Rere Tularkan Virus Peduli Alam



Febriana Sinta, www.konde.co

Jogjakarta,konde.co - “Aku harus bisa menulis bagus.” Itulah kegelisahan yang pertama kali yang dirasakan Rere. Fotografer perempuan yang mempunyai nama lengkap Regina Septiarini Safri ini ingin dirinya tidak hanya bisa menghasilkan foto berkualitas namun juga menulis bagus. Keinginan itu memaksa dirinya untuk belajar menulis dengan sejumlah wartawan media cetak di Jogja.

Setahun setelah belajar menulis Rere punya keinginan lain, dia ingin merangkum aktivitasnya sebagai fotografer menjadi sebuah buku.
Buku yang berisi rangkuman aktivitasnya selama menjadi fotografer di Jogjakarta, terbit September 2011. Buku “Membidik Peristiwa Jadi Berita: Langkah Taktis Menciptakan Informasi Lewat Foto”,  berisi foto-foto hasil jepretannya saat terjadi bencana alam di Jogjakarta yaitu gempa bumi, dan erupsi Merapi. Buku ini sekaligus ajakan menjadi citizen journalism atau jurnalisme warga, dengan menggunakan alat perekam, dan kamera sederhana.

“ Sayang jika peristiwa besar kita lewatkan begitu saja, makanya aku berinisiatif untuk membaginya.”

Tidak puas dengan satu buku, ia kembali bekerja untuk menyusun buku kedua. Kali ini isu lingkungan menarik perhatiannya. Keinginan untuk membuat foto wildlife yang selama ini justru banyak dibuat fotografer asing menjadi keinginannya untuk mencobanya.

Dari keinginan itu akhirnya Rere memutuskan untuk pergi ke hutan Kalimantan.  Dia memutuskan membuat cerita foto tentang kehidupan orangutan.

“Saya selama ini peduli dengan kehidupan orangutan yang menjadi tidak menentu akibat rusaknya hutan Indonesia. Apa yang bisa saya lakukan?."

Selama dua tahun perempuan yang besar di Cilacap ini keluar masuk hutan belantara di Kalimantan. Uniknya, Rere tidak mempunyai pengalaman hidup di alam liar. Ia mengaku belajar dari nol untuk bisa beradaptasi dengan hutan. Tidak itu saja, untuk membiayai perjalanan Jogja - Kalimantan dia terpaksa menjual kamera kesayangannya.

“ Iya salah satu kamera yang menjadi teman bekerja terpaksa saya gadaikan karena saat itu tidak mempunyai cukup uang, sedangkan proses pembuatan buku sudah 80%. Sedih rasanya…”

Akhirnya di tahu 2013 Rere berhasil merampungkan buku “Orangutan: Rhyme & Blues." Buku ini mengabadikan kehidupan orangutan dalam karya foto dan tulisan sebagai langkah penyelamatan primata endemik Indonesia. Ajakan untuk menyelamatkan lingkungan kental dalam buku ini.  Menurutnya tidak perlu menjadi aktivis untuk dapat menyelamatkan lingkungan.

“Jika ingin menyelamatkan lingkungan mulai saja dari sekitar kita, misalnya tidak membakar sampah, membuang sampah sembarangan. Dari hal kecil bisa berdampak besar.”

Keinginan Rere untuk membagi ilmu yang dia peroleh selama menjadi fotografer di Jogjakarta tidak berhenti di situ. Di tahun 2014, dia kembali bekerja untuk membuat buku ketiga.
Kedekatannya dengan sejumlah ahli bencana alam menginspirasi dirinya. Salah satunya adalah Surono yang sering dipanggil Mbah Rono. Mantan Kepala Badan Geologi ini salah satu dari sedikit orang  di Indonesia yang mengerti karakter gunung berapi.

Dari hasil diskusi dengan Mbah Rono akhirnya muncul bukunya yang berjudul “Belajar Membumi Bersama Mbah Rono.”
Buku ini berisi wawancara ringan dengan Mbah Rono sebagai satu bentuk ajakan kepada masyarakat untuk belajar bersama mencintai alam dan hidup harmonis dengan alam.

Saat ini Rere telah menyiapkan launching buku keempat. Dia ingin membagi cerita tentang kehidupan satwa liar di Pulau Sumatera. Ia menilai, Sumatera adalah pulau yang memiliki tingkat penurunan satwa liar terbesar di Indonesia.

Foto:Instagram Regina Safri