Pernikahan Leila



Luviana- www.Konde.co


Sebut saja namanya Leila. Tentu, Leila bukan nama sebenarnya. Aku sudah lama melupakan Leila, padahal hubungan sedarahku dengan Leila sebenarnya sangat dekat.

Siang tadi tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah kartu undangan berwarna coklat. Undangan pernikahan Leila. Padahal Desember lalu, ketika aku bertemu, Leila bilang ia tak punya pacar. Bagus juga jika dalam waktu dekat ia bisa menemukan laki-laki yang ia cintai.

Namun aku tidak bisa datang ke pernikahan itu.

Leila menikah di kota kelahiranku. Selain letaknya yang jauh, undangan ini terlalu cepat untukku, padahal aku harus menyelesaikan beberapa hal dalam minggu ini.

Jadilah, aku tak datang. Aku hanya menitip pesan pada ibuku jika ibu harus datang. Ibuku tentu saja mengiyakan. Leila adalah keponakannya yang sudah lama tak dijumpainya.

Tadi baru saja kudengar cerita jika ibuku membelikan kain untuk Leila.juga uang untuk bekalnya nanti setelah menikah. Kakak dan adikku juga datang kesana.

Leila menikah di sebuah desa kecil tak jauh dari bukit-bukit dan gunung-gunung. Semua orang datang. Para tetangganya yang jadi panitya pernikahan ini. Makanannya bukan prasmanan seperti yang biasa terjadi di pernikahan di kota-kota besar. Makanan dan minuman diantar untuk tamu-tamu yang datang. Hmm…pernikahan yang sederhana.aku bisa melihat foto dari email yg dikirim adikku.
Leila tampak bahagia.

Namun yang membuatku kaget ketika tiba-tiba adikku menelepon setelah pernikahan itu.

” Orangtua Leila gak ada yang datang di pernikahan,” suara adikku.

“Maksudnya apa?,” tanyaku kaget.

Sungguh. Seperti baru saja mendengar suara geledek, padahal purnama sedang bersinar terang, hujan tentu saja tak akan datang.

“Pernikahannya tak disetujui.karena laki-lakinya miskin dan masa depannya kurang jelas. Ia hanya bekerja di sebuah kantor kecil di Jakarta.”

Seperti petir di siang hari. Pengin sekali aku marah.rasanya aku seperti dipukul dengan batu besar.

Aku mendengus jengkel,” Jadi karena itu orangtua leila tidak menghadiri pernikahan anaknya?”.

Adikku tidak bisa melihat bagaimana merahnya mukaku saat ini.aku sangat kesal dengan keluarga itu.

Tiba-tiba aku mengingat semuanya. Keluarga leila adalah type keluarga yang selalu membanggakan anaknya yang lain, namun mereka lupa bahwa apa yang mereka lakukan ternyata telah mendiskriminasi pilihan-pilihan anaknya yang lain: anakku yang ini istrinya orang sukses, kalo anakku yang itu manajer, dia habis selesai mengambil master di luar negeri. Kalau yang itu,dia pegawai hebat.dapat fasilitas rumah dan pendidikan dari kantornya. Sengaja, kalimat itu selalu keluar dari mulut orangtua Leila ketika beberapakali aku bertandang ke rumahnya. Ia tak tahu jika aku tak pernah melihat manusia dari apa yang tampak di depan mata.aku menghargai setiap orang dengan apa adanya.

Pertanyaan-pertanyaan dalam kepalaku selalu bergolak ketika bertemu orangtua Leila. Jika ia kaya, apa yang sudah ia lakukan untuk si miskin? Jika ia doktor lulusan luar negeri,apa yang sudah ia lakukan untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini? Jika ia tampan, pernahkah ia sesekali berbuat untuk yang cacat?

Aku memang tak pernah mempertanyakan ini secara langsung di depan orangtua Leila, aku hanya diam dan menampakkan wajah tak setuju, dan ia tahu itu.

Maka ketika sejurus kemudian ia bertanya apa pekerjaan suamiku, berapa gaji suamiku dan gajiku? Aku tak mau mengatakannya.Aku hanya bilang: kami miskin, tapi kami bahagia.” Setelah itu dia akan tertawa dan tersipu malu.

Telpon dari adikku belum juga selesai,” Bahkan Leila sekarang sudah tidak diakui sebagai keluarga lagi”.

Kepalaku lunglai mendengarnya. Seharusnya kalimat-kalimat yang ada di kepalaku itu yang kulontarkan pada orangtua Leila.

Aku menjadi ingat tentang satu hal: hubunganku dengan Leila. Jarak yang memisahkan kami cukup lama. Dulu aku dibesarkan di kota kecil. Hidupku sangat sederhana. Ayahku hanya bekerja di pabrik lalu kemudian berpindah menjadi pegawai negeri. Tak ada yang istimewa yang kukerjakan ketika remaja selain bermain di sawah, melihat pematang dan mandi di sungai kecil di depan pabrik. Namun sungai yang hangat itu justru menjadi saksi bahwa kami dibesarkan oleh kesederhanaan.

Lalu ketika dewasa, ini kujadikan modal untuk membangun solidaritas bersama kawanku yang lain. Aku menjadi orang yang tak pernah melihat ukuran-ukuran yang dilakukan orangtua Leila.
Selain karena Leila dibesarkan di kota megapolitan yang sibuk, hubungan dari kota kecil dan kota besar inilah yang kemudian tidak menjadikan kami sebagai saudara yang dekat. Jarak dan juga pilihan hidup yang berbeda.

Aku menjumpai kembali Leila ketika ia beranjak dewasa. Aku memilih menjadi wartawan sedangkan Leila bekerja sebagai pegawai di salah satu pusat kota Jakarta. Namun pilihan dan jarak yang jauh, ternyata tidak membedakan pilihan-pilihan kami. Leila memilih hidup sederhana dan menjauhkan diri dari hingar-bingar. Tak banyak yang tahu jika pilihan ini sebenarnya sangat sulit di awal, namun bisa saja menyenangkan kemudian. Namun tak tahu nanti berakhirnya bagaimana. Yang jelas, orangtua Leila tak pernah setuju dengan pilihan anaknya.

Dulu, orangtua Leila juga tak pernah setuju dengan pilihanku ketika aku memutuskan untuk menikah.. Aku tak tahu apa alasannya. Yang jelas, aku selalu mendengar bisik-bisik tanda tak setuju. Ini kemudian diverbalkan dalam pertemuan keluarga kecil kami.

Dari situ aku semakin tahu bahwa tak banyak orang yang menyukai pilihan hidupku ini. Aku mendengus, teringat Leila! Lalu seperti apa pilihan orangtua Leila? yang dekat dengan hingar-bingar ibukota? dekat dengan selebritas? atau dekat dengan modal dan kekayaan? aku tak pernah tahu dan tak mau tahu itu. karena, ini adalah pilihan hidupku. Pilihan hidup Leila.

Aku hanya akan bilang pada Leila: Leila, lanjutkan hidupmu. hidup ada di tangan kita. Bukan diserahkan pada orang lain. Aku hanya ingin dia tahu bahwa ia sudah benar memilih jalan hidupnya.

Semoga, pernikahanmu, pilihan hidupmu, mampu merontokkan dinding-dinding keangkuhan itu. Jika dinding itu tak juga runtuh,kau sudah berhasil merobohkan satu tiang di rumahmu.

Leila, pernikahanmu sudah menjadi bukti perjuanganmu.

Kujemput engkau di Jakarta, banyak bunga tetangga yang akan kurangkai untukmu.



Kenangan pernikahan Leila, 2012