Proposal Buku Perempuan


Sica Harum- www.konde.co

Sebuah proposal buku membantu kita untuk menelaah ulang: apa yang mau ditulis, dan untuk apa semua itu ditulis.

Pekan lalu menjadi rentetan hari yang lumayan sibuk di kantor saya di Arkea.id. Saya beberapa kali bertemu orang-orang baru. Saya bercerita tentang apa itu penerbitan yang sedang saya rintis, dan mereka menjelaskan cita-cita mereka.

Buat saya, selalu menarik untuk bertemu dan berbincang dengan orang-orang baru. Apalagi jika bidang mereka betul-betul sesuatu yang baru. Selalu menarik untuk ‘membaca’ pemikiran dan minat banyak orang, mencari tahu kekhawatiran mereka, sekaligus mempelajari apa yang tak mereka sukai pada hari-hari sebelumnya. Apalagi jika ini membicarakan tentang perempuan.

Usai berbincang, maka obrolan-obrolan itulah yang saya bawa pulang. Kadang-kadang, suasana celoteh mereka masih melekat di kepala hingga berjam-jam kemudian. Sembari kembali ke kantor, biasanya sudah mulai terpikirkan sejumlah ide. Hanya saja, masih scattered.

Agar segera move on ke urusan klien berikutnya, maka saya harus mendisiplinkan diri untuk segera membuat proposal buku perempuan ini. Beginilah rutinitas bekerja di penerbitan. Tujuannya : segera menajamkan mau apa dan bagaimana.

Banyak klien yang baru punya ide di kepala. Ini seru! Sebab  imajinasi tentang mau apa dan bagaimananya masih bisa sangat beragam dan banyak pilihan. Hanya saja, prosesnya akan setengah mati sungguh lama. Dari kacamata produksi, tentu ya. Hitungannya sekitar 3-4 bulan, sejak semua ide masih bersemayam di kepala lalu mewujud menjadi buku.

Kemudian perjalanan baru akan dimulai setelah buku itu terbit. Bagaimana mendistribusikan dengan baik sehingga buku-buku itu bisa menjumpai pembaca yang tepat. Banyak hal yang kami lakukan dengan penerbitan kami. Saat ini self publishing memang sangat menarik perhatian masyarakat. Banyak orang terutama perempuan yang kemudian menerbitkan tulisannya sendiri, pikiran-pikiran mereka agar bisa dibaca orang lain.

Hitungan di dalam negeri, sebuah buku yang baik punya pangsa pasar tak kurang dari 26.000 jika mengacu pada data tingkat literasi di Indonesia: mau dan mampu memahami buku.  Namun angka itu jauh lebih banyak jika mengacu pada jumlah kelas menengah di Indonesia yang menjadikan buku sebagai bagian dari lifestyle: termasuk menjadikan buku sebagai alat menaikkan status dan kampanye di media sosial.

Karena itu, menganalisa kebutuhan menjadi penting. Dengan menemukan (atau menciptakan) kebutuhan yang tepat, idealisme awal (mungkin) tak perlu sepenuhnya luber dan mengikuti kehendak pasar agar buku ‘laku’. Sebab buku tak selalu harus jadi komoditas.

Pada banyak orang, justru buku ialah alat untuk membuka banyak kemungkinan. Apalagi buku-buku perempuan. Banyak hal yang bisa dilakukan dari buku perempuan, yang paling penting adalah bisa digunakan sebagai data-data advokasi. Cerita-cerita perempuan bisa menjadi big data itu sendiri.

Menulis proposal, termasuk menggambarkan kolaborasi apa saja yang bisa dan mungkin tercapai, atau dijajaki. Anatomi proposal buku perempuan sebetulnya sederhana saja. Yang penting bisa menjawab 5W1H; What, Who, Where, When, Why dan How.

Dalam buku perempuan, yang harus digarisbawahi adalah bagaimana proses itu kemudian menjadi, bagaimana proses perempuan menghadapi persoalan mereka, menyelesaikan persoalan, dan jalan yang mereka pilih untuk ditempuh. Inilah yang selalu menjadikan saya alasan untuk membuat proposal yang menyertakan proses. Sebuah proses,sangat penting bagi perempuan.

Dan tentu, ini tak hanya akan menjadi big data, namun kita bisa menjadikan buku untuk mempertemukan sebuah kasus perempuan kepada solusinya.