Berkantor di Rumah, Apa Untungnya Bagi Perempuan? (Bersambung)



Sica Harum- www.Konde.co

Berkantor di rumah. Apa keuntungan bagi perempuan?.

Sejumlah kantor di Jakarta sudah melakukan ini. 4 hari bekerja di kantor dan 1 hari bekerja di rumah. Jika ada pertemuan di hari itu, semua bisa berkomunikasi lewat skype.

Saya memutuskan untuk tidak lagi berkantor pasca Lebaran tahun 2016 lalu. Semua bekerja remote. Meski hingga saat ini, kantor administratif kami masih tercatat di salah satu kawasan di Jakarta Selatan.

Jika kita ke kantor pagi-pagi di Jakarta, duhhh... Jakarta di pagi hari sungguh terasa kejam. Kemacetan yang panjang, meninggalkan rumah yang masih agak berantakan, setelah buru-buru mengantar anak ke sekolah.

Apa rasanya tiba di kantor setelah menghabiskan energi sepanjang jalan menuju tujuan? Naik angkutan umum lebih dari 2 jam, atau naik ojek dan harus menunggu antrian, atau naik mobil dengan kecepatan selambat kura-kura.

Kebanyakan pekerjaan kami sebenarnya bersifat soliter. Menulis. Mendesain. Mengonsep. Betul, dua kepala lebih baik daripada satu. Tapi terlalu banyak kepala dalam waktu yang terlalu lama juga cenderung menciptakan drama (terutama jika sedang sepi project).

Nah, jika semua dikerjakan di rumah, maka inilah hasilnya:

1.Lebih murah. Tidak perlu biaya transport. Tak perlu ongkos makan siang berlebih.

2.Tak perlu banyak budget untuk baju kerja.

3. Irit waktu. Dan yang jelas, waktu bekerja 8 jam sehari bisa betul-betul dioptimalkan tanpa menambah 2-4 jam perjalanan yang melelahkan.

Sekarang, kami semua bekerja remote, dengan kewajiban satu kali monthly meeting, dan  weekly meeting sesempatnya.  Sehari-hari, kami bekerja dari rumah, kamar kos, atau kafe. Untuk komunikasi, kami mengandalkan WhatsAppGroup.

Pekerjaan kami juga menjadi lebih mudah. Jika kami membutuhkan waktu untuk bertemu, maka kami akan bertemu di satu titik di tengah kota. Karena ini akan memudahkan kami semua. Pertemuan itu juga sesuai dengan kebutuhan kami. Tidak usah terlalu lama.

Yang lebih menyenangkan kami, kami selalu punya waktu ketemu diluar jam sibuk orang pergi ke kantor atau pulang ke kantor. Jika butuh waktu lama, kami akan  bertemu jam 10.00 WIB-15.00 WIB. Waktu 7 jam efektif bagi kami untuk bertemu. Yang jelas, kami tidak berangkat dengan kemacetan, dan tidak pulang dengan kemacetan. Ini tentu tidak akan membuang waktu kami di jalan.

Diluar itu, tentu masih ada alasan lain: debu yang banyak, udara tak sehat yang terus kami hirup.

Karena sebenarnya inilah yang banyak dikeluhkan teman-teman saya yang tinggal di Jabodetabek. Macet di sepanjang jalan yang kami lalui.

Dan tentu saja, kami jadi enak dalam mengatur waktu. Saya bisa melanjutkan hobby saya, menjelajah ke perpustakaan dan mencari buku bacaan yang saya perlukan. Saya juga bisa bertemu banyak teman dan mengatur waktu sendiri. Tentu ini tak mudah jika saya harus bekerja di kantor tiap hari. Jangankan bertemu teman, selesai pekerjaan, kami harus cepat berlari mengejar angkutan umum. Semua harus kami lakukan dalam kondisi terburu-buru. Betapa tak enaknya....

Lalu, setelah 6 bulan kami bekerja di rumah, apa efeknya bagi kami? (Bersambung)