Kartini, Surat yang Mengalir Sampai Jauh


Kartini (1879-1904) adalah perempuan, yang dengan berbagai cara kemudian melakukan perlawanan. Ia mencintai tradisi, namun ia juga melawan tradisi, ketika tradisi itu tak berpihak pada perempuan dan masyarakat kecil di lingkungan istana tempatnya tinggal, Jepara, Jawa Tengah. Dalam Edisi Khusus Kartini di bulan April 2017, Konde.co akan menuliskan Edisi Kartini selama sepekan, yaitu dari tanggal 16-22 April 2017. Sejumlah pemikiran tentang perempuan akan kami letakkan dalam bingkai Kartini selama sepekan ini. Selamat membaca.


Luviana- www.Konde.co

Hingar bingar di setiap bulan April tak pernah lepas dari Kartini. Baju kebaya di sekolah, sanggul, salon yang tiba-tiba ramai oleh anak-anak sekolah. Ini adalah ingatan saya di masa dulu tentang Kartini ketika saya kecil.

Jika tidak memakai baju kebaya ketika tanggal 21 April, maka nilai kami akan dikurangi oleh guru, untuk mata pelajaran ketrampilan. Padahal banyak teman sekolah yang merasa gerah karena ini. Pagi-pagi harus berdandan ke salon, menyewa baju yang mendadak mahal karena banyak dibutuhkan di hari itu, dan tidak lupa harus mengikuti lomba di sekolah. Ada lomba fashion show baju Kartini, ada lomba menghias bunga, lomba memasak dan lomba menata meja makan.

Lengkap sudah.

Kartini dalam pandangan kami, anak-anak sekolah di masa itu adalah sosok perempuan, ibu yang senang menghias bunga, menata meja makan, perempuan yang menyukai fashion show dan berbaju keren sambil lenggak-lenggok di atas panggung.

Kenyataan ini mulai berbeda, ketika saya dan kawan-kawan perempuan lainnya, di masa akhir SMA mulai membaca buku-buku Kartini. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Armjn Pane dan Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. Ternyata Kartini bukanlah perempuan yang senang memakai baju kebaya dan harus tampil lenggak-lenggok keren di atas panggung.

Kartini adalah sebuah tulisan dimana pemikirannya mengalir jauh hingga kini:

Donny Danardono, seorang dosen di Universitas Soegijopranoto, Semarang dalam sebuah seminar tentang “Relevansi Gagasan, Pemikiran dan Perjuangan Kartini” di PSW Unika Soegijapranata pada 19 April 2013 lalu, pernah menuliskan, bahwa sejak tahun 1899, di usianya yang ke-20, sampai wafatnya di tahun 1904, Kartini telah menulis: 149 surat.

Surat-surat yang jarang pendek dan berbahasa Belanda itu bertutur tentang berbagai buku, jurnal ilmiah, koran dan majalah yang ia baca, nasib pribumi dan perempuan pribumi, kisah “Tiga Serangkai” (Kartini, Roekmini dan Kardinah), modernitas dan kesetaraan manusia Barat.

Di usianya ke-16 tahun, Kartini mulai menulis untuk koran De Locomotief (Semarang), majalah De Gids, De Echo, dan majalah perempuan De Hollandsche Lelie yang terbit di Belanda.

Tulisan-tulisannya merentang dari sejarah batik Hindia-Belanda, perlunya sekolah bagi perempuan pribumi sampai emansipasi perempuan.

Donny Danardono juga menulis, Kartini di masa kolonial Belanda juga membaca sastra, sejarah, feminisme dan tata pemerintahan. Kisah Joan of Arc, perempuan yang membebaskan Prancis dari Inggris, membuatnya berpikir mengapa banyak pejuang mati muda; Max Havelaar, karya Multatuli, membuatnya tahu bagaimana pejabat kolonial dan pribumi menindas rakyat pribumi; Hilda van Suylenburg dan Moderne Vrouwen―tentang emansipasi perempuan Barat―memperkenalkannya pada istilah emansipasi perempuan. Bahkan Pramoedya Ananta Toer memperkirakan Kartini, seperti remaja feodal lain kala itu, juga membaca Centhini, Wulangreh, hikayat wayang dan hikayat panji (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, 1997: 74).

“Saya memetakan surat-surat Kartini sebagai surat-surat yang membahas tradisionalisme Jawa dan modernisme Barat. Ia memuji batik, gamelan dan ukiran Jepara. Bahkan bersama Abendanon―Direktur Kementerian “Pengajaran, Ibadah dan Kerajinan” itu, ia memasarkan ukiran itu ke Eropa. Namun, ia juga mengidentikkan tradisionalisme Jawa itu dengan poligami, pemingitan perempuan dan unggah-ungguh hirarkis,” tulis Donny Danardono.

Kartini menurut Donny Danardono tak pernah secara langsung membahas poligami ayahnya. Tetapi ia melawannya: “Satu-satunya yang boleh kami mimpikan ialah: hari ini atau besok menjadi isteri yang kesekian bagi salah seorang laki-laki. Saya menantang mereka yang dapat menunjukkan ketidakbenaran hal ini” (surat ke Stella Zeehandelaar, 23 Agustus 1900).

Baginya pemingitan adalah pengurungan dalam kotak dan pemutusan dari dunia luar: “Pada umur 12 tahun saya harus tinggal di rumah. Saya harus masuk ‘kotak’ … Empat tahun yang berlangsung sangat lama itu saya habiskan di antara empat dinding tebal, tanpa pernah melihat sesuatu pun dari dunia luar” (surat ke Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899). Namun, ia tak sungguh terasing. Ia jadikan berbagai bacaan Belandanya sebagai jalan ke dunia luar, tulis Donny Danardono.


Literasi Kartini

Lalu tak ayal jika banyak jurnalis kemudian menyebut bahwa Kartini sebagai perempuan yang mengajarkan soal literasi. Ia menulis, ia mengajar anak-anak buruh yang tinggal di belakang istana untuk menulis, ia mengajarkan perempuan lain untuk berpikir kritis. Ia juga mengajak adiknya-adiknya untuk membaca dan melihat persoalan dalam perspektif beda. Disanalah kekuatan Kartini.

Di masa-masa ia dalam pingitan itulah kemudian Kartini menulis. Ia tak meratap, namun Kartini tak pernah berhenti membaca dan menulis. Pemikirannya mengalir jauh hingga kini.

Di masa pemerintahan Soekarno, aktivis-aktivis perempuan, beberapa merupakan anggota Gerwis (Gerakan Wanita Sedar), kemudian menjadikan Kartini sebagai nama majalah “Api Kartini.” Tulisan dalam Api Kartini kemudian memaparkan perjuangan feminisme, memperjuangkan hak kesehatan reproduksi buruh-buruh pabrik perempuan, memperjuangkan soal cuti haid dan menyusui, juga pemikiran Kartini soal sekolah untuk perempuan.

Tulisan Kartini hidup hingga kini. Ia tak pernah meredup diantara hingar-bingar baju kebaya dan sanggul yang diajarkan secara salah di sekolah sejak masa Orde baru hingga kini.

Maka Kartini adalah penulis, pemikir perempuan, yang ketika dipingit untuk dinikahkan menjadi selir Bupati Rembang,  K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, ia berjuang untuk melawan. Ia melawan dengan tulisan-tulisannya. Kartini yang tak bisa menolak poligami  bukanlah kontroversi. Tulisan-tulisannya adalah bentuk perlawanannya, yang perjuangannya  terus mengalir hingga kini.

(Foto: Wikipedia.org)