Kami Gadis-Gadis, Apakah Tidak Boleh Mempunyai Cita-Cita?


Kartini (1879-1904) adalah perempuan, yang dengan berbagai cara kemudian melakukan perlawanan. Ia mencintai tradisi, namun ia juga melawan tradisi, ketika tradisi itu tak berpihak pada perempuan dan masyarakat kecil di lingkungan istana tempatnya tinggal, Jepara, Jawa Tengah. Dalam Edisi Khusus Kartini di bulan April 2017, Konde.co akan menuliskan Edisi Kartini selama sepekan, yaitu dari tanggal 16-22 April 2017. Sejumlah pemikiran akan kami letakkan dalam bingkai Kartini selama sepekan ini. Selamat membaca.





Pada sejumlah suratnya, Kartini meratapi terjadinya buta huruf di kalangan perempuan karena tidak tersedianya peluang pendidikan bagi mereka.

“Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh mempunyai satu impian, dan itu adalah saat-saat kami dipaksa menikah hari ini atau esok dengan laki-laki yang dianggap patut oleh orangtua kami,” tulis Kartini dengan getir kepada Rosa Manuela Abendanon-Mandri, 8/9 Agustus 1901.

Dalam surat-surat sebelumnya, Kartini juga menulis keprihatinan yang sama: “Saya akan mengajar anak-anak saya, baik laki-laki maupun perempuan untuk saling memandang sebagai makhluk yang sama. Saya akan memberikan pendidikan yang sama kepada mereka, tentu saja menurut bakatnya masing-masing. …Lagi pula, saya bermaksud akan menghapuskan batas yang menggelikan antara laki-laki dan perempuan yang dibuat orang sedemikian cermatnya.” Kutipan Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 23 Agustus 1900. (Sulastrin Sutrisno, 1981: 66)

Keprihatinan Kartini itu juga ditulisnya di surat-suratnya yang lain. Lalu ia meminta dukungan untuk mendirikan sekolah Kartini bagi anak-anak dan perempuan.

Pada tahun 1903, Kartini mulai mendapat ijin untuk membuka sekolah. Ia menggunakan rumahnya sendiri di Rembang untuk sekolah anak-anak perempuan.  Sekolah Kartini menjadi simbol pendidikan untuk rakyat biasa, bahwa pendidikan bukanlah milik kaum bangsawan, namun milik semua rakyat.

Anak-anak perempuan pribumi kala itu boleh dikatakan tidak punya kesempatan menempuh pendidikan formal saat itu. Di kalangan pribumi, hanya anak kaum bangsawan yang bisa bersekolah, itupun biasanya hanya yang laki-laki saja. Kartini merekrut kedua adik perempuannya, Kardinah dan Rukmini, untuk turut mengajar di sekolah yang segera kewalahan menampung anak-anak perempuan yang ingin belajar. Agar dapat menerima sebanyak mungkin murid, sekolah sampai dibuka untuk beberapa kelas dalam sehari.

Kartini kemudian menciptakan silabus dan sistem pengajaran sendiri. Sekolah yang ia dirikan ditujukan untuk pembangunan karakter perempuan muda. Sementara pada saat yang sama, ia juga memberikan mereka pelatihan kejuruan praktis dan pendidikan umum dalam seni, sastra dan ilmu pengetahuan.

Pelajaran di Sekolah Kartini sama dengan yang diajarkan di sekolah dasar (HIS), dengan tambahan pelajaran keterampilan rumahtangga: menjahit, menyulam, memasak, menyetrika, pengetahuan kesehatan, berkebun, dan sebagainya.

Kartini menyadari bahwa pendidikan yang ia diperoleh harus dinikmati oleh semua orang. Di saat yang sama. Kartini kemudian juga banyak menulis dengan penuh semangat tentang pendidikan, kesehatan masyarakat, kesejahteraan ekonomi, dan seni  tradisional.

Pada  Januari 1903, Kartini menulis nota pendidikan yang ditujukan kepada seorang pejabat Kementerian Kehakiman Belanda. Dia menuliskan perlunya untuk mendidik perempuan untuk pengembangan masyarakat.

“Siapa yang bisa menyangkal bahwa perempuan memiliki tugas besar untuk melakukan dalam pengembangan moral masyarakat? Mereka justru bisa berkontribusi banyak, jika tidak sebagian besar, karena perempuan harus memastikan peningkatan standar moral masyarakat. Alam sendiri telah menunjuk perempuan untuk tugas ini.”

“Sebagai seorang ibu, perempuan adalah pendidik pertama.  Di lututnya anak-anak perempuan kemudian belajar untuk merasa, berpikir, berbicara.  Dan dalam kebanyakan kasus, pengasuhan awal ini mempengaruhi sisa hidupnya. Ini adalah tangan ibu yang pertama kali menanam benih kebajikan atau kejahatan di jantung individu. Bukan tanpa alasan yang dikatakan banyak orang, bahwa pengetahuan tentang benar dan salah adalah dengan cara menyerap dengan susu ibu. Tapi bagaimana bisa ibu-ibu di Jawa sekarang mendidik anak-anak mereka jika mereka sendiri tidak berpendidikan? Pendidikan dan pengembangan masyarakat Jawa tidak pernah bisa cukup maju jika perempuan dikecualikan, jika mereka tidak diberi peran dalam hal ini. Oleh karena itu harus menjadi tugas pertama Pemerintah untuk meningkatkan kesadaran perempuan Jawa, untuk mendidik dia, untuk menginstruksikan dia, untuk membuat dirinya mampu, ibu yang bijaksana.”

Kartini kemudian juga menjelaskan bahwa tujuan dari pendidikan formal bukan hanya untuk belajar bahasa Belanda, namun untuk memberikan pengetahuan yang cukup untuk perempuan:

“Bahwa pengetahuan tentang bahasa Belanda tidak mewakili perbaikan budaya, bahwa menjadi beradab lebih dari sekedar berbicara Belanda, atau dangkal mengadopsi sopan santun Belanda, dan bahkan kurang dalam mengenakan pakaian Belanda. Pengetahuan tentang bahasa Belanda adalah kunci yang bisa membuka rumah harta karun dari peradaban Barat dan pengetahuan, kita harus mengerahkan diri untuk pengetahuan itu.”

Kartini kemudian juga mengkritik hirarki budaya dimana para elit bangsawan yang telah mendapatkan pendidikan yang baik, malah menyalahgunakan kekuasaan sehingga kemakmuran, pendidikan tidak bisa dinikmati rakyat:

“Sampai saat ini kurang lebih satu-satunya keuntungan adalah untuk menegakkan hukum dan mendapatkan penghasilan. Negara dan kaum bangsawan telah memperoleh manfaat dari ini, tetapi apa yang rakyat peroleh dari ini? Sampai saat ini, tidak ada, atau sangat sedikit; semakin besar kemungkinan mereka telah dirugikan pada banyak kesempatan ketika kaum bangsawan telah menyalahgunakan kekuasaannya.”

Perkumpulan Kartini seperti ditulis historia.id kemudian juga mendirikan Sekolah Kartini di Semarang (1913, berasrama), Batavia (1914), Bogor (1914, berasrama), Madiun (1914), Malang (1915), Cirebon (1916), dan Pekalongan (1916). Setiap sekolah mendapat subsidi dari Perkumpulan Dana Kartini rerata f. 500 per tahun. Selain Sekolah Kartini, sekolah perempuan lain yang mendapat subsidi dari Perkumpulan Dana Kartini adalah Pamulangan Istrischool di Bogor dan Kemajuan Istrischool di Jatinegara.

Hingga 25 tahun usianya, Kartini telah melahirkan makna besar, bahwa pendidikan adalah milik semua rakyat. Milik gadis-gadis, perempuan yang boleh mempunyai cita-cita setinggi langit.



(Disadur: http://www.hurights.or.jp/archives/focus/section2/2009/06/raden-ajeng-kartini-indonesias-feminist-educator.html Asia-Pacific Human Right Information Center)

(Referensi: http://historia.id/modern/habis-gelap-terbitlah-sekolah)