Perempuan Penjaga Bumi



*Abdus Somadh- www.Konde.co

Jogjakarta, Konde.co - Perempuan adalah penjaga bumi. Ia menjaga, tidak merusak.

Dalam konsep ekologi, perempuan yang kemudian menanam dan menjaga ini disebut ecofeminist. Ekofeminisme disebut sebagai bagian dari feminis kultural.

Pertalian antara nilai-nilai politik radikal dan feminisme sosial adalah perhatian para feminis pada ekologi. Dalam The Dialectic of Sex, Firestone kemudian menghubungkan ekologi dengan komunitas spiritual perempuan.

Teori feminis tentang lingkungan menyebutkan bahwa ada banyak beban terhadap perempuan, yaitu untuk menjaga lingkungannya. Padahal menjaga lingkungan adalah juga tugas laki-laki dan semuanya. Bukan perempuan yang merawat, lalu yang lainnya merusak. Inilah yang selama ini diperjuangkan para feminis.

Pembuktian tersebut sudah ada. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu Rembang yang sampai rela mengecor kakinya demi alam lestari, yang dilakukan oleh perempuan pesisir Jogjakarta, demi alam dan hasil bumi ia rela berjuang sampai darah penghabisan.

Bagi Laksmi Savitri dosen Antropolog UGM, perempuan adalah pejuang bagi tanah dan makanan pokok manusia sehari-hari. Itu ungkapnya saat memberikan orasinya di depan perempuan Kulon Progo, di Jogjakarta pada acara syawalan PPLP-KP, awal Juli 2017 lalu.

Ia menegaskan, sejatinya keberadaan perempuan adalah ruang aman bagi siapapun yang berada dalam genggamannya.

“Kalau saya melihatnya, ibu-ibu ini luar biasa istimewa,” ujar perempuan yang juga aktif dalam menyikapi isu-isu agraria di Indonesia ini.

Isyanti, salah satu perempuan yang menjadi bagian dari perempuan pesisir Kulon Progo mengungkapkan bahwa ia juga tidak bisa berdiam diri apalagi menitipkan perjuangannya kepada kaum laki-laki. Kedudukan perempuan harus sama di mata laki-laki. Dalam mempertahankan lahan pun sama, tidak ada yang dibedakan.

 “Sekarang perlu bapak-bapak ketahui, perempuan pesisir itu semua berdaya guna, bukan sekedar untuk budi daya,” ucapnya.

Ia kemudian menyatakan diri sebagai perempuan pembela kaum majinal, dengan penuh keberanian ia mengungkapkan jika harus bangga menjadi perempuan, walaupun bekerja sebagai petani harus bangga. Kalimat tersebut menjadi kekuatan batin yang sulit dihalau, ia bahkan sering mengingatkan penguasa untuk tidak serakah, dan selalu melihat kontribusi petani dalam mensuplai pangan bagi manusia di seluruh dunia dan Indonesia pada khusunya.

“Tanpa kita para penguasa tidak bisa makan. Walapun punya uang, kalau mereka tidak menanam padi, nanam sayuran apa beliau-beliau (penguasa-red) mau makan uang, kan tidak mungkin,” ujarnya.

Hal tersebut kemudian dipandang Laksmi sebagai sebuah perawatan. Sebab selain menjaga alam, perempuan pesisir juga menjaga saudara, menjaga tanah dan menjaga kebutuhan pangan. Maka tidak heran, jika perempuan kemudian banyak dirampas haknya, bahkan tanahnya dibabat habis untuk kepentingan pembangunan umum.

Perempuan pasti akan melakukan perlawanan. Sebab dalam jiwa perempuan  ternanam perawatan terhadap alam semesta.

 “Kita menjaga silaturahmi di dalam desa, semua itu adalah tugas kita semua, tak hanya perempuan tetapi juga laki-laki, semua manusia,“ Ungkap Laksmi memberikan dukungan kepada perempuan yang konsisten berjuang.


(Referensi: Ensiklopedia Feminisme, Maggie Hum, Fajar Pustaka Baru, 2002)



*Abdus Somad, Aktivis lingkungan di Jogjakarta. Pengelola situs selamatkanbumi.com