Irina Among Praja, Sekolah Untuk Para Pengungsi


*Kustiah- www.Konde.co

Tak pernah terbayang dalam benak Irina Among Praja, dokter yang sudah puluhan tahun bertugas di rumah sakit, untuk kemudian mengajar anak-anak pengungsi. Ditinggalkannya profesinya sebagai dokter, bergulat hidup bersama anak-anak pengungsi, mengajar di sekolah kami, sekolah bagi anak pengungsi.

Tak ingin larut dalam kesedihan karena kegiatannya diusir dari satu tempat ke tempat lain Irina memutuskan untuk mencari lahan yang bisa disewa dan dimanfaatkan untuk belajar dan bermain anak-anak.

Ditemukanlah lahan yang di sekitarnya telah dipenuhi lapak dan dijadikan tempat pembuangan sampah. Ina menyulap lahan seluas sekitar 3 ribu meter yang dipenuhi sampah menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Lahan ini dibuat menjadi kompleks belajar dan bermain. Lokasinya hanya sejengkal dari bedeng-bedeng tempat para pemulung tinggal. Atau tepatnya di samping tol keluar Bintara, Bekasi.

Irina Among Praja sendiri yang membangun dan mendesain bangunan yang terdiri dari beberapa bangunan serupa gazebo besar untuk beberapa kegiatan anak-anak didiknya. Ada ruang untuk bermain musik dan angklung, ruang menjahit, ruang belajar, perpustakaan, ruang kreasi, dan ruang kelas.


'Sekolah Kami'.

Di sekolah inilah 150 anak-anak setara sekolah dasar dan sekolah menengah pertama belajar. Mereka tak dipungut biaya. Malah sebaliknya, anak-anak kerap mendapatkan bingkisan, mendapat seragam sekolah yang biasa digunakan tiap hari selasa dan kamis, dan mendapatkan aneka macam pelajaran dan keterampilang secara cuma-cuma.

Di sekolah ini selain mendapatkan pelajaran, sain, matematika, bahasa, sosial, seni, anak-anak juga diajarkan menjahit, merajut, dan membuat kerajinan tangan.

"Bu Ina (panggilan Irina) ingin anak-anak memiliki keterampilan dan yang penting tidak kembali ke jalan untuk memulung," ujar Puji Lestariningsih (41), salah satu guru yang mengajar di Sekolah Kami.

Ina membenarkan. Ia tahu bahwa kesulitan hidup yang dihadapi orang tua anak-anak didiknya yang berimbas ke anak-anaknya ini bukan masalah sederhana. Yang bisa diselesaikan hanya dengan membalikkan telapak tangan. Untuk itu Ina lumayan berpikir keras ketika menyususn kurikulum pelajaran di sekolahnya. Salah satu cara sederhana yang ia pilih hanyalah membekali anak-anak dengan pelajaran yang ia anggap penting dan keterampilan yang bisa membantu masa depan mereka kelak.

"Anak-anak ini tidak bisa memilih untuk tak dilahirkan dari keluarga pemulung dan keluarga miskin. Untuk itu mereka harus dipersiapkan supaya tak mengikuti jejak orang tuanya," kata Ina.

Pelajaran sekolah yang tak selengkap laiknya sekolah umum tak mengurangi kebahagiaan anak-anak. Justru anak-anak merasa bahagia dan merasa menjadi siswa istimewa karena mendapatkan banyak pelajaran dan keterampilan yang tak diajarkan di sekolah lainnya.

Dede Karyadi (12) salah satunya. Ia mengaku senang bergabung dengan Sekolah Kami sejak kelas I. Salah satunya karena diajar guru bahasa inggris yang berasal dari Amerika Serikat.nJuga karena mendapat pelajaran keterampilan tangan yang membuat ia bisa membuat tas dari bungkus kopi, sabun natural, dan beberapa keterampilan lainnya.

"Pokoknya menyenangkan. Teman-teman, guru semua baik. Dan semua (pelajaran dan keterampilan) saya dapatkan cuma-cuma. Tak bayar," ujar anak kelima dari tuju bersaudara ini mengungkapkan kebahagiannya.

Dede duduk di bangku kelas V. Sehari-harinya usai sekolah ia masih membantu orang tuanya memulung hingga menjelang magrib. Rata-rata ia mendapatkan uang hasil menjual pulungannya sebesar Rp10 ribu yang kemudian dibelikan beras untuk makan sekeluarga.

Kesenangan bergabung dengan Sekolah Kami juga dirasakan Sinta Chintyawati (11). Teman sekelas Dede ini mengaku lebih senang sekolah di tempatnya sekarang ketimbang sekolahnya terdahulu. Sinta bergabung dengan Sekolah Kami saat masuk kelas III setelah mengikuti orang tuanya yang berasal dari Jonggol, Bekasi pindah ke Bintara untuk memulung.

"Saya lebih senang sekolah di sini. Karena belajarnya menyenangkan," ujar anak pertama dari dua bersaudara yang bercita-cita menjadi guru ini menambahkan.

Sinta mengaku kini dirinya bisa merajut, membuat kerajinan tangan membuat tas dari bungkus kopi, dan keterampilan lainnya. Usai sekolah, selama orang tuanya memulung di rumah Sinta mendapat tugas menjaga adiknya yang masih berumur dua tahun.

Kondisi kompleks pemulung yang luasnya sekitar dua hektare yang letaknya di samping 'Sekolah Kami' memang mengenaskan. Bau busuk menyeruak, air comberan di sekitar toilet menggenangi tanah di sepanjang belakang bedeng. Di mana-mana lalat hijau mengeriung seperti sedang berebut makanan. Menurut Ina, dulu sebelum ada Sekolah Kami, kondisinya lebih mengenaskan.

Lahan yang saat ini ditempati Sekolah Kami merupakan tempat pembuangan sampah. Namun, jumlah lapaknya dulu tak sebanyak saat ini. Kini bekas lapangan yang sekarang penuh rumah bedeng dan aneka sampah plastik ini ditempati sekitar 500 KK lebih. Mereka sebagian besar berasal dari daerah penyangga Jakarta, antara lain, Karawang, Subang, Indramayu, Jonggol, dan sekitarnya.

Menurut Irina, hingga saat ini belum ada upaya serius dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah pelik yang dihadapi warga negaranya yang tinggal di samping sekolahnya. Para pemulung ini tak memiliki identitas seperti KTP, akta kelahiran anak, dan surat nikah. Sehingga, mereka tak bisa mendapatkan fasilitas apa pun dari pemerintah.

"Warga yang benar-benar miskin ya yang seperti ini. Tak mendapatkan  akses apa pun, baik akses pendidikan, kesehatan, dan lainnya karena mereka tak punya identitas. Jadi, tak hanya miskin materi, mereka ini miskin yang tersistem," kata Ina (Selesai).

(Foto: Klinik-umiyah.com)


*Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com. Saat ini pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.