Kebangkitan Perempuan


Luviana- www.Konde.co

Sabtu hari ini, tepat di Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017, di Jakarta banyak dilakukan pawai keberagaman. Banyak hal yang membuat sedih dengan berbagai hal yang terjadi di Jakarta akhir-akhir ini: intoleransi, kecaman terhadap perjuangan keberagaman, kelompok marjinal dan kelompok minoritas.

Perempuan telah lama memperjuangkan ini, keberagaman dan kepedulian terhadap minoritas di Indonesia. Inilah kebangkitan perempuan di masa sekarang, menolak patriarkhi sekaligus memperjuangkan nilai keberagaman, kelompok marjinal dan kelompok minoritas. Banyaknya organisasi perempuan yang tumbuh di masa sekarang tak pernah luput memperjuangkan hal ini.

Ada banyak Peraturan Daerah yang bermasalah, yang mendiskriminasi perempuan. Dan perempuanlah yang terus memperjuangkan ini. Dan inilah kebangkitan perempuan di masa sekarang.


Kebangkitan Perempuan di Masa Dulu

Dulu, kebangkitan perempuan juga ditandai dengan perlawanan terhadap kebodohan dan kemiskinan perempuan. Kartini adalah salah satu pendidik yang mengajar anak-anak buruh di belakang rumahnya. Hidup di dalam keraton tak pernah membuatnya lupa pada anak-anak buruh yang tak mendapat pendidikan baik.

Selain itu ada Dewi Sartika. Dewi Sartika, adalah pahlawan perempuan penggagas dan pendiri Sakola Istri (Sekolah Perempuan). Ini merupakan sekolah perempuan yang berdiri di tahun 1904. Tenaga pengajarnya 3 orang : Dewi Sartika dibantu 2 saudara sepupunya:Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Sunda bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Dewi Sartika begitu mempengaruhi pendidikan bagi para perempuan di Indonesia kala itu.

Perempuan berikutnya yang menggagas sekolah perempuan adalah Roehana Koeddoes. Roehana, perempuan asal Sumatera Barat adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan perempuan. Di zamannya Roehana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Lalu ia mendirikan sekolah Amai Setia, sekolah khusus untuk perempuan.

Roehana mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan tersebut pada tanggal 11 Februari 1911. Di sekolah ini diajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, membaca dan menulis, pendidikan budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda.

Jatuh bangun memperjuangkan nasib kaum perempuan penuh dengan benturan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang di lakoni, bahkan fitnahan yang tak kunjung menderanya seiring dengan keinginannnya untuk memajukan kaum perempuan. Namun gejolak sosial yang dihadapinya justru membuatnya tegar dan semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya. Hal ini sebagai tanda bahwa sudah banyak sekali perempuan meletakkan dasar pendidikan untuk perempuan di Indonesia di masa sebelum Indonesia merdeka.


Kongres Perempuan Indonesia, Kebangkitan Politik Perempuan

Di masa selanjutnya, Kongres Perempuan Indonesian pertama di tahun 1928 adalah bentuk kebangkitan politik perempuan Indonesia.

Berdikarionline.com mencatat, meskipun masih menghindari diskusi politik, Kongres ini dapat menjadi penanda keluarnya perempuan Indonesia dari peran domestik ke ranah sosial. Kongres ini pun menghasilkan tiga tuntutan kepada pemerintah kolonial pada masa itu; 1) Penambahan sekolah untuk anak-anak perempuan; 2) Syarat menjelaskan arti taklik saat akad nikah kepada mempelai wanita; 3) pemberian tunjangan kepada janda-janda dan anak yatim piatu.

Selain itu, Kongres tersebut juga menghasilkan organisasi Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), yang pada kongres di tahun berikutnya berubah nama menjadi Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII). Baik PPI maupun PPII merupakan federasi yang menghimpun organisasi-organisasi perempuan lokal maupun organisasi perempuan dari berbagai golongan.

Faktor pendorong terselenggaranya Kongres Perempuan Indonesia tak lain adalah kondisi kehidupan perempuan di Indonesia yang masih dikungkung budaya patriarki yang berdiri di atas nilai-nilai feodal. Menurut, Saskia  Wieringa, pakar feminisme asal Belanda, ada sejumlah organisasi perempuan yang ikut serta dalam kongres perempuan tersebut, antara lain Wanita Oetomo, Aisyah, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Wanito Moeljo, dan bagian-bagian perempuan di dalam Sarekat Islam, Jong Islamieten Bond dan Wanita Taman Siswa. Tiga tokoh perempuan penggagas pertemuan itu adalah Nyi  Hadjar Dewantara dari Wanita Taman Siswa, Ny. Soekonto dari Wanita Oetomo dan Sujatin Kartowijono dari Poetri Indonesia.

Di masa sekarang, organisasi perempuan bertumbuh dengan banyak. Ada banyak perempuan yang memperjuangkan persoalan-persoalan perempuan dalam melawan patriarkhi, intoleransi, Perda-Perda yang menjerat dan mendiskriminasi perempuan dan kekerasan perempuan lainnya. Dan inilah tantangan perempuan saat ini.