Bekerja dari Rumah, Kami Lebih Produktif dan Punya Me-Time (Tamat)


Sica Harum- www.Konde.co

Apa enaknya bekerja di rumah bagi seorang perempuan? Selain tak harus berurusan dengan kemacetan jalan setiap pagi dan sore, waktu tak banyak terbuang di jalan, dan kita juga jadi punya quality time.

Saya memutuskan untuk tidak lagi berkantor pasca Lebaran tahun 2016 lalu. Semua bekerja remote. Setelah lebih dari 6 bulan, inilah yang saya rasakan:

1.    Kami Makin Produktif

Untuk bisnis kami yang berfokus pada jasa strategi komunikasi, layanan konten & media yang bersifat intangible, cara kerja remote working ini sama sekali tidak berdampak buruk. Justru sebaliknya, makin produktif dan berimbas sangat positif bagi bisnis.

Kami juga bisa menerima pekerjaan lintas negara. Memang, pekerjaan tersebut tidak tergolong rumit dan butuh strategi khusus. Pekerjaannya tergolong teknis, namun dalam volume besar. Ini karena kami jadi lebih banyak mengurus jaringan dan punya banyak waktu melakukan korespondensi via internet.

Kami diminta melokalkan konten website. Untuk itu kami berkolaborasi dengan sekitar 50-an penulis di sejumlah kota di Indonesia, paling banyak di Jakarta, Yogya, dan Bandung. Modalnya: email, whatsapp messenger, dan google drive.

Pekerjaan itu beres dalam hitungan minggu. Rasanya senang, bisa bekerja sama dan menaruh rasa percaya di antara kami yang sama sekali belum pernah tatap muka.


2.    Punya Me Time

Untuk jenis pekerjaan soliter, ini kami pandang jadi lebih produktif dan positif karena kita jadi tak menghabiskan energi yang sebagian habis di jalan. Emosi. Hormon. Lalu dipicu momen yang sebetulnya tak terlalu penting, dan malah membuat komunikasi berjalan buruk.

Bekerja secara remote, mengurangi hal-hal demikian.

Jika jam kerja mulai 09.00 WIB, maka silahkan saja jika kita menjadi punya me-time pagi hari. Mungkin bersantai dulu sambil menyesap kopi dan menghirup aromanya. Bukankah menyenangkan jika memulai kerja dengan rasa bahagia?


3.    Lower Cost, Better Impact


Biasanya, biaya menyewa kantor virtual untuk urusan administrasi dan perpajakan sekitar Rp.6 juta per tahun. Bandingkan dengan biaya sewa ruko di tengah kota sekitar Rp75 juta per tahun. Biaya dapat dialihkan menjadi biaya akses internet, atau langganan berbagai macam aplikasi untuk produktivitas kerja. Dan tentu saja, alihkan untuk biaya pemasaran serta kualiatas SDM.

Gaya kerja full remote banyak diterapkan sejumlah perusahaan jasa, utamanya bidang kreatif. Dan sejauh yang saya tahu, omzet mereka juga tidak kecil.

Nilai gengsi dari sebuah “alamat yang representatif” sudah tidak lagi relevan dan terlalu mengada-ada.  Karena kini sudah banyak wadah untuk memajang hasil kerja kita.

Satu-satunya alasan beralamat di perkantoran ialah semata urusan administrasi dan legal. Sebab, umumnya pemukiman tidak diperuntukkan untuk berkantor/berbisnis.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay.com)