Perempuan Kuat Berkalung Lurik




Febriana Sinta Sari - www.konde.co.

Jogja, Konde.co -  Jika kita datang ke pasar tradisional di Kota Yogyakarta, dengan mudah kita akan menjumpai perempuan-perempuan paruh baya yang mengangkut beban hampir tiga kali berat badannya.

Dengan memakai selendang warna biru motif lurik perempuan yang bekerja sebagai buruh gendong ini sigap mengangkat berbagai barang dari sayuran, buah-buahan, rempah, hingga baju.

Walaupun pekerjaan mereka sebagai buruh namun pendapatan yang diperoleh tidak pernah mendekati nominal Upah Minimal Propinsi (UMP) 2017 Kota Yogyakarta Rp.1.572.200. 

Salah satu buruh gendong di Pasar Kranggan, Wagiyem mengatakan keikhlasan menjadi penentu uang yang mereka terima.

"Tergantung orangnya bisa ngasih Rp.3.000 atau Rp.5.000. Kalau Rp.10.000 saya biasanya manggul (mengangkat beban di punggung) belanjaan mereka dan ikut muter-muter kemana mereka beli," tutur perempuan berusia 45 tahun ini.

Dari data Dinas pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta di tahun 2015, jumlah buruh buruh gendong tercatat sebanyak 337 buruh. Tercatat di Pasar Beringharjo 200 orang, Pasar Giwangan 135 orang, dan Pasar Kranggan 12 orang.

Faktor pendorong seorang perempuan menjadi buruh gendong dipengaruhi faktor ekonomi keluarga dan tingkat pendidikan.  Salah satu buruh gendong , Sarti mengatakan  menjadi buruh gendong dilakoninya sejak 5 tahun lalu. Didorong alasan ekonomi keluarganya, perempuan asal Bantul membulatkan tekat menjadi buruh gendong sekitar Rp.20.000 per hari.

"Suami saya buruh tani yang tidak tentu berapa pendapatannya, karena tidak ada keahlian saya ikut-ikutan menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo." tutur Sarti.

Diakuinya menjadi buruh gendong tidak membutuhkan skill (keahlian) yang harus dipelajari. Walaupun demikian perempuan yang tidak sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Mennegah Pertama (SMP) ini mengaku menjadi buruh gendong pekerjaan yang sulit.

"Yang sulit karena harus naik turun tangga, apalagi kalau naik atau turun dari lantai tiga. Ya kalau capek itu pasti mbak.."ujar Mbak Sarti terkekeh.

Jam kerja buruh gendong juga beragam tergantung pasar dimana mereka bekerja. Jam kerja terpanjang adalah di Pasar Giwangan. Buruh yang bekerja di pasar pusat buah terbesar di Yogyakarta ini bekerja terbagi dalam beberapa shift. Mulai pukul 07.00 - 16.00 kemudian 22.00 - 07.00 WIB. Sedangkan di Pasar Beringharjo dan Pasar Kranggan dimulai dari pukul 03.00 - 16.00 WIB.

Perempuan buruh gendong ini beberapkali melakukan aksi turun ke jalan mengadu kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) DIY. Mereka menuntut perlindungan kesehatan dan jaminan sosial BPJS, serta pengakuan sebagai tenaga kerja formal. Dengan pengakuan dari pemerintah daerah buruh gendong menginginkan adanya pemberian hak - hak sebagai pekerja.

Namun sayang ...hal itu tidak pernah terwujud.


(Ilustrasi Perempuan Bekerja Mengangkut Beban/ Sumber:Pixabay.com)