersalah saat mereka hang out bersama temannya di luar. Mereka takut dan ingin segera pulang karena tidak enak sama suami, apalagi kalau sudah punya anak.

Memangnya kenapa kalau perempuan bergaul setelah jam kerja? Memangnya perempuan itu seperti ayam, yang kalau mau maghrib harus masuk kandang? Kenapa suami kok bebas saja keluar rumah sampai tidak ingat waktu?(memang tidak semua sih).

Terlalu sibuk bekerja, mengurus rumah, belum lagi meladeni suami yang manja, akan membuat perempuan lelah dan tidak sempat lagi memikirkan dirinya sendiri, menjaga kesehatan bahkan merawat kecantikannya.

Dan yang lebih miris, seorang perempuan yang dulunya juara kelas, punya gelar sarjana bahkan master, memenangkan kejuaraan ini itu, harus menjadi istri yang ‘baik’, sehingga ia lupa mengembangkan dirinya sendiri, tidak sempat baca buku, tidak sempat merenung, tidak sempat diskusi, bahkan lupa apa impiannya, saking banyaknya tuntutan yang ditujukan kepadanya.

Akibatnya perlahan ia menjadi terlihat tua. Dan setelah begitu, suami malah menghinanya dan tebar pesona kepada perempuan lain yang lebih cantik dan smart. Tidak ingin suami pindah ke lain hati adalah ambisi satu-satunya dalam hidup. Sehingga istri melakukan apa saja supaya tampil cantik dan seksi.

Harus Menyenangkan Keluarga Besar?

Lalu apa gunanya seorang perempuan yang selalu dipuja puja saat masih tahap pacaran oleh pacarnya?, jika akhirnya setelah menikah ia akan diberi segudang tanggungjawab yang kadang melewati batas kemampuannya? Apalagi jika harus menurut pada keluarga besar yang sering menuntut banyak pada pasangan yang telah menikah.

Entah siapa yang membuat aturan jika menikah, juga harus ikut ‘menikahi’ keluarganya. Sehingga seorang perempuan yang masuk ke keluarga suami berhak dijadikan objek penilaian, apakah ia layak dipuji karena kualifikasinya sesuai selera keluarga, atau dicemooh karena tidak bisa seperti istri pada umumnya seperti rajin menyambangi mertua, dekat dengan saudara ipar, dsb. Pokoknya hidup adalah hanya tentang menyenangkan hati keluarga suami.

Banyaknya media yang menerangkan cara agar disayang suami, agar suami betah di rumah, cara menjadi istri yang baik, membuat saya heran. Ini sudah tahun 2017, dan tetap tidak ada bedanya dengan peran istri pada jaman dulu.

Berikan perempuan ruang untuk mencapai segala mimpinya. Hidup ini bukan hanya tentang kesuksesan seorang laki-laki atau suami saja. Mungkin para laki-laki ada yang mengkhawatirkan istrinya lebih hebat.

Setiap perempuan butuh dukungan, bukan hanya laki-laki saja yang butuh dukungan, perempuan akan selalu menyandarkan dirinya pada orang yang menyayanginya setulus hati. Ia takkan bisa hidup tanpa seseorang yang selalu ingin berkembang bersamanya.

Perempuan diciptakan bukan hanya untuk menjadi bayangan. Pernikahan jangan menjadi alasan untuk ‘menundukkan’ istri agar tidak ‘too much’ dalam mengembangkan dirinya dan seakan memprioritaskan urusan domestik rumah tangga menjadi bakti dan prestasi paling tinggi di mata masyarakat. Perempuan juga berhak untuk punya arti dalam kehidupannya tanpa terikat oleh batasan-batasan dalam pernikahan.

(Ika Ariyani, Saat ini sedang mempelajari Human Resource dan fakta sosial perempuan Indonesia. Sehari-hari tinggal di Surabaya, Jawa Timur)

Febriana Sinta-www.konde.co

Jogjakarta, Konde.co - Usia senja tidak menghalangi seseorang untuk tetap menghasilkan sebuah karya.Salah satunya adalah Simbah Atemo Wiyono. Di usia 75 tahun dia tetap bekerja sebagai pengrajin dolanan (mainan) anak tradisional.

Sejak usia muda Simbah Atemo telah menekuni pekerjaannya sebagai pembuat mainan tradisional. Dari bahan sederhana yang didapat dari sekitar rumahnya, setiap hari dirinya membuat dolanan dari bahan kertas, bambu, kawat dan lem. Dolanan anak yang dihasilkan adalah otok-otok, wayang kertas , burung dan sangkarnya, kitiran, dan kipas kertas.

Dolanan kitiran
"Ini saja pekerjaan saya, gampang , bisa dikerjakan sambil momong (menemani) cucu," tuturnya.

Dolanan yang dihasilkan Simbah Atemo tidak setiap hari laku, karena saat ini jarang anak - anak yang memainkan dolanan tradisional. Jika ada acara Sekaten, pameran, atau acara seni, barulah dagangannya laku. Penjual akan mengambil dagangannya untuk dijual kembali.

"Jadi ada orang yang ambil dagangan untuk dijual lagi. Jarang ada pembeli yang langsung ke tempat saya. Saya sudah tidak kuat kalau jualan keliling ."

Sebenarnya di Desa Pandes, Sewon, Bantul tidak hanya Mbah Atemo saja yang menjadi pengrajin, ada puluhan pengrajin dolanan anak lainnya. Untuk itu desa yang terletak lima kilometer dari pusat Kota Jogjakarta ini disebut sebagai Desa Wisata Dolanan Anak.

Simbah Atemo bercerita dolanan anak miliknya sempat menjadi mainan yang paling dicari oleh anak - anak di tahun 80 hingga awal 90an. Namun sesudah itu mainan ini seperti hilang pamornya. Baru sekitar empat tahun lalu  mainan tradisional ini mulai dilirik banyak orang.

" Katanya yang main sekarang malah bukan anak-anak lagi, tapi orang tuanya..." ujar simbah sambil tertawa. Menurutnya mainan tersebut sudah menjadi barang klangenan atau barang kesukaan.

Dia menuturkan saat ini tidak hanya warga Jogja saja yang membeli , namun juga berasal dari luar kota untuk disimpan atau dijual.

Dolanan tradisional wayang kertas
yang dihasilkan Mbah Atemo
Untuk harga, mainan ini dijual sangat murah. Untuk pembeli eceran satu mainan hanya dihargai Rp.3.000. Jika permainan membutuhkan banyak bambu maksimal dihargai Rp.5.000. Pembeli borongan atau dalam jumlah banyak simbah akan memberikan potongan harga.

"Kalau dijual lagi bisa dihargai lebih dari Rp5.000 per mainan, tapi saya tetap berusaha tidak menaikkan harga. Tidak berani," ujar Mbah Atemo.

Jika pesanan banyak dalam sehari simbah mampu menghasilkan seratus buah mainan. Pekerjaan itu dia kerjakan sendiri. Alasannya anak atau menantunya tidak menyukai pekerjaan menjadi pengrajin dolanan tradisional.

Saat ini Mbah Atemo berharap pemerintah banyak mengadakan kegiatan atau pameran budaya, sehingga anak - anak dapat mengenal dan kembali memainkan dolanan tradisional.

"Saya inginnya ya banyak acara , banyak yang main lagi, banyak yang kenal...," pungkasnya sambil tersenyum. 

Foto : Febriana Sinta