Cerita Perempuan dalam Selembar Batik


Febriana Sinta, www.konde.co

Hari masih pagi, jam belum menunjukkan pukul delapan  tepat. Tampak satu persatu perempuan dengan memakai daster dan jarit mendatangi  rumah juragan batik di sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah. Di teras itu mereka mengambil kain mori yang telah digambari  motif batik, dengan ukuran 2 x 1,5 meter. Dengan lincah tangan mereka segera mengambil canting dan memasak lilin di atas kompor kecil. Mereka adalah perempuan buruh pembatik. 


Klaten, konde.co - Mereka yang bekerja sebagai buruh pembatik rata – rata berusia 30 hingga 50 tahun ini telah bekerja sebagai buruh pembatik sejak muda.

Pekerjaan sebagai buruh pembatik dilakukan di rumah juragan batik atau bisa juga dibawa pulang. Namun mereka lebih menyukai bekerja bersama – sama. Salah seorang buruh batik, Puri mengatakan tidak ada jam kerja sebagai buruh pembatik, jika ingin pulang maka mereka dapat pulang.

“Setelah masak, dan mengantar anak ke sekolah saya berangkat ke sini. Jam 11 pulang nengok rumah dan mengantar makanan untuk suami di sawah. Kalau mau ya balik sini lagi,” ujarnya.


Sebagai buruh pembatik, Puri mengaku setiap harinya dia harus mengerjakan nyerat batik selama delapan sehari. hal itu dilakukan untuk segera mendapatkan orderan yang lain.

"Setelah kerja di rumah juragan (majikan), siang pulang ke rumah. Cuci, setrika, kalau masakan habis masak lagi. Anak pulang sekolah , saya mengerjakan batik lagi sampai sore. Karena kalau sudah agak petang tidak bisa melihat lagi karena yang digambar motifnya kecil - kecil.

Pendapatan yang diterima buruh pembatik tidak akan sama satu sama lain. Pemilik toko batik asal Bayat , Klaten, Ibu Purwanti mengatakan buruh akan menerima upah jika menyelesaikan nyerat (melapisi motif batik dengan malam). Minimal mereka akan menerima upah Rp50 hingga Rp125 ribu rupiah per kain. Upah yang diberikan tergantung sulit tidaknya motif yang dikerjakan. Biasanya satu kain dapat diselesaikan dalam waktu dua minggu. Semakin cepat selesai maka upah yang akan diterima semakin banyak. 

Desa Jarum, Bayat, Klaten, Jawa Tengah adalah sebuah desa yang terkenal sebagai desa penghasil kain batik tulis dari bahan alami. Di pedesaan ini, hanya perempuan yang diperbolehkan membatik.

“ Kerja perempuan lebih bagus,lebih teliti,” tutur Bu Purwanti saat menyebutkan alasan mengapa laki -laki tidak diperbolehkan membatik.

Selain rumah Bu Purwanti, kesibukan membatik nampak di beberapa rumah yang terletak di sepanjangan jalan di desa Jarum.

Jika kita mampir di rumah pembuatan kain batik, biasanya terdapat satu kelompok buruh pembatik perempuan yang terdiri dari tiga hingga tujuh orang duduk berkelompok. Mereka akan memegang selembar kain mori, sambil sesekali  mencelupkan canting untuk mengambil malam (lilin yang dilelehkan untuk membatik) dari sebuah kompor kecil yang diletakkan di tengah.

Selain sebagai buruh pembatik yang bertugas nyerat (membatik pola dengan malam), perempuan – perempuan ini juga membuat ramuan dari bahan alami untuk memberi pewarnaan pada kain.

Alasan pemakaian bahan alami pembuatan kain batik tulis adalah agar lingkungan tidak tercemar dengan bahan pabrikan, dan harga kain batik tulis yang mereka buat dihargai lebih tinggi.

Untuk menjual kain batik mereka, perempuan – perempuan desa Jarum ini membuat sebuah koperasi dan toko kecil. Menurut mereka koperasi akan mempermudah untuk menjual kain batik mereka.

Mereka yang bertugas di koperasi akan menyalurkan hasil kain batik melalui website dan pameran.

Kain batik tulis yang dihasilkan perempuan -perempuan Bayat diakui banyak membantu perekonomian keluarga. Bahkan saat ini beberapa buruh perempuan mampu menjadi juragan batik.

Namun kekhawatiran serbuan batik printing (batik yang dibuat dengan mesin) yang dihasilkan pabrik besar atau batik tiruan yang didatangkan dari luar negeri membuat mereka merasa was -was. Perempuan pembatik di Bayat mengharapkan pemerintah terus mengkampanyekan pemakaian kain dan baju batik handmade (dibuat tidak menggunakan mesin)  yang dibuat oleh usaha kecil menengah seperti mereka.



(Foto : Febriana Sint)