Dirugikan Patriarki


“Berbicara mengenai patriarki dan sederet keburukannya  dianalogikan kepada para perempuan yang terpaksa harus selalu kalah dengan laki-laki, berkompetisi tidak sehat, mendapat stigma dan sejuta hal lainnya.”



*Pritta Damanik- www.Konde.co

Suatu sore di kota kecil ini, saya dan seorang teman laki-laki pulang menikmati keindahan pantai di akhir pekan. Awalnya kami berdiskusi di mobil mengenai investasi dan hobi. Sebagai pekerja entry level, tentunya kami sedang dalam tahap belajar berinvestasi untuk masa depan.

Sempat menyebut beberapa produk investasi dan akhirnya terbitlah ucapan mengenai “RUMAH”. Si lelaki mengatakan bahwa sudah saatnya dia berpikir untuk memulai DP rumah selayaknya seorang lelaki yang harus memikirkan persiapan rumah jika nanti menikah.

Sempat terucap bahwa, “Lo sih enak bisa habisin duit buat biayain hobi diving, gak usah mikirin beli rumah”. 

Saya tidak langsung merespon dengan marah.

Saya kemudian memancingnya untuk berpikir, “Sadarkah kita bahwa hal tersebut merupakan tuntutan social yang diciptakan oleh masyarakat sendiri, padahal laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja?”.

Kemudian dia juga mengungkapkan hal yang sama, mengapa laki-laki seolah mendapatkan tekanan lebih secara ekonomi dan posisi kekuasaan.

Saya kemudian memperkenalkan istilah Patriarki yang menghasilkan tekanan aneh tersebut dan lihatlah bahwa Patriarki tak melulu merugikan perempuan sebagai pihak yang diklaim inferior, namun nyatanya kaum superior pun merasakan hal yang sama.

Mengenai rumah, siapapun berhak untuk mempunyai rumah selaku bagian dari kebutuhan primer manusia, bukan karena jenis kelaminnya. Selama anda masih menjadi manusia tentunya wajib memiliki tempat tinggal dan sampai hari ini saya belum pernah menemukan brosur KPR yang menuliskan syarat “Pemilik harus Laki-Laki”.

Lihatlah betapa sesungguhnya Patriarki menjadi alat penekan bagi para lelaki single yang juga saat ini masing berjuang untuk membayar sewa kamar, tagihan kartu kredit, cicilan motor, makan, dan nongkrong akhir pekan harus ditambah pula dengan tekanan mempunyai rumah sebelum menikah.

Jika memang niat memiliki rumah datang atas kesadaran pribadi tentunya sangat baik akan tetapi betapa malangnya jika keinginan itu terpaksa muncul karena tekanan sosial dari keluarga ataupun pacar.

Di lain pihak, lihatlah di media sosial banyak sekali meme yang tersebar sebagai media hiburan yang kurang lebih menyatakan bahwa laki-laki harus mampu secara financial supaya perempuan dapat menikmatinya untuk shopping. Banyak orang yang kemudian dengan semangat menyebarkan meme tersebut mungkin memotivasi para lelaki untuk bekerja lebih keras. Perempuan kemudian dianalogikan sebagai makhluk penyedot uang dan penagih jalan-jalan padahal para perempuan juga mampu membeli barang impiannya dengan uang sendiri dan traveling dengan biaya pribadi.

Lihatlah bahwa Patriarki memunculkan banyak tekanan dan standar sehingga sebagai manusia tidak perlu kita tambahi dengan tuntutan ini itu. Segala sesuatu bisa dinegosiasikan dan disepakati, silakan berbagi peran dan tak perlu saling menekan atau menyalahkan.

Jika ingin setara, maka perlakukanlah laki-laki dan perempuan sama baiknya seperti halnya ketika berbagi peran untuk membayar tiket bioskop dan makan malam di akhir pekan. Bayarlah karena anda memang mempunyai uang dan niat untuk mentraktir pasangan atau teman bukan karena tekanan patriarki.


*Pritta Damanik,  Lulusan Hubungan Internasional yang harus berpikir di tingkat desa. Saat ini bekerja di Organisasi Pemberdayaan Masyarakat di NTT dan sibuk menikmati jalan-jalan sambil bekerja.