Tukinem, Perempuan Penjual Gablok



Febriana Sinta, www.konde.co

Sragen, Jawa Tengah, Konde.co - Dengan cekatan Ibu Tukinem segera menyiapkan gablok dan mencampurnya dengan sayuran pecel dan sambal kacang.
Ibu Tukinem, adalah salah satu penjual makanan tradisonal yang masih setia menjajakan makanan tradisional khas daerah Sragen, Gablok.

Gablok
Setiap pagi mulai pukul 02.00 WIB Ibu Tukinem sudah mulai bekerja di dapur. Memasak nasi , kemudian mengukus nasi menjadi gablok membutuhkan waktu sekitar satu jam. Kemudian dia membuat pecel, menyiapkan daun pisang yang nantinya digunakan sebagai pincuk sebagai pengganti piring. Selama tiga puluh tahun dia lakoni pekerjaan itu.

“Biasanya menyiapkan makanan sampai jam 5 pagi, kemudian berangkat ke pasar dan ke tempat wisata.”
 Selain menjual Gablok, perempuan yang lahir 60 tahun lalu ini juga menjual makanan tradisional lainnya yaitu Gemblong. Gemblong adalah makanan yang berasal dari singkong yang ditumbuk kemudian digoreng.  Menurutnya, makanan gemblong enak dimakan panas-panas sambil minum teh hangat. 

Gemblong yang sudah digoreng
Setiap harinya dua makanan ini disiapkan Tukinem  bersama anak perempuannya Mudatin. Mudatin bertugas mengangkat dan menyiapkan dagangan.

Dari makanan tradisional khas Jawa Tengah itu, Ibu Tukinem mampu menghidupi keluarganya.  JIka hari cerah, dia bisa mendapatkan keuntungan Rp75 ribu namun jika cuaca hujan bisa dipastikan dagangannya tidak akan habis.

“ Kolowingi pas musim jawah kulo rugi bu, sampun masak gablok telas Rp300 ewu seng pajeng naming Rp75 ewu. Rugi kathah kulo.”
(Kemarin sewaktu musim hujan saya rugi bu. Masak gablok  habis Rp300 ribu, namun yang laku hanya Rp75 ribu. Saya rugi banyak bu)


Gablok diberi pecel
Gablok dijual diharga Rp2.500 per pincuk (per buah), sedangkan gemblong yang belum digoreng dihargai Rp500, jika sudah digoreng menjadi Rp700 per buah.

Masayarakat di sekitar Sragen mengenal gablok dengan sebutan gablok pecel. Dalam penyajiannya gablok akan dicampur dengan sayuran bayam, kacang panjang, taoge, kemudian disiram dengan sambal kacang.

Dagangan yang dititipkan di warung Bu Tukinem
Selain berjualan gablok dan gemblong, Tukinem juga membantu ibu – ibu yang tinggal di sekitar rumahnya menitipkan dagangan.

Menurut Tukinem dirinya tahu tidak akan menjadi kaya dengan hanya menjual makanan tradisional, namun dirinya merasa bahagia dapat bercerita dan mengenalkan makanan tradisional desanya.

“ Saya senang secara tidak langsung sudah melestarikan sekaligus memperkenalkan makanan tradisional ke banyak orang,” ujar Bu Tukinem.





Foto : Febriana Sinta