Perempuan Melawan Pabrik Semen



Aksi Pasung Perempuan Kendeng jilid 2 di depan Istana Merdeka, Selasa(13/7).
Foto : Guruh Riyanto


Febriana Sinta - www.konde.co

www.konde.co - Untuk kedua kalinya petani dari Pegunungan Kendeng Rembang, Jawa Tengah memasung kaki mereka. Selama tiga hari mereka melakukan aksi damai di depan Istana Merdeka, hanya satu tujuan yang ingin didapat  hentikan dan cabut ijin pembangunan Pabrik Semen Indonesia dari tanah kelahiran mereka.

Jangan mengira aksi ini hanya untuk mencari sensasi. aksi tiga hati itu mereka lakukan karena tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi. 

Salah satu petani perempuan yang menyemen kaki di Istana Negara, Dwi Yuliantini menyatakan hanya ini yang dapat mereka lakukan untuk mempertahankan tanah kelahirannya.

" Kami hanya bisa berbuat seperti ini mengecor kaki kami, karena kami tidak pernah didengar. Kalaupun keadaan berbicara lain, kami hanya bisa pasrah, mungkin yang memiliki keadilan yang akan berbicara, dan alam juga pasti akan berbicara dengan sendirinya.”

Perempuan dan gerakan perlawanan terhadap pendirian Semen Indonesia dimulai 16 Juni 2014. Aksi penolakan dilakukan oleh puluhan petani perempuan Kendeng dengan mendirikan tenda di kawasan yang menjadi pintu masuk alat-alat berat industri.
Perempuan - perempuan itu membangun tenda tepat di wilayah yang ditandai tulisan " Di sini akan dbangun pabrik semen ". Hari itu bertepatan dengan peletakan batu pertama pabrik semen.

Bermalam di tenda selama hampir tiga tahun mereka lakoni, melakukan audiensi dengan pejabat setempat hingga mengawal kasus penolakan pembangunan semen di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang sudah mereka lakukan. Bahkan mereka harus menerima kenyataan tenda dan mushala sebagai tempat berlindung dibakar.

Alasan penolakan yang dilakukan perempuan Kendeng sederhana, mereka tidak mau alam yang telah memberikan kehidupan rusak. Mereka hanya mempertahankan kehidupan yang telah berlangsung ratusan tahun di Kendeng.

Tidak ada unsur politis atau mengharapkan sejumlah uang untuk melakoni hidup di tenda dan memasung kaki dengan semen.

Gerakan perempuan penyelamat lingkungan lainnya juga terjadi di Flores.  Tentunya kita masih ingat di tahun 2014 sekelompok ibu warga Tureng, Kecamatan Elar, Flores harus bertelanjang dada menolak pembangunan tambang di wilayah mereka.

Alasan mereka melakukan aksi itu adalah karena suara mereka tidak pernah didengarkan dan mereka menyadari tidak akan menang jika beragumentasi. Mereka hanya ingin melindungi mata air, sumber kehidupan warga.

Selain itu kita mengetahui perjuangan Mama Aleta yang dimulai tahun 1990-an. Seorang ibu dari Nusa Tenggara Timur ini dengan gigih menolak Gunung Batu Anjuf untuk dikeruk, dibelah dan akan dijadikan sebagai bahan pembuatan marmer. Keinginannya saat itu agar Masyarakat Adat  Mollo tidak kehilangan sumber pangan, identitas dan budaya daerah.  Setelah berjuang selama 11 tahun kegigihan mereka akhirnya terbayarkan, ijin pengerukan dihentikan.

Pemerintah mungkin lupa atau tidak tahu bahwa perempuan akan menjadi penjaga lingkungan .Sejak tahun 1974, sudah muncul gerakan yang dikenal sebagai Ekofeminisme mendefinisikan bahwa perempuan dianggap memainkan peran strategis untuk menjaga dan menciptakan alam yang sehat, karena jika terjadi eksploitas atau perusakan lingkungan perempuan yang akan berhadapan atau berhubungan langsung  dengan perubahan yang terjadi.

Oleh karena itu perempuan tidak akan tinggal diam jika tanah mereka diganggu, dirusak, dieksploitasi. Mereka tetap akan berjuang.......



Referensi :
1. http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160413_indonesia_protes_semen_istana
2. http://says.com/id/imo/menjawab-pertanyaan-dian-sastro-tentang-sejarah-perjuangan-para-kartini-kendeng#
3.https://www.google.com/amp/regional.kompas.com/amp/read/2014/01/20/0917011/Kaum.Perempuan.Demo.Tolak.Pertambangan.di.Manggarai.Barat