Perempuan Disabilitas Pengelola Kerajinan Limbah


The Happy Trash Bag adalah usaha yang dikelola para perempuan disabilitas. Tas-tas, dompet dan boneka tersebut yang terbuat dari bungkus permen,bungkus kopi atau minyak goreng banyak dipajang di hotel dan supermarket. Kini produknya sudah menembus di sejumlah negara seperti Singapura, Dubai, Australia dan Amerika.



Kustiah- www.Konde.co

Tangerang, Konde.co - Nani tak sendiri mengerjakan The Happy Trash Bag. Di ruangan itu ada Nining saudaranya dan tiga temannya yang juga melakukan hal yang sama kecuali Tedjo (42) yang duduk di lantai memasang kancing tas.

Awalnya yang mengerjakan adalah Kasmi. Kasmi memulai usahanya pada 1995. Dengan modal Rp500 ribu hasil menabung Kasmi. Ia memulai dari keluarga terdekatnya hingga merekrut ibu-ibu orang tua penyandang tuna rungu.

Ide memberdayakan ibu-ibu wali murid siswa SLB ini muncul saat Kasmi mengantarkan  Nining ke sekolah. Ia sering melihat ibu-ibu yang mengantarkan anak-anaknya sibuk ngobrol di depan sekolah. Kasmi terpikir  memberdayakan para ibu dengan menularkan keterampilannya supaya kelak bisa ditularkan kepada anak-anaknya yang menyandang tuna rungu.

Ibu-ibu para wali murid setuju. Pelan namun pasti usaha yang semula kecil berkembang menjadi besar. Kasmi kebingungan untuk memasarkan produknya dan ia berkonsultasi dengan bekas majikannya.

Lagi-lagi mantan majikannya yang masih tinggal di Indonesia ini berbaik hati kepada Kasmi. Ia bersedia menawarkan produk Kasmi ke kawan-kawannya. Apalagi produk Kasmi unik. Ia menyarankan kepada Kasmi supaya konsisten menggunakan bahan limbah dan terus berkreasi.

Seiring waktu yang semula bekerja menjahit adalah para ibu kini berganti menjadi anak-anak mereka yang menyandang tunarungu yang melanjutkan.


Meninggalkan Zona Nyaman

Pada tahun 2000 Kasmi, ibu Nani menyarankan kepadanya untuk resign dan melanjutkan usaha yang dirintis dan dibesarkan ibunya. Saat itu Nani bekerja di Departemen Kehakiman sebagai staf pengarsipan.

"Ibu menyakinkan saya kalau kerja dilakukan untuk kebaikan dan berguna bagi banyak orang niscaya umurnya akan lama sampai ke anak cucu," kata Nani mengenang saran ibunya.

Pertimbangan lainnya adalah karena Nani tak tega membiarkan ibunya berjuang seorang diri mendidik dan mendampingi adiknya yang tuna rungu bersama para pekerja lainnya yang tuna rungu. Nani akhirnya memutuskan keluar kerja. Perempuan lulusan Diploma jurusan pariwisata ini mengambil alih pemasaran dan ikut mengelola usaha bersama ibu dan saudaranya.

Untuk memperkenalkan produk happy trash bag Nani mengikuti pameran dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu bazar ke bazar lainnya mulai tingkat kelurahan hingga kementerian. Nani ingat, kala itu produknya sering dicibir. Masyarakat menganggap produknya sebagai barang murahan tak berharga.

"Sampah aja kok dijual," kata calon pembeli dan komentar masyarakat yang mengetahui produk Nani hampir semua bahannya berasal dari limbah yang dibeli dari pengepul atau pemulung.

Nani tak gentar. Sejak awal memutuskan membesarkan happy trash bag ia sudah mempertimbangkan konsekuensinya. Dan yang membuat ia senantiasa termotivasi bahwa yang ia, saudara dan ibunya lakukan bukan sekadar mencari uang untuk keluarganya. Tetapi lebih dari itu bahwa keluarganya juga memperhatikan masa depan penyandang tuna rungu.

"Kami tak mengklaim bahwa yang kami lakukan sudah benar. Tetapi jujur, kami tak suka melihat penyandang tunarungu atau orang berkebutuhan khusus ini menjadi tukang parkir atau peminta-minta. Kami ingin mereka memiliki masa depan yang baik seperti manusia normal lainnya," ujar Nani.

Nani dan ibunya paham bahwa ketergantungan penyandang tuna rungu atau orang dengan kebutuhan khusus kepada orang lain karena mereka tak dibekali keterampilan. Untuk itu, Nani dan ibunya terus bergerilya memasarkan produknya. Dan tak memedulikan cibiran orang.


Masa Jaya The Happy Trash Bag

Pada 2002 merupakan tahun kejayaan The happy trash bag. Berkat kerjasama dengan beberapa hotel usaha happy trash bag dikenal masyarakat luas. Nani dan ibunya sering kuwalahan memenuhi permintaan hotel. Tas-tas dan produk limbah berupa dompet, boneka yang dibanderol seharga Rp10.000-400.000 terjual seperti kacang goreng.

Peminatnya adalah para turis. Karena kebutuhan bahan bertambah, Nani mengubah strategi kerjasama tak sekadar menitipkan dagangan. Tetapi juga mengajak hotel menyetorkan sampah plastik supaya bisa diolah.

"Kita memang nggak bisa membersihkan sampah. Tapi paling tidak yang kita lakukan bisa mengurangi," ujar ibu dua anak ini.

Setelah produknya dikenal masyarakat luas usaha Kasmi dan anak-anaknya otomatis ikut terkenal. Permintaan mengajar dan pelatihan ke daerah dan di sejumlah instansi membanjir.

Nani tak keberatan. Sekalipun usahanya terancam akan mendapat banyak pesaing ia tak pelit ilmu. Apalagi pelatihan dilakukan untuk memberikan keterampilan kepada penyandang tuna rungu.

"Rezeki sudah ada yang mengatur. Tuhan tak akan keliru memberikan rezeki kepada hamba-Nya," ujarnya.

Kini, berkat kegigihan Nani tuna rungu yang bekerja bersamanya sudah mencapai 50-an orang. Mereka bekerja mandiri di rumah. Menerima orderan dan mengerjakannya di rumah masing-masing.

Sementara di daerah-daerah  peserta pelatihan baik yang masih belajar atau sudah membuat usaha, menurut Nani sudah tak terhitung jumlahnya. Itulah salah satu kebahagiaan Nani yang memotivasi dia untuk terus berbuat kebaikan dan menularkan ilmunya. 

Berkat kegigihannya kala itu Kasmi mendapatkan Danamon Award pada 2007 mengalahkan 700 peserta. Dan penghargaan yang sama diterima Nani pada 2014 mengalahkan 840 peserta.



Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com. Kini pengelola www.Konde.co dan Pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta

(Foto: teropongbisnis.com)