*N.Irnawati- www.Konde.co

Belakangan ini dalam panggung perpolitikan Indonesia muncul sosok perempuan muda yang bagi saya dia representasi generasi milenial. Perempuan itu bernama Tsamara Amany yang sekaligus menjabat sebagai ketua partai anak muda PSI (Partai Solidaritas Indonesia).

Mahasiswi Paramadina ini menjadi perbincangan hangat setelah keberaniannya mendebat cuitan twitter wakil ketua DPR Fahri Hamzah yang viral dengan hashtag #TanyaPakFahri.

Tak lama kemudian perdebatan keduanya berlanjut dalam acara di salah satu stasiun televisi dimana Tsamara dan Fahri Hamzah menjadi nara sumber.

Ini adalah tantangan untuk Tsamara dalam menghadapi Fahri Hamzah yang selama ini argumennya selalu berseberangan dengan dirinya sekaligus menjadi pembuktian bahwa perempuan juga mampu berpolitik.

Setelah aksi debat di televisi, kiprah Tsamara dalam kancah politik semakin mendapat perhatian, namanya pun semakin di kenal publik. Menanggapi aksinya tersebut banyak pihak yang memuji dan mengapresiasi keberanian Tsamara terkait kritik terhadap pernyataan Fahri Hamzah. Namun tak sedikit pula netizen yang nyinyir dan meremehkan sikap Tsamara yang sangat vocal membela Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ironisnya komentar nyinyir tersebut berangkat dari alasan karena Tsamara dianggap masih berusia muda, polos, dan bergender perempuan. Sebagian menuding bahwa Tsamara hanya mencari sensasi, ia dianggap masih bau kencur, tak sedikit pula yang menuduh bahwa Tsamara hanya dibayar oleh pihak tertentu demi kepentingan politik. Ragam komentar sinis ini saya baca sendiri di kolom komentar akun facebook Tsamara Amany.

Media sosial adalah ruang publik dimana semua orang berhak untuk berkomentar, semua orang berhak menuliskan pikirannya, termasuk Tsamara juga berhak untuk membela dirinya.

Dalam budaya patriarki, perempuan memang rentan mendapat komentar bernada seksis dan misoginis. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada diri Tsamara Amany, akun facebook miliknya dibanjiri komentar seksis misoginis, antara lain:

“Untung Tsamara wajahnya cantik.”

“Dia kan cuma cewek, polos, ga cocok masuk politik.”

“Tsamara kamu cocoknya jadi pemain sinetron aja.”

Tsamara dibenci karena ketubuhannya. Dalam konteks ini, sebagai perempuan, ia tidak dianggap cukup pintar, dia dinilai berdasarkan paras dan penampilan saja. Kecerdasan dan intelektual yang dimiliki perempuan sama sekali tidak diakui.

Lain hari saya juga membaca komentar sarkasme yang mampir di akun Tsamara dengan meminjam tafsir agama

“Tsamara pakai jilbab saja ga becus.”

Ada juga komentar yang berbunyi “Banyak wanita masuk neraka, satu hari buka aurat….40 hari ibadahnya ditolak.”

Yang entah logika berpikir seperti ini berangkat dari mana saya juga tidak paham. Disini misoginisme dan seksisme terus menerus dimunculkan dan diproduksi untuk membenci perempuan.

Bentuk-bentuk patriarki seperti ini selain menempatkan kuasa penuh pada laki-laki untuk mengontrol perempuan, ia juga menjadi corong lahirnya misoginis dan seksisme.

Untuk melawan dan menghentikan tindakan tersebut, sekali waktu saya pernah mendebat komentar seksis misoginis di kolom komentar akun Tsamara, tapi saya pikir itu percuma saja saya lakukan karena hanya menghasilkan debat kusir yang tidak produktif. Membangun opini jauh lebih efektif dan bermanfaat untuk membungkam praktik seksis misoginis yang terjadi di media sosial.

Budaya patriarki yang terus menerus memproduksi kekuasaannya di setiap sisi kehidupan terutama di panggung politik membuat perempuan yang terjun ke politik memiliki kerentanan untuk menjadi obyek seksisme. Berbeda dengan laki-laki, saya hampir tak pernah mendengar ada komentar bernada seksis untuk laki-laki yang terjun ke dunia politik. Hal ini terjadi karena masyarakat masih berpikir bahwa politik adalah ruang laki-laki !

Negara ini menganut sistem budaya patriarki dimana hampir semua keputusan dan kebijakan bersifat maskulin. Patriarki menempatkan perempuan sebagai gender kedua, disitu tidak ada keberpihakan pada perempuan. Pilihan Tsamara Amany terjun berpolitik tentunya membawa harapan baru untuk mewujudkan representasi suara perempuan dalam panggung politik yang selama ini masih jauh dari yang diharapkan.

Disini saya sedang tidak menempatkan diri di posisi membela Tsamara Amany, dan tidak ingin membahas pandangan-pandangan politik Tsamara. Tetapi sebagai perempuan tentu saya punya sikap untuk mengapresiasi perjuangan dan pilihan Tsamara untuk terjun ke dunia politik.

Sebagai salah satu dari generasi milenial, Tsamara tentu memiliki pemikiran kritis dan potensi yang sama dengan laki-laki. Sebelum bergabung dalam PSI, Tsamara sudah membuktikan dan menngawali perjuanganya dengan membentuk wadah Perempuan Politik sebagai sarana edukasi, ajakan dan seruan akan pentingnya pendidikan politik bagi perempuan.

Pesan saya untuk Tsamara Amany, teruslah merawat dan menjaga pikiran-pikiran kritis karena dunia politik yang oleh sebagian orang dipandang kotor, penuh sandiwara dan kemunafikan bisa saja membuatmu haus akan kekuasaan kelak. Kekuasaan bukan menjadi tujuan akhir sebuah politik, dan merawat pengetahuan dan mendidik kaum perempuan agar melek dan sadar politik jauh lebih penting.

Menempatkan perempuan sebagai garda terdepan dalam politik mutlak dilakukan, sebab politik tanpa perempuan maka demokrasi juga tidak akan tercapai. Majulah perempuan Indonesia karena politik bukan hanya ruang laki-laki, tapi politik  juga ruang milik perempuan !

(Foto: Kumparan.com)



 

*N. Irnawati, Lulusan Pascasarjana Universitas Gajah mada (UGM) dan pernah bekerja sebagai peneliti. Saat ini tinggal di Solo, menyukai issue perempuan dan tidak suka jika tubuhnya didikte karena tubuhnya sepenuhnya adalah otoritas miliknya sendiri.


*Almira Ananta- www.Konde.co

Bagi seorang traveller seperti saya, hari libur adalah hari yang paling ditunggu. Minggu lalu, saya mengajak ibu saya jalan-jalan. Ibu kaget ketika saya datang begitu saja. Tapi tiket sudah di tangan. Mau apalagi? Ibu tak bisa menjawab tidak, karena 5 jam lagi pesawat akan berangkat.

Saya tidak mengajak ibu naik kereta, karena usia ibu yang sudah menua, sehingga harus dijaga agar tidak capek. Walau saya tahu ibu tidak akan kelelahan hanya untuk pergi ke Jogja, jalan dan menikmati kota.

Sengaja kali ini kami melakukan perjalanan setelah libur sekolah usai, agar melihat Jogja dengan tanpa kemacaten.

“Kamu ambil cuti?,” Kata ibu.

Saya mengangguk sambil memasukkan baju-baju ibu ke dalam koper. Sebenarnya, bukan kali ini saja saya mengagetkan ibu seperti sekarang. Saya pernah mengajak ibu ke Malang tiba-tiba, pergi ke Batu, Malang hingga ke Bromo. Ibu sangat senang, ia teringat bapak. Kata ibu, aku ini seperti bapak, orang yang selalu penuh kejutan.

Saya juga pernah mengajak ibu ke Medan secara tiba-tiba, lalu pergi ke Deli serdang dan menginap di Danau Toba. Pernah pula karena ada penugasan tulisan di Padang, Pontianak dan Makassar, saya ikut sertakan ibu dalam perjalanan itu.

Dan sekarang, disinilah kami, di Jogja.

Mendengarkan cerita masa lalu ibu adalah sesuatu yang sering kami, anak-anaknya dengarkan. Walau sesekali mengulang, cerita ibu selalu menjadi energi bagi kami. Bagaimana ibu mengasuh ketiga anaknya, hingga si bungsu saya ini. Lalu bagaimana dulu ibu, selalu menggendong kami dan menyerahkan bapak di terminal bis setiap sorenya.

Dulu, bapak selalu bekerja pada shift pagi dan pulang sore hari. Ibu, selalu mengambil shift kerja sore hingga malam hari. Jadi ibu selalu bertemu bapak di terminal dan menyerahkan aku dan 2 kakakku. Setelah itu ibu bekerja di kantor dan kami pulang bersama bapak.

“Di rumah, makan malam sudah tersedia, kamu dan kakak-kakakmu tinggal belajar dan tidur,” Kata Ibu.

Dari suaranya, saya tahu ia hendak mengatakan bahwa: semuanya baik-baik saja, bapak pulang dan rumah sudah rapi dan bersih. Bapak hanya tinggal menemani kami belajar dan menidurkan kami.

Ibu adalah orang yang tak pernah mengatakan keburukan atau sifat jelek bapak. Jika ibu sedang kesal dengan bapak, ibu hanya terlihat banyak diam. Setelah besar, ibu baru menceritakannya pada kami. Ibu memang tidak pernah seterbuka kami.

Padahal kami, anak-anaknya selalu terbuka, malah terlewat terbuka. Kami akan mengungkapkan sesuatu jika sedang kesal, kami akan marah dan berterus-terang jika sedang kesal. Hal-hal seperti ini kadang membuat ibu sedih, namun bapak selalu berhasil menemani kesedihan ibu.

Ibu memang tidak seterbuka bapak, sangat hati-hati dalam menjaga perasaan orang lain. Saya menjadi orang yang sangat memahami ibu waktu bapak meninggal, sekitar 7 tahun lalu. Di saat itulah saya merasakan sangat dekat dengan ibu. Saya bisa menceritakan apa saja pada ibu, dan ibu banyak memberikan komentar dengan cerita saya yang tak ada habisnya. Ibupun terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan saya ini. Jika sedang kesal dengan seseorang, saya pasti ke rumah ibu. Jika sedang kesepian, saya pasti mengajak ibu pergi. Jika sedang banyak kerjaan dan butuh bantuan, saya pasti meminta ibu datang.

Ada-ada saja bantuan ibu, dari membawa peralatan seperti tas kerja ketika saya keluar kota, membantu membawakan laptop atau sekedar membereskan rumah yang lama saya tinggal pergi.

Jika ada yang tanya, apa arti ibu buat kamu? Bagi saya, ibu adalah teman yang selalu ada saat saya sedang membutuhkan seseorang.

Seperti saat ini, baru saja saya mengambil gambar, ibu sudah langsung memindahkan tripot dan meletakkannya kembali.

“Biar kamu gak repot,” Begitu kata Ibu.

Dan kalimat yang selalu penuh energi adalah ketika ibu mengatakan: Selama ibu masih hidup, ibu akan selalu membantu sebisa ibu, Nak.

Ah, ibu.

Malu rasanya menjadi anak yang selalu saja minta tolong.

Pada ibu, yang selalu menyediakan waktu.






*Almira Ananta, Traveller dan Blogger.
Tiwul dan Biji Balam menjadi Bahan Pangan Alternatif
*Siti Maimunah- www.konde.co

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari rangkaian tulisan Rahim dan Revolusi Meja Makan. Hasil renungan dan interaksi dengan peserta di Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air di Pesantren Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat, 14-16 Juli 2017. Peserta Jambore sekitar 165 perempuan dan laki-laki. 

Lingkaran produksi, distribusi dan konsumsi produk pangan yang kita temui kini tak hanya makin menjauhkan hubungan kita dengan alam, tapi juga dengan manusianya, para pedagang kecil di pasar tradisional.

Di pasar-pasar yang buka berdasarkan hari, seperti Senin di Fatumnasi, pasar Kamis di Kapan, di kawasan Mollo pulau Timor, saya masih menemukan penjual minyak kelapa yang diproduksi rumahan , atau berbagai jenis kacang koro, kacang arbila – sumber pangan saat masa paceklik, juga bawang putih lokal berukuran ramping dan berbau tajam.

Bahkan di pasar tradisional sekelas Mampang di Jakarta Selatan, saya masih menjumpai sayur pakis, bunga kecombrang, keratok – sejenis koro berwarna coklat dan putih, labu kuning dan labu lilin. Pasar tradisional ikut menjaga keragaman pangan lokal. Di pasar tradisional, selain uang, yang utama adalah komunikasi antara penjual dan pembeli. Kita harus bercakap cakap dengan sang penjual untuk menanyakan harga atau bahkan menawar harga barang jualannya lebih rendah. 



produk pangan olahan yang dipamerkan di Jambore
Jika uang saya tak cukup, saya tetap bisa membawa pulang barang yang saya inginkan , dan berjanji akan membayar keesokan harinya, atau sesuai kesepakatan. Tentu saja hal itu bergantung seberapa dekat dan seberapa percaya si pedagang kepada kita. Ini membuktikan hubungan-hubungan sosial masih kental mewarnai transaksi di pasar tradisional.

Sayangnya makin banyak pasar tradisional yang tergusur pasar modern. Hingga 2015 saja, Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mencatat ada sekitar 2000 pasar tradisional yang hilang. Di Indonesia, terdapat 13.450 pasar tradisional dengan sekitar 12,6 juta pedagang kecil (Kompas, 2011). Berdasarkan hasil studi A.C. Nielsen (2010), di saat pasar tradisional menyusut 8%, pasar modern justru tumbuh 31,4% per tahun. Pada 2014, Kementrian Perdagangan mengumumkan jumlah pasar modern Indonesia mencapai 23 ribu unit. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 14 persen dalam tiga tahun terakhir. Sekitar 61% merupakan kelompok usaha minimarket, sisanya berbentuk supermarket.

Jika ditelusuri, kembali lingkaran produksi dan distribusi pangan ini membawa kita kepada orang-orang terkaya Indonesia. Ritel mini market dikuasai kelompok Salim (Indomaret) dan kelompok Sampoerna (Alfamart) yang kini telah memiliki lebih 25 ribu gerai. Nama-nama para petinggi dua konglomerasi di atas hampir tiap tahun masuk dalam jajaran 15 orang terkaya di Indonesia. 


Orang-orang kaya ini tak hanya menguasai sektor pangan, dia juga pemilik media, baik cetak dan elektronik. Misalnya, orang terkaya ke-15 di Indonesia menurut Majalah Forbes tahun 2016 , Eddy Kusnadi pemilik PT London Sumatera Plantation TBK, yang mampu mengendalikan 60% bisnis perkebunan sawit, karet, kopi, kakao di Indonesia. Dia juga pemilik Indosiar dan SCTV. Juga Chairul Tanjung, sang pemilik Trans TV, Trans 7, dan Trans Studio, juga pemilik perkebunan kelapa sawit lewat bendera CT Corp. Merekalah penguasa sebenarnya, lewat iklan di Televisi, mereka yang menentukan apa yang harus kita makan dan apa yang kita pakai.

Iklan-iklan tentang makanan dan gaya hidup ini begitu berpengaruh terhadap kehidupan seseorang, khususnya perempuan. Perempuan yang menarik pastilah yang kulitnya putih, ramping dan berambut lurus, karena itu yang disarankan oleh iklan-iklan produk samphoo dan sabun produksi pabrik. 


Banyak cerita di desa Liang Buaya di Kabupaten Kutai Kertanegara, perempuan-perempuan muda yang melepuh kulit wajahnya karena menggunakan kosmetik yang murah dan tak jelas asal-usulnya yang semula menjanjikan kulit dijamin putih merona. Cerita serupa juga muncul di kawasan-kawasan hulu sungai di Kalimantan, menggambarkan betapa manjurnya iklan ini mengarahkan gaya hidup seseorang.

Kenyataan ini membuat saya kembali mengingat percakapan Nissa, Delviana dan Luh tentang penebalan rahim dan tanggapan tubuh pada makanan. Ketergantungan konsumsi pada pangan dan kebutuhan gaya hidup yang dihasilkan pabrik – yang berpotensi melemahkan tubuh kita, justru menopang kekayaan konglomerat Indonesia. 


Artinya jika kita berupaya memastikan pangan yang kita konsumsi sehat dengan tidak membeli bahan pangan atau kebutuhan lainnya dari pabrik – sebisa mungkin, maka dengan sendirinya kita akan mengurangi putaran uang untuk mengkonsumsi makanan pabrik. Bayangkan jika perempuan - dengan peran domestiknya, menjadi penggerak upaya ini maka pelan-pelan kita mengurangi kuasa modal pada rumah kita, pada keluarga kita, pada tubuh kita. Inilah makna sesungguhnya Revolusi meja makan, yang diperkenalkan pesantren Ath-Thariq.

Buat saya, revolusi meja makan itu sebuah tawaran kepada warga Indonesia dalam situasi tanah air kita yang mengalami krisis sosial ekologis ini agar dengan cepat mengubah pandangan dan tindakannya dalam produksi dan konsumsi harian untuk memuliakan alam, meminimalkan pengeluaran tunai dan membentuk tubuh yang lebih sehat. 


Lebih jauh konsep ini menawarkan perbaikan hubungan kita dengan manusia lainnya, juga dengan alam. Konsep memperbaiki hubungan dengan alam dan manusia ini bukan hal yang baru. Ia sudah dikenalkan turun temurun oleh nenek moyang orang Mollo, mereka menyebutnya dengan naketi. Menurut Aleta Baun - salah satu perempuan pemimpin Mollo, naketi merupakan cara berdamai dengan alam ataupun jika kita punya masalah dengan manusia lainnya.

Naketi merupakan ritual untuk mengakui kesalahan kita baik pada alam maupun pada leluhur. "Jika kita melakukan naketi biasanya menjawab persoalan menjadi lebih mudah", ujar Aleta. Filosofi orang Mollo tentang "Kami tak akan menjual apa yang tidak bisa kami buat" merupakan pernyataan luar biasa yang dihasilkan dari sebuah musyawarah adat yang disertai dengan proses naketi. 


Filosofi orang Mollo yang bermakna tidak akan menjual tanah air, yang bukan mereka penciptanya - mestinya juga menjadi bagian dalam memahami revolusi meja makan. Sebab dengan begitu, usaha produksi konsumsi pangan kita tak hanya memastikan pangannya sehat, menghidupkan dan merawat bumi tapi lebih jauh dia mampu membangun ekonomi solidaritas.

Kita bisa membangun jaringan produsen – konsumen dengan membeli bahan-bahan pangan kita dari petani atau mereka yang mengolah produk petani secara langsung. Kita tahu siapa dan bagaimana makanan kita diproduksi. Lebih dari itu, jejaring solidaritas ini juga bisa mencipatakan sebuah perluasan jejaring untuk memastikan lahan-lahan dan sumber air produksi pangan itu aman dari pembangunan yang merusak.

Kita bisa memulai gerakan revolusi meja makan ini dengan naketi, mengakui atau merefleksi hal-hal yang perlu kita perbaiki berkaitan dengan cara kita memperlakukan tubuh, orang lain dan memperlakukan alam.

Bagaimana cara melakukan naketi? "Mudah, dengan rendah hati kita mengakui kesalahan kita, lantas meminta maaf kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kepada leluhur kita dan kepada alam, dan mulai melakukan pemulihan ", ujar Aleta Baun.


Ajakan revolusi meja makan bertujuan memastikan makanan kita aman dan sehat, dan lebih jauh, menciptakan hubungan yang lebih adil untuk tubuh kita, orang lain dan alam. Pada akhirnya, di tangan kitalah, terutama perempuan, penganut revolusi meja makan ini bisa kita wujudkan dan diperluas. Iya, di tangan perempuan.


*) Siti Maimunah merupakan salah satu inisiator Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air dan peneliti di Sajogyo Institute




Sumber foto : Sajogyo Institute
*Siti Maimunah- www.konde.co

Tulisan ini adalah bagian kedua dari rangkaian tulisan Rahim dan Revolusi Meja Makan. Hasil renungan dan interaksi dengan peserta di Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air di Pesantren Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat, 14-16 Juli 2017. Peserta jambore sekitar 165 perempuan dan laki-laki

Eksploitasi tubuh alam itu beriringan dengan perlakuan membuang limbah ke alam. Tiap harinya, tiap orang Indonesia menghasilkan sedikitnya 0,5 kg – 0,8 kg sampah. Penduduk Jakarta saja setiap hari menghasilkan 7000 ton sampah.

Jenis sampah yang seolah tak bisa lepas dari keseharian kehidupan kita adalah plastik. Belanja ke pasar dan mall, bahkan belanja makanan pun pasti menghasilkan kantong plastik baru, yang ujung-ujungnya dibuang. Barang-barang yang kita konsumsi dari minyak goreng, shampoo, sabun cair dan lainnya juga  di kemas dengan plastik yang akhirnya dibuang ke alam.  Belum lagi korporasi tambang yang secara masif melakukan pembongkaran batuan dan membuang limbahnya yang beracun ke alam.

Newmont & Freeport–perusahaan tambang emas asal Amerika Serikat sedikitnya membuang 320 ribu ton limbah tailing  tiap harinya ke laut Papua dan Sumbawa. Alam dipaksa menerima buangan limbah dari waktu ke waktu.

Celakanya, perlakuan terhadap alam itu bukan untuk kesejahteraan seluruh rakyat, justru faktanya  lebih banyak menguntungkan segelintir orang dan penguasa. Buktinya sekitar 56% aset di Indonesia, seperti properti, lahan dan perkebunan dikontrol hanya oleh 0,2% populasi di Indonesia (BPN, 2016). 

Contohnya dalam bidang perkebunan,  sekitar  5,1 juta Ha luasan perkebunan kelapa sawit dikuasai  oleh 25 keluarga konglomerat. Di daerah situasinya serupa, para penguasa, politisi dan pebisnis yang justru mendapatkan keuntungan berlimpah dari eksploitasi dan pembuangan limbah ke alam.

Alam terus diperlakukan sebagai benda mati. Padahal sebagai sesuatu yang hidup, seperti tubuh manusia - dia memiliki keterbatasan. Dalam titik tertentu, keterbatasan itu bisa muncul dalam bentuk yang menghantam kehidupan manusia, menjadi bencana seperti banjir yang menghanyutkan rumah dan pohon-pohon, limbah beracun  yang akumulasinya dalam tubuh manusia menyebabkan penyakit, kebakaran hutan akibat pembukaan lahan gambut yang sembrono, dan lainnya. 

Terbukti jumlah kejadian bencana  bajir makin meningkat,  puncaknya pada 2016 terjadi 766 kejadian banjir yang menyebabkan 147 orang meninggal dunia, 107 orang luka, 2,72 juta orang  mengungsi dan menderita, dan 30.669 rumah rusak (BNPB, 2016)

Sebenarnya tubuh alam dan tubuh manusia memiliki kesamaan, sama-sama memiliki keterbatasan. Itu juga filosofi yang diajarkan masyarakat adat Mollo sejak lama. 

Orang Mollo percaya tubuh alam itu bagai tubuh manusia,  tulang itu seperti gunung batu, darah seperti air, daging seperti tulang, sementara kulit dan rambut seperti hutan. Jika kita merusak tubuh alam, maka sebenarnya kita sedang merusak tubuh sendiri. 

Hendro Sangkoyo, pegiat Sekolah Ekonomi Demokratik mengandaikan model pembangunan yang kita lakukan saat ini seperti kita sedang memakan bagian tubuh kita sendiri, yang mengakibatkan tubuh kita makin lemah.

Jika kita memperlakukan alam sebagai benda hidup, maka  yang terjadi sebaliknya. Kita akan mengatur perilaku kita, mengatur pola konsumsi kita, mengatur tatakrama kita menjadi lebih baik dalam memperlakukan mereka. Materi ini  yang dipercakapkan dan dipraktekkan peserta Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air 2017, caranya lewat makanan.

Penyelenggara Jambore  menyediakan menu-menu makanan yang luar biasa – tanpa  bumbu vetsin, hanya garam dan rempah-rempah. Bahan-bahannya pun bukan yang mainstream, bahan makanannya lokal dan rempah-rempahnya dipetik dari halaman pesantren. 

Jadilah menu masakan yang rasanya yang tak biasa,  judul masakannya pun tak pernah didengar sebelumnya, seperti telur goreng pegagan, pisang rebus daun mint, perkedel tahu daun kunyit, nasi ungkep temulawak, orak arik telur kelor, nasi bunga telang, tahu isi kenikir, ayam merah rosella, bala bala antaman, ataupun urap sambung nyawa. 

Sajian Makanan saat di Jambore

Selama tiga hari kegiatan, peserta "dipaksa" mengkonsumsi masakan-masakan yang aneh di lidah, yang dikemas dalam ajakan untuk merevolusi meja makan. Meja makan hanyalah simbol  yang menunjukkan dimana kita makan di dalam rumah, kata 'meja makan' bisa diganti dapur,  bisa diganti perut, bisa diganti lidah,  yang semuanya bermakna ajakan mari mengubah cara dan pola kita memproduksi dan mengkonsumsi pangan. 

Apa hasilnya?

"Saya diare dua hari pertama, naik turun tangga pergi ke WC", ujar  Delviana peserta dari desa Sempaja Utara propinsi Kalimantan Timur. Tubuhnya menolak makanan makanan aneh itu. "Tapi sudah baik baik saja di hari ketiga", tambahnya.  "Saya sebaliknya, makanan saya muntahkan", ujar Luh, peserta dari Bali. 

Peserta lainnya yang tidak tahan dengan makanan di pesantren Ath-Thariq, diam-diam mencari  bubur ayam untuk sarapan dengan cara berjalan kaki ke luar pesantren. Bubur ayam tentu mengunakan  bumbu masak dari pabrik, vetsin atau masako.


Saya terhenyak mendengar kesaksian-kesaksian yang dilontarkan pada hari terakhir Jambore itu. Makanan yang kita makan selama ini, yang hampir sebagian besar diproses di pabrik atau ditopang oleh bahan produksi pabrik, ternyata telah menciptakan benteng dalam tubuh kita. Makanan bervetsin, ber-royco, berminyak sawit, berterigu – yang diproduksi pabrik-pabrik besar itu, membuat tubuh kita melawan saat diperkenalkan kembali kepada bahan-bahan lokal. 

Sengaja ataupun tidak, kita terlalu lama membiarkan sel-sel tubuh kita mengecap rasa produk-produk pangan yang disediakan pabrik, disediakan korporasi skala besar.  

Produk-produk  pangan dikuasai  pabrik-pabrik yang dimiliki pengusaha kaya. Setidaknya ada 10 perusahaan yang memonopoli pemenuhan pangan  penduduk dunia kini. Mereka adalah Kraft, Nestle, Protector & Gamble (P&G), Jhonson & Jhonson, Unilever, Mars. Inc, Kellog, General Mills,  PepsiCo dan Coca Cola. 

Penduduk Indonesia bagaimana?  Produk makanan dan minuman yang kita konsumsi kebanyakan berasal dari perusahaan Unilever, Kraft, Nestle, Danone, dan Coca Cola. Sementara untuk produk kebersihan atau sanitasi penguasa pasarnya Unilever, selain Johnson and Johnson dan P&G.

Paling sering kita jumpai di toko-toko hingga mall-mall  adalah produk Unilever,  perusahaan yang memproduksi makanan, minuman, pembersih, dan produk perawatan tubuh dalam  lebih 400 jenis merk dagang, diantaranya: Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Vaseline, Rinso, Molto, Sunlight, Walls, Blue Band, Royco, Bango, dan lain-lain. Unilever bermarkas di Rotterdam, Belanda.

Pasar tak hanya memenuhi Indonesia dengan produk-produk siap pakai. Bahan-bahan pangan mentah pun, Indonesia bergantung pada Negara luar.  Impor komoditas beras, jagung, kedelai dan gandum, angkanya terus meningkat dari waktu ke waktu. Pada 2016, Indonesia menjadi pengimpor gandum terbesar kedua di dunia. 

Entah sejak kapan orang Indonesia menjadi penyuka gandum, bahan dasar tepung terigu – yang  tanamannya justru tak ditanam di sini. Hampir sebagian besar orang  Indonesia mengkonsumsi terigu, yang biasanya digunakan untuk bahan mie, gorengan dan berbagai jenis kue.  

Gandum didatangkan dari negara-negara industri seperti Uni Eropa, Kanada, Rusia dan Australia. 


(bersambung)



*) Siti Maimunah merupakan salah satu inisiator Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air dan peneliti di Sajogyo Institute

Sumber foto : Sajogyo Institute dan pixabay
*Siti Maimunah- www.konde.co

Tulisan ini adalah bagian pertama dari rangkaian tulisan hasil renungan interaksi dengan peserta di Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air di Pesantren Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat, 14-16 Juli 2017. Peserta jambore sekitar 165 perempuan dan laki-laki

Berawal dari percakapan tentang cara bagaimana seorang ibu melahirkan, lalu  menyadari pegaruh  pangan pada dirinya hingga ia mendeklarasikan perlunya revolusi meja makan.

"Anak ketiga saya dilahirkan dengan cara yang sulit, berdarah-darah. Saat melahirkan Ceuceu, sulit sekali, hampir meninggal, dia akhirnya harus sebulan tinggal di rumah sakit setelah dilahirkan. Dokter bilang dinding rahim saya menebal sehingga tidak mudah proses bukaan mulut rahim, dari pertama, ke bukaan kedua dan seterusnya", cerita pembuka Nissa Wargadipura – pimpinan pesantren Ath-Thaariq saat diskusi publik bertema Revolusi Meja Makan.

Nissa meyakini penebalan rahim itu ada hubungannya dengan makanan yang dia konsumsi. Nissa tak sendiri. Makin lama makin banyak perempuan yang mengalami kesulitan saat melahirkan, tak semudah dulu. Juga makin banyak lahir bayi  yang  lemah sehingga harus tinggal di rumah sakit beberapa waktu setelah dilahirkan. Sayangnya dunia medis juga menjadi lebih instan menyediakan jawaban bagi problem seperti Nissa: operasi sesar.  Dulu operasi sesar itu sesuatu yang luar biasa, jarang. Kini banyak teman-teman saya melahirkan dengan cara operasi. Melahirkan dengan cara normal kini sesuatu yang langka.

Perubahan dalam tubuh perempuan, termasuk rahim salah satunya karena pola konsumsi. Makanan yang dimasukkan ke tubuh kita banyak yang tidak kita ketahui asal usulnya, kebanyakan berbentuk instan – tinggal beli dan makan, biasanya sejenis – kebanyakan mengandung  beras, terigu dan minyak sawit serta mengandung bahan kimia pabrik.

Beras yang subur oleh pupuk kimia dan siraman pestisida. Anak anak kita minum minuman warna warni dengan pewarna dan pengawet kimia. Kita goreng semua makanan kita dengan minyak sawit yang tumbuhnya ditopang pupuk dan pestisida kimia. Belum lagi pakaian yang kita pakai juga dicuci dengan deterjen berbahan kimia, ditambah pengharum dan pelicin bahan kimia juga. deodoran kita pun penuh bahan kimia. Tinggal beli di Indomart  atau Alfamart, dioleskan, mudah dan cepat.

Makanan kini bisa didapat lebih cepat lagi, tinggal pencet hape, panggil go-food, makanan instan apapun bisa kita dapat, langsung tersaji. Bahkan, tanpa  harus keluar rumah.  Semuanya yang kita pakai, kita makan, makin cepat makin instan, makin pendek waktunya. Saking begitu pendek, membuat kita bahkan tak punya waktu bercakap cakap dengan tubuh kita. Kita tak sempat bertanya asupan apa yang dia butuhkan, apa yang dia tak suka. Kita hidup, tapi tubuh kita sendiri kita perlakukan seperti benda mati. Semua kita masukkan, tanpa bertanya padanya.
Siti Maimunah, Nissa Wargadipura dan Gunarti di Jambore

Saya jadi ingat mas Didik Raharyono, yang mengajarkan", jika sakit ajak bagian tubuh kita yang sakit bercakap cakap mbak. Insya Allah berkurang dan sembuh", ujarnya. Saya belum pernah mempraktekkan ajarannya. Saya merasa diingatkan lagi tentang itu oleh cerita mbak Gunarti, sedulur sikep  yag hadir di Jambore. "Sebelum berangkat ke Jerman untuk tolak semen, saya bilang pada perut saya. Kamu baik baik ya nanti di sana, makannya gak makan nasi, makan roti, kamu baik baik ya. Ternyata perut saya aman sampai pulang ke Indonesia", ujarnya. Saya jadi ingat juga tentang buku Vagina Monologue-nya Eve Ensler, yang membuat saya bingung setelah membacanya dulu, bagaimana cara bercakap cakap dengan vagina sendiri?

Saya yakin cara melawan yang serba instan ini salah satunya menyediakan waktu untuk mengajak tubuh kita bercakap cakap.

Tapi ternyata semua hal yang instan ini tak hanya tentang tubuh. Bayangkan, tubuh kita saja jarang atau bahkan belum pernah kita ajak bercakap, apalagi tubuh alam. Alam lingkungan sekitar kita,  yang tak pernah kita sapa, menyapa air, mengajak bercakap tanaman, angin dan lainnya. Saat Jambore Perempuan pejuang Tanah air 2017, lewat tembangnya mbak Gun  mengingatkan kita tentang alam yang punya hidup.

do eling bumi duwe urip
kayu watu banyu duwe urip
kuwoso mlaku lan timindak
ngelengno manungso kang sok kuwoso
eling kudu do eling
kabeh mung sak dermo
kabeh duwe mongso

(ingatlah bahwa bumi itu hidup
kayu batu air punya hidup
kuasa berjalan dan bertindak
mengingatkan manusia yang sok kuasa
ingat harus diingat
semua hanya sementara
semua punya waktunya)

Gunarti
Tembang Gunarti mengingatkan alam itu hidup, dia punya hak hidup. Tapi kita, tidak memperlakukannya begitu. Kita tak memperlakukan air sebagai benda hidup, itulah sebabnya kita tak peduli dengan banyaknya sampah yang kita hasilkan dan buang ke air. 

Kita merasa baik baik saja membeli makanan yang dibungkus styrofoam, yang sampahnya tak bisa diurai tanah hingga 100 tahun. Kita tak keberatan menambah kantong plastik saat belanja dan belanja. Semua sampah  mengandung bahan kimia pabrik itu kita buang ke  ke sungai, ke laut, ke dalam tanah, dibiarkan meracuni alam. Kita memisahkan atau memutus  diri kita dengan sampah yang kita hasilkan dan memaksa alam untuk menampungnya, mencernanya.

Hak hidup alam ini bukan hanya semata isu Gunarti atau orang Kendeng. Tuntutan pengakuan hak hidup alam itu  merupakan tuntutan global. Pada April 2010 digelar ‘World People’s Conference on Climate Change and the Rights of Mother Earth’ atau Konferensi Rakyat Dunia tentang Perubahan Iklim dan Hak-hak Ibu Bumi di Bolivia yang menyebutkan, ”Hak setiap ’makhluk’, Ibu Bumi termasuk di dalamnya sebagai ’living being’ yang kini dibatasi oleh hak-hak dari ’makhluk’ lain. Deklarasi ini juga menegaskan setiap konflik yang terjadi harus diselesaikan dengan bertujuan mempertahankan integritas, keseimbangan, kesehatan Ibu Bumi.

Sayangnya yang mendominasi saat ini, justru alam kita perlakukan dengan dua cara, sebagai komoditas dagang dan sebagai penampung sampah. Keduanya dilakukan dengan sama brutalnya, bukan lagi dalam skala orang perorang, tapi skala kolektif dan terpimpin, dipimpin oleh pengurus negara – Pemerintah. Konsesi-konsesi skala besar diberikan kepada segelintir orang untuk  mengubah hutan dan lahan-lahan produktif dengan skala cepat menjadi pertambangan skala besar, perkebunan sawit skala besar, hutan monokultur bahan pembuat bubur kertas dan seterusnya.

JATAM mencatat sekitar 34 persen daratan Indonesia telah diberikan konsesinya kepada lebih 11 ribu perusahaan tambang (2013). Sekitar 67%  dari 39 juta area pertambangan ada di kawasan hutan, dan 6,3 juta ha diantaranya dalam kawasan hutan lindung & konservasi. Sementara Sawit Watch (2014) menyatakan luas perkebunan sawit Indonesia telah mencapai hampir 13, 3 juta hektar. Akibatnya terjadi alih fungsi lahan besar-besaran, khususnya lahan hutan dan meningkatkan angka penggundulan hutan. Bahkan sejak 15 tahun lalu  Indonesia sudah dinobatkan memiliki deforestasi tertinggi di dunia.

(bersambung)


*) Siti Maimunah merupakan salah satu inisiator Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air dan peneliti di Sajogyo Institute



*Kustiah- www.Konde.co

Hari Minggu, 9 Juli 2017 lalu tampaknya menjadi hari bahagia Fitri (22) dan keluarganya. Bayi perempuan dengan berat 2,5 Kilogram lahir dengan selamat.

Sebagai wujud syukur, sebagaimana tradisi yang sudah dilkukan turun temurun, keluarganya menggelar krayahan atau brokohan.

Krayahan atau brokohan adalah ungkapan syukur atas berkah kelahiran bayi dan keselamatan ibunya selama proses persalinan. Pemilik rumah biasanya mengundang para perempuan tetangga sekitar untuk datang bersama-sama membaca doa.

Doa akan dipimpin oleh seorang tokoh atau ulama yang juga perempuan. Sang ulama memberitahukan kepada para tamu tentang kondisi bayi dan nama bayi, selanjutnya membimbing tamu krayahan untuk berdoa bersama.

Menurut Muslimah, ulama perempuan yang saat itu memimpin doa, selain sebagai bentuk syukur krayahan dilakukan untuk memohon doa supaya anak diberikan sehat dan kelak bisa menjadi anak baik. 

"Semua orang tua pasti menginginkan dan berharap anaknya menjadi anak sehat dan menjadi anak soleh/solehah," ujarnya kepada penulis usai memimpin doa di rumah Fitri Minggu (9/7) di Desa Tanjung Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Blora Jawa Tengah.

Siang itu krayahan diikuti sekitar 17 perempuan. Berkat (nasi yang akan dibagikan kepada para undangan) terhidang di tengah-tengah tamu undangan. Biasanya menu berkat krayahan terdiri atas nasi, kuluban daun mengkudu yang sudah dibumbui kelapa, embel-embel (makanan yang terbuat dari campurang tepung jagung dan ketan yang dibungkus daun pisang), negosari (kue pisang), peyek, dan tempe. Bagi yang mampu biasanya akan menambahi menu ayam atau telur.

Dalam tradisi krayahan mengapa yang diundang perempuan? Padahal di setiap acara syukuran biasanya selalu laki-laki yang diundang.

Mus mengatakan setengah ragu, mungkin syukuran krayahan lebih bersifat intim. Perempuan dianggap lebih memahami proses persalinan dan sebagai bentuk empati dan simpati untuk memberikan dukungan mental kapada ibu yang baru saja melahirkan.

Di Jawa, krayahan atau brokohan sedikit berubah salah satunya dengan diikuti oleh para perempuan. Dan dengan dipimpin oleh ulama perempuan, ini tentu membuatku senang. Tradisi ini memberikan ruang bagi ulama perempuan untuk memimpin.


Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com. Saat ini pengelola www.Konde.co dan Pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co - Penerbitan PERPPU No. 2/ 2017 mendapatkan reaksi yang beragam. Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) melihat bahwa PERPPU No 2 Tahun 2017 merupakan tindakan cepat dan tegas terhadap organisasi-organisasi kemasyarakatan yang menggunakan ruang demokrasi untuk menghancurkan demokrasi dan melanggar Hak dan Kebebasan Orang lain.

Sekjend KPI, Dian Kartikasari dalam pernyataan sikapnya menyatakan bahwa dibandingkan dengan proses penindakan yang diatur dalam UU 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, yang membutuhkan waktu selama 13 bulan lebih 20 hari untuk memberikan peringatan hingga pembubaran Ormas, PERPUU No 2 Tahun 2017 hanya membutuhkan waktu 7 hari.

Namun Kajian kebijakan Koalisi Perempuan Indonesia menemukan fakta bahwa PERPPU No 2 Tahun 2017 ini menyimpan potensi pelegalan penyalahgunaan wewenang oleh pemerintah dan kriminalisasi massal karena PERPPU No 2 Tahun 2107 ini:

1. Tidak memberikan definisi yang jelas dan tunggal tentang paham yang bertentangan dengan Pancasila, sehingga pemerintah dapat menafsirkan secara bebas dan memberlakukan kebenaran tunggal berdasrkan versi pemerintah.

2. Tindak mengatur kewajiban Pemerintah, terutama kewajiban untuk menyediakan bukti yang cukup sebagai dasar pemberian sanksi, sebagai wujud dari pelaksanaan prinsip transparansi dan akuntabilitas.

3. Tidak mengatur atau menyediakan mekanisme bagi Organisasi Massa (Ormas) untuk melakukan upaya hukum atau pembelaan diri serta membuktikan bahwa penilaian/tuduhan pemerintah terhadap Ormas tersebut, tidak benar.

4. Mencampuradukkan tindak pelanggaran peraturan perundangan dan tindak Pidana yang dilakukan oleh Ormas.

5. Mengatur tentang ancaman pidana bagi anggota ormas yang dinilai dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59. Padahal sebagian besar ormas di Indonesia tidak melakukan pengorganisasian dengan baik.

Bahkan sebagian besar Ormas menggunakan metode penjaringan anggota (rekruitmen) melalui mobilisasi, janji-janji palsu atau bujuk rayu, claim, manipulasi dan pencatatan sebagai anggota secara diam-diam. Disamping itu, sebagian ormas juga memiliki sistem pendataan anggota secara baik. Sehingga ketentuan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 82 A PERPPU, berpeluang mengakibatkan kriminalisasi massal terhadap anggota organisasi.

"Bedasarkan kajian tersebut di atas, Koalisi Perempuan Indonesia menyatakan akan mendukung Terbitnya PERPPU Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, dengan catatan perlu disempurnakan. Yang kedua, KPI mendukung Pemerintah dan DPR untuk membahas dan menyempurnakan PERPPU Nomor 2 Tahun 2017, sebelum disahkan menjadi Undang-Undang,"Kata Dian Kartikasari.

Yang ketiga, KPI juga akan mendorong Pemerintah dan DPR membuka ruang partisapasi masyarakat dalam proses legislasi Pembahasan PERPPU Nomor 2 Tahun 2017 menjadi Undang-undang dan meminta Pemerintah untuk menjamin Hak Kebebasan berorganisasi dan mengembangkan lingkungan yang mendukung (enabling environment) bagi Organisasi Kemasyarakatan untuk menjalankan perannya sebagai actor pembangunan.

Koalisi Perempuan Indonesia meyakini, bahwa tumbuh dan berkembangnya organisasi masyarakat merupakan bagian penting dalam demokratisasi.

"Namun tumbuh dan berkembangnya organisasi masyarakat pelaku kekerasan, intimidasi, diskriminasi dan intoleran merupakan ancaman nyata bagi demokrasi di Indonesia, saat ini. Oleh karenanya, hadirnya PERPPU No 2 Tahun 2017 harus ditujukan untuk mengakhiri ancaman bagi demokrasi, bukan untuk mengakhiri demokrasi."


*Kustiah- www.Konde.co


Ibu itu bernama Suntari. Ia perempuan tangguh. 2 kali ditelantarkan suaminya. Suami pertama selingkuh, sedangkan suami keduanya menelantarkan hidupnya.

Suntari kemudian membesarkan sendiri anaknya yang bernama Dara (bukan nama sebenarnya) hingga Dara dewasa.

Tiba-tiba Suntari menghubungiku. Kami bertemu, ia juga mengajak Dara, anaknya.

Sesaat setelah bertemu Suntari, seorang teman tiba-tiba menghubungiku dan mengeluh. Ia memerlukan pengasuh untuk anaknya yang baru berusia dua tahun.

"Aku nyerah bu, aku benar-benar perlu pengasuh," dia mengirim pesan melalui blackberry messenger (BBM).

Pekerjaannya menjadi jurnalis sering membuatnya pulang larut malam dan terkadang berangkat lebih awal. Ia perlu orang untuk untuk menemani anaknya. Aku tak menolak untuk membantu, tapi juga tak janji akan membantunya dengan segera.

"Ya, kuusahakan. Nanti segera kukabari, buk," balasku.

Lalu dua hari berikutnya aku teringat ibuku di kampung. Ibukulah yang bisa membantuku untuk urusan begini, batinku. Maklum, di kampung, ibuku biasa jadi tempat mengadu tetanggaku, untuk segala urusan. Termasuk cari kerja.

Lalu segera kutekan nomor telepon ibuku. Namun, tangisan anakku membatalkan rencana untuk menelepon. Lupalah aku hingga teringat lagi dua hari berikutnya.

Saat kutelepon ibuku, benarlah dugaanku. Ibuku langsung memberi nomor telepon setelah menceritakan profil perempuan yang akan bisa menjaga anak temanku itu. Lalu ia kukenalkan ke temanku. Lega.

Aku tenang. Dan tertidur kembali di sisi anakku.Lima menit tertidur, handphone-ku bergetar.

"Aku Suntari mbak, tadi baru saja ditelepon makku di kampung. Disuruh nelpon kamu mbak," suara perempuan di ujung sana memperkenalkan diri.
Edan, cepat sekali..hahaha, batinku.

Ternyata ibuku memberi nomor teleponku ke ibunya mbak Suntari.

Tak lama. Ashar mbak Suntari telepon, magrib dia datang ke rumahku bersama anaknya, Dara.

Malam itu kuminta mereka menginap. Sun dan anaknya baru dua hari berada di Jakarta.Selama di Jakarta, dia dan anaknya tinggal menumpang di rumah adiknya.

Pertemuanku dan tiga jam bersama mbak Sun dan anaknya tak usah kuceritakan di sini. Karena isinya hanya basa basi. Kami bertemu, bicara, makan, lalu tidur.

Pagi, pada pukul 8 WIB, setelah sarapan kami berangkat. Menuju dua tempat yang akan menjadi sejarah baru bagi mbak Sun dan anaknya. Tempat pertama adalah menemui sang teman yang akan mempekerjakan mbak Sun di Kalibata dan tempat kedua adalah sekolah yang akan menjadi tempat belajarnya Dara satu tahun ke depan, yaitu di Sudimara, Tangerang.

Beberapa kali mbak Sun mengatakan, dia ingin anaknya bisa meneruskan sekolahnya yang terputus. Dan, kebetulan, ada saudara yang memiliki pondok pesantren dan yayasan yang menaungi madrasah tsanawiyah (setara dengan SMP) dan sekolah menengah kejuruan.

Sekolah ini tak mengutip bayaran mahal, karena alasan itulah aku menyarankan Mbak Sun menyekolahkan anaknya di sana.

Suntari kulihat selalu bersemangat. Beberapa kali dia mengingatkan anaknya 'dengar apa yang dikatakan mbak (maksudnya aku) Da.”


Putus Sekolah

Dara, ternyata tak sekolah lama. Ia bergaul dengan pemuda badung.

Anaknya, Dara, hanya diam menekuk wajah di depanku. Aku nggak enak sebenarnya, yang tiba-tiba diperlakukan seperti seorang ustazdah. Dan sepanjang perjalanan, aku kemudian memilih diam, sibuk dengan BB-ku, menulis berita, mengirim email ke narasumber, dan sesekali menjawab BBM dari bos di kantor dan beberapa teman.

Padahal, sebenarnya dalam hatiku berkelindan seribu rasa. Meraba hati seorang ibu dan anak yang ada di depanku.

Menurut Ibuku, mbak Suntari memang telah meninggalkan pekerjaannya di Jakarta untuk menjemput anaknya di kampung.

Dara, yang baru saja naik kelas 3 SMA, tiba-tiba tak mau sekolah. Ia memutuskan pulang kampung.

Di kampung, ia berpacaran dengan seorang remaja yang tidak bekerja. Tak hanya tak bekerja, kata ibuku menirukan nenek yang mengasuh Dara di kampung, pacarnya anak badung.

"Lalu kenapa sampai harus sekolahnya diputus? semua kan bisa dibicarakan baik-baik?"

Dara ternyata harus putus sekolah. Pacar Dara, masih kata ibuku, orangnya agresif. Setiap hari Dara dan pacarnya runtang-runtung (sering pergi bersama).

Di kampung, Dara juga tidak ada yang mengawasi, karena nenek dan kakeknya sibuk mengurus dua cucunya yang lain yang masih kecil-kecil.

Sang Ibu, Suntari yang baru dua minggu berada di Jakarta, langsung berdebar-debar begitu mendengar kabar dari emak dan bapaknya di kampung bahwa Dara ternyata sudah keluar dari sekolah dan tidak mengatakan apapun kepada Suntari. Hati Suntari remuk-redam. Ia yang bekerja siang dan malam agar Dara bisa makan dan sekolah, teryata seperti tak ada hasilnya.

Keesokan harinya, Mbak Suntari kembali pulang ke kampung. Khusus untuk menjemput Dara. Ia juga meninggalkan pekerjaannya melepas gaji Rp1,5 juta sebulan. Menurutnya, untuk ukuran pekerjaan rumah tangga, gaji yang diterima mbak Suntari tergolong besar.

"Dia sudah menderita dengan kedua pernikahannya. Dan sejak lulus SD hingga saat ini tidak pernah merasakan hidup senang di kampung halaman. Suntari tak ingin anaknya mengulang kisah pahit hidupnya," kata Ibuku penuh dramatis.

Sejak lulus SD, kira-kira, kata mbak Sun, usianya saat itu 14 tahun, ia sudah ke Jakarta menjadi pekerja rumah tangga.

Kini, aku menjadi saksi atas kejamnya sebuah relasi yang  bernama cinta. Seorang ibu, mbak Suntari yang selalu diam dalam sepi tak pernah kutanyai tentang mengapa anaknya putus sekolah dan tiba-tiba berada di Jakarta. Aku hanya diam, seperti dia, membiarkan semuanya berjalan.

Siang itu, udara panas dan cuaca terik membuat perjalanan kami terasa begitu panjang. (Selesai)


*Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com. Kini pengelola www.konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

*Kustiah- www.Konde.co

Ini cerita tentang seorang ibu dan anak perempuan semata wayangnya. Seorang ibu yang rela bermandi peluh, menahan kantuk yang teramat sangat saat bekerja demi anaknya. Juga tentang ketakutan- ketakutannya.

Pertemuan dengannya pertama kali terjadi pada 2013 lalu:

Saat itu anaknya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dan, setelah lama tak bersua, ia menghubungiku kembali melalui pesan whatsapp. Bercerita tentang keinginannya untuk membuka usaha.

Sekalipun anak perempuan yang ia nikahkan belum lama ini sudah hidup bersama suaminya, perempuan yang memilih tak menikah kembali ini, tetap dihantui perasaan takut.

"Anakku hidupnya pas-pasan. Gaji suaminya hanya cukup untuk makan. Aku kuatir mbak, jika tak buka usaha sendiri, bagaimana masa depannya nanti?" demikan bunyi pesannya.

Dan begitu besarnya cinta ibu. Ia tak pernah berhenti sedetik pun untuk tak memikirkan anaknya. Hingga saat ini tetap saja ia menjadi ibu yang baik bagi anaknya.
Pada pertengahan 2013 lalu, saat ia menemuiku dan kami bersama-sama dalam sebuah perjalanan bersama anak perempuannya.


Cerita yang Mengalir Deras

Kubiarkan sang ibu berbicara dengan anaknya. Dengan serius, ibu berbisik pelan. Sang anak menunduk seraya alisnya jatuh merapat.

Aku hanya sesekali mencuri pandang. Kulihat betapa sang ibu benar-benar sungguh-sungguh. Kereta terus melaju membawa kami menuju Tangerang. Siang itu terik, dan hawa panas terasa menyengat meski kereta yang kami naiki berpendingin udara. Aku duduk berhadapan dengan anak dan ibu. Sengaja kupilih duduk memisah, supaya mereka bisa saling bicara dan tak terganggu karena kehadiranku.

Ibu tanpa suami. Nyatanya perempuan satu ini mematahkan kasak kusuk di pojok sana tentang perempuan yang sering dikata-katai suka tergantung kepada laki-laki. Ia orang tua tunggal, melahirkan, menghidupi, dan menyekolahkan anaknya seorang diri.

Suntari nama ibu ini. Suntari saat ini berumur 41 tahun. Anaknya bernama Dara (bukan nama sebenarnya) ia lahirkan dari suaminya yang pertama, yang dua hari setelah bercerai, suaminya ini langsung menikah lagi.

10 tahun kemudian saat Dara berusia 10 tahun, Sun menikah lagi. Namun, karena sering ditelantarkan, Sun memutuskan bercerai. Untuk yang kedua kalinya ia dikecewakan laki-laki.

Suntari bukan perempuan berbadan tegap dan bermuka garang. Wajahnya lembut, matanya sayu, tubuhnya sedikit bungkuk dan setiap kata-katanya yang dikeluarkan, dalam hati orang yang diajak bicara akan muncul rasa iba dan sayang.

Kata-katanya "Nggak usah repot-repot mbak," justru selalu membuatku menjadi benar-benar ‘repot’ (bersambung)


*Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com. Kini pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Sica Harum- www.Konde.co

Ada buku harian atau buku diary, seperti yang banyak terlihat di toko yang saya jumpai. Tapi diary atau buku harian ini terasa berbeda. Yang ada di rak usang di kamarku. Usang karena banyak menyimpan cerita hidupku, para perempuan di sekitarku.

Disebut begitu, karena memang buku ini menjadi tempat untuk bercerita. Siapa saja yang masuk ke kamar ini, takkan pernah tahu arti buku ini bagiku.

Biasanya, dalam satu hari, aku harus mengisi cerita di buku ini. Kalau tidak sempat pagi, ya siang. Atau malam hari.

Namun, dalam beberapa tahun belakangan, buku ini tak pernah lagi mendapatkan kunjunganku. Dulu aku menduga, buku diary adalah ruang rahasia yang harus disimpan rapi, orang-orang masih punya rahasia-rahasia terdalam yang tak bisa mereka ceritakan di Facebook.

Sebab bagiku, buku diary tetap seperti kotak pengakuan dosa, atau curahan hati terdalam yang tak mungkin diceritakan ke orang lain. Buku Diary juga berfungsi sebagai tempat berkisah tentang curhat banyak orang, banyak perempuan di sekitarku.

Apa yang salah ya dengan buku ini sehingga semua orang meninggalkannya, termasuk aku? Apakah sudah tak ada lagi rahasia sehingga semua harus diupload di facebook? Apakah tak ada lagi cerita yang perlu disimpan sehingga semua menjadi lucu ketika dituliskan di buku harian kecil ini?

Membaca buku harian ini, semuanya jadi terasa usang.

Di masa ini, hampir setiap detik tumbuh start up baru, menawarkan aplikasi yang dijargonkan bakal membuat hidup lebih mudah dan menyenangkan.  Di masa ini, kehidupan orang sudah semakin ruwet dan kompleks demi hidup yang menyenangkan. Untuk kesenangan yang satu, butuh keruwetan yang satunya lagi. Untuk kemudahan yang lain, butuh kompleksitas lainnya lagi.

Untunglah, oksigen masih gratis.

(Tak bisa kah kita bersyukur akan hal-hal yang sederhana dan lewat begitu saja? Masih bisakah kita menyimpan cerita kecil, tentang para perempuan yang berjasa dalam hidup kita dan menyimpannya dalam rahasia di buku ini?)

Maka, menulislah. Mulailah menulis. Buku diary tetap akan menjadi tukang tadah cerita terbaik.
Buat saya, menulis adalah cara saya berterimakasih, mengingat banyak orang yang menemani ketika menangis, senang, terharu, jatuh cinta, berjuang.

Dan akhirnya, menulis adalah waktu saya untuk merenung.

Ruang untuk mentertawakan diri sendiri.


*Abdus Somadh- www.Konde.co

Jogjakarta, Konde.co - Perempuan adalah penjaga bumi. Ia menjaga, tidak merusak.

Dalam konsep ekologi, perempuan yang kemudian menanam dan menjaga ini disebut ecofeminist. Ekofeminisme disebut sebagai bagian dari feminis kultural.

Pertalian antara nilai-nilai politik radikal dan feminisme sosial adalah perhatian para feminis pada ekologi. Dalam The Dialectic of Sex, Firestone kemudian menghubungkan ekologi dengan komunitas spiritual perempuan.

Teori feminis tentang lingkungan menyebutkan bahwa ada banyak beban terhadap perempuan, yaitu untuk menjaga lingkungannya. Padahal menjaga lingkungan adalah juga tugas laki-laki dan semuanya. Bukan perempuan yang merawat, lalu yang lainnya merusak. Inilah yang selama ini diperjuangkan para feminis.

Pembuktian tersebut sudah ada. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu Rembang yang sampai rela mengecor kakinya demi alam lestari, yang dilakukan oleh perempuan pesisir Jogjakarta, demi alam dan hasil bumi ia rela berjuang sampai darah penghabisan.

Bagi Laksmi Savitri dosen Antropolog UGM, perempuan adalah pejuang bagi tanah dan makanan pokok manusia sehari-hari. Itu ungkapnya saat memberikan orasinya di depan perempuan Kulon Progo, di Jogjakarta pada acara syawalan PPLP-KP, awal Juli 2017 lalu.

Ia menegaskan, sejatinya keberadaan perempuan adalah ruang aman bagi siapapun yang berada dalam genggamannya.

“Kalau saya melihatnya, ibu-ibu ini luar biasa istimewa,” ujar perempuan yang juga aktif dalam menyikapi isu-isu agraria di Indonesia ini.

Isyanti, salah satu perempuan yang menjadi bagian dari perempuan pesisir Kulon Progo mengungkapkan bahwa ia juga tidak bisa berdiam diri apalagi menitipkan perjuangannya kepada kaum laki-laki. Kedudukan perempuan harus sama di mata laki-laki. Dalam mempertahankan lahan pun sama, tidak ada yang dibedakan.

 “Sekarang perlu bapak-bapak ketahui, perempuan pesisir itu semua berdaya guna, bukan sekedar untuk budi daya,” ucapnya.

Ia kemudian menyatakan diri sebagai perempuan pembela kaum majinal, dengan penuh keberanian ia mengungkapkan jika harus bangga menjadi perempuan, walaupun bekerja sebagai petani harus bangga. Kalimat tersebut menjadi kekuatan batin yang sulit dihalau, ia bahkan sering mengingatkan penguasa untuk tidak serakah, dan selalu melihat kontribusi petani dalam mensuplai pangan bagi manusia di seluruh dunia dan Indonesia pada khusunya.

“Tanpa kita para penguasa tidak bisa makan. Walapun punya uang, kalau mereka tidak menanam padi, nanam sayuran apa beliau-beliau (penguasa-red) mau makan uang, kan tidak mungkin,” ujarnya.

Hal tersebut kemudian dipandang Laksmi sebagai sebuah perawatan. Sebab selain menjaga alam, perempuan pesisir juga menjaga saudara, menjaga tanah dan menjaga kebutuhan pangan. Maka tidak heran, jika perempuan kemudian banyak dirampas haknya, bahkan tanahnya dibabat habis untuk kepentingan pembangunan umum.

Perempuan pasti akan melakukan perlawanan. Sebab dalam jiwa perempuan  ternanam perawatan terhadap alam semesta.

 “Kita menjaga silaturahmi di dalam desa, semua itu adalah tugas kita semua, tak hanya perempuan tetapi juga laki-laki, semua manusia,“ Ungkap Laksmi memberikan dukungan kepada perempuan yang konsisten berjuang.


(Referensi: Ensiklopedia Feminisme, Maggie Hum, Fajar Pustaka Baru, 2002)



*Abdus Somad, Aktivis lingkungan di Jogjakarta. Pengelola situs selamatkanbumi.com

Luviana- www.Konde.co

Apakah itu konseling laki-laki? Dan mengapa laki-laki perlu melakukan konseling?

Banyak terjadinya kekerasan terhadap perempuan membuat organisasi perempuan di Yogyakarta, Rifka Annisa melakukan konseling perubahan perilaku bagi laki-laki dalam konteks kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan terhadap perempuan berbasis gender lainnya.

Dalam informasi website Rifka Annisa, pemutusan rantai kekerasan akan lebih efektif apabila dilakukan oleh kedua pihak, baik korban maupun pelaku.

Konseling bagi laki-laki ini dimaksudkan untuk meningkatkan tanggungjawab laki-laki terhadap tindakan yang dilakukannya, serta mentransformasikan cara pandang sikap dan perilaku laki-laki agar lebih adil gender, menghargai perempuan, supportive, serta anti kekerasan. Oleh karena itu, perubahan perilaku pada pasangan turut membantu dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Rifka Annisa percaya bahwa sebagaimana perilaku itu dibentuk melalui proses belajar dan pembiasaan, maka perilaku juga bisa diubah melalui proses belajar dan pembiasaan, perilaku juga bisa diubah melalui proses belajar dan pembiasaan yang positif, diantaranya dengan mengajak laki-laki untuk memahami dirinya sendiri, berkomunikasi secara efektif, mengelola marah, membangun relasi intim dan setara, menjadi ayah (fatherhood), dan menghindari perilaku kekerasan.

Selama ini menurut catatan Aliansi Laki-laki Baru, tidak banyak yang memberikan perhatian pada aspek laki-laki atau pelaku kekerasan seksual sebagai aktor kekerasan (mikro sosial). Sebagai pelaku kekerasan seksual yang paling besar, kurang mendapat perhatian sehingga isu modifikasi perilaku bagi pelaku sebagai bagian penting dari penghapusan kekerasan seksual tidak begitu terdengar. Padahal ditengarai perilaku kekerasan seksual memiliki kaitan erat dengan cara pandang, keyakinan, dan sikap atau dengan kata lain terkait dengan cara pelaku kekerasan seksual memaknai diri sendiri dan korban.

Dalam rangka untuk merumuskan intervensi pada ranah personal sebagai pelengkap reformasi struktural, menjadi penting mengenali dinamika personal pelaku kekerasan seksual. Adalah Rus Ervin Funk dalam bukunya Stopping Rape A challenge for Men (1993) memberikan:

Pertama, gambaran beberapa hal yang mempengaruhi laki-laki melakukan kekerasan seksual lebih khusus pemerkosaan; pertama nalar yang keliru pada laki-laki pelaku kekerasan seksual dalam memandang hubungan mereka dengan perempuan. Sebagai contoh laki-laki kerap berfikir bahwa ketika ada perempuan yang mau diajak makan malam berdua saja, lalu dilanjutkan dengan menonton film dan kembali ke rumah atau kamar kos berarti ia mau diajak melakukan hubungan seksual. Cara berfikir ini dianggap lazim oleh laki-laki karena dalam pandangan mereka alur berfikir tersebut adalah logis dan rasional.

Kedua, Funk (1993) menambahkan bahwa laki-laki pelaku kekerasan seksual memaknai keintiman (intimacy) sebagai hubungan seksual atau lebih tepatnya laki-laki mengalami kebingungan dalam memaknai keintiman dan hubungan seksual.

Ketiga,
laki-laki pelaku kekerasan seksual tidak mengenal konsep persetujuan (consent). Dalam budaya masyarakat yang menempatkan laki-laki sebagai tuan (master), yang memerintah, yang berbicara dan yang dilayani maka persetujuan dan ketidaksetujuan pelayan, yang diperintah, yang mendengarkan menjadi tidak ada. Laki-laki pelaku kekerasan seksual seringkali tidak dapat memahami atau tepatnya mengabaikan sikap menolak korban, baik yang ditunjukkan dengan diam atau pernyataan tidak secara gamblang. Situasi ini ditambah dengan keyakinan yang berkembang bahwa diamnya perempuan itu adalah persetujuan atau tidaknya perempuan itu berarti iya (no means yes) dan bukan tidak itu berarti tidak (no means no).

Keempat, laki-laki menganggap bahwa mereka memiliki hak untuk mendapatkan layanan seksual dari perempuan (sexual entitlement). Dalam survey terhadap 2,577 laki-laki di tiga kota di Indonesia (Jakarta, Purworejo, dan Jayapura) yang dilakukan oleh Rifka Annisa, UN Women dan Partner for Prevention pada tahun 2012-2013 tentang pengalaman laki-laki terkait dengan kesehatan dan kekerasan berbasis gender menemukan bahwa motivasi terbesar (75.7 persen di Jakarta, 74,7 persen di Jayapura dan 56,9 persen di Purworejo) laki-laki melakukan pemerkosaan terhadap perempuan adalah bahwa mereka merasa memiliki hak untuk mendapatkan layanan seksual dari perempuan ada atau tidak ada persetujuan.

Lebih lanjut laki-laki pelaku kekerasan perlu memahami tentang persetujuan, keintiman yang tidak melulu seksual dan pentingnya hubungan seks konsensual (atas dasar suka sama suka) serta pentingnya menghormati hak seksual dan reproduksi perempuan yang mengandaikan tidak adanya hak laki-laki atas layanan seksual dari perempuan (sexual entitlement)



Disadur dari:

1.http://www.rifka-annisa.org/id/layanan/konseling-laki-laki
2. http://lakilakibaru.or.id/nalar-sesat-pelaku-kekerasan-seksual/
Arvenda Denada Randy Saputra* - www.konde.co. 

Ini bukan tulisan tentang Tsamara Amany saja tetapi tentang perempuan pemimpin yang tersudutkan karena keperempuanannya. 

Saya laki – laki, yang bekerja sebagai buruh di Sukoharjo.

Saya melihat Tsamara Amany di media pemberitaan, saya kagum dengan keberaniannya mendukung KPK di tengah hiruk pikuk hak angket. Namun keberaniannya masih dianggap nyinyir oleh beberapa kalangan. 

Sebuah tweet  dari @plato_id menyudutkan Tsamara Amany sebagai perempuan panggilan, atau PSK.

Masih ingatkah ketika Ibu Susi Pudjiastuti terpilih menjadi perikanan dan kelautan? Banyak media memberitakan tentang gambar tatto di kaki ibu Susi Pudjiastuti dan gaya merokoknya.

Iya, perempuan yang lantang masih dianggap bukan perempuan baik – baik. Bukan substansi pemikirannya atau kemampuannya yang menjadi sorotan.

Apa yang dialami oleh Tsamara Amany dan Ibu Susi Pudjiastuti itu terjadi pula pada teman perempuan saya.

Sebut saja namanya Tira,  baru berusia 21 tahun, saat ini masih tercatat sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di kota Solo. Tira sangat aktif di lembaga kegiatan kemahasiswaan, terutama di Persekutuan Mahasiswa Kristen tingkat fakultas dan Himpunan Mahasiswa. 

Desember 2016 lalu, Tira mencalonkan diri menjadi ketua Himpunan Mahasiswa. Tira berhadapan dengan calon lain yang bernama Ari, yang berjenis kelamin laki-laki. Lalu Tira mulai menyusun strategi kemenangan dengan pembentukan tim sukses di kampusnya.

Pencalonan Tira sebagai Ketua di kampusnya, merupakan fenomena yang langka. Sebab 10 tahun tidak pernah ada calon ketua dari perempuan. Ini hal yang membanggakan bagi kalangan pegiat kampus.

Tidak ada masalah dalam proses pencalonan karena panitia seleksi menerima Tira sebagai salah satu calon ketua.

Proses pemilihan-pun berjalan. Tira menyampaikan visi misi dan program kerjanya begitu juga Ari.  Tira penuh percaya diri akan kemenangannya karena dirinya sudah menyusun program dengan serius dan strategi kemenangan yang taktis.

Sayangnya, hasil pemilihan tidak memberikan kemenangan pada Tira. Sebab pemilih masih beranggapan bahwa pemimpin yang baik adalah laki – laki. Tira kalah 10 suara dari Ari yang memperoleh 57 suara. Saya tidak menyebut bahwa diskriminasi gender adalah faktor utama dari kekalahan Tira tetapi kenyataannya, Tira kehilangan suaranya karena dirinya perempuan.

Ternyata budaya patriarki itu masih mengakar kuat di masyarakat bahkan di kampus sekalipun. Saya mengetahui bahwa kampus itu tempat dimana ide dan gagasan bebas untuk dibahas dan diwujudkan, tanpa adanya diskriminasi gender. Lalu bagaimana bisa mengandalkan kampus sebagai wadah perubahan di masyarakat? Apabila kondisinya sama dengan masyarakat.

Pandangan nyinyir terhadap perempuan yang lantang menyuarakan kebenaran dan perempuan yang menjadi pemimpin harus dihapuskan. Sebab perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama.

Sekarang, kita bisa melihat sosok-sosok pemimpin perempuan yang bisa menjadi teladan. Seperti Ibu Sri Mulyani yang dinobatkan sebagai Menteri keuangan terbaik menurut majalah keuangan Finance Asia yang berbasis di Hongkong. Ibu Sri Mulyani mampu memperbaiki sistem perpajakan Indonesia lewat program pengampunan pajak atau tax amnesty. Program tersebut diklaim menjadi tax amnesty tersukses dengan deklarasi dana mencapai Rp.4.590 Triliun. Hebat bukan ? Semua itu tak lepas dari tangan dingin Ibu Sri Mulyani.

Demikian pula, Ibu Susi Pudjiastuti  dengan aksi nyatanya. Lewat kebijakan-kebijakan pelarangan illegal fishing di perairan Indonesia dengan menghancurkan kapal penangkap ikan illegal di lautan Indonesia. Hingga akhirnya bulan Mei lalu  mendapatkan penghargaan Peter Benchley Ocean Award.
Ini menunjukkn bahwa kemampuan perempuan dalam hal memimpin tidak kalah dengan laki-laki, bahkan lebih baik.

Menurut saya, memang perempuan dan laki-laki adalah ciptaan yang berbeda tetapi tidak bisa dijadikan pembedaan. Sebab perempuan dan laki-laki mempunyai potensi diri yang sama.

Tabik.

*Arvenda Denada Randy Saputra, buruh pabrik di Sukoharjo-Jawa Tengah