Pada Sebuah Lagu


Sica Harum- www.Konde.co

Musim boleh saja berganti. Namun ada satu hal yang tak mungkin lewat. Sharing personal, bercerita ketika kita lagi rapuh, lalu ingat pada sejumlah benda yang membuat kita jadi semangat lagi untuk menikmati esok.

Hari ini, kembali renungan itu datang lagi. Makin bertambah usia, makin sering kita menemui perpisahan demi perpisahan.

Teman yang pindah kota ikut bapak ibunya. Sahabat yang melanjutkan kuliah di luar negeri. Teman lama yang tutup usia. Teman dekat yang menikah dan ikut suami, tak bisa sekota lagi. Penyanyi idola yang meninggal. Acara wisuda yang bikin geng tercerai berai. Teman kantor yang memilih pindah. Serial drama Jepang yang berakhir. Atlet yang pensiun. Majalah yang tak terbit lagi. Toko buku yang tutup.

Kita ditinggalkan. Atau kita meninggalkan.

Semuanya bisa bikin patah hati.

Tapi, ada untungnya juga bertambah tua. Sebab semakin tambah usia, kadang kita bisa melihat perpisahan sama normalnya dengan perjumpaan awal. Lama-lama kita bisa melihatnya sebagai sebuah kenetralan. Dan yang abadi ialah kenangan.

Banda Neira bubar.

Seorang teman perempuan saya mengaku sedih, saat Band Banda Neira menyatakan bubar secara resmi, Jumat, 23 Desember 2016 lalu, pada dini hari. Kami berbincang semalam, sebab tiga pekan sebelumnya, ia memergoki saya mengulang-ulang lagu Banda Neira yang berdulu “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” dari YouTube. Saya selalu suka video rekaman live mereka di Studio Kua Etnika, Yogyakarta itu.

Waktu itu saya bilang, “Iya nih lagu ini bikin semangat.”

Perhatikan saja liriknya:

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi


Bukankah lirik itu jadi semacam mantra yang menguatkan? 

Selain itu, saya memang paling suka komposisi lagu ini. Mendengarkan ini semacam meyakini sesuatu.

Banda Neira, saya mengenalnya dari lagu-lagu mereka yang disebarkan lewat YouTube, akhir 2014, dari kolega yang lebih muda. Waktu itu kami sedang mempersiapkan sebuah acara peluncuran website penulis Indonesia. Jadi, saat acara peluncuran, ingin sekali ada penampilan. Dari sejumlah nama, Banda Neira diusulkan oleh mayoritas dari kami.

Lalu saya begitu saja jatuh cinta dengan lagu “Rindu” nya Banda Neira, sebuah musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo. Begitu….syahdu. Dan lagu itu juga yang dihadirkan saat manggung di acara peluncuran IDWriters, yang saya kelola waktu itu.

Dalam kesempatan yang sempit, saya cuma bisa bilang terima kasih karena mau hadir, mau mengisi acara bersama penampil hebat lainnya: Anji (yang juga musikalisasi puisi), Seno Gumira Ajidarma, dan Rain Chudori. Terima kasih juga pada AlineaTV mendokumentasikannya dengan baik.

Banda Neira sendiri, seperti ditulis di dibandaneira.tumblr.com, berawal dari sebuah proyek iseng, yang kemudian berlanjut lebih serius. Album pertamanya hadir awal 2013. Lalu berlanjut dengan album kedua (yang memang betul lebih serius) tahun 2016.

Lagu-lagu Banda Neira mungkin memang tidak mendatangkan puluhan juta views, bahkan lagu super baper “Sampai Jadi Debu”.

Paska bubarnya Banda Neira, saya jadi lebih sering menyambangi YouTube. Bagi saya, YouTube memberi kesempatan bagi telinga kita untuk mendapatkan “bunyi” yang lebih memberi makan pada jiwa.  Dan setiap saat, jadi bisa menengok karya BandaNeira. Selamanya, sampai jadi debu.

Lagu ini selalu menjadi perenung bagi saya, yang patah akan tumbuh kembali, yang layu akan mekar kembali.


(Foto/ Dokumentasi: Banda Neira)