Menjadi Perempuan 30


Sica Harum- www.Konde.co


Minggu lalu, saya bertemu teman.  Kami kenal sudah lama, dan sesekali berjumpa -baik sengaja atau tidak- dalam sejumlah penggalan episode kehidupan.
Saat ia masih belasan, saya di awal 20-an.

Saat ia di momen absurd seperempat abad, saya di awal 30-an.

Kini,  usianya pas 30 tahun.

Buat saya, usia itu sungguh menyenangkan. Usia tanpa galau. Udah mulai punya duit sendiri, (biasanya) juga udah mulai mapan dalam karier, dan sudah terbiasa dengan sejumlah kekecewaan. Jadi, saya siap menghadapi segala sesuatunya, tak terlalu galau dalam menghadapi masalah hidup, dan jika terjadi lagi pun, tak terlalu lama untuk bangkit kembali.

“Iya tau, Kak. Enak banget. Bebas kemana-mana. Bener-bener fearless dan worry free.”

Haha. Iya. I know.

Apakah ia masih ditanyai “kapan menikah”?

Ya, tapi biasanya umur segitu mah sudah kebal. Dan sudah biasa memberi banyak versi jawaban tanpa harus menjadi selalu sebal.  Dan mengapa pertanyaan seputar menikah dan anak ialah hal-hal yang akan terus mengelilingi perempuan? Itu katanya.

Jika ditelp, yang ditanya: kapan menikah?

Ketika diajak kenalan di sebuah forum, yang ditanya: sudah menikah?

Ketika bertemu orang di sebuah pesta perkawinan, yang ditanya: kenapa datang sendirian? pasangannya kemana?

Ketika bertemu teman lama, yang ditanya: mengapa tidak menikah juga?

Menikah seolah menjadi status yang menjadi jawaban yang melegakan bagi orang lain, yang membuat orang lain menjadi lega ketika kita bisa menjawabnya. Benarkah jika kita membawa pasangan kita ke pesta dan mengenalkan pasangan kita pada orang lain, bisa membuat orang lain menjadi lega? Benarkah begitu?

Teman saya yang lain memutuskan untuk tidak menikah, hidupnya happy. Yang harus bekerja dan kuliah di luar negeri dan meninggalkan pasangannya yang selingkuh, masih bisa menghirup udara segar-keluar dari persoalan.

Dan yang belum menemukan pasangan seperti teman-teman saya, tetap enjoy hidupnya, mempunyai banyak waktu untuk back packeran, jalan-jalan, minum coklat di sore hari sepulang kerja, lebih bisa full membantu di organisasi yang ia ikuti, menjadi volunteer di sejumlah organisasi dan lebih punya banyak waktu untuk merenung, mengembangkan karir. Menulis buku, membuat film, mengelola platform baru. Bertemu banyak orang yang berbeda.

Banyak hal yang bisa dilakukan perempuan di usia 30 tahun.

Tak perlu menjadi sedih dan merasa sendiri di usia ini.

Dalam perjalanan hidup yang saya tempuh, di usia ini, justru kita menemukan banyak sekali tantangannya.

Happy 30, ya!