Poedjiati Tan - www.konde.co

"Sudah punya calon belum?."

Kegalauan akan pertanyaan “Sudah punya calon belum? Atau pertanyaan “Kapan menikah?” selalu datang saat pulang kampung.

Bahkan pertanyaan: "Sudah punya calon belum?" ini seolah menjadi password di setiap perjumpaan dengan saudara.

Belum lagi sindiran-sindiran halus, “Teman SMA mu si Ani itu sudah hamil lho sekarang! Atau “si Ratna kemarin menikah, kamu diundang nggak?.”

Ini adalah percakapan teman-teman, para perempuan muda yang bertemu sebelum libur lebaran:

“Siapa sih yang nggak pengen nikah! Tapi kalau belum ada yang cocok masak harus sembarangan cowok diajak menikah!,” keluh Novi menghadapi tuntutan orang tuanya untuk segera menikah ketika lebaran tahun lalu.

“Itu sebabnya aku kadang agak malas kalau pulang lebaran,” katanya dengan lesu.

“Aku paling males kalau terus dikenalkan dengan anak kenalan bokap!,” Sahut Tina

“Kalau aku masih ingin berkarir dan tidak ingin menikah cepat-cepat! Aku ingin punya suami yang sejalan dan sepikiran sama aku!,”Jawab Indah.

“Tapi mana mengerti orangtuaku. Aku terlalu banyak baca buku!kata Ayahku,” lanjut Indah dengan perasaan kesal.

“Kenapa sih, kita harus menikah cepat-cepat!,” sahut Novi

“Kenapa kita tidak dibiarkan menjadi diri kita, meraih apa yang kita inginkan!, ini kata Tina

“Iya, ketika aku bilang mau kuliah S2, Ayahku malah bilang,

“Anak perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi nanti laki-laki takut melamar! Sebel khan, kalo laki nggak bernyali ya pasti nggak aku pilih lah!,” kata Indah.

Itulah sekelumit curhatan perempuan-perempuan muda yang merasakan kegamangan ketika menghadapi lebaran dan mudik. Kegamangan ini hampir dialami semua perempuan muda, yang bila sudah berusia 25 tahun ke atas pasti akan ada dorongan untuk segera menikah oleh keluarga. Menikah seakan-akan kewajiban dan keharusan yang harus dipenuhi bila tidak ingin dikatakan menentang keinginan Orang tua.


Pasangan bagi Homoseksual

Bagi perempuan heteroseksual, mungkin ini tidak sesulit dibandingkan perempuan lesbian ataupun transmen/priawan. Bayangkan teman-teman lesbian dengan penampilan tomboy, transmen/priawan yan harus mengubah penampilan untuk lebih feminim.

Teman-teman transmen/priawan harus menyembunyikan indentitasnya agar orang tuanya tidak tahu. Teman-teman lesbian harus berpura-pura punya pasangan atau pacar laki-laki.

Banyak sekali perempuan lesbian yang harus melarikan diri dari rumah atau terjadi pertengkaran besar karena keluarga mengetahui kalau dia lesbian. Lebaran seperti menjadi mimpi buruk yang menakutkan dan harus dihadapi.

Lebaran memang menjadi sesuatu yang sulit untuk perempuan yang masih lajang, belum menikah atau bahkan menjanda.

Ada teman buruh migran yang sudah menjanda ketika pulang lebaran diminta menikah atau dinikahkan oleh keluarganya dengan seorang laki-laki tua yang tidak bekerja. Katanya tidak baik menjanda tanpa suami. Namun setelah libur lebaran diapun kembali keluar negeri dan harus menafkahi suaminya.


Berlomba Memperkenalkan Laki-Laki


Semua keluarga seperti berlomba memperkenalkan dengan para laki-laki yang siap dinikahi. Atau dengan sopan dan halus menyindir atau membandingkan dengan perempuan muda lain yang sudah berkeluarga.

Setiap tahun sindiran, dorongan, dan desakan akan semakin kuat intensitasnya. Apalagi bila usia sudah 30 tahun maka desakan itu akan semakin kuat dan keras, bahkan akan semakin lugas dan terang-terangan.

Mereka tidak pernah bertanya Apakah anaknya ingin menikah atau tidak? Apakah anaknya bahagia atau tidak? Mereka tidak pernah bertanya apa keinginan anaknya.  Menikah dan memiliki anak seperti tujuan akhir perjalan perempuan. Semua pencapaian perempuan seperti diukur dari bagaimana rumah tangganya, apakah dia bisa membahagiakan suaminya, bisa beranak dan merawat anaknya.

Tidak peduli setinggi apa prestasinya atau karir perempuan selama dia belum menikah maka bisa dikatakan dia belum sepenuhnya berhasil sebagai perempuan dan tidak bisa dibanggakan ketika lebaran.

Lebaran telah terlewati dan liburan akan segera berakhir. Pesan dan wejangan untuk segera memikirkan masa depan akan dituturkan. Kembali pulang dengan kegalauan yang membuntuti sambil memikirkan jawaban apa lagi yang akan diberikan tahun depan ketika ditanya :

"Sudah punya calon belum?."

Luviana- www.Konde.co

SGA adalah seorang PRT perempuan berusia 35 tahun yang berdomisili di Cipete Utara. Ia bekerja dengan CG yang adalah WNA Amerika di Jl. H. Saidi, Jakarta Selatan. SGA bekerja sejak Juni 2012 dengan masa kerja 3 tahun 9 bulan.

Sehari-hari SGA bertugas membersihkan rumah dan memasak dengan upah sejumlah Rp 2.600.000,- (dua juta enam ratus ribu rupiah) per bulan.

Namun SGA diberhentikan oleh CG setelah menyampaikan niatnya mengajukan izin cuti melahirkan.

SGA tentu saja sangat keberatan dengan PHK atas dirinya dan ia ingin bekerja kembali setelah cuti selesai. SGA pun meminta bantuan LBH Jakarta untuk mendapatkan haknya.
Terhadap kasus ini, LBH Jakarta telah mengirimkan tiga kali surat somasi kepada majikan dan saat ini sedang dalam proses pendampingan.

Padahal fungsi (baca: potensi) reproduksi perempuan yang dapat mengalami haid, mengandung, melahirkan, serta menyusui yang tidak dimiliki oleh laki-laki, merupakan bagian penting dari kehidupan yang harus dihormati oleh setiap orang, termasuk majikan terhadap pekerja perempuannya.

Perlindungan atas fungsi reproduksi sesungguhnya merupakan bagian dari hak-hak asasi manusia kaum perempuan yang telah diakui secara internasional dan nasional. Khusus dalam konteks ketenagakerjaan, hal itu telah diatur dalam UU Ketenagakerjaan.

Karena itu, PHK terhadap pekerja karena alasan kehamilan tidak dibenarkan. Ditegaskan pada Pasal 84 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan, bagi pekerja perempuan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. Bukan hanya melahirkan, perempuan yang mengalami keguguran juga berhak mendapat perlindungan. Pasal 82 Ayat (2) menyebut bahwa pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.

Meskipun UU Ketenagakerjaan mengatur dengan tegas perlindungan atas hak reproduksi perempuan, tetapi dalam praktiknya sering kali hak tersebut dilanggar. Pemberi kerja sering berusaha menghindari kewajiban memenuhi hak perempuan yang hamil dengan cara mencari-cari alasan lain, misalnya hubungan kerja sudah tidak harmonis.

Bagi karyawan outsourcing, yang tidak dilindungi oleh kontrak kerja, bila mereka diketahui hamil, maka akan di-PHK atau disuruh mengundurkan diri atau perusahaan berjanji akan dipekerjakan kembali jika sudah melahirkan. Begitupun bagi PRT, hak-hak tersebut sulit diperoleh karena PRT dipandang sebagai pekerjaan informal.

Seperti yang terjadi pada kasus SGA di atas, PRT di-PHK setelah mengajukan cuti melahirkan. Padahal, seseorang yang mengalami kehamilan harus tetap mendapatkan pelayanan kesehatan agar proses kehamilan dan kelahirannya dapat berjalan dengan baik. Maka bagi pekerja perempuan, termasuk PRT, berhak mendapatkan hak cuti melahirkan dengan memperoleh upah penuh (Selesai)



(Dirangkum dalam Buku “Kompilasi Penanganan Kasus PRT dan PRT Anak di Indonesia, JALA PRT, LBH APIK, LBH Jakarta dan ILO, Jakarta, Juni 2017)


Luviana- www.Konde.co

Tak pernah terbayang dalam benak P, jika sakitnya ini mengharuskannya dipecat dari pekerjaannya. Padahal ia sakit ketika ia sedang mengerjakan pekerjaannya.

Kasus ini terjadi pada seorang perempuan Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang di-PHK karena PRT mengalami sakit saat bekerja, sedangkan majikan tidak mempercayai itu. Bahkan, PRT ini kemudian dituduh telah mencemarkan nama baik majikannya:

Seorang PRT perempuan berinisial P tinggal di Jakarta Timur. Sejak Agustus 2014, P bekerja di rumah J yang tinggal di Aparteman Parama TB. Simatupang. Pekerjaan yang dilakukan adalah membersihkan rumah, memberi makan anjing, membawa anjing jalan-jalan, dan lain-lain.

P melakukan pekerjaannya mulai pukul 08.00 – 18.30 atau selama 10,5 jam per hari. Dari pekerjaannya, P mendapat upah sejumlah Rp 1.600.000,- (satu juta enam ratus ribu rupiah) per bulan dengan rincian upah pokok (gaji) Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan uang makan sejumlah Rp 600.000,- (enam ratus ribu rupiah).

Pada minggu kedua Oktober 2014, P digigit anjing saat ia membersikan kamar J.

P langsung berobat ke klinik Stefanus di Cilandak. Karena di Klinik Stefanus tidak ada vaksin rabies, maka P dirujuk ke Puskesmas Cilandak.

Kemudian dengan alasan yang sama, P dirujuk lagi ke Rumah Sakit (RS) Tarakan yang khusus menangani pasien digigit anjing. Setelah P mendapat surat rujukan dari RS
Tarakan, P memberikan surat tersebut kepada Y, salah satu pegawai lain di rumah J.

Akibat luka gigitan anjing tersebut, P mengalami demam. Karena kondisi sakit, esok harinya P menelepon B-pegawai lain di rumah J-untuk meminta izin tidak masuk kerja. Namun, B mengatakan P harus masuk kerja.

Akhirnya dalam kondisi demam, P tetap bekerja. Saat bertemu dengan J, P meminta agar diobati di RS Tarakan sesuai rujukan Klinik Stefanus.

Namun, J keberatan dengan alasan biaya perawatan anjingnya lebih mahal dari biaya pengobatannya. J juga tidak percaya bahwa P sakit akibat digigit anjing. Bahkan, J langsung memecat P dengan tuduhan telah mencemarkan nama baiknya.

Dua minggu kemudian, P mendapat pekerjaan sebagai PRT di apartemen yang sama pada seorang majikan, M. Setelah diterima, P langsung bekerja.

Namun, pada hari ketiga P diberhentikan secara tiba-tiba oleh M tanpa alasan yang jelas. P pun bertanya kepada M, tetapi tidak dijawab. Kemudian, P bertanya kepada satpam apartemen. P mendapat informasi bahwa dirinya telah masuk daftar hitam (blacklist) dan dilarang bekerja di lingkungan Apartemen Parama oleh J melalui selebaran yang dibuat oleh J.

P kemudian mengadukan permasalahannya ke LBH untuk mendapatkan pemulihan nama baik (rehabilitasi), sehingga P tidak dipandang negatif dan dapat bekerja kembali di apartemen tersebut. LBH mengirimkan surat peringatan (somasi) kepada M. Kemudian, kasus ini dapat diselesaikan dengan damai melalui uang kompensasi dari M kepada P.


Analisa Kasus yang Menimpa P

Kasus ini kemudian dituliskan dalam Buku: Kompilasi Penanganan Kasus-Kasus PRT dan PRT Anak (Kompendium) dan mendapatkan perhatian dari LBH Jakarta, LBH APIK, JALA PRT dan International Labour Organisation (ILO).

Menurut analisa, ketidakmampuan seorang pekerja karena sakit tentunya memberikan beban tersendiri bagi pekerja, salah satunya adalah risiko di-PHK. Namun, risiko itu seharusnya dapat dicegah jika majikan memahami tanggung jawabnya dalam memenuhi hak pekerja atas kesehatan dan keselamatan kerja.

Faktanya, secara umum pekerja atau profesi PRT seringkali tidak memiliki posisi tawar terhadap majikannya.

Cerita kasus di atas memberikan gambaran bahwa kekuasaan seorang majikan atas PRT sangat kuat. Majikan dengan mudahnya melakukan PHK tanpa mempertimbangkan apa yang menjadi hak-hak PRT, seperti kesehatan dan keselamatan selama bekerja. Adanya kesenjangan status sosial antara majikan dan PRT telah membuat posisi PRT rentan mendapatkan perlakuan semena-mena dari majikan.

Majikan semestinya memberikan pengobatan kepada PRT-nya yang sakit, bukan justru melakukan PHK. Larangan mem-PHK pekerja karena sakit sebenarnya sudah diatur
dalam UU Ketenagakerjaan.

Jika seorang pekerja diputuskan hubungan karena sakit, maka PHK batal demi hukum dan pengusaha wajib mempekerjakan kembali pekerja yang bersangkutan.

Sakit bukanlah keinginan pekerja dan sesuai UU Ketenagakerjaan, upah kerja tetap harus dibayar oleh pemberi kerja1. Begitu pun dengan perhitungan pesangon dan perhitungan uang perhargaan kepada pekerja.

Bagi pengusaha/pemberi kerja yang tidak mendaftarkan karyawan/pekerjanya ke BPJS, penggantian biaya sakit diberlakukan dengan mengganti biaya berobat yang bervariasi, yaitu meliputi biaya rawat jalan tingkat pertama, rawat jalan tingkat lanjutan, rawat inap, pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan, penunjang diagnostik dari laboratorium medis pelayanan khusus dan pelayanan gawat darurat.

Dengan mengacu pada kasus di atas, P seharusnya tidak dapat di-PHK dan berhak memperoleh biaya pengobatan luka akibat digigit anjing. P juga berhak mendapatkan pemulihan nama baik akibat dari penghinaan yang dilakukan majikan kepadanya dengan cara melaporkan perbuatan majikan ke polisi.

Kasus lain yaitu di PHK karena mengajukan cuti melahirkan (Bersambung)



(Dirangkum dalam Buku “Kompilasi Penanganan Kasus PRT dan PRT Anak di Indonesia, JALA PRT, LBH APIK, LBH Jakarta dan ILO, Jakarta, Juni 2017)


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Pada saat lebaran seperti ini, Esti dan suaminya Sonny, tak hentinya mengceritakan rasa capeknya. Mereka harus memandikan anak mereka yang kembar yang masih berumur 1,5 tahun. Setelah itu membersihkan rumah dan yang paling membuat pegal adalah: menyeterika baju.

“Paling capek menyeterika baju,” kata Sonny.

Namun buru-buru ia menambahkan,” Lebih capek lagi menemani anak-anak jalan-jalan.”

Dua anak mereka yang kembar lagi senang-senangnya jalan kaki, maklum, baru 3 bulan lalu mereka bisa berjalan. Ini yang membuat punggung sakit, begitu keluh Sonny. Jika sedang begini, mereka benar-benar merasa bersyukur mempunyai Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang sehari-hari bekerja di rumah mereka. Ada 2 PRT yang bekerja di rumah mereka ketika Esti dan Sonny bekerja.

Jika lebaran seperti ini, mereka baru merasakan betapa capeknya menjaga anak-anak. Selama ini, Esti sebelum bekerja tugasnya belanja dan memasak di rumah, sedangkan Sonny selalu bangun kesiangan karena pulang telah larut. Beginilah rutinitas bekerja di Jakarta.

Di rumah mereka,  2 mbak PRT kemudian menyapu dan mengepel, kemudian menyeterika. Sedangkan untuk mencuci, mereka menggunakan mesin cuci. Setelah pekerjaan rumah selesai, mereka menjaga si kembar.  Rutinitas ini sudah dilakukan selama 2 tahun ini sejak Esti hamil besar dan kemudian melahirkan.

“Dengan mbak yang pulang kampung di saat lebaran ini, terasa sekali capeknya kami,” ujar Esti.

Namun apa daya, kebutuhan kita terhadap PRT tak sebanding dengan kondisi kerja yang dialami Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Indonesia. Hingga kini kondisinya masih cukup memprihatinkan.

Data yang dihimpun JALA PRT, LBH Jakarta dan LBH APIK bersama International Labour Organisation (ILO) dalam acara Kompilasi Kasus-Kasus (Kompendium) PRT dan PRT Anak di Jakarta pada 16 Juni 2017 lalu menyebutkan, bahwa PRT dan PRT Anak, mengalami diskriminasi dan berbagai kondisi kerja tidak layak.

Padahal, Enny Rofiatul dari LBH Jakarta menyebutkan bahwa Pekerja Rumah Tangga merupakan salah satu Pekerja yang mempunyai kontribusi yang besar dalam kehidupan sosial dan ekonomi di masyarakat.

“Banyak masyarakat kita menggunakan jasa PRT untuk menggantikan kita menyelesaikan tugas kita di rumah agar dapat melakukan aktivitas sosial dan ekonomi di luar rumah. Peran PRT yang cukup signifikan tidak diimbangi dengan timbal balik terhadap pengakuan dan jaminan kerja yang layak. Banyak permasalahan atas pengakuan dan jaminan kerja yang layak bagi PRT mulai dari proporsi jam kerja yang tidak jelas hingga upah kerja yang rendah,” Ujar Enny Rofiatul.

Banyaknya permasalahan terhadap PRT salah satunya disebabkan karena Indonesia belum
mempunyai peraturan hukum untuk memberikan pelindungan terhadap hak-hak PRT sebagai pekerja seperti perlindungan terhadap jam kerja, upah minimum, hak libur, keselamatan dan kesehatan kerja, jaminan sosial dan juga hak-hak lainnya.

Penyebab lain banyak munculnya permasalahan terhadap hak-hak PRT dikarenakan mayoritas PRT tidak memiliki kontrak kerja yang jelas dengan majikan mengenai hak dan kewajibannya sebagai PRT.

Rekam jejak penanganan kasus-kasus PRT yang dilakukan oleh LBH Jakarta dan LBH APIK Jakarta ini kemudian didokumentasikan dalam bentuk Kompendium yang diluncurkan di acara tersebut.

Lita Anggraeni, Koordinator Nasional JALA PRT menyatakan bahwa tujuan dari penyusunan kompendium ini adalah merekam pengalaman tentang kasus-kasus PRT/PRTA yang telah ditangani atau didampingi LBH Jakarta dan LBH APIK Jakarta. Selain itu, kompendium ini juga bertujuan menyebarluaskan pengalaman penanganan kasus tersebut guna menjadi pembelajaran, baik bagi para PRT, organisasi pemberi bantuan hukum kepada PRT/PRTA, maupun aparat penegak hukum.

“Kumpulan kasus dalam Kompendium diharapkan dapat menjadi salah satu referensi yang
berguna dalam menangani kasus-kasus PRT/PRTA dan merespon kebutuhan hukum PRT dan PRTA. Bentuk-bentuk pelanggaran yang dialami PRT, antara lain tidak dibayarkannya upah,pesangon, jaminan sosial, upah lembur, PHK semena-mena, dan lainnya.”

Salah satu dasar persoalan yang menjadi pemicu timbulnya pelanggaran, yakni ketidakjelasan hubungan kerja antara PRT dan majikan. Jika dilihat dari perspektif ketenagakerjaan, majikan bertindak selaku pemberi kerja dan PRT sebagai penerima kerja. Maka, seharusnya hubungan kerja antara PRT dan majikannya dilindungi oleh UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan). Namun, pada praktiknya hubungan kerja kedua belah pihak kerap tidak diakui.

Hal itu membuat mekanisme penyelesaian masalah menjadi tidak jelas dan tidak ada jaminan kepastian hukum terhadap hak-hak PRT begitu terjadi pelanggaran hak yang dialami oleh PRT.

Ketidakpastian mengenai pengaturan perlindungan PRT itu mengakibatkan hak-hak mereka untukmemperoleh penghidupan yang layak terus terlanggar. Salah satu penyebab lainnya adalah tidak adanya regulasi yang secara khusus mengatur perlindungan bagi PRT.


Padahal, persoalan yang dialami oleh PRT/PRTA memiliki karakteristik tersendiri. Di antaranya, mereka bekerja di sektor informal dan di ruang yang dianggap privat, yaitu domestik/rumah tangga.

Hal ini menyebabkan sulitnya pihak yang berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap PRT/PRTA dan kondisi kerjanya.

Melihat kondisi tersebut, sangatlah penting dibuat undang-undang khusus yang mampu memberikan perlindungan bagi PRT. Saat ini, jaringan masyarakat sipil yang fokus pada advokasi perlindungan PRT (JALA PRT) sedang mendorong pengesahan RUU Perlindungan PRT di DPR.

Proses pembahasan sudah dilakukan sejak tahun 2004, tetapi hingga saat ini RUU tersebut belum juga dibahas oleh DPR RI bersama pemerintah. Ketiadaan undang-undang yang memberikan perlindungan kepada PRT itu pada akhirnya melanggengkan pelanggaran hak-hak PRT/PRTA.

Di samping itu, perhatian terhadap perlindungan PRT juga masih minim di kalangan aparat penegak hukum dan masyarakat. Isu PRT masih kurang dipahami oleh aparat penegak hukum (APH), sehingga mereka jarang melihat kasus pelanggaran hak PRT sebagai pelanggaran hukum yang serius. Begitupun masyarakat yang belum menghargai pekerjaan PRT dan hak-hak PRT, bahkan kerap memperlakukan PRT sebagai warga kelas dua. Hal ini tidak terlepas dari kultur di masyarakat
Lalu apa saja kasus-kasus yang menimpa PRT di Indonesia dan bagaimana praktek penanganannya? (Bersambung).


(Dirangkum dalam Buku “Kompilasi Penanganan Kasus PRT dan PRT Anak di Indonesia, JALA PRT, LBH APIK, LBH Jakarta dan ILO, Jakarta, Juni 2017)

Luviana - www.Konde.co

Jakarta, Konde.co – Apakah anda, keluarga anda kesulitan dalam pulang ke kampung halaman ketika lebaran tiba? Banyak orang mengalaminya, Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang tak cukup punya uang untuk pulang karena tak diberikan THR majikan atau pemberi kerja, buruh yang tak diberikan THR oleh perusahaan, dan juga kelompok disabilitas atau penyandang cacat yang tak bisa pulang karena minimnya akses.

Selama ini banyak penyandang disabilitas yang tak bisa mudik. Macam-macam penyebabnya: arus lalu lintas yang tak ramah bagi disabilitas, transportasi yang kurang bersahabat. Hal ini mengakibatkan para disabilitas sulit dalam mengakses mudik ke kampung halaman mereka. Hal ini sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.

Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) adalah sebuah advokasi yang dilakukan masyarakat sipil agar memberikan ruang bagi disabilitas untuk bisa mudik.

Dalam mudik kali ini, seperti yang dirilis oleh MRAD, didapati adanya fasilitas fisik maupun non-fisik yang tidak ramah disabilitas di Rest Area KM 19, Bekasi, Jawa Barat. Ini terjadi saat mereka beristirahat siang di tengah kemacetan perjalanan dari Wisma Mandiri, MH Thamrin, Jakarta Pusat menuju kampung mereka masing-masing.

Hal tersebut dialami penyandang disabilitas dengan kursi roda Rubini (35), peserta MRAD 2017 yang pulang ke Kebumen (23/6/2017) kemarin. Menurut perempuan yang tahun lalu sudah mengikuti MRAD 2016, situasi fasilitas Rest Area masih tidak ramah bagi disabilitas, dikarenakan untuk bisa ke toilet dan tempat makan harus naik undakan yang tinggi.

"Tangganya tinggi, kondisi WC juga sempit dan tidak ada pegangan buat kami. Jadi harus ada orang lain yang mendampingi untuk mengangkat dan bisa menggunakan toilet dengan nyaman," sesal Rubini.


Masjid tidak Ramah Disabilitas

Masih di lokasi yang sama, untuk sampai ke masjid demi melaksanakan ibadah salat Jumat, para peserta mudik disabilitas pemakai kursi roda yang laki-laki harus menempuh tanjakan (ramp) yang cukup tinggi, curam. Sedangkan untuk memasuki masjid harus menaiki tangga (trap) sebanyak 20 undakan.

"Tangga sangat curam. Untuk bisa naik, selain sangat tinggi, ruang tangganya kurang luas, terlalu sempit," ungkap Sigit Catur Nugroho (35), salah satu peserta MRAD dengan kursi roda yang mudik ke Kebumen, Jawa Tengah.

Dalam pernyataan pers yang dirilis MRAD, Sigit mengisahkan, tahun lalu dirinya sudah menyampaikan ke petugas jaga di masjid agar tempat berwudu dan desain bangunan masjid mudah diakses teman-teman disabilitas. Sehingga, para penyandang disabilitas tidak harus melibatkan banyak orang untuk mengangkat mereka agar bisa beribadah di dalam masjid rest area KM 19.

Penggagas Jakarta Barriers Free Tourism (JBFT) Trian Gembira menambahkan betapa masjid tersebut sulit diakses penyandang disabilitas untuk salat Jumat, karena menggunakan speaker dalam. Buat Trian yang tuna netra, suara speaker susah didengar, bahkan oleh yang pendengarannya tidak lemah sekalipun.

"Untuk menuju masjid tidak ada guiding block buat tuna netra. Begitupun petunjuk ke arah masjid yang tidak ada, menyulitkan bagi kami mencari tempat ibadah," ujar Trian.

Dengan situasi tersebut, Watini (32) pemudik MRAD 2017 yang pulang ke Purbalingga sangat berharap pemerintah untuk serius memberi perhatian untuk memenuhi hak-hak disabilitas, termasuk ketika mereka mudik.

"Masih banyak rest area yang tidak aksesibel buat kami. Termasuk di KM. 19 ini. Untuk ke tempat-tempat makan maupun kamar mandi masih sulit seperti juga tahun lalu. Harus ada yang angkat-angkat dan mendampingi untuk ke dalam kamar mandi maupun fasilitas publik lainnya,” tutur Watini yang menggunakan kursi roda.

Ia pun meminta pemerintah segera berbenah menyediakan fasilitas-fasilitas di rest area yang mudah diakses penyandang disabilitas, terutama yang menggunakan kursi roda, misalnya penyediaan WC khusus disabilitas yang diberikan tanda khusus.


Disabilitas Banyak yang tidak bisa Mudik

Para peserta MRAD 2017 menyayangkan masih banyak rekan-rekannya disabilitas dengan kursi roda yang tidak bisa mudik bertahun-tahun ke kampung halamannya. Kondisi itu salah satunya menimpa Muhammad Subhan yang ingin mudik ke Bangka Belitung. Jujur Saragih yang juga disabilitas dengan kursi roda tidak bisa mudik ke Medan.

"Yang terdata di Jakarta saja 40 penyandang disabilitas dengan kursi roda yang tidak bisa mudik," kata inisiator MRAD, Ilma Sovri Yanti menjelaskan kondisi kesetaraan dan pemenuhan hak-hak disabilitas yang masih jauh dari harapan.

Artinya, sambung Ilma, banyak lagi disabilitas yang tidak terdata dan berada di kota-kota besar lainnya yang kesulitan atau tidak bisa mudik yang tidak bisa kami pantau. Sementara itu, MRAD 2017 pun baru mampu mendorong pihak swasta menyediakan dua mobil akses untuk disabilitas dengan kursi roda. Daya tampung kedua mobil akses itu maksimal hanya 10 orang.

Ilma Sofri Yanti yang juga aktivis Satgas Perlindungan Anak ini merasa bingung dengan banyaknya penyandang disabilitas yang mengadu kepadanya karena tidak tahu bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi cara mengakses satu gerbong kereta yang katanya dijanjikan Kementerian Perhubungan untuk disabilitas.

"Kapan berangkat, berapa harga dan di mana tiket bisa didapat, jurusan serta di stasiun manakah gerbong kereta api itu bisa diakses, tidak jelas informasinya," pungkas Ilma.

MRAD 2017 ini merupakan inisiatif organisasi masyarakat sipil yang terdiri dari Satgas Perlindungan Anak, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Jakarta Barriers Free Tourism (JBFT), GP Ansor, Dokter Bhinneka Tunggal Ika (DBTI), Gerakan Kebhinnekaan Indonesia (GKI) dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) yang didukung oleh Bank Syariah Mandiri dan Kemensos RI.

*Alea Pratiwi – www.Konde.co

Yang paling bahagia dibayangkan ketika dalam perjalanan pulang adalah saat membayangkan senyuman ibu.

Namun ada banyak hal yang tak mengenakkan ketika harus bertemu saudara lain dan yang tak bosannya menanyakan: Kapan Kawin?

Pertanyaan ini selalu menjadi momok bagi kami, aku dan adik perempuanku setiap tahunnya. Seolah jika tak menikah, ini akan menjadi sesuatu yang tabu. Dan, kali inipun ketika baru beranjak ke bandara, hal ini pula yang ditanyakan saudara di kampung. Apalagi om-ku, orang yang paling semangat untuk menjodohkanku dengan teman-temannya.

Sebenarnya bukan perjodohan, ini hanya untuk perkenalan biasa. Siapa tahu kamu cocok. Begitu ulangnya berkali-kali. Dan aku juga tak pernah bosan untuk menolaknya.

Di group Whats App keluarga, obrolan tentang siapa yang belum menikah ini selalu datang ketika lebaran tiba. Entah mengapa, apakah ini karena begitu dekatnya hubungan keluarga kami, ataukah sudah menjadi tradisi bahwa sesama keluarga harus saling memperhatikan. Termasuk menentukan kapan seseorang harus menikah.

Namun perhatian macam apa kalau ini sudah tak membuat kita nyaman untuk pulang saat lebaran kak? begitu kata adikku.

Di usia kami yang menginjak angka 30, memang tak lumrah bagi keluarga kami, ketika kami tak pulang dengan pacar kami masing-masing, masih pulang sendirian, dan tiba-tiba semua orang kuatir jika kami kena rampok di jalan karena tak ada laki-laki yang mendampingi. Oh, My God!

Jika saya ditanya, apa momokmu ketika lebaran? Jawaban saya selalu sama 5 tahun ini: bertemu saudara. Ketemu saudara menjadi tak nyaman karena pertanyaan kapan nikah ini selalu dilontarkan.

Belum lagi nanti kalau datang ke reuni sekolah. Yang pertama ditanyakan pasti: sekarang tinggal dimana? Bekerja dimana? Sudah menikah belum?

Menikah memang sepertinya sudah menjadi tujuan semua orang. Seolah jika sudah menikah, sudah tergenapilah hidup di dunia ini. Padahal tak semua orang menjadikan pernikahan sebagai titik akhir perjalanan hidup.

Ada banyak orang yang ingin berkarir, ada yang ingin mengadopsi anak saja cukup, ada yang ingin tetap sekolah setinggi mungkin dan ada yang ingin menghabiskan hidupnya dengan menjadi macam-macam, traveller, mengajar di sebuah universitas di luar negeri, menjadi pekerja dan aktivis di daerah konflik, dan tentu masih banyak lagi. Inilah orang-orang yang tinggal di sekeliling saya sekarang ini di Jakarta. Teman-teman yang menjadikan pernikahan bukan sebagai titik akhir perjalanan hidup. Kalaupun ada yang memutuskan menikahpun, mereka juga tak repot jika tidak mempunyai anak atau hidupnya serba kekurangan sekalipun.

Karena, toh, semua orang tak pernah punya standar yang sama tentang hidup. Apakah orang harus menikah, hidup makmur dan bahagia selamanya?

Sumber kebahagiannpun tidak hanya itu. Ada banyak hal yang membuat saya bahagia. Ada banyak hal yang membuat adik saya bahagia. Lihat saja, dua minggu lalu ia baru saja menerima kabar bahagia ketika karyanya menang dalam sebuah penghargaan internasional rumah sehat. Menurut saya, ia tetaplah adik saya, seorang arsitek yang handal yang mendesain semua rumah kami, kakak-kakak kami dari dulu. Apakah jika ia belum menikah di usianya yang ke-31 tahun, lantas kami menyebutnya sebagai adik yang kurang beruntung? Tidak. Saya tetap beruntung mempunyai adik yang perhatian kepada keluarga, setiap saat bisa pulang menengok ibu karena pekerjaannya yang sangat fleksibel.

Saya tak pernah bosan mengingatkan tentang hal ini pada yang lainnya. Namun jika ingatan ini tak merubah semua orang, saya cukup titip pesan ke ibu:

“Ibu mestinya bangga punya anak yang perhatian pada keluarga, saudara dan orang-orang yang kesusahan.”

Dan ibupun mengangguk,” Apapun, kalian semua adalah anakku.”

Inilah yang membuat saya, adik saya selalu mengingat  bahwa pulang kampung di saat lebaran adalah: mengingat ketulusan ibu menerima kami apa adanya.

Dan yang paling penting, lupakan momok lebaran. Ini kepo banget, dan tak penting bagi kami.


(Di Bandara, Saat Mau Terbang)



*Alea Pratiwi, Pustakawan, senang menulis dan beraktivitas sosial. Tinggal di Jakarta.


Menjelang Hari Lebaran banyak teman, karib, saudara bertanya "kapan pulang?". Juga suami yang bertanya hal yang sama hampir setiap hari. Pulang di saat lebaran kali ini, bukanlah perkara mudah. Bukan soal ketiadaan biaya karena sudah tidak bekerja kantoran, tetapi karena ada hal besar yang membuatku sangat terguncang. 


*Bintang Timur- www.Konde.co


Masih tak percaya atas apa yang terjadi yang baru kuketahui Maret 2017 lalu:

Jika usai membaca tulisan Quraish Shlihab tentang memaafkan, tentang dosa, tentang cinta kasih, hati ini bergetar dan ingin melupakan cerita buruk yang selama ini berkelindan.

"Bagaimanapun ibuku tetap ibuku. Tak ada ganti dan tak akan terganti. Tak baik memendam marah berkepanjangan...," demikian diri ini menasehati dirinya sendiri.

Namun, setiap melihat perempuan itu, kakak iparku dan kedua anaknya, tiap kali itu pula hati bergetar. Antara menahan rasa marah dan sedih yang teramat dalam. Marah kepada ibuku dan kakak lelakiku. Dan sedih. Mengapa mereka setega itu?

Suatu malam, waktu menunjukkan pukul 11 malam. Kakak iparku, aku biasa memanggilnya mbak, datang ke rumah. Seperti biasa, ia pulang dari warung. Setiap tutup warung semua barang harus dibawa pulang. Karena, tempat yang kami sewa adalah teras ruko sebuah bank dan kami mulai berdagang setelah bank tutup, maka kami harus mengangkut semua barang mulai dari meja kursi, makanan dan semua perabot ketika hendak buka. Dan kami membawanya pulang kembali setelah dagangan habis.

Kami berdagang nasi uduk dan soto ayam, soto ceker. Memulai berdagang tepat 1 April 2017 lalu. Keputusan berjualan ini mendadak. Meskipun rencana sudah kurancang lama, sekitar setahun lalu. Namun, keinginan tak dapat dicegah. Ia menemukan caranya sendiri untuk mewujud. Dan, dengan linangan air mata (karena saat hari pertama hendak berjualan, hujan deras petir menggelegar. Jalananan banjir) keputusan berjualan tetap bulat. Kami memulainya.

Malam itu mbakku membisu. Wajahnya muram. Tak biasanya begitu. Setiap hari dalam kondisi apapun, entah dagangan habis atau tidak mbakku biasanya tetap ceria.

Jika tak habis dia akan bilang "Malam ini sepi. Pedagang martabak, ketoprak, bakso juga mengeluh sepi".

Atau, "Ya, disyukuri. Alhamdulilah masih ada beberapa porsi lagi ..hehe".

Namun, malam itu tidak. Aku sudah menduga tentang sebab murungnya. Karena, adikku yang biasa membantu mbakku bercerita singkat saat pulang dari warung. Bahwa kakak laki-lakinya yang juga kakakku alias suami mbakku itu datang ke warung.

Lalu perlahan kutanya tentang cerita adikku. Aku tahu mungkin berat. Tetapi dia tak pernah menunjukkan kesedihannya di depanku. Bahkan akulah orang yang selalu ia kuatkan saat kisah sedih hidupnya bermula. Malam itu mbakku yang duduk di lantai mencoba mencari sandaran. Dia memulai ceritanya.

Mbakku mulai bercerita:

Kakakku yang adalah suaminya, datang bersama kedua temannya ke warung sekitar pukul 22.00 WIB. Ia membawa mobil. Datang seperti orang tak bersalah ia memesan makan. Malam itu adalah pertemuan pertama setelah 2 bulan kakakku pergi tanpa seucap kata. Di waktu itu, kakakku hanya bilang ke mbakku itu: bahwa kini ia telah menikahi perempuan lain dan telah tinggal bersama di Tangerang. Saat itu kakakku itu bilang akan segera menceraikan mbakku.

Sore itu, aku menelepon bulekku, istri paman untuk suatu urusan. Dan dari dialah aku tahu tentang apa yang selama terjadi dengan mbak dan kakakku.

Ibuku banyak bercerita ke bulekku. Ibuku bercerita katanya anak lelakinya akan segera pulang untuk menikah, membawa istri baru. Pulang membawa mobil dan akan melunasi semua utang-utang kakakku juga ibuku. Selain itu akan mengumrohkan ibu bapakku, dan masih banyak lagi cerita yang kuanggap sore itu seperti petir di siang bolong.

Sambil mendengar cerita bu lekku aku menangis sesenggukan. Dadaku bergemuruh. Dan tiba-tiba ingin teriak sekerasnya.

Mbakku yang sore itu sedang di rumahku terdiam. Kulihat mukanya merah dan suaranya bergetar. Meminta maaf dan memintaku untuk tak marah.

"Bagaimana mungkin sampeyan diam tak bercerita ke aku mbak?" kataku saat itu sambil menahan sesak di dada.

Dia bilang tak berani bercerita karena dilarang dan diancam ibuku.

"Oh..".

Dan...

Cerita mbakku malam itu. Ia menangis. Menitikkan air mata sambil menahan suara berat

"Aku tak kuat saat bertemu tadi," katanya tentang pertemuan dengan suaminya di warung.

Suaminya yang hidup bersamanya selama 14 tahun tak mengatakan apa-apa. Mbakku hanya melihat mobil yang ia tahu milik perempuan yang sekarang menjadi istri suaminya.

Karena tak kuat, saat suami dan teman makan di warungnya, ia lalu pergi ke tukang martabak yang ada di seberang jalan. Ia bilang ingin numpang duduk sebentar.

"Kukatakan ke penjual martabak, seandainya aku pingsan tolong bantu aku ya mas .." katanya.

Dan usai makan, mbakku menghitung uang makanan yang harus dibayar suami dan teman-temannya. Tak lama kemudian dia menutup warungnya.

Malam itu kulihat ia lemas. Kurasakan dan kubayangkan betapa berat bagi mbakku malam itu. Ini salah satu alasan mengapa aku tiba-tiba merasa perlu melupakan jalan pulang.

Setelah rentetan cerita tentang kepedihan antara aku, ibuku, dan kakak lelakiku yang sebelumnya masih bisa kumaafkan, kali ini sungguh teramat berat.

Kedua anaknya seperti anak ayam, kebingungan, marah uring-uringan tanpa sebab, dan hidup kakak iparku yang tiba-tiba seperti sampah yang dicampakkan. Yang membuatku lebih pedih, ibuku mengetahui semuanya. Menyuruh dan mengizinkan anak lelakinya berselingkuh, meninggalkan istrinya, dan mengizinkan anak lelakinya menikahi selingkuhannya.

Ibuku juga yang setiap hari mengirim pesan, menelepon mbakku supaya dia bersabar, baik, bersikap ramah dan halus kepada madunya.

"Itu sudah nasibnya. Tidak usah dibesar-besarkan" ujar ibu kepadaku saat kuminta dia untuk menjaga perasaan mbakku.

Aku ingin melupakan jalan pulang. Aku tak ingin kembali ke ibuku, aku tak ingin mengumpat juga memarahinya.  Aku pernah belajar ilmu agama, dan ingat hadis Rassulullah SAW yang berbunyi surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Biarlah kecamuk ini hilang dengan sendirinya. Dan waktu akan mengajarkanku untuk memaafkan dan melupakan. Kini, aku menjadi pendamping mbakku, menjadi ibu dan ayah bagi anak-anaknya. Aku tak ingin mereka sendirian dan tercerai berai. Biarkah kukuatkan bahuku seraya menguatkan mbakku. Mendampingi keponakanku supaya mereka merasa nyaman dan tak kesepian.

Kini, aku benar-benar tak ingin pulang.


Warung nasi uduk, 12 Juni 2017

Bogor


*Bintang Timur, perempuan yang banyak melakukan pendampingan kepada para perempuan korban kekerasan.

* Almira Ananta- www.Konde.co


Setiap pulang ke kampung halaman, saya selalu melihat perubahan. Bisa jadi kita semua merasakannya. Yang dulu muda, kini bertumbuh. Ada yang menua.

Perubahanpun bentuknya macam-macam. Ada perubahan fisik, rambut yang dulu keriting, sekarang lurus.Begitu juga hati. Perubahan hati ini macam-macam. Ada yang keinginannya terpenuhi, namun ada yang tidak. Yang jelas, menurut pengamatan saya, setiap orang yang saya temui selalu berubah.

Dan yang terakhir, perubahan cara berpikir. Tempat, kebiasaan, orang-orang sekeliling, selalu membuat kita banyak berubah. Penyesuaian diri, kemudian kompromi.
Terkadang, ada yang memilih untuk menjauh dulu. Lalu bisa jadi mendekat lagi.

Prioritas hidup setiap orang  bisa berbeda dan berubah setiap waktu. Ini bisa setiap saat kita rasakan.

Dan saya termasuk orang yang berubah dengan cepat, sedangkan teman perempuan saya yang lain, lebih lambat dalam berubah.

Selera saya juga terus berubah, dari sebagai penggemar musik jazz di waktu muda, dan kini lebih menyukai musik pop di usia 30 tahun ini, karena menurut saya musik pop lebih mudah dicerna, lebih gampang untuk dinikmati. Bagi saya, jazz jadi rumit karena saya tak punya waktu lagi untuk mengingat siapakah pencipta lagu, orang-orang baru yang menyanyikan lagu jazz, perkembangan musiknya. Dan berapa oktaf harus berhenti. Itu kala dulu, ketika saya banyak memainkan piano di sejumlah pementasan di kota kecil kami.

Sedangkan teman saya, hampir pernah meninggalkan kesukaannya dalam mendengarkan musik. Bayangkan, teman saya ini dulu pencipta lagu indie yang lumayan produktif, kemana-mana selalu bawa organ dan gitar, namun ditinggalkan begitu saja saat dia belajar keluar. Baginya, hidup memang harus berubah. Begitu katanya, pernah suatu kali.

Dulu, saya tak mau menjadikan masalah kecil sebagai sesuatu yang penting, buat saya, simple saja: hidup harus dinikmati. Namun, ini semua menjadi berubah ketika anak perempuan saya lahir. Saya tak lagi simple melihat banyak hal, makin banyak hati-hati, makin banyak menyediakan waktu bagi orang lain. Inilah perubahan yang ada sampai saat ini.

Sedangkan teman perempuan saya, berubah sejak ia tinggal di luar. Jauh dari keluarga, membuat hidupnya tak sesimple dulu. Berjalan pelan, dan harus mandiri setiap saat. Padahal dulu ia sangat easy going, jika ia malas melakukan sesuatu, ia tak akan pernah memaksakan itu. Sekarang, sejak saat ini ia harus berubah. Bangun lebih pagi, memasak, mencuci, bekerja dari pagi semua dilakukannya sendiri. Hidup memang harus berubah, begitu katanya dalam salah satu surat elektronik yang dikirimnya.

Namun, sebenarnya dalam hidup ini: apa yang tidak berubah? Segala sesuatu berubah, baik secara cepat seperti saya, atau lambat seperti teman saya. Umur, pengalaman, lingkungan yang membentuk kita hidup adalah yang bisa mengubah kita setiap saat.

Rambut kami sudah mulai berubah. Rombongan kami juga mulai banyak karena dipenuhi anak-anak. Salah satu teman perempuan kami memilih untuk menjadi lajang dan menjajaki pada banyak kemungkinan baru.

Dan yang pasti, yang abadi adalah perubahan itu sendiri.

Inilah topik kami dalam pertemuan perjalanan kami menuju pulang ke kampung halaman. Hijaunya pohon dan padi selalu menarik perhatian kami. Tak pernah kami berhenti mengambil gambar, mengambil video, memotret perjalanan kami. Dulu kami hanya berempat, kini kami bersepuluh.

Lupakan dulu problem yang setiap hari kami rasakan, perubahan yang kadang menyesakkan, karena hidup adalah kebersamaan.



*Almira Ananta, Blogger dan Traveller


*Yuni Sri- www.Konde.co

Menjelang Idul Fitri tiba ternyata banyak cerita dari kawan-kawan Pekerja Rumah Tangga (PRT) tentang Tunjangan Hari Raya (THR). Cerita ini merupakan cerita sedih yang biasa terjadi menjelang lebaran.

Kami adalah para PRT yang tergabung dalam Serikat Pekerja Rumah Tangga (SPRT), dan sebulan ini dari awal bulan ramadhan tiba, sudah banyak pengaduan kasus dari kawan -kawan PRT yang masuk di organisasi kami.

Pengaduan tersebut antaralain: PHK secara sepihak yang dilakukan terhadap PRT oleh majikan, tanpa tahu kesalahan PRT, atau dengan alasan PRT tersebut akan dioper ke teman majikan. Namun intinya, majikan tidak mau memberi pesangon PRT-nya.

Kami juga mengamati dari tahun ke tahun, penyakit para majikan atau pemberi kerja ini selalu banyak muncul pada saat ramadhan dan menjelang Idul Fitri, seperti virus yang booming saja. Karena PHK selalu dilakukan jelang lebaran agar majikan tidak memberikan THR bagi para PRT-nya.

Apa yang ada di benak mereka itu, sampai akhirnya terlalu jahat dan diskriminatif terhadap PRT-nya? Padahal THR merupakan hak setiap pekerja di Indonesia. Hak pekerja ini harus dibayarkan menjelang lebaran. Jika tak ada THR bagi pekerja, maka majikan/ pemberi kerja akan melanggar UU Ketenagakerjaan.

Namun pertanyaannya, mengapa hal ini selalu terjadi setiap tahunnya? banyak pekerja tak diberikan THR, apalagi bagi para PRT. THR adalah angin segar bagi kami. Dengan THR berarti kami bisa membelikan baju anak-anak kami, kami juga bisa mencicipi bagaimana rasanya pulang ke kampung halaman. Tak ada THR, maka kami tak bisa merasakan kenikmatan yang hanya bisa kami cicipi setahun sekali ini. 

Untungnya lembaga seperti LBH Jakarta membuka sebuah posko pengaduan tentang THR, bagi siapapun kawan pekerja yang tidak diberi THR dari majikannya, kemudian bisa mengadukan kasusnya ke LBH Jakarta, dan tim LBH Jakarta siap membantu untuk mengadvokasi bagi para pekerja yang tidak mendapatkan THR.

Dari sini saya juga berpikir: apakah pemerintah juga mendengar kabar dan berita tentang ketidakadilan ini ya? Dan kenapa jika peristiwa ini terjadi setiap tahunnya, kenapa  pemerintah belum juga memberi perlindungan untuk PRT-nya, malah diremehkan hak dan keberadaan PRT?

Padahal kebutuhan PRT dan pekerja manapun 2 kali  lipat pada saat menjelang Idul Fitri, kenapa malah memberi beban pikiran dan tidak memberi hak THR bagi Pekerjanya.

Banyak orang yang mempunyai kehidupan yang mewah serba ada dan tidak kekurangan untuk membeli pakaian, makanan, dan barang -barang mewah bisa segera dibeli, dengan merogoh kantong, atau menggesek kartu-kartu. ATM, kartu kredit ,debit, tapi untuk PRT kaum yang dimarjinalkan semua ini belum diberikan.

Padahal anak- anak kami menanti, keluarga kami di kampung halaman dan yang tidakpun, berharap Idul fitri ini bisa berkumpul dan membagi sedikit rezeki dari hasil kerja yang kami dapat, PRT juga manusia yang sama dengan yang lain, memiliki kebutuhan, keperluan, dan keinginan. Apakah hak-hak PRT harus dipinggirkan?.

Bayarlah THR PRT pekerjamu.

Jadikanlah bulan ini penuh berkah. Sebanyak -banyaknya  hartamu adalah sebagian milik orang.
Pemerintah juga seharusnya punya sikap untuk membahas dan mengesahkan Perlindungan PRT, supaya keberadaan PRT diakui. Dan meratifikasi konvensi ILO 189 tentang kerja layak PRT.

Jika PRT di negara kita sendiri ini terjamin dan terlindungi, saya yakin negara ini tambah maju, tanpa memandang rendah para PRT.

Para majikan, apakah anda sudah membayarkan THR pada para PRT?

Pemerintah, apakah anda sudah memberikan hak bagi para PRT di Indonesia?


(Foto: JALA PRT)

*Yuni Sri, aktif di Serikat Pekerja Rumah Tangga (SPRT)


“Berbicara mengenai patriarki dan sederet keburukannya  dianalogikan kepada para perempuan yang terpaksa harus selalu kalah dengan laki-laki, berkompetisi tidak sehat, mendapat stigma dan sejuta hal lainnya.”



*Pritta Damanik- www.Konde.co

Suatu sore di kota kecil ini, saya dan seorang teman laki-laki pulang menikmati keindahan pantai di akhir pekan. Awalnya kami berdiskusi di mobil mengenai investasi dan hobi. Sebagai pekerja entry level, tentunya kami sedang dalam tahap belajar berinvestasi untuk masa depan.

Sempat menyebut beberapa produk investasi dan akhirnya terbitlah ucapan mengenai “RUMAH”. Si lelaki mengatakan bahwa sudah saatnya dia berpikir untuk memulai DP rumah selayaknya seorang lelaki yang harus memikirkan persiapan rumah jika nanti menikah.

Sempat terucap bahwa, “Lo sih enak bisa habisin duit buat biayain hobi diving, gak usah mikirin beli rumah”. 

Saya tidak langsung merespon dengan marah.

Saya kemudian memancingnya untuk berpikir, “Sadarkah kita bahwa hal tersebut merupakan tuntutan social yang diciptakan oleh masyarakat sendiri, padahal laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja?”.

Kemudian dia juga mengungkapkan hal yang sama, mengapa laki-laki seolah mendapatkan tekanan lebih secara ekonomi dan posisi kekuasaan.

Saya kemudian memperkenalkan istilah Patriarki yang menghasilkan tekanan aneh tersebut dan lihatlah bahwa Patriarki tak melulu merugikan perempuan sebagai pihak yang diklaim inferior, namun nyatanya kaum superior pun merasakan hal yang sama.

Mengenai rumah, siapapun berhak untuk mempunyai rumah selaku bagian dari kebutuhan primer manusia, bukan karena jenis kelaminnya. Selama anda masih menjadi manusia tentunya wajib memiliki tempat tinggal dan sampai hari ini saya belum pernah menemukan brosur KPR yang menuliskan syarat “Pemilik harus Laki-Laki”.

Lihatlah betapa sesungguhnya Patriarki menjadi alat penekan bagi para lelaki single yang juga saat ini masing berjuang untuk membayar sewa kamar, tagihan kartu kredit, cicilan motor, makan, dan nongkrong akhir pekan harus ditambah pula dengan tekanan mempunyai rumah sebelum menikah.

Jika memang niat memiliki rumah datang atas kesadaran pribadi tentunya sangat baik akan tetapi betapa malangnya jika keinginan itu terpaksa muncul karena tekanan sosial dari keluarga ataupun pacar.

Di lain pihak, lihatlah di media sosial banyak sekali meme yang tersebar sebagai media hiburan yang kurang lebih menyatakan bahwa laki-laki harus mampu secara financial supaya perempuan dapat menikmatinya untuk shopping. Banyak orang yang kemudian dengan semangat menyebarkan meme tersebut mungkin memotivasi para lelaki untuk bekerja lebih keras. Perempuan kemudian dianalogikan sebagai makhluk penyedot uang dan penagih jalan-jalan padahal para perempuan juga mampu membeli barang impiannya dengan uang sendiri dan traveling dengan biaya pribadi.

Lihatlah bahwa Patriarki memunculkan banyak tekanan dan standar sehingga sebagai manusia tidak perlu kita tambahi dengan tuntutan ini itu. Segala sesuatu bisa dinegosiasikan dan disepakati, silakan berbagi peran dan tak perlu saling menekan atau menyalahkan.

Jika ingin setara, maka perlakukanlah laki-laki dan perempuan sama baiknya seperti halnya ketika berbagi peran untuk membayar tiket bioskop dan makan malam di akhir pekan. Bayarlah karena anda memang mempunyai uang dan niat untuk mentraktir pasangan atau teman bukan karena tekanan patriarki.


*Pritta Damanik,  Lulusan Hubungan Internasional yang harus berpikir di tingkat desa. Saat ini bekerja di Organisasi Pemberdayaan Masyarakat di NTT dan sibuk menikmati jalan-jalan sambil bekerja.

Kustiah- www.Konde.co

Bogor, Konde.co - Kereta baru saja berhenti senja, sesaat di Stasiun Bojonggede, Bogor. Seorang ibu tergopoh masuk dan menempati kursi kosong. Ia lalu membenarkan duduk anaknya. Satu anak di gendongan satu lagi duduk di sampingnya.

Kedua anak itu, yang satu berusia sekira 20 bulan dan satu lagi 5 tahun, langsung menatap anakku yang kebetulan duduk di bangku depannya. Anakku sedang memakan roti bolu. Setelah kulihat ibu itu sedikit tenang dengan mengusap keringat di dahinya dengan kain jarik, kusapa kedua anaknya yang masih melihat anakku.

Lalu kutanya anakku, maukah dia membagi bolunya yang ada di kotak makan dengan kedua teman barunya? "Boleh," jawabnya.

Sebelum kuambil bolu di tas aku berbasa basi bertanya kepada sang ibu, hendak kemana mereka pergi? Perempuan itu menjawab pelan akan pergi ke Tanah Abang. Lalu kuberikan irisan bolu kepada dua anaknya.

Tak hentinya ibu itu mengucap terima kasih, lalu mengambil biskuit dari tasnya dan mengulurkannya untuk anakku. Setelah bertukar makanan kecil kuperhatikan ibu itu berkali-kali meminta anaknya yang besar untuk diam, melarang anaknya banyak bicara dan memintanya untuk tak banyak polah.

Karena berada di depannya aku tak bisa tidak melihat ibu itu dengan kedua anaknya. Sesekali kulemparkan senyum lalu kuhibur ibu itu,

"Nggak apa-apa bu. Abangnya pintar kok nggak rewel, sayang sama adiknya," ucapku.

Kulihat wajah ibu itu tampak gelisah. "Saya mau cari suami saya bu. Sudah dua minggu nggak pulang. Nggak ada kabarnya," kata ibu itu masih dengan suara pelan.

Senja itu penumpang di gerbong perempuan tidak banyak. Di pojok tempat kursi prioritas hanya kami bersama anak-anak yang mengisi. Kami duduk berhadap-hadapan.

Setelah kutanggapi berpindahlah dia dan anak-anaknya duduk di sampingku. Dia bercerita sudah dua kali Jumat ia berjualan tas kantong keresek di masjid Istiqlal bersama dua anaknya yang masih kecil.

"Lumayan, uang hasil jualannya bisa untuk menghidupi anak-anak," ujarnya.

Suaminya tak meninggalinya uang. Bahkan kontrakan yang ia tempati di Bojong belum dibayar.

"Jika ibu berkenan saya membawa daster baru masih bungkusan pemberian saudara. Maukah ibu membeli untuk tambahan ongkos kami ke Tanah Abang bu".

Dalam sekejap ibu itu mengambil bungkusan dari tasnya. Sambil sesekali menyusui anaknya ibu yang mengaku berusia 43 tahun dan menikah di usia 38 tahun ini bercerita bahwa suaminya sedang kambuh lagi penyakit 'selingkuhnya'.

"Saat anak saya yang pertama berusia dua tahun suami saya berselingkuh. Setelah ketahuan dia berjanji tak akan mengulanginya. sekarang kok kebangetan, anak-anaknya ditelantarkan demi selingkuhannya".

Mata ibu itu kulihat basah. Dan buru-buru ia menyekanya. Bungkusan plastik masih di pangkuanku. kuingat dompetku tak ada uang lebih kecuali untuk biaya perjalanan, ojek dan jaga-jaga untuk beli jajan anakku. Membeli dasternya yang menurutku tak muat kalau kupakai rasanya kok tak mungkin, tapi tak membelinya malah tak mungkin lagi.

Kubuka tasku, kulihat masih ada uang 80 ribu. Kuserahkan dasternya. Lalu kuserahkan separuh uangku kepadanya. Kembali ibu itu mengucapkan terima kasih berulang kali. Kami berpamitan lalu turun di sebuah stasiun.

Cerita tentang kepedihan perempuan yang tak kunjung usai.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay.com)

*Kustiah, mantan Jurnalis Detik.com, saat ini pengelola www.Konde.co dan menjadi pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co – Yasinta begitu bingung melihat sinetron televisi kita. Bayangkan saja, tulis Yasinta di sebuah WA group teman-teman kami: saat ini banyak sinetron yang dimainkan oleh anak-anak. Mereka ada yang shooting sinetron dari pagi hingga malam hari. Lalu bagaimana sekolah mereka? Apakah mereka punya waktu untuk bermain? Bagaimana jika waktu mereka ini dihabiskan dengan bermain film?

Banyak pekerja anak yang umurnya dibawah 18 tahun, bahkan anak-anak umur 8 tahun sudah bermain sinetron siang dan malam.

Sebenarnya tak hanya di sinetron, dalam keseharian kita banyak melihat pekerja rumah tangga anak-anak yang sudah harus bekerja, dan umumnya PRT anak ini didominasi oleh perempuan. Kemudian ada penjual tissu yang sering berjualan di jalan, penjual makanan di jalan tol, juga anak-anak perempuan yang banyak dipekerjakan di perkebunan.

Lintang Ratri, dosen Universitas Diponegoro dan peneliti media dan pekerja anak melakukan penelitian terhadap pekerja sinetron anak di televisi. Dalam Website Remotivi, Lintang menuliskan:

“Problem hak pekerja anak ini tampak jelas dalam penelitian atas proses produksi sinetron “Raden Kian Santang” (RKS) pada 2014 lalu. Sinetron yang secara ajeg meraih peringkat sepuluh besar dalam rating AGB Nielsen ini melibatkan lebih dari sepuluh anak-anak sebagai pemeran utama.

Pada produksi “RKS”, anak-anak dipekerjakan lebih dari tiga jam dalam sehari, melebihi pukul 18.00—bahkan lewat dari tengah malam—selama tujuh hari sepekan. Jam kerja ini jelas sudah melanggar amanat UU Perlindungan Anak dan UU Ketenagakerjaan. Jika pekerja dewasa pulang pagi dan bisa beristirahat, anak-anak ini masih harus bersekolah di pagi harinya. Hal inilah yang memicu kebutuhan homeschooling bagi pemain anak.

Sebagian pekerja anak pun akhirnya putus sekolah. Seorang pemain bahkan tidak diizinkan sekolah asalnya di Makassar untuk pindah sekolah ke Jakarta, tempat produksi dilakukan, dengan alasan mengharumkan nama sekolah. Alhasil dia hanya aktif pada saat ujian dan tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Segala hal ini dijalani dengan hasil kerja yang justru dinikmati orang lain, dalam hal ini keluarga atau manajemen artis.

Lingkungan kerja “bintang” anak sering kali tidak ramah, karena mereka harus berinteraksi dengan pekerja dewasa. Ketika dilakukan pengamatan, sama sekali tidak ada ruang khusus anak untuk beristirahat atau bermain. Orang tua cenderung memfasilitasi anak-anak untuk tergantung pada gadget.

Suasana lokasi selalu bising. Hampir semuanya bekerja dengan bicara, kecuali saat take. Cara berkomunikasinya pun didominasi pembicaraan orang dewasa, beberapa kali terdengar humor dewasa, kalimat-kalimat cacian, meski dilontarkan dengan nada becanda, seperti “anjing”, “bangsat”, “tai”, bahkan cara memanggil juga menggunakan panggilan yang tidak pantas seperti “cong”, kependekan dari “bencong”.



Stop Pekerja Anak


Setiap tanggal 12 Juni, masyarakat global berkampanye untuk “Mengakhiri Pekerja Anak”, yang dikenal dengan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (World Day Against Child Labour). Tema ini diusung untuk mengingatkan pada semua pihak untuk men-stop pekerja anak.

Saat ini diperkirakan sekitar 68 juta buruh anak di seluruh dunia dan 2,3 buruh anak di Indonesia memiliki risiko terhambat tumbuh kembang dan memerlukan perlindungan khusus dari kekerasan dan eksploitasi.

Pekerja anak tersebar pada sektor pertanian (59%), jasa (24%), manufaktur (7%), dan berbagai sektor lainnya. Sektor utama ini menjadi penggerak ekonomi nasional, terutama sektor pertanian yang menyangkut farming (pertanian), perkebunan, perikanan, dan peternakan tentunya akan berpengaruh dalam percaturan ekonomi global bila terjadi pembiaran pada prinsip bisnis yang menjadi acuan dalam kompetisi global saat ini.

Data dari JARAK menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia tidak bisa terhindarkan dari pekerjaan yang membahayakan kesehatan,  keselamatan kerja dan gangguan atas tumbuh-kembangnya, karena situasi pendidikan yang belum menjamin semua anak terakses pendidikan 12 tahun, lapangan pekerjaan yang tidak siap dengan kompetensi dan belum layak (decent work), orang tua belum berdaya secara ekonomi (rentan kemiskinan), dunia usaha yang masih mengabaikan prinsip bisnin yang menjamin hak-hak anak, dan pengawasan dari pemerintah yang masih lemah.

Masih banyak anak yang putus sekolah dan lulus SD, SMP, SMU/SMK yang tidak melanjutkan pendidikan, karena bingung, mau kemana setelah putus/tamat?. Dapat dipastikan anak-anak yang putus sekolah ini akan menyebar memasuki semua sektor pekerjaan,” ujar Maria Clara Bastani dari JARAK.

Pekerja anak telah memiliki kontribusi ekonomi bagi kesinambungan ekonomi keluarga miskin dan kelompok marginal, namun demikian tindakan ini bisa merugikan aset sumberdaya manusia yang kompetitif di masa depan.

“Ketika negara-negara maju melayani anak-anak pendidikan berkualitas, namun ironi, anak-anak Indonesia harus bertahan hidup di lapangan pekerjaan.”

Sebanyak 2,3 juta anak bekerja yang tersebar di sektor pertanian, perdagangan, jasa dan manufaktur memerlukan tindakan segera! Peraturan, kebijakan dan program di pusat dan daerah terkait ketenagakerjaan, pendidikan, sosial dan perlindungan anak telah ditetapkan sebagai komitmen nasional, selanjutnya apakah komitmen dan upaya selama ini telah memastikan semua anak berada di bangku pendidikan, dapat jaminan sosial dan pemberdayaan ekonomi. Tantangan ini tentu menjadi motivasi kuat dan komitmen yang lebih dalam menyelamatkan anak-anak Indonesia.

Hal ini penting bagi pemerintah, organisasi masyarakat dan sektor usaha untuk memastikan semua anak berada di bangku sekolah, memperoleh layanan tumbuh kembang yang berkualitas, melindungi dari tindakan kekerasan dan eksploitasi.

Penting untuk diingat bagi masyarakat agar tidak mempekerjakan anak (individu usia dibawah 18 tahun), khususnya pekerja rumah tangga di rumahnya masing-masing. Oleh karena itu semua pihak penting untuk melakukan tindakan segera (immediate action) secara terintegrasi dan berkesinambungan, yaitu segera wujudkan Wajib Belajar 12 Tahun, untuk memastikan semua anak berada di bangku pendidikan dan mencegah masuk lapangan pekerjaan secara dini.

Lalu meningkatkan status usia minimum bekerja menjadi 18 tahun. Usia minimum memasuki pekerjaan pada 15 tahun, menghambat tumbuh kembang anak dan kompetisi global.

Selanjutnya Achmad Marzuki dari JARAK mengatakan pentingnya Code of Conduct atau Kode Etik bagi pelaku usaha yang mengikat di semua rantai pasokan dengan cara mengefektifkan sistem pengawasan negara di semua sektor pekerjaan dan melingkupi pada tahapan siklus rantai pasokan, memperluas cakupan dan jangkauan layanan jaminan sosial dan perlindungan anak untuk memastikan bahwa mereka yang saat ini menjadi pekerja anak mendapatkan intervensi secara terpadu dan berkesinambungan.

“Tindakan cepat dan efektif bagi pekerja anak diperlukan agar mendapatkan layanan yang memastikan pemenuhan terhadap tumbuh-kembangnya. Dan Indonesia harus bebas dari pekerja anak.”


(Referensi: http://www.remotivi.or.id/amatan/363/Bintang-atau-Pekerja-Cilik)


Sica Harum- www.konde.co

Sebuah proposal buku membantu kita untuk menelaah ulang: apa yang mau ditulis, dan untuk apa semua itu ditulis.

Pekan lalu menjadi rentetan hari yang lumayan sibuk di kantor saya di Arkea.id. Saya beberapa kali bertemu orang-orang baru. Saya bercerita tentang apa itu penerbitan yang sedang saya rintis, dan mereka menjelaskan cita-cita mereka.

Buat saya, selalu menarik untuk bertemu dan berbincang dengan orang-orang baru. Apalagi jika bidang mereka betul-betul sesuatu yang baru. Selalu menarik untuk ‘membaca’ pemikiran dan minat banyak orang, mencari tahu kekhawatiran mereka, sekaligus mempelajari apa yang tak mereka sukai pada hari-hari sebelumnya. Apalagi jika ini membicarakan tentang perempuan.

Usai berbincang, maka obrolan-obrolan itulah yang saya bawa pulang. Kadang-kadang, suasana celoteh mereka masih melekat di kepala hingga berjam-jam kemudian. Sembari kembali ke kantor, biasanya sudah mulai terpikirkan sejumlah ide. Hanya saja, masih scattered.

Agar segera move on ke urusan klien berikutnya, maka saya harus mendisiplinkan diri untuk segera membuat proposal buku perempuan ini. Beginilah rutinitas bekerja di penerbitan. Tujuannya : segera menajamkan mau apa dan bagaimana.

Banyak klien yang baru punya ide di kepala. Ini seru! Sebab  imajinasi tentang mau apa dan bagaimananya masih bisa sangat beragam dan banyak pilihan. Hanya saja, prosesnya akan setengah mati sungguh lama. Dari kacamata produksi, tentu ya. Hitungannya sekitar 3-4 bulan, sejak semua ide masih bersemayam di kepala lalu mewujud menjadi buku.

Kemudian perjalanan baru akan dimulai setelah buku itu terbit. Bagaimana mendistribusikan dengan baik sehingga buku-buku itu bisa menjumpai pembaca yang tepat. Banyak hal yang kami lakukan dengan penerbitan kami. Saat ini self publishing memang sangat menarik perhatian masyarakat. Banyak orang terutama perempuan yang kemudian menerbitkan tulisannya sendiri, pikiran-pikiran mereka agar bisa dibaca orang lain.

Hitungan di dalam negeri, sebuah buku yang baik punya pangsa pasar tak kurang dari 26.000 jika mengacu pada data tingkat literasi di Indonesia: mau dan mampu memahami buku.  Namun angka itu jauh lebih banyak jika mengacu pada jumlah kelas menengah di Indonesia yang menjadikan buku sebagai bagian dari lifestyle: termasuk menjadikan buku sebagai alat menaikkan status dan kampanye di media sosial.

Karena itu, menganalisa kebutuhan menjadi penting. Dengan menemukan (atau menciptakan) kebutuhan yang tepat, idealisme awal (mungkin) tak perlu sepenuhnya luber dan mengikuti kehendak pasar agar buku ‘laku’. Sebab buku tak selalu harus jadi komoditas.

Pada banyak orang, justru buku ialah alat untuk membuka banyak kemungkinan. Apalagi buku-buku perempuan. Banyak hal yang bisa dilakukan dari buku perempuan, yang paling penting adalah bisa digunakan sebagai data-data advokasi. Cerita-cerita perempuan bisa menjadi big data itu sendiri.

Menulis proposal, termasuk menggambarkan kolaborasi apa saja yang bisa dan mungkin tercapai, atau dijajaki. Anatomi proposal buku perempuan sebetulnya sederhana saja. Yang penting bisa menjawab 5W1H; What, Who, Where, When, Why dan How.

Dalam buku perempuan, yang harus digarisbawahi adalah bagaimana proses itu kemudian menjadi, bagaimana proses perempuan menghadapi persoalan mereka, menyelesaikan persoalan, dan jalan yang mereka pilih untuk ditempuh. Inilah yang selalu menjadikan saya alasan untuk membuat proposal yang menyertakan proses. Sebuah proses,sangat penting bagi perempuan.

Dan tentu, ini tak hanya akan menjadi big data, namun kita bisa menjadikan buku untuk mempertemukan sebuah kasus perempuan kepada solusinya.

Poedjiati Tan - www.konde.co

Beberapa hari ini saya mendapat broadcast sebuah tulisan. Tulisan berisi: Kisah pilu kelompok Gay ini beredar di beberapa Whats App (WA) group dan di facebook.
Dalam cerita tersebut diceritakan seorang pendamping Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang bertemu dengan seorang ibu yang ternyata anaknya terinfeksi HIV. Namun diakhir cerita penulis justru melakukan judment dan stigma. Tulisan yang jelas homophobia dan menyebar kebencian:

Beberapa cuplikan dari cerita tersebut :

Memang banyak juga karena mereka pemakai narkoba... tetapi yang sangat banyak adalah dari kalangan kaum Sodom. Semakin hari jumlah mereka semakin banyak... mau menjadi apakah negara ini jika yang seperti ini dibiarkan. Akankah para generasi kita menjadi rusak karena hal ini.

Mohon para orang tua yang mempunyai putra putri lebih waspada... rangkul dan dekati putra putri kita... perhatikan pergaulannya... dengan siapa?? meski sejenis kita juga harus mengetahui bagaimana karakter teman2 mereka ...

Kalau jaman dahulu sebagai orang tua kita merasa aman jika putra putri kita berteman dengan teman2 sejenis saja... saat ini jamannya sudah berubah... sisihkan waktu untuk mendampingi putra putri yang diamanahkan ALLAH SWT kepada kita... jagalah aqidahnya... ibadahnya...

Saya menulis kasus ini karena merasa miris ... kaum ini sudah tidak malu2 lagi mempertontonkan ke eksisannya... bermesraan dan ciuman di tempat umum...

Seringkali kita jumpai orang memberikan informasi tentang HIV/AIDS dengan mengkaitkannya terhadap orientasi seksual atau gay. Tulisan ini menurut saya justru menutupi fakta-fakta lain penyebab tertularnya HIV, seperti broadcast tentang kisah pilu kaum gay, yang menekankan penyebab HIV/AIDS karena hubungan sejenis.

Padahal penyebab dan penularan HIV/AIDS banyak sebabnya. Menurut laporan Kementrian kesehatan RI tahun 2016 jumlah AIDS tertinggi menurut pekerjaan/status: adalah ibu rumah tangga sebesar 10.691. 

Maka bila kita memberikan informasi tentang penyakit atau tentang pendidikan seksual dengan cara menakut-nakuti maka akan berbahaya buat generasi muda. Mereka tidak pernah atau takut mengajarkan tentang save sex atau seks yang aman pada anak muda. Bayangkan bila laki-laki melakukan hubungan seks yang beranti-ganti dengan banyak pasangan, akibatnya banyak ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suami.

Pendidikan seks buat anak muda selalu dikait-kaitkan dengan moral, bukan tentang hak seksual dan reproduksi yang semua orang harus mengetahuinya. Mereka selalu mengkaitkan pada moral dan dosa, bukan tentang seks yang aman atau tentang kesehatan reproduksi.

Misalnya berita tentang kematian artis Julia Peres yang terkena kanker serviks, dan ketika seorang teman share apa itu infeksi HPV serta bagaimana terjadinya kanker serviks. Ada seorang laki-laki yang berkomentar intinya bila tidak ingin terkena kanker serviks, perempuan jangan suka berganti-ganti pasangan. Padahal bisa jadi seorang istri terkena virus HPV dari suaminya dan suaminyalah yang suka berganti pasangan. Namun stigma itu justru dilekatkan pada perempuan.

Kanker serviks penderitanya pasti perempuan. Bila masyarakat memiliki persepsi kanker serviks karena berganti-ganti pasangan maka akan memberikan stigma dan berbahaya buat perempuan. Perempuan yang terkena kanker serviks akan memiliki beban psikologis ganda dan tak jarang di stigma sebagai perempuan nakal! Selain itu perempuan yang merasa tidak pernah berganti-ganti pasangan akan mempunyai kecenderungan merasa tidak perlu mengecek kesehatan reproduksinya atau melakukan pemeriksaan kesehatan seperti papsmear.

Pernah, ketika memberikan penyuluhan tentang gender dan seksualitas di daerah, teman-teman bertanya kepada para anggota karang taruna yang ikut. “Bagaimana perasaan kalian ketika mengetahui pacar kalian hamil karena hubungna seks yang kalian lakukan? Rata-rata para cowok menjawab bangga, itu tandanya mereka laki-laki sejati. Tetapi berbanding terbalik ketika mereka diminta bertanggung jawab dengan menikahi pacarnya. Mereka merasa belum siap dan selalu beralasan jika mereka belum memiliki pekerjaan.

Seks dan seksualitas selalu ditafsirkan sebagai sesuatu yang erotis, tabu, dan harus ditutupi, bukan untuk dibicarakan secara terbuka. Pendidikan seksual selalu dikaitkan dengan persoalan akhlak atau moral. Masyarakat sering memberikan pemahaman yang keliru tentang seks dengan cara menakut-nakuti remaja tentang seks.

Padahal pendidikan seksualitas perlu diajarkan kepada remaja agar mereka mengerti dan tahu apa saja tentang bahaya serta pencegahannya. Pendidikan seks bukan persoalan seks bebas tetapi mengajarkan remaja tentang resiko yang mungkin terjadi akibat melakukan hubungan seks yang tidak aman.

Selain itu pendidikan seks juga mencegah anak-anak dan remaja dari pelecehan ataupun kekerasan seksual. Jangan membuat remaja atau mendidik remaja menjadi seksphobia sehingga membuat mereka jadi takut membicarakan tentang seksual. 


(Referensi: http://www.aidsindonesia.or.id/ck_uploads/files/Final%20Laporan%20HIV%20AIDS%20TW%201%202016.pdf

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Di seluruh dunia pada tanggal 16 Juni 2017 diperingati sebagai hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) internasional. Namun walaupun sudah dirayakan di seluruh dunia, nasib PRT masih jauh panggang daripada api.

Data yang dikeluarkan JALA PRT dan LBH Jakarta menunjukkan bahwa PRT Indonesia justru semakin terdiskriminasi, bekerja dalam situasi  perbudakan modern dan rentan kekerasan. Hal lain, PRT masih belum diakui sebagai pekerja dan mengalami pelanggaran atas hak-haknya baik sebagai manusia, pekerja dan warga Negara.

Berdasarkan Rapid Assesment yang dilakukan oleh JALA PRT di tahun 2010, jumlah PRT diperkirakan mencapai 16.117.331 orang. Dan berdasarkan survey International Labour Organisation (ILO) tahun 2016, terdapat sebesar 4,5 juta PRT lokal yang bekerja di dalam negeri.

Dalam faktanya,  seperti diungkapkan Koordinator JALA PRT, Lita Anggraeni, situasi hidup dan kerja PRT sama sekali tidak mencerminkan bahwa PRT menjadi bagian dari Pembangunan Berkelanjutan dan Nawacita yang selama ini dikampanyekan Presiden Jokowi-Jusuf kalla.


Kasus yang Menimpa Pekerja Rumah Tangga di Indonesia

Dalam catatan JALA PRT, tercatat di dalam negeri sampai dengan Mei 2017, terdapat 129 kasus kekerasan PRT diantaranya:

1. Pengaduan upah tidak dibayar

2. PHK menjelang Hari Raya dan THR yang tidak dibayar. 

3. Di samping itu, dari survei  Jaminan Sosial JALA PRT terhadap 4296 PRT yang diorganisir di 6 kota: 89% (3823) PRT tidak mendapatkan Jaminan Kesehatan.

4. 99% (4253) PRT tidak mendapatkan hak Jaminan Ketenagakerjaan.

5.Kemudian mayoritas PRT membayar pengobatan sendiri ketika sakit  termasuk dengan cara berhutang, termasuk berhutang ke majikan dan kemudian dipotong gaji.

6. Meskipun ada Program Penerima Bantuan Iuran (KIS) namun PRT mengalami kesulitan untuk bisa mengakses program tersebut karena tergantung dari aparat lokal untuk dinyatakan sebagai warga miskin. Demikian pula untuk PRT yang bekerja di DKI Jakarta dengan KTP wilayah asal juga kesulitan untuk mengakses Jaminan Kesehatan baik dari akses Jaminan ataupun layanan.

7. Sebagai pekerja, PRT masih dikecualikan dalam peraturan perundangan mengenai jaminan sosial. Sehingga PRT tidak mendapatkan hak Jaminan Kesehatan dan Jaminan Ketenagakerjaan dari majikan dan pemerintah.  Angka 4296  bisa merepresentasikan 10,7 juta (Data JALA PRT) atau 4,5 juta (Data Surver ILO Jakarta 2016) yang mayoritas tidak mendapatkan Jaminan Sosial.  Bahkan dalam catatan pengaduan lapangan, 56 PRT mengalami PHK ketika meminta hak Jaminan Kesehatan.

Berdasarkan catatan pengaduan ketenagakerjaan yang didata LBH Jakarta, sepanjang tahun 2016 terdapat 18 pengaduan kasus PRT, diantaranya kasus upah tidak dibayar berbulan-bulan, PHK sepihak, PHK menjelang hari raya, THR tidak dibayar.

“Tidak diakomodirnya PRT dalam UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, menyebabkan PRT tidak memiliki jaminan perlindungan sebagaimana pekerja pada umumnya. Jika pekerja dapat mengadukan permasalahannya kepada Dinas Tenaga Kerja, maka PRT tidak dapat melakukannya. Permasalahannya terhenti di tingkatan aparat hokum. Hal ini merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia, dimana akses keadilan untuk menempuh upaya hukum tidak disediakan oleh negara,” ujar Lita Anggraeni.

Dalam hal upah, PRT masih jauh sekali dari perlindungan dengan upah dari berbagai wilayah kota besar: Medan, Lampung, DKI Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Makassar berkisar 20-30% dari UMR. Artinya mayoritas PRT hidup dalam garis kemiskinan dan bahkan tidak bisa mengakses perlindungan sosial dan mendapatkan hak dasar ketenagakerjaan.


Situasi yang Kontradiktif

Situasi tersebut kontradiktif dengan Program Pembangunan Berkelanjutan yang dicanangkan oleh Pemerintah. Khususnya dalam Tujuan 1 termasuk di dalamnya pentingnya warga Negara mendapatkan Perlindungan Sosial, dan Tujuan 8  mengenai Pekerjaan Yang Layak.

PEMERINTAH dan DPR semakin tidak mempedulikan dan meninggalkan PRT sebagai Pekerja dan Warga Negara yang telah berkontribusi besar dalam roda perekonomian nasonal. 13 tahun RUU Perlindungan PRT (PPRT) di DPR dan Pemerintah belum dibahas dan demikian pula Pemerintah tidak bersedia meratifikasi Konvensi ILO 189 tentang Kerja Layak PRT.

“Hal ini juga sebenarnya ada dalam janji Nawacita Presiden Jokowi- JK Janji Kampanye Jokowi-JK yang tertuang dalam Visi Misi resmi  yang disampaikan  ke KPU dan disarikan dalam Nawa Cita memasukan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) di dalam visi misi. Tak hanya itu pada hari buruh  1 Mei 2014 Jokowi secara langsung menyatakan dukungan untuk disahkannya UU PPRT,” ujar Lita Anggraeni.

Perlindungan bagi Pekerja Rumah Tangga juga dicantumkan di halaman 23 Nawa Cita, yang berbunyi “Peraturan perundang-undangan dan langkah-langkah perlindungan bagi semua Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang bekerja di dalam maupun di luar negeri.”

Oleh karena itulah, dalam momen Peringatan Hari PRT Internasional ini, JALA PRT bersama LBH Jakarta, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) menuntut kepada pemerintah dan DPR untuk segera menjadikan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) masuk dalam Prioritas Prolegnas Tahunan dan segera mengesahkan UU Perlindungan PRT.

Selanjutnya menuntut kepada Presiden RI, Joko Widodo dan DPR RI untuk segera meratifikasi Konvensi ILO No. 189 mengenai Kerja Layak bagi PRT sebagai tindak lanjut sikap politik pemerintah Indonesia yang disampaikan dalam Pidato Politik Presiden RI dalam Sesi ke-100 Sidang Perburuhan Internasional, 14 Juni 2011 dan pemenuhan janji Nawacita Presiden RI untuk memberikan perlindungan bagi PRT di dalam negeri dan di luar negeri.

Dan mendesak pemerintah mengambil langkah-langkah secara institusional, administratif dan juga hukum untuk melindungi dan memberdayakan PRT dan PRT migran Indonesia.

“Juga kami mendesak dan menuntut kepada Pemerintah RI dan DPR RI untuk mengintergrasikan prinsip-prinsip dalam hak asasi manusia dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Konvensi Hak Anak dan Konvensi Internasional mengenai Perlindungan Hak Seluruh Buruh Migran dan Anggota Keluarganya; Konvensi ILO No. 189 mengenai Kerja Layak PRT dalam penyusunan dan perwujudan peraturan perundang-undangan di tingkat nasionaluntuk PRT yang bekerja di Indonesia dan PRT yang bekerja di luar negeri,” ujar Lita Anggraeni.


Luviana- www.Konde.co

Pemain bola, David Beckham dan pemain bola dunia lainnya mungkin  tak pernah membayangkan bahwa sepatu olahraga yang mereka pakai, dibuat dari keringat para buruh-buruh perempuan di Tangerang dan Jakarta.

Begitu juga dengan baju olahraga. Baju yang terpampang di mall-mall, pusat pertokoan modern. Ini adalah baju-baju yang tiap hari dibuat oleh jerih payah para buruh pabrik perempuan. Mereka bekerja dengan tekun di pabrik tekstil, namun naasnya, tak bisa dengan mudah memiliki sepatu dan baju-baju yang telah dijual dengan harga mahal ini.

Sebuah buku yang berjudul “ Dari Mana Pakaianmu Berasal?” yang ditulis oleh Bambang T. Dahana, Abu Mufakhir dan Syarif Arifin dari Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS), Lembaga Tanah Air Beta dan Clean Clothes Campaign yang diterbitkan di tahun 2016, kemudian melengkapi catatan-catatan atas nasib yang terjadi pada buruh perempuan di Indonesia.

Buku ini merupakan hasil riset terhadap kondisi dan upah buruh di industri tekstil di Tangerang dan Serang, Banten sekaligus hasil pemetaan kondisi buruh perempuan di Jakarta . Hampir 90% buruh yang bekerja di garmen/tekstil adalah perempuan.

Buku ini juga membuka catatan tentang berbagai bentuk pelanggaran hak dasar buruh perempuan seperti: kebebasan berserikat dan berunding serta hilangnya jaminan upah layak di pabrik. Penelitian ini juga  berdasar pada pemerintah dan asosiasi bisnis yang melakukan kebijakan upah murah.

“Menciptakan lapangan kerja dengan selalu merawat iklim investasi adalah alasan yang sering sekali dibuat dan dikatakan untuk mempertahakankan upah murah di Indonesia (Hal.5)”

Upah buruh di Indonesia dalam catatan penulis, paling murah jika dibandingkan negara: Filipina, Thailand, Malaysia, India dan China. Industri tekstil dan garmen sangat mengandalkan upah murah, khususnya sepatu dan baju dari merk-merk terkenal di dunia.

Namun, pencurian upah terus terjadi. Pencurian upah misalnya dilakukan dengan perlakuan pada buruh untuk memperpanjang jam kerja, padahal kerja-kerja lembur seperti ini tidak dibayarkan. Dalam beberapa hal, kondisi ini diperburuk dengan buruh harus mengeluarkan biaya tambahan agar bisa dterima bekerja karena perusahaan mengisyaratkan adanya biaya lamaran/ rekrutmen.

Sementara di sisi lain, penetapan upah minimum tidak banyak menolong kondisi upah, karena banyaknya celah yang dimanfaatkan pengusaha untuk tetap mempertahankan upah rendah bagi para buruh (Hal. 79).

Padahal dalam seluruh persoalan ini, negara dalam hal ini Disnaker tidak memiliki kemampuan untuk mengawasi pelaksanaan upah minimum karena berbagai alasan, seperti: jumlah tenaga pengawas upah yang terbatas, jumlah anggaran yang terbatas dan kewenangan yang terbatas.

Padahal negara harusnya memastikan bahwa tidak adanya pelanggaran atas upah dan dihilangkannya kondisi kerja buruk.

Dalam catatan serikat pekerja , dalam kurun waktu 2007-2009 banyak buruh yang diberhentikan, kemudian setelah diberhentikan, mereka dipekerjakan kembali sebagai buruh kontrak atau outsourching. Dengan catatan bahwa para buruh ini akan menerima: upah lebih rendah, tidak diangkat sebagai karyawan, kehilangan tunjangan dan tidak boleh berserikat.

Dalam buku ini juga disebutkan, Nining Elitos dari Serikat buruh KASBI mengatakan bahwa jumlah buruh outsourching jumlahnya sebanyak 60%. Sementara Rudi HB Daman dari Serikat buruh GSBI menyatakan bahwa jumlah buruh outsourching ini bertambah 5% pertahunnya (Hal. 39-40)

Selain itu para buruh juga mengalami ancamana relokasi. Pengusaha akan berpindah tempat semaunya di tempat lain/ di kota lain yang gaji buruhnya lebih murah. Akibatnya banyak pemecatan yang dilakukan sewaktu-waktu dan sepihak.

Hal lain, yaitu terjadinya diskriminasi gender pada perempuan, misalnya: diperlakukan secara diskriminatif karena mereka perempuan, seperti dirayu, dicolek tubuhnya. Banyak laki-laki yang menyalahgunakan jabatan untuk merayu buruh buruh perempuan.

Padahal banyaknya larangan untuk membuat serikat pekerja dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) terus terjadi.

Inilah yang membuat pertanyaan besar terus dilontarkan: Dari mana pakaian dan sepatu kita berasal? Buruh perempuanlah adalah alas kakinya. Ia berkeringat, tak kenal menyerah, walau harus menelan kepahitan: diupah murah, dilecehkan dan selalu dianggap sebagai buruh di kelas paling bawah. Tak punya martabat.


*Kustiah- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Jika ada kemauan kuat akan selalu banyak jalan untuk menggapainya. Demikian bunyi pesan bijak yang menjadi salah pijakan Wilda Yanti saat hendak memulai usaha yang dirintis dari ketidaktahuan. Dengan ketekunan dan semangat belajar yang tinggi Wilda berhasil membuktikannya:


Keluar Dari Pekerjaan, Berpikir Pekerjaan Lain

Belasan tahun lalu, Wilda Yanti, 43 tahun, adalah seorang pegawai kantoran. Berangkat kerja pagi pulang kerja tengah malam. Tak jarang Wilda pulang dini hari, selain karena banyak pekerjaan jarak tempuh tempat kerja dengan tempat tinggal yang lumayan jauh, Cibitung-Bekasi membuat banyak waktunya ia habiskan di jalan. Hidupnya antara kantor dan jalanan.

Anak dan keluarganya nyaris hanya mendapat sisa-sisa waktu yang sedikit. Ketika menjadi ibu satu anak, Wilda masih menjalani pekerjaannya seperti biasa. Apalagi anaknya sudah terbiasa ia tinggal.

Galau muncul ketika anak keduanya lahir. Meninggalkan dua anak di rumah dengan pengasuh membuat Wilda sering merasa tak tenang. Ditambah anaknya yang kedua sering rewel saat ditinggal pergi.

"Yang pertama tidak ada acara tangis-tangisan kalau ditinggal pergi. Tetapi yang kedua justru sebaliknya," ujar ibu tiga anak ini kepada penuli di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, awal Mei 2017 lalu.

Akhirnya, demi anak Wilda mantap resign. Jabatan yang ia tinggalkan adalah direktur IT di sebuah perusahaan Jepang.

Sebelum keluar lulusan ekonomi bisnis ini mendata pekerjaan yang kira-kira masih bisa ia lakukan sembari mengasuh anaknya. Hasilnya ada sepuluh pekerjaan yang bisa ia pilih.

Pilihan pertama, berjualan produk fashion via online. Sampai saat ini usaha itu masih ia jalankan. Kedua, membuka bisnis makanan, juga berhasil. Sayang, ia memilih menutupnya setelah berjalan empat tahun karena tukang masaknya pulang kampung.

Dan pilihan yang paling mungkin ia lakukan ialah pekerjaan nomor sepuluh, mengolah sampah.

Ide pengolahan smpah muncul saat ia melihat banyak sampah rumah tangga terbuang begitu saja. Apalagi sampah rumah tangga dianggap sebagai sumber bau dan dianggap tak
memiliki nilai ekonomi. Namun, yang terpikirkan kemudian adalah jangankan membayangkan mengerjakan, mencium bau sampah saja sebenarnya membuat Wilda jijik.

"Dari kecil keluarga tahu. Masuk toilet saja saya jijik, apalagi memegang sampah," katanya.

Berkat ketelatenanannya, bisnis sampah yang ia mulai dari sampah rumahan, dengan memilah organik dan non organik, mengolah yang organik menjadi kompos dan menjual non organik ke pengepul, bisnis Wilda berkembang menjadi bisnis besar.

Ia memulai usahanya dari dapurnya sendiri lalu meluas dari lingkungan perumahannya dan merambah ke pengepul sampah. Kini, usahanya telah merambah tak hanya mengurus pengolahan sampah, tetapi juga membina para petani organik di beberapa daerah di Indonesia.

Bahkan suaminya yang bekerja kantoran kemudian juga ikut-ikutan meninggalkan pekerjaannya dan banting setir membantu usaha yang dibangun istrinya.


Perempuan Pengusaha Sampah

"Jangan membenci atau tidak menyukai apa pun. Karena, bisa jadi yang awalnya tidak kita sukai itulah justru yang akan kita kerjakan". Demikian pesan Wilda kepada para pekerjanya termasuk kepada penulis ketika sedang meliput di pengolahan sampah di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Siapa sangka dari sampah yang ia benci justru membuatnya sukses menjadi seorang pengusaha. Wilda kecil hingga dewasa masih sering jijik jika masuk toilet. Jika tak terpaksa bisa jadi ia tak akan pernah masuk toilet. Juga Wilda tak suka menjadi guru. Tapi nyatanya ia menjadi guru bagi ribuan pemulung dan petani organik yang menjadi binaannya.

"Karena orang tua saya guru, saya tahu bagaimana sengsaranya. Makanya saya tidak menyukai apalagi bercita-cita menjadi guru," ujarnya.

Kini di daerah dan di beberapa tempat di Jakarta dan Bekasi Wilda justru menjadi guru sekaligus pengusaha yang mengambil semua sampah non organik dari bank-bank sampah.

Usaha sampah diakui Wilda memberikan keuntungan besar. Karena sampah berbau, orang malas melirik usaha ini.

Siang itu, mengenakan high heels, berpakaian blazer, di tempat pengolahan sampahnya di Cikini Wilda menunjukkan alat-alat pengolahan yang ia miliki. Mulai alat mengolah plastik kresek, plastik kemasan, hingga pengolahan sampah organik. Di tempat ini pembalut perempuan juga bisa dimanfaatkan. Dengan alat modern pembalut digunakan sebagai bahan bakar. Ia menunjukkan satu per satu alat beserta kegunaannya kepada tamunya. Selama kurang lebih dua jam berada di tempat pengolahan sampahnya penulis melihat Wilda telah menerima tamu belasan orang secara bergantian. Salah satu tamunya adalah ibu-ibu dari bank sampah di kawasan Jakarta Timur.

Eka, Direktur Bank Sampah Kelompok Kerja Perempuan, Jakarta Timur mengatakan, ia bersama teman-temannya sengaja datang ke lokasi pengolahan milik Wilda untuk menimba ilnu dan berkoordinasi tentang pengolahan sampah baik organik maupun non organik.

Selama ini kelompoknya tak mengalami kesulitan dalam mengumpulkan sampah non organik seperti kardus atau botol plastik kemasan. Karena, penjualan dan pengumpulannya relatif mudah. Justru yang ia keluhkan adalah pengolahan sampah organik atau sampah rumah tangga dan sampah non organik seperti sampah pembalut, kantong plastik, dan aneka sampah plastik yang biasa dibuang sembarangan.

Untuk sampah organik, setelah diolah menjadi pupuk organik Eka dan kelompoknya mengalami kesulitan dalam penjualannya. Sementara untuk sampah non organik yang dianggap tak bernilai kelompoknya belum tahu bagaimana mengolahnya.

Melalui pertemuannya siang itu ia berharap Wilda bisa menjadi distributor untuk pupuk organik buatan kelompoknya. Selain juga bisa bekerja sama dalam pengolahan sampah non organik.

"Di sini ternyata tidak ada sampah yang tidak bernilai dan terbuang sia-sia. Semua bisa diolah dan bermanfaat secara ekonomi," kata Eka.

Menurut Eka, ibarat dunia persampahan perusahaan Wilda adalah tempat pembuangan sampah paling akhir. Karena, semua sampah yang tidak dibeli oleh pengepul bisa diolah semua oleh Wilda.

Kini usaha Wilda dengan bendera PT Xaviera Global Synergy telah berkembang pesat. Tak hanya fokus mengolah sampah, Wilda juga membina ribuan petani organik yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia dan membina sekaligus distributor olahan sampah milik bank sampah di beberapa tempat di Jakarta dan sekitarnya. 


*Kustiah,
mantan Jurnalis Detik.com, saat ini pengelola www.Konde.co dan menjadi pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

*Vina Simanjuntak- www.Konde.co

Hari ini saya membuka media sosial dengan kaget karena hampir semua linimasa media online nasional memberitakan kabar duka cita dari seorang artis perempuan yang (lebih) dikenal dengan berbagai sensasinya.

Betapa tidak, artis yang cukup membuat saya kagum sekaligus kadang gemes ini dinyatakan telah meninggal dunia setelah perjuangan lebih kurang 4 bulan dirawat pasca kembali dinyatakan sakit. Perjuangannya melawan kanker serviks stadium 4 menjadi titik akhir perjalanan hidupnya.

Saya bukan penggemar berita selebritis  (walau kadang tertonton) namun si artis perempuan ini membuat saya tertarik dengan kisah cintanya. Julia Rachmawati atau yang lebih kita kenal dengan nama Julia Perez tutup usia pada tahun ke-36 perjalanan hidupnya. Kisah cinta dan sematan nama Perez yang sempat berkonflik dengan mantan suaminya, Demian perez bule asal Prancis pun turut menorehkan kisah hidupnya

Tidak hanya bernyanyi Jupe juga kerap menjadi pembawa acara di beberapa program TV nasional dan sempat beberapa kali menjadi model iklan. Kehidupannya yang kian naik turun menjadi bahan pemberitaan yang kerap terlihat atau sengaja dilihat oleh para penggemar dan haters nya  –sebutan bagi para pembenci pesohor- Pedangdut yang dikenal namanya berkat lagu: Belah Duren dan Aku Ra Popo ini juga aktif dalam mengungkapkan isi hatinya ke publik.

Hal itulah yang membuat saya secara tidak sadar tertarik untuk sesekali mengikuti kisah hidupnya. Sempat pernah menikah dengan seorang bule Prancis hingga tersemat nama Perez yang membuatnya setenar ini,Jupe hingga akhir hayatnya masih “tergantung hati” dengan seorang laki-laki bule lainnya dari negara asal Argentina dialah Gaston Castano.

Laki-laki yang terakhir ini kerap meramaikan pemberitaan Jupe di berbagai media, sikap dingin serta tak ambil pusing seolah meniciptakan image seorang Jupe cinta mati kepada bule Argentina yang berprofesi sebagai pesepak bola ini.

Dengan fisik khas Amerika Latin, Gaston diberitakan pernah tidak mengakui pernikahannya dengan Jupe. Kisah kasih Gaston-Jupe seolah bak rollercoaster panjang,naik turun tanpa terlihat ujungnya.

Jupe seorang perempuan periang, cerdas dan tangguh seolah tak mau ambil pusing atas gunjingan orang terhadap apa yang dijalaninya. Dengan kepercayaan penuh Jupe berusaha memperjuangkan kisah cintanya dengan sang Pangeran Gaston namun sayang isu gunjang-ganjing hubungan dua sejoli ini akhirnya harus benar-benar mengalami kenyataan pahit. Gaston meninggalkan Jupe dan kabar yang bisa kita dapatkan dengan mudah di berbagai berita artis saat ini,Gaston kabarnya sudah beralih ke pelukan perempuan lain.

Kisah cinta Jupe bukanlah kisah sinetron yang kerap berakhir dengan happy ending. Kisah cinta perempuan tangguh dan ceria ini mengajarkan kepada saya bahwa ada hal yang kadang tidak sesuai dengan impian kita tak perduli seberapa kuat kita mempertahankannya.

Hubungan relasi dengan pasangan juga tidak melulu berakhir seperti penggalan film Beauty and The Beast yang mana si pasangan bila sudah lari dari pelukan akan kembali lagi dengan ketulusan cinta yang sama. CLBK juga tidak menjanjikan pasangan dapat belajar membina hubungan lebih baik. Saya melihat banyak yang putus sambung lalu akhirnya menikah (juga akhirnyaa..). Namun, ada juga yang berakhir tidak happy ending.

Kisah Jupe dan sinetron yang kerap kita tonton di layar TV nasional persinetronan seolah kontras atau bertolak belakang dengan kenyataan seharusnya. Sempat mengikuti perkembangan kisah Jupe dalam hati saya juga sempat berfikir “kenapa perempuan sebaik ini,setulus dan rela berkorban apapun demi kisah cinta yang diyakininya harus mengalami kisah pilu ini sih?!.”

Yah,setidaknya itulah yang terlintas di benak saya ketika melihat kisah cinta Demian-Jupe bercerai dan Gaston-Jupe berakhir.

Berjuang melawan kanker serviks yang dialaminya sejak tahun 2014 lalu, sempat dinyatakan sembuh lalu kembali terperosok kesehatannya pada 19 April 2017 lalu hingga meninggal hari ini 10 Juni 2017 di usianya yang ke-36 tahun. Bagi saya pribadi Jupe adalah sosok inspirasi dalam perjuangan. Tak perduli perjuangan itu berakhir dengan happy ending atau berakhir tragis atau hanya berakhir stagnan.

Sosok pribadi Jupe mengajarkan kita untuk menjadi diri sendiri di hadapan publik yang penuh kamuflase, mengejar apa yang terbaik buat kita dan tetap menerima kekurangan dari kesalahan pilihan hidup kita tersebut. Hingga akhirnya kembali ke jalan-Nya dengan ingatan sebagai pejuang perempuan modern diantara ribuan kelemahan yang memaksa pribadi kita sebagai perempuan untuk menyerah.

Selamat jalan Jupe atau Julia Rachmawati. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya.

Berdamailah karena sakit dan perjuanganmu telah usai. Kisah cintamu bukanlah kisah cinta sinetron namun melalui pribadimu yang tersarat dalam kepribadian dan lirik lagu-lagumu yang berani,nakal dan jujur kau adalah pejuang.


Jakarta, 10 Juni 2017
Vina Simanjuntak




*Vina Simanjuntak, seorang pekerja media tipi. Penikmat musik tanpa mampu mendeskripsikan musik yang di gandrunginya. Penikmat alam,pengagum anak-anak dan kesetaraan.