Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Mengajak anak-anak muda untuk membentuk serikat pekerja memang bukan perkara mudah, karena mengajak pekerja-pekerja umumnya yang rata-rata berasal dari kelas menengah, juga sama sulitnya. Banyak data yang memaparkan ini.

Misalnya dalam 6 tahun terakhir, jumlah serikat pekerja media yang banyak berisi anak-anak muda tak juga bertambah secara signifikan. Dalam 6 tahun ini hanya ada kurang lebih 25 serikat pekerja, sangat kecil jika dibandingkan jumlah media yang mencapai lebih dari 3 ribu media. Penambahan jumlah perempuan jurnalis yang ikut dalam serikat pekerja mediapun tak juga signifikan, ini sama kondisinya dengan jumlah serikat pekerja media yang tak juga meningkat.

Banyak problem dan persoalannya. Ketakutan jika di PHK merupakan salah satu alasan mengapa jurnalis enggan untuk berserikat. Hal ini karena pemilik media yang mencengkeram terlalu dalam sehingga menjadi momok dalam berserikat.

Winuranto Adhi, mantan pengurus divisi Serikat Pekerja Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyatakan bahwa individualisme yang tinggi merupakan alasan lain yang terkadang membuat jurnalis enggan untuk berserikat. Umumnya para jurnalis lebih senang sendiri dan enggan berorganisasi atau berjuang secara bersama-sama.

Kerja-kerja dalam Serikat pekerjapun tak mudah. Di dalam serikat pekerja, kita harus sering bertemu, meluangkan waktu sebagaimana berorganisasi lainnya. Selain itu, harus melakukan advokasi atau pembelaan terhadap persoalan-persoalan yang menimpa para pekerja. Yang tak  mudah, mengadvokasinya sampai pengadilan, melakukan kampanye kasus secara terus-menerus. Ini memerlukan nafas panjang.

Di dalam serikat pekerja inipun, macam-macam advokasi yang harus dlilakukan, dari mendampingi pekerja yang di PHK, pekerja perempuan yang mendapatkan kekerasan di perusahaan, pelecehan seksual di perusahaan mereka bekerja, lembur tak dibayar, tidak ada kontrak kerja, tentu bukan sesuatu yang mudah karena membutuhkan waktu dan juga energi banyak.

Untuk perempuan muda, advokasi dan berbagai kegiatan seperti ini banyak dilakukan di malam hari. Dan kadang, malam memang tak berpihak pada perempuan. Banyak perempuan yang kemudian enggan untuk bertemu di malam hari karena malam kadang tak aman untuk perempuan.

Mengajak anak-anak muda untuk berserikat ini beragam caranya. Di Belanda misalnya, serikat pekerja FNV mengajak anak-anak muda untuk berserikat dengan cara mengadakan pertemuan ngopi sore, mengajak mereka diskusi di tempat mereka biasa gaul. Perlakuan ini memang berbeda ketika mereka mengajak para buruh pabrik untuk berserikat yang waktu bekerjanya banyak dihabiskan di dalam pabrik. Maka jika dengan buruh pabrik, pertemuan banyak dilakukan di sekitar pabrik di sela-sela waktu istirahat mereka.

Namun mengajak para pekerja muda untuk berserikat, pasti butuh strategi lain.

Di Jakarta ada Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) yang mempunyai pendekatan berbeda dalam mengajak berserikat. Karena sasarannya anak-anak muda jurnalis, para pekerja media dan pekerja kreatif, maka SINDIKASI kemudian membuat sejumlah acara “ngobrol”, misalnya acara: “Ngobrol atau kongkow” yang dilakukan di Taman Surapati yang dilakukan di sore hari setelah mereka bekerja. Ini dilakukan setelah para pekerja selesai bekerja dan agar semua perempuan muda bisa ikut, tak terlalu pulang larut.

Dalam acara “Ngobrol di Taman” ini, para pekerja muda menyampaikan uneg-unegnya dengan pekerjaan yang mereka jalani.

Dalam sebuah diskusi yang diadakan SINDIKASI di labor house Coffe di kawasan Blok M, Jakarta di awal tahun 2017 misalnya, Ellena Ekarahendy,  Ketua SINDIKASI menyatakan bahwa banyak pekerja muda kreatif yang bekerja tanpa dikontrak, menjadi pekerja lepas yang tak mendapat tunjangan kesehatan, bahkan cepat sekali diputus kontrak. Namun, anak-anak muda ini ternyata tak pernah habis akal, karena mereka memahami bahwa serikat akan menjadi salah satu alternatif untuk menyelesaikan persoalan mereka.

Ini tentu memberikan kelegaan, karena di saat banyak anak muda yang tak mau berserikat, ada anak-anak muda yang kemudian mau mengagas serikat dengan cara atau strategi yang lain. 

Strategi lain yang dilakukan SINDIKASI misalnya, mewarnai hari buruh atau May Day pada 1 Mei 2017 kemarin dengan melakukan kampanye-kampanye dengan poster yang berbeda.

Poster bertuliskan "Kurangi Jam Kerja Perbanyak Bercinta" adalah salah satu poster kampanye yang menyita banyak perhatian. Isi poster ini ternyata merupakan salah satu taktik untuk mengajak pekerja muda untuk memperjuangkan 8 jam kerja.

Lalu bagaimana cara anak-anak muda ini mencari uang untuk menghidupkan organisasi?

SINDIKASI seperti halnya serikat pekerja lainnya mewajibkan anggotanya untuk membayar iuran wajib perbulannya. Iuran ini untuk kelangsungan organisasi, misalnya membiayai kegiatan organisasi.

Hal lain yang dilakukan misalnya melakukan pementasan musik untuk penggalangan dana kongres SINDIKASI. Dalam penggalangan dana ini, penonton membeli tiket masuk yang uangnya digunakan membiayai kebutuhan serikat. Sejumlah band yang muncul seperti Efek Rumah Kaca misalnya, Bonita and the Husband atau Maliq & d'essentials dikontak oleh para anggota serikat pekerja ini untuk manggung di acara malam penggalangan dana pada 16 Agustus 2017 lalu.

Aliansi Pemuda Pekerja Indonesia (APPI) juga merupakan serikat pekerja yang isinya anak-anak muda seperti SINDIKASI. Anggotanya anak-anak muda yang menjadi dosen, peneliti, penulis. Banyak perempuan muda yang menjadi anggota serikat APPI.

Sudah 2 tahun ini, APPI mengelola sebuah kedai kopi Labor House di sekitar Blok M untuk menghidupi serikat. Mereka berbagi tugas dalam mengelola kedai kopi. Sejumlah rapat dan diskusi juga beberapakali dilakukan di tempat ini. Pengunjung yang datang akan membeli kopi dan makanan yang kemudian digunakan untuk membiayai organisasi.

Cara-cara ini terbukti efektif untuk digunakan saat ini, jadi anak-anak muda tak langsung dijauhkan dari tempat mereka biasa bergaul, namun mereka justru harus didekatkan dengan banyaknya persoalan yang menimpa mereka, bertemunyapun di tempat mereka biasa ngobrol dan berdiskusi.

Dalam website aktivis serikat pekerja muda di Belanda https://youngunionactivists.wordpress.com/the-netherlands/, misalnya disebutkan bahwa mengajak anak-anak muda untuk berserikat harus berdasarkan pengalaman nyata mereka dan menggunakan strategi khusus, yaitu jangan menjauhkan mereka dari tempat mereka biasa bertemu sehari-hari.

Rata-rata anak muda akan enggan untuk masuk serikat karena kurangnya informasi dan kontak dengan serikat pekerja. Untuk memastikan menarik kaum muda, serikat pekerja harus mencari kehadiran dan visibilitas yang lebih besar di perusahaan-perusahaan tradisional. Hal ini berlaku baik di negara seperti Belanda maupun negara lainnya. Perhatian lebih pada pentingnya 'keamanan' dalam pekerjaan dapat mendukung anak muda untuk menjadi aktif dalam serikat pekerja

Di Belanda, banyak anak muda yang posisinya rentan,  mereka umumnya dua sampai empat kali lebih mungkin menganggur  dan sulit mendapatkan pekerjaan. Jika mereka menemukan pekerjaan, mereka sering memulai dengan kontrak sementara, digaji di bawah keahlian mereka.

Di Indonesia, kondisinya tak jauh beda. Banyak anak-anak muda yang mengalami kondisi demikian, misalnya mereka yang bekerja di industri kreatif. Mereka bekerja di film, pembuatan sinetron, pekerja seni yang bekerja tanpa dikontrak, kebanyakan freelance.  Sering, mereka digaji murah dan di bawah standar keahlian yang mereka miliki.

Kondisi ini menurut Direktur Utama Perum Produksi Film Nasional, Abduh Aziz merupakan kondisi yang susah.  Abduh Aziz menyampaikan hal ini dalam Kongres SINDIKASI yang diadakan pada 26 Agustus 2017 lalu di Jakarta.

“Pekerja kreatif adalah pekerja yang bahagia meskipun susah. Ke depan, harus ada upaya membangun ekosistem yang berjuang untuk pekerja kreatif.”

Abduh Aziz mengatakan bahwa kesadaran membangun ekosistem kerja yang sehat harus lahir dari langkah konkret para pekerja. Jika pemerintah abai, ia merekomendasikan pekerja yang harus mendesak, namun pekerja harus tetap memiliki kesadaran kritis untuk menganalisis masalah sebelum mengadvokasi bahwa industri kreatif merupakan tulang punggung perekonomian ke depan. Kesadaran pekerja bisa dibangun secara kolektif lewat serikat.

Berbagai sektor industri kreatif yang menurut Badan Ekonomi Kreatif mencakup 16 subsektor pun menjadi tantangan untuk para pekerja. Berbagai kerancuan dalam mengukur hasil kerja industri kreatif dikhawatirkan justru berpotensi meningkatkan kesenjangan.

"Dalam pembahasan tenaga kerja, mereka yang tidak berserikat atau tidak punya federasi, isu mereka tak terangkat," ujarnya.

Ketua SINDIKASI sekaligus perancang grafis dan perempuan muda yang mengorganisir anak muda lain untuk berserikat, Ellena Ekarahendy mengakui sistem industri kreatif masih eksploitatif. Desainer grafis misalnya, menghadapi tantangan proses penciptaan yang dikesampingkan sehingga apresiasi penilaian produk desain minim.

"Sebagai pekerja kebudayaan, pekerja mengalokasikan daya pikirnya dari manusia ke manusia lainnya. Kami dalam serikat ingin mendorong sistem kerja yang manusiawi," ujarnya.

Pekerja kreatif yang bekerja mengatasnamakan kecintaan dan dedikasi, kata Ellena harus melihat kembali sistem kerjanya. Pekerja kebudayaan dinilainya harus memiliki tanggung jawab besar terhadap produk budaya yang dipublikasikan karena membentuk nilai di tengah masyarakat.

"Namun sistem yang mengeksploitasi membuat pekerja budaya tercerabut dari makna kerja budaya itu sendiri," ujarnya.

Karena itu, serikat dinilainya harus bisa mendorong budaya tanding atau sistem alternatif terhadap sistem eksploitatif saat ini.


Peneliti Kathleen Azali, melalui sambungan panggilan video dari Singapura dalam Kongres SINDIKASI, menyebut Indonesia sebenarnya mengadopsi konsep ekonomi kreatif dari Inggris.

“Pertengahan 2000an adalah masa di mana kebijakan ekonomi kreatif mulai masuk Indonesia, yang menyerap kebijakan di Inggris,” ungkapnya.

Namun, ia mencatat ada kegagalan mengadopsi sistem tersebut.  Kegagalan itu terletak pada ketidakmampuan sistem menyediakan kesejahteraan bagi para pekerjanya. Ia menceritakan pernah melakukan penelitian di Surabaya, Jawa Timur.

“Pekerja kreatif dibuat seolah-olah mendapatkan angka yang menjanjikan, tetapi angkanya dari mana? 40 persen lebih pekerja dibayar di bawah upah minimum,” rincinya

Dalam situs https://youngunionactivists.wordpress.com/the-netherlands/ ,agar serikat pekerja bisa sukses, penting bagi kaum muda yang cenderung cepat kehilangan pekerjaan, freelance dan kontrak kerja dapat melihat apa yang ditawarkan oleh serikat pekerja. Solidaritas internasional merupakan tema penting di sini bagi anak muda. Selanjutnya, jembatan antara anak muda dan serikat pekerja harus merespons trend. Inilah isu-isu yang semakin banyak ditangani oleh kaum muda di dalam serikat pekerja di Belanda.


Peran terpenting serikat pekerja  adalah mewakili anak-anak muda anggota serikat pekerja dalam hal bernegosiasi untuk kesepakatan bersama. Peran penting kedua adalah mengorganisir pekerja lain untuk berorganisasi, karena tak dapat dipungkiri bahwa dengan jumlah yang banyak, maka solidaritas akan cepat dan banyak dilakukan. Jadi anak-anak muda yang berserikat akan bisa berjuang bersama yang lain.

Di Serikat SINDIKASI  misalnya, perjuangan serikat pekerja ini tak hanya pada bagaimana memperjuangkan ekonomi para pekerja, namun juga mengajak anak-anak muda untuk memperjuangkan isu Hak Asasi Manusia dan demokrasi.  Mereka juga mendorong jumlah anggota dan pengurusnya memenuhi kuota 40% perempuan, memberikan peringatan keras dan memberhentikan anggota serikat jika melakukan pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam pacaran dan lainnya.  Ini membuktikan, perjuangan SINDIKASI tak hanya pada soal ekonomi, namun juga pada soal politik, sosial dan relasi personal yang melanggar HAM.

Mutiara Ika Pratiwi, perempuan muda dan pimpinan Seknas Perempuan Mahardhika yang banyak berjuang untuk buruh perempuan menyatakan bahwa, melihat anak muda yang bergairah, terutama perempuan-perempuan muda untuk berserikat menurutnya sangat inspiratif.

Semangat ini menurut Mutiara Ika telah mampu menunjukkan bahwa daya pengetahuan atau daya kreatif yang dimiliki anak muda dan digeluti menjadi pekerjaan mereka saat ini tidak terlepas dari unsur eksploitatif dunia industri.

“Upaya tersebut tentunya bukan tanpa hambatan, karena industri kreatif ini seakan-akan menawarkan relasi kerja yang setara seperti tidak ada majikan, waktu kerja yang bisa diatur sendiri, dan tempat kerja yang bisa dimanapun.  Gerak maju yang telah dimiliki oleh para anak muda dan perempuan-perempuan muda ini, akan memperkaya strategi dan memberi metode-metode baru bagi pembangunan serikat pekerja dalam menghadapi perkembangan dunia industri saat ini,” ujar Mutiara Ika Pratiwi.

Sedangkan Khamid Istakhori, aktivis buruh Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) menyatakan bahagia rasanya, menyaksikan teman berlawan nambah satu lagi.

“Para desainer, pekerja kreatif, sineas, jurnalis, coppy writer, penulis berita dll berkumpul membuat persengkokolan untuk membentuk serikat. Saya yakin, semuanya keras kepala, susah diatur, menolak diintimidasi dan bermimpi jam kerja pendek. Deadline kerjaan kita yang tentukan. Kurang apa lagi? Tapi satu hal lagi yang menurut saya hebat, serikat pekerja muda seperti SINDIKASI akan menjadi teman buat semua serikat yang hari ini berlawan.”

Khamid Istakhoiri yakin bahwa  serikat pekerja muda seperti SINDIKASI akan menebalkan ‘persengkokolan’, perjuangan dan kasak-kusuk menolak penindasan yang sudah lama diperjuangkan para buruh.

“Saya membayangkan banyak hari HAM, hari buruh yang akan semakin semarak karena akan ada film bagus, desain poster bagus karya pekerja-pekerja muda kreatif.”

Perempuan muda, anak-anak muda, mari berlawan!


(Sejumlah band seperti Efek Rumah Kaca, Bonita and the Husband atau Maliq & d'essentials yang melakukan pementasan di acara malam penggalangan dana Serikat SINDIKASI dan poster aksi May Day SINDIKASI/ Foto: Guruh Riyanto dan Medium.com)

*Tri Umi Sumartyarini- www.Konde.co


Di sosial media, saat ini sering kita jumpai meme atau video parodi tentang ungkapan: The Power of Emak-Emak.

The Power of Emak-Emak ini menggambarkan bahwa emak-emak atau perempuan saat ini menguasai banyak ruang dan menggambarkan perilaku ibu-ibu yang mau menang sendiri, baik itu di jalanan atau di rumah. Para emak atau perempuan digambarkan sebagai orang yang tak mau kalah dan berkuasa.

Di dalam rumah tangga misalnya, ibu diidentikkan sebagai perempuan yang menguasai uang, semua gaji dari suami dikuasai oleh ibu, dan muncullah kemudian stereotype: The Power of Emak-Emak ini, karena uang dan rumah tangga yang menguasai adalah si ibu.

Demikian juga di jalanan. Perempuan diidentikan sebagai orang yang menguasai jalanan.  Padahal jika mau menelisik perilaku tidak tertib atau ngawur di jalanan misalnya, apakah benar jalanan sudah didominasi oleh ibu-ibu?

Jika menyebut ibu-ibu ini mau menang sendiri di jalan, bagaimana dengan perilaku pengendara Motor Gede (MoGe)? Pengendara motor besar atau biasa kita kenal MoGe juga banyak yang menang sendiri jika di jalan. Rombongan MoGe yang hampir semua didominasi laki-laki ini jika sedang konvoi di jalan, pengendara lain disuruh menyingkir. Mereka selalu minta prioritas.

Jika kita memperhatikan di media sosial seperti di instagram, perempuan juga masih mendapat cap miring dibandingkan laki-laki. Istilah “Pelakor” yaitu kependekan dari: Perebut Laki Orang-juga banyak saya dengar. Namun yang saya pertanyakan mengapa hanya perempuan yang mendapat julukan Pelakor?

Adakah laki-laki yang terlibat dalam perbuatan selingkuh itu mendapat julukan khusus sebagai “perebut istri orang.” Lalu mengapa jika laki-laki selingkuh tidak mendapatkan stereotype ini?

Kalau saya perhatikan, tidak ada akun media sosial yang membahas khusus tentang laki-laki yang berbuat selingkuh. Padahal hubungan perselingkuhan terjadi karena adanya dominasi kepada yang lain yang melahirkan kekerasan.

Lalu, mengapa laki-laki seolah lepas dari hujatan sebagai biang kerok perselingkuhan? Dalam konstruksi sosial di masyarakat kita, laki-laki sering mendapat imunitas jika ia melakukan hal yang menyimpang. Ujung-ujungnya biasanya laki-laki ini hanya dikomentari,

“Wajarlah, dia khan laki-laki.”

Dalam kasus perselingkuhan, seorang perempuan mendapat kecaman yang lebih kejam dibanding lelaki. Perempuan dianggap sebagai penggoda rumah tangga orang. Padahal bisa jadi faktor perselingkuhan terjadi karena laki-laki juga ada bawaan sebagai hidung belang.

Masih di jagat instagram, beberapa bulan yang lalu, juga muncul video yang menayangkan salah satu ustadz kondang, Arifin Ilham. Dengan merangkul dua istrinya, ia memperingatkan orang lain untuk berhati-hati dalam menjalani poligami. Namun di akhir pesan, ia seperti menekankan kalau antar istri bisa rukun akan lebih baik jika berpoligami.

Namun stereotype tentang kekerasan atas nama poligami ini jarang dilekatkan pada laki-laki.


Stereotype yang Berbahaya

Menilai perempuan tanpa mengamati dengan cermat adalah tindakan berbahaya. Pandangan miring terhadap perempuan berdampak pada perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan. Anggapan perempuan sebagai sosok penggoda, ceroboh, semau gue, mau menang sendiri dan the power of emak-emak nantinya akan berdampak pada perlakuan perempuan mudah disalahkan. Semisal saja, seseorang yang memiliki anggapan tidak adil pada perempuan, maka keputusan-keputusan yang diambilnya tidak akan ramah terhadap perempuan.

Dan apakah adil jika masih banyak ketidakadilan yang terjadi pada perempuan, lalu menambahkan stereotype tentang the power of emak-emak ini?

Tidak dipungkiri, saat ini banyak perempuan yang bisa merasakan kebebasan memilih apa yang ia inginkan. Hal tersebut saya sebut sebagai perubahan yang terlihat oleh kasat mata.

Namun saya ingin menarik garis lebih dalam lagi yaitu tentang mindset atau pola pikir orang kebanyakan memandang perempuan. Karena kenyataannya, tak semua perempuan bisa memilih sesuai pilihannya. Banyak perempuan yang tak bisa memilih.

Cara berpikir seperti ini penting karena pola pikir menentukan seseorang memperlakukan perempuan. Pandangan miring perempuan sejatinya saat ini masih terjadi. Kalau dahulu kala, Kartini dikurung dalam keraton setelah usia 12 tahun atau lebih dikenal dengan istilah “dipingit”. Saat ini bentuk ketimpangan terhadap perempuan mewujud dalam bentuk yang lebih modern, semisal melalui gawai.

Kira-kira 3 minggu lalu tepatnya pada 10 Agustus 2017 lalu, waktu saya melaunching sebuah buku yang berjudul: “Perempuan Titik Dua.” Ada tanggapan menarik pada saat diskusi buku kumpulan esai saya berjudul “Perempuan Titik Dua” ini. Walau pun tidak terang-terangan muncul kata “kesetaraan jender itu usang” namun saya merasa ada beberapa arah pembicaraan yang mengarah pada ungkapan tersebut.

Wacana kesetaraan jender bukanlah hasrat kuasa-menguasai. Kesetaraan jender bertujuan agar dunia lebih bersikap adil terhadap perempuan juga, tidak menginginkan laki-laki berada pada pihak yang timpang. Setara sangat berbeda dengan menguasai. Hal ini bisa ditempuh dengan jalan diskusi dan pemaknaan ulang dan mendalam hal-hal yang menyangkut tentang relasi perempuan dan laki-laki.

Jadi, pergilah kata-kata: The Power of Emak-Emak ini, karena ini semakin menguatkan stereotype pada perempuan.



*Tri Umi Sumartyarini, Seorang Ibu Rumahtangga tinggal di Demak, Jawa Tengah, Indonesia.



*Dinda Nuurannisaa Yura- www.Konde.co


Terinspirasi dari kisah nyata seorang Pekerja Rumah Tangga, Marlena

Anak perempuan itu. Tak lebih dari 14 tahun usianya, Remaja, Belia

Di saat kawan-kawan seusianya sibuk dengan buku dan pena, mengikuti mode terkini, Marlena harus meninggalkan bangku sekolah.

Dia tinggalkan rumah sederhananya di Tuban, menuju kota Surabaya. Untuk bekerja. Untuk mencari nafkah. Menghidupi keluarga.

Ada cita-cita yang dia gantungkan setinggi bintang, harapan yang ia tanam dalam-dalam.

“Aku ingin kehidupan yang lebih baik mbok, ingin punya uang, ingin belikan Simbok kain batik, Sepeda untuk Bapak, dan permen besar yang kemarin waktu di pasar untuk adik,” begitu katanya pada simboknya.

Marlena tersenyum riang. Langkah kanak-kanaknya yang riang, mengantarkannya ke kota besar. Membuatnya luluh pada keramaian yang menjanjikan, kesibukan yang melenakan.

Tiga tahun kemudian, kabar pun datang dari Marlena. Bukan, bukan kabar tentang cita-cita, bukan kabar tentang kain batik, sepeda, ataupun permen besar.

Sebuah Surat kabar dan tv-tv di Surabaya, menulis begini:

"Pemirsa, berita selanjutnya adalah dari seorang PRT yang bernama Marlena. Marlena adalah korban yang sering dihukum, tidak diberi makan selama berhari-hari dan sering dipaksa makan makanan membusuk dan dipaksa minum air bekas cucian,"

 "Gajiannya dibawa majikan. Kalau korban melakukan kesalahan seperti mencuci pakaiannya dan luntur, gajinya langsung dipotong. Lemari es rusak dan diservice, tapi biaya service diklaim ke korban karena tersangka yang adalah majikannya menuduh lemari es itu dirusakkan korban.

 "Korban sering disiksa, dipukuli dengan sapu, alat penggorengan yang masih panas, diinjak, disiram air panas, dicubit, ditendang dan dirantai yang dilakukan tersangka pada waktu berurutan dan disiksa secara perorangan ataupun bersama-sama,"

Ada lagi berita tv seperti ini:

Pemirsa, korban yang pernah disekap dan tidak diberikan makan dan minum selama seminggu itu, disuruh tidur bersama anjing herder. Kandang anjing itu juga kotor dan bau pesing. Korban hanya tidur berlaskan bekas daun pintu yang terbuat dari triplek.

 "Dengan kondisi kaki dirantai, korban disuruh ngepel mulai pagi sampai malam hari. Jika salah, maka korban langsung ditendang dan injak-injak,"

Kemudian apa yang terjadi?

Marlena mengalami cacat tubuh permanen. Tubuhnya mengalami luka bakar permanen, memar, melepuh. Bagian tubuh yang mengalami luka,  kaki, tangan, dan punggung. bahkan paha remaja itu terancam diamputasi akibat luka yang sangat parah.”

Marlena. Marlena. Itukah Marlena kita yang lugu dan plos? Yang usianya tak lebih dari 14 tahun ketika meninggalkan rumah sederhananya di desa?

Di saat kawan-kawan seuisianya tengah mencapai puncak remaja, merangkai cita, menggapai cinta. Marlena terbaring tak berdaya di rumah sakit. Tubuhnya tak lagi sama dengan berbagai legam, dan bilur. Dalam tidurnya Marlena melihat rumahnya yang teramat sederhana.

Di rumah itu, ada Simbok, ada Bapak dan ada adik.

"Gak papa ya mbok, aku gak bawa apa-apa mbok. Aku gak bawa uang, gak ada kain untuk simbok, gak ada sepeda untuk bapak,dan gak ada permen besar untuk adik. Gak papa ya mbok ya"

Bapak dan simbok tersenyum, merentangkan tangan, dan membawa Marlena ke dalam pelukan.



(Simbok: ibu)

*Dinda Nuurannisaa Yura, sehari-hari aktif di Solidaritas Perempuan di Jakarta.


*Kustiah- www.Konde.co

Usia boleh tua. Kulit boleh keriput pun tubuh boleh tak tegap dan tak kuat lagi. Namun kedua perempuan yang saya temui ini tak menyerah dengan keadaan.

Sore itu Minggu (9/7/ 2017) di seberang Sekolah Menengah Pertama  Kartayuda Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, Blora, Jawa Tengah, Sainem, 85 tahun, sedang berkemas.

Serenteng kerupuk, kacang tanah sangrai, kacang kedelai yang dibungkus plastik ukuran kecil, permen, balon, dan aneka jajanan anak-anak yang diletakkan di meja bambu satu per satu dimasukkan ke kantong plastik hitam.

Sainem melakukannya perlahan-lahan. Sore itu matahari hendak menenggelamkan diri. Tak lama suara adzan maghrib dari mushola tak jauh dari tempat mbah Sainem berjualan berkumandang.

Mbah Sainem berjualan aneka jajanan anak-anak sejak usianya belasan tahun. Saat itu anak-anaknya masih kecil. Suaminya seorang buruh tani meninggal saat tiga anaknya sudah berumah tangga. Sejak kepergian suaminya itulah Sainem hidup sebatangkara.

Ia awalnya menolak ajakan anaknya untuk tinggal bersama. Namun karena usianya semakin tua, dengan kondisi tubuhnya yang makin lemah, Sainem akhirnya menerima ajakan anak sulungnya.

Meski tinggal bersama anak, Sainem tetap bekerja dengan berjualan semampunya. Ia enggan menggantungkan hidup kepada anak-anaknya. Dalam sehari ia membawa pulang uang rata-rata Rp.20 ribu. Dan terkadang tak membawa uang sama sekali karena tak ada yang membeli daganganya.

"Jenenge wong dagang bu. Kadang payu kadang sepi (Namanya berdagang bu. Kadang laku kadang juga sepi)," ujarnya kepada penulis.

Di Pagi hari Sainem berjualan di pasar yang jaraknya sekitar 150 meter dari rumah anaknya. Sementara sore hari ia berjualan di pinggir jalan yang jaraknya sekitar 30  meter dari rumah tempat ia tinggal.


Kehidupan Sukiyem (79) juga tak jauh beda dengan Sainem. Ia hidup sebatangkara di sebuah rumah berdinding bambu dan berlantai tanah. Di dalam rumahnya yang berukuran 67 meter sehari-hari Sukiyem sibuk membuat kerupuk.

Sukiyem tak mempunyai anak dan suaminya meninggal dua tahun lalu. Setiap pagi ia berjualan kerupuk di pasar yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Dulu semasa suamihya masih hidup suaminyalah yang mengantar Sukiyem ke pasar menggunakan sepeda. Sekarang ia diantar anak keponakannya menggunakan sepeda motor yang Sukiyem beli.

Berbeda dengan Sainem, Sukiyem lebih beruntung karena bisa memproduksi kerupuk yang berbahan tepung tapioka sendiri. Sepulang dari pasar Sukiyem bisa membawa pulang uang rata-rata Rp100 ribu. Jika sedang ramai seperti saat menjelang Lebaran ia bisa mengantongi uang sebanyak Rp 300-400 ribu.

"Mergo akih sing mudik nduk. Akih entuke (Karena banyak yang mudik nak. Banyak larisnya," ujarnya.

Baik Sainem maupun Sukiyem mengaku sudah biasa hidup susah. Namun mereka, sekali lagi, pantang menyerah dengan keadaan. Pantang menengadahkan tangan dan menyusahakan orang lain.

Prinsip hidup mereka hampir sama "Ora elok nek isih diparingi sehat karo sing nggawe urip tangan dienggo njaluk-njaluk (Tidak pantas kalau masih diberi sehat oleh Yang Memiliki hidup tangan dipakai untuk meminta-minya)," ujar Sainem yang juga diamini oleh Sukiyem.

Kedua perempuan kelahiran Blora ini tak mengeluh dan tak merutuki nasib meski hidup serba pas-pasan bahkan lebih tepatnya jauh dari kata cukup.


(Sukiyem dan Sainem, ibu penjual jajanan dan kerupuk di pasar/ Foto: Kustiah)


*Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com, saat ini pengelola www.Konde.co dan pengurus Alians Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.


Luviana- www.Konde.co


Setiap orang pasti punya rahasia kecil. Rahasia kecil dalam hidupnya.

Namun jika sudah dibagikan, pasti ini namanya bukan rahasia lagi.

Dan ternyata banyak juga yang tak bisa menyimpan rahasia kecil,” Jangan bilang-bilang ya, cuma kamu saja yang tahu.”

Ini yang paling banyak terjadi. Dan memang kadang sulit menyimpannya. Ada beberapa rahasia kecil dari teman saya yang ia bagi ketika ia sudah dewasa:


1. Rahasia Pertama

Salah satu teman perempuan saya bercerita bahwa dulu ibunya pernah punya rahasia kecil. Ibunya berjanji bahwa rahasia kecilnya ini akan dibagikan pada teman saya, ketika teman saya dewasa.

Dan apakah rahasia kecilnya? Rahasia kecil yang selama ini disimpan ibunya rapat-rapat adalah: ketika ayah teman saya ini, suami dari sang ibu pernah berselingkuh. Rahasia ini ia tutup rapat hingga teman saya dewasa.

Memang ayah dan ibunya sudah lama berpisah, waktu ia kecil. Namun ibunya tak pernah mengatakan apa alasan ayahnya pergi dari rumah.

“Ibu tak pernah menceritakan sesuatu yang buruk tentang ayah ketika saya kecil. Semarah apapun ibu, seburuk apapun kondisi kami waktu itu. Ia hanya bilang, bahwa ia punya rahasia kecil yang akan ia bagikan ketika saya dewasa nanti. Setelah dewasa, saya sudah lupa jika ibu punya rahasia itu. Sampai jelang saya menikah, ibu baru menceritakannya.”


2. Rahasia Kedua

Rahasia kecil lain, saya dapatkan dari teman saya yang lain. Ia mengumpulkan semua foto orang-orang yang berpengaruh pada anaknya, sejak anaknya lahir. Foto-foto itu ia simpan rapi dalam sebuah album foto, karena dulu belum ada sosial media atau flash disk untuk menyimpan foto.

Ketika anaknya besar, foto-foto itu diperlihatkan ke anaknya.

Teman saya, sang ibu bilang,” Ini loh, nak..orang-orang yang berpengaruh besar dalam hidupmu. Ada Mbak Surti, Pekerja rumah tangga yang mengasuhmu sejak kecil, ada guru SD ibu Ema yang mengajarimu membaca, juga ada nenek uban yang mengajarimu berjalan untuk pertamakalinya.”


Menerima Rahasia Kecil

Menerima rahasia kecil ini ternyata tak mudah. Anak teman saya yang diperlihatkan foto-foto tersebut, menjadi terharu.

Namun teman saya yang ayahnya berselingkuh, ternyata tak mudah menerima itu. Sejak menerima cerita itu dari ibunya, tiap hari yang ia rasakan yaitu: marah. Bertahun-tahun ia mengalami itu.Ibunya mengajaknya healing, melakukan meditasi atas kemarahan-kemarahan itu. Ibunya bercerita bahwa dulu ibu pernah menuntut ayahnya, namun ayahnya memang bukan orang yang bertanggungjawab.

Namun dari seringnya bermeditasi dengan sang ibu, temen saya kemudian merasa bersyukur bahwa ibunya adalah orang nomer satu yang menyelamatkan hidupnya. Bapak meninggalkan mereka, dan ibu tetap tinggal bersamanya.

Bagiku, ibu adalah number one. Orang yang tak pernah mengurangi rasa sayang pada anaknya, padaku walau bapak memperlakukannya dengan buruk dan lantas pergi. Tak mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sekarang, tak ada lagi rahasia kecil itu. Ibuku selalu punya banyak waktu untuk meditasi bersamaku.

Ibu telah menyimpannya rapat-rapat. Dan sekarang, kami menikmati ketulusan ibu, perjuangan panjang ibu bagi keluarga kami, juga rahasia kecil ibu.

Ibuku, Number One.


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Morgan Oey adalah salah satu artis yang membacakan tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) pada acara monolog dan launching buku PRT yang berjudul: Kami Tak Akan Diam yang diadakan International Labour Organisation (ILO), JALA PRT dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. Acara ini diadakan pada Kamis, 10 Agustus 2017 di wisma nusantara.

Morgan telah hadir satu jam sebelum acara monolog dilakukan dan pulang ketika acara usai. Ia membaca cerita tentang nasib anak yang kemudian menjadi PRT di kota. Dalam kisah yang ia bacakan, PRT tersebut belum pernah bekerja sebelumnya dan harus dipaksa bekerja ketika usianya masih anak-anak.

“Penindasan itu terjadi bukan hanya dilakukan oleh pemerintah, namun juga oleh majikan,” begitu Morgan Oey dalam kalimat pembuka di dalam tulisan tersebut.

Riuh rendah tepuk tangan tampak terjadi setelah Morgan, artis yang bermain dalam sejumlah film ini turun panggung. Monolog itu terasa ada jeda ketika banyak PRT yang kemudian berfoto bersama Morgan.

Selain Morgan Oey, artis lain yang membacakan tulisan PRT dalam acara Monolog dan Launching Buku PRT 15 Agustus 2017 lalu ada: Nia Dinata, Lukman Sardi dan Sari Nila.

Nia Dinata menyatakan bahwa ternyata dalam hidupnya, ada seorang yang selalu menemaninya, yaitu: PRT. PRT adalah orang yang selalu di rumah yang membantu menyediakan segala sesuatu. Ia juga merasa senang karena pembacaan ini merupakan bagian dari perjuangannya.

“Saya adalah seorang pekerja dan PRT juga pekerja, mari kita sesama pekerja berjuang secara bersama-sama.”

Di Monolog tersebut, Nia Dinata membacakan tulisan Yuni Sri, seorang PRT yang kemudian belajar menulis. Tulisan Yuni Sri saat ini sudah dimuat di banyak media online dan sosial media. Dalam tulisan tersebut, Yuni Sri menuliskan bagaimana ia diundang menjadi salah satu pembicara diskusi tentang “Internet dan Perempuan” yang diadakan www.Konde.co  pada bulan November 2016 lalu.

Yuni menceritakan bahwa itu merupakan pengalaman pertamanya yang tak pernah dilupakannya karena ia diundang sebagai pembicara tentang jurnalisme warga depan masyarakat. Nia Dinata juga menyatakan senang bisa berjuang bersama para PRT.

Presenter Sari Nila juga menyatakan hal yang sama, buatnya PRT adalah orang yang selama ini sangat berjasa dalam hidupnya. Sari Nila menyatakan, ia tak pernah kuatir dalam bekerja karena ada PRT yang menjaga anak-anaknya.

“Kalau suami keluar kota saya tidak bingung, tapi kalau PRT pulang, saya sangat bingung,” begitu ungkap Sari Nila.

Sejumlah cerita tentang kehidupan PRT memang dibacakan dan ada dalam buku ini. Salah satu cerita yang membuat banyak orang sedih adalah cerita tentang PRT bernama Ida Parida namanya. Ia menjadi PRT sejak umur 8 tahun. Bekerja membersihkan rumah, mencuci, seterika, memasak sesuatu yang ia tak bayangkan. Saudaranya mengajaknya ke Jakarta dan menitipkannya ke sebuah yayasan untuk menginap. Jadilah ia PRT di Jakarta sejak ia berumur 8 tahun. 7 tahun kemudian ia baru bisa pulang dan bertemu orangtuanya. Menjadi PRT anak ini merupakan nasib yang sulit ia jalani. Tapi apa daya, nasib menentukan lain.

Ada juga cerita dari Nurlela. Nur adalah PRT yang kemudian menjadi korban kekerasan. Dengan membaca Kisah yang dialami para PRT ini, sejumlah artis dan undangan yang hadir seperti diingatkan pada kehidupan mereka sehari-hari.


(Foto: Lukman Sardi dan Morgan Oey dalam Launching dan Monolog Buku PRT "Kami Tak Akan Diam")

*Ika Ariyani- www.Konde.co

Waktu saya bekerja di lingkungan yang kental dengan budaya patriarkal, teman-teman lelaki yang sudah menikah memiliki hal-hal kecil yang saya simak:

Pada suatu kesempatan, kantor kami kala itu akan melaksanakan rekreasi akhir tahun. Ketika sedang rapat, salah seorang teman diminta untuk membawa mobilnya dalam acara ini. Ketika itu teman laki-laki ini berkata:

“Sebentar, saya tanya istri saya dulu.”

Lalu ia pergi ke luar dan menelepon istrinya.

Para lelaki di ruang itu lalu tertawa habis-habisan, mereka berseru, “Dia takut istri!, pasti mobil itu dibeli oleh istrinya.”

Perihal ‘takut istri’ ini merupakan lelucon yang digemari di lingkungan patriarkal. Mengetahui ada seorang lelaki yang kedapatan melakukan hal-hal seperti belanja di pasar, menjemur pakaian, pendapatnya dibantah istri di depan orang lain, pulang cepat saat nongkrong bareng teman lelaki, atau hal kecil seperti membuka pintu mobil untuk istrinya, pasti akan menjadi bahan pergunjingan yang disukai, dan pasti pada orang tersebut akan menempel label ‘takut istri’.

Saya tidak mengerti mengapa lelaki begitu angkuh sehingga mereka mengiklankan slogan bahwa suami yang takut istri itu cemen.

Sungguh aneh rasanya saat mengetahui realitas bahwa seorang lelaki yang jatuh cinta dan tergila-gila pada seorang perempuan, dulu memandang bahkan menyentuh tangannya saja pun takut dan akan melakukan apa saja bahkan melampaui kemampuannya untuk mencuri hati pujaannya, tiba-tiba setelah menikah, mereka menuntut agar istri patuh padanya. How come?

Sesungguhnya, istilah takut istri mengindikasikan bahwa istri tidak boleh ditakuti karena perkawinan sejatinya adalah sebuah relasi antara keduanya. Apakah pernikahan hanya sebatas diartikan siapa yang menang, antara suami dan istri? Agar terlihat sebagai suami yang berwibawa di mata masyarakat? Supaya apa?

Sebagian perempuan juga mengamini bahwa suami takut istri adalah hal buruk, sehingga mereka yang sudah menikah sedapat mungkin menjaga relasi dengan suaminya.

Di satu sisi, perempuan di mata masyarakat juga sering diposisikan sebagai individu yang lemah dan bergantung kepada suami, Inilah yang selalu memberatkan perempuan. Sehingga perempuan selalu diidentifikasi sebagai orang yang takut kehilangan suaminya kemudian melakukan hal-hal berlebihan yang tidak ia sadari seperti cemburu berlebihan, mengatur suami, meminta perhatian suami sepenuhnya, membatasi aktivitas di luar rumah dan menganggap dirinya sebagai istri membutuhkan banyak perhatian karena telah menjalani hidup yang membosankan di rumah setiap hari.

Identifikasi inilah yang selalu memberatkan perempuan. Padahal pertanyaanya, mengapa perempuan mengatur suaminya? Benarkah laki-laki suami ini adalah orang yang mau bertanggungjawab atas perkawinan yang telah ia pilih? Benarkah ia paling banyak meninggalkan rumah, tak banyak berada di rumah, tak pernah membantu kesibukan domestik, pulang pagi, tidur dan tak melakukan apapun di rumah? Apakah ia memberikan perhatiaan pada istri dan anaknya seperti janjinya pada upacara perkawinan dulu?

Walau tidak semua relasi terjadi seperti ini. Karena hal tersebut tidak terjadi pada beberapa teman saya,  mereka saling support satu sama lain, saling belajar, dan saling mengembangkan diri tanpa mempedulikan penilaian orang lain. Pasangan dipandang sebagai sahabat, partner, dan kekasih yang setara dengan dirinya, pasangan juga bebas untuk menjadi hebat dan memaksimalkan potensinya. Tidak ada ketakutan bahwa pasangan yang hebat akan meruntuhkan harga diri, karena sekali lagi, tidak ada persaingan dan kalah menang dalam rumah tangga.

Jadi sudahlah, berhenti menilai dan mengomentari hidup orang lain apalagi menstigmakan sebagai: suami yang takut istri.

Jika kita menertawakan seorang suami dan menyebutnya takut istri, maka setelah ia pulang ke rumah, ia akan menganggap istrinya adalah seseorang yang menyebalkan karena akibat sikap istrinya, ia mengalami perisakan oleh lingkungan sekitar. Tidak semua suami bisa mengabaikan bullyan tersebut, ada yang malah terpengaruh dan akhirnya malah membenci istrinya.

Teman saya tadi menelepon istrinya karena selalu sepakat untuk mendiskusikan dan mengkomunikasikan apapun dengan istrinya, ia menghargai pendapat istrinya, bukan berarti karena ia seorang suami, maka ialah yang selalu mengambil keputusan. Tidak ada yang perlu ditakuti dari seorang istri.

Istri adalah kini partnermu yang dulu membuatmu jatuh cinta karena kamu mengaguminya. Lalu, mengapa harus takut istri?



(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Ika Ariyani, seorang penulis, tinggal di Surabaya dan aktif melakukan kampanye di sosial media


*Marisna Yulianti- www.Konde.co

Tak cukup hanya cinta. Barangkali inilah yang harus digarisbawahi untuk menolak perkawinan anak. Perkawinan di usia anak adalah usia rentan. Mereka seharusnya mendapatkan pendidikan dan hak kesehatan yang baik yang mungkin tak bisa mereka dapatkan dari perkawinan yang dilakukan di usia anak.

Awal bulan Juli 2017, sebuah berita tentang sebuah pernikahan yang berlangsung di Desa Karangendah, Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan tiba-tiba menjadi pembicaraan masyarakat. Berita tersebut menuliskan pernikahan antara seorang anak laki-laki berusia 16 tahun bernama Selamet Riyadi dan perempuan tua berusia 71 tahun bernama Rohaya.

Media sosial dan gerai berita online dibanjiri gambar dan video Selamet bersumpah dalam upacara perkawinan untuk menjalin hubungannya dengan Rohaya sebagai suami istri.

Perkawinan tersebut tidak terdaftar, dikenal sebagai Nikah Siri, yang walaupun tidak diakui secara formal oleh negara, dianggap sah menurut hukum Islam. Kemudian, pasangan tersebut diundang ke sebuah acara bincang-bincang Hitam Putih yang dibawakan presenternya: Dedy Corbusier, di mana mereka diminta untuk memperagakan sesuatu sebagai bagian dari acara reality show acara tersebut.

Sebelum dihadapkan dengan kamera, lagi-lagi Rohaya dan Selamet saling membelai dengan penuh kasih sayang mereka satu sama lain, yang kemudian disambut oleh tawa dan cekikikan dari penonton.

Pernikahan Rohaya dan Selamet terus mengisi berita dan topik trending people dalam beberapa minggu terakhir, fakta tentang kehidupan pernikahan pasangan ini satu demi satu mulai muncul. Tidak jelas apakah Selamet saat ini masih di sekolah, namun wawancara di acara Hitam Putih mengungkapkan bahwa sekarang Selamet telah berperan sebagai penyedia keuangan rumah tangga dengan melakukan pekerjaan di desa mereka tinggal.

Ketika dia pergi bekerja, Rohaya tinggal di rumah dan mengurus rumah tersebut. Karena cemburu, Selamet sering mengunci Rohaya di rumah saat dia pergi karena dia khawatir Rohaya akan berkeliaran dengan lak-laki lain. Selamet juga nampaknya tidak mengerti konsep prokreasi, karena ia dengan penuh semangat menyatakan kepada khalayak bahwa ia ingin memiliki anak dengan Rohaya. Sesuatu yang memicu tawa kolektif lain dari penonton.

Namun sejatinya pernikahan Rohaya-Selamet adalah Bentuk Perkawinan Anak karena Slamet masih di bawah umur. Dan bagaimana media dan masyarakat bereaksi terhadap berita tersebut, satu hal sudah jelas. Mereka sepertinya menganggap lucu bagi anak laki-laki seperti Selamet untuk jatuh cinta dengan perempuan tua seperti Rohaya. Seolah-olah kita sengaja mengabaikan fakta bahwa anak laki-laki itu, Selamet masih baru berusia 16 tahun.

Tidak ada suara dari otoritas, termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), padahal sebenarnya pernikahan anak telah lama dianggap sebagai ancaman serius bagi pemenuhan hak anak. Reaksi orang justru sebaliknya, yaitu mentertawakan keduanya. Padahal ini merupakan bentuk ketidakpedulian masyarakat terhadap sesuatu. Dan tidak sewajarnya jika masyarakat menjadikan ini sebagai bahan tertawaan.

Ada sejumlah perkawinan anak lain yang juga pernah terjadi dan menjadi berita di media, yaitu ketika kasus perkawinan anak serupa muncul kembali di tahun 2008. Saat itu Syekh Puji, seorang pengusaha dari Semarang, dibawa untuk diinterogasi oleh otoritas dan dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp. 60 juta rupiah karena menikahi seorang anak berusia 12 tahun.

Tindakannya terbukti melakukan kejahatan terhadap Hukum Perlindungan Anak. Anak perempuan dalam konteks ini dipandang sebagai makhluk lemah, tidak berdaya dan emosional yang membuat mereka rentan terhadap bahaya dan rasa sakit, sementara laki-laki dianggap kuat dan tegas sehingga dianggap bisa menikahi anak perempuan.

Dikotomi feminitas dan maskulinitas ini telah menyebabkan anggapan umum bahwa laki-laki mandiri dan karena itu dapat menjaga dirinya sendiri, bahkan ketika mereka berada dalam situasi yang sulit atau terjebak dalam hubungan yang buruk. Meskipun benar bahwa mayoritas perkawinan anak melibatkan anak perempuan, tapi anak laki-laki juga bisa menjadi korban.

Menurut data terakhir yang dikumpulkan oleh UNICEF, 18 persen dari mereka yang menikah sebelum usia 18 tahun adalah anak laki-laki, sementara sekitar 82 persen adalah anak perempuan. Untuk laki-laki, publik banyak menganggap bahwa Selamet sebagai orang yang mandiri yang bisa memilih untuk menikahi Rohaya. Padahal posisinya sebagai anak-anak  sangat rentan.

Selamet, dalam kasus ini, sama rentannya dengan gadis berusia 12 tahun yang menikah dengan Syekh Puji 9 tahun yang lalu. Tapi tetap saja, kami memilih untuk tidak pernah mentertawakannya. Karena perkawinan anak merupakan suatu persoalan serius yang harus terus diadvokasi karena Indonesia harus bebas dari perkawinan anak.

Perkawinan anak tidak hanya akan membuat anak perempuan menderita secara psikologis, namun juga secara seksual, misalnya: anak perempuan seharusnya tidak boleh melahirkan di usia di bawah 19 tahun karena ini akan membahayakan kesehatan reproduksinya. Di luar itu, seharusnya mereka, anak-anak seharusnya bisa mengakses pendidikan tinggi terlebih dahulu sehingga mereka bisa menentukan pilihannya ketika dewasa. Pendidikan akan melepaskan anak dari faktor kemiskinan panjang.

Perkawinan anak di Indonesia terjadi di banyak tempat. Bahkan di Asean, Indonesia menempati peringkat kedua dalam hal jumlah perkawinan anak setelah Kamboja.

Bahkan tradisi atau budaya di sejumlah wilayah di Indonesia memang menganggap perkawinan pada usia anak sebagai suatu hal yang wajar. Seperti jika anak perempuan tidak segera memperoleh jodoh, maka orang tua kemudian merasa malu karena anaknya belum juga menikah. Anak-anak perempuan yang belum menikah ini  kemudian akan mendapat stigma sebagai perawan tua oleh masyarakat. Stigma ini yang kemudian membuat orangtua tidak tahan, mereka merasa ada yang salah dengan anak perempuannya. Mengapa anaknya tidak laku-laku seperti anak perempuan lainnya. Akibatnya perempuan atau anak-anak perempuan merasa seperti mendapat stigma sebagai orang yang tidak laku dan kemudian harus mendapatkan sebutan sebagai perawan tua. Akibatnya banyak anak-anak perempuan yang harus dinikahkan secara cepat setelah itu

Dalam perkawinan anak, ada sejumlah pertimbangan penolakan. Tidak hanya soal pendidikan namun juga kesehatan reproduksi, penolakan terhadap stigma makna perkawinan jadi, tak cukup hanya cinta.


*Marisna Yulianti, saat ini bekerja sebagai spesialis gender yang bekerja untuk mengintegrasikan gender ke pengelolaan pertanian, sumber daya alam berkelanjutan dan energi terbarukan. Selain karyanya mengenai pemberdayaan perempuan dan pengarusutamaan gender, Marisna juga merupakan promotor maskulinitas alternatif dan sekarang menjadi kontributor dan relawan di Aliansi Laki-Laki Baru, sebuah gerakan untuk meningkatkan kesadaran akan konsep tanpa kekerasan dan kesetaraan. 



*Fetty Fajriatin- www.Konde.co

Barangkali isu kekerasan dalam pacaran adalah isu yang belum diketahui banyak orang, bahkan beberapa teman saya bertanya-tanya "Memang ada kekerasan dalam pacaran?".

Menurut catatan dari Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Tahun 2017  terdapat sekitar 259.150 laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan dalam wilayah pribadi, 56 diantaranya terjadi dalam perkawinan, 21 persen dalam hubungan pacaran dan 17 persen terhadap anak-anak.

Lalu sebenarnya apa sih kekerasan dalam pacaran itu?. Menurut saya, pacaran adalah suatu hubungan yang kadang banyak merugikan. Bukan hanya secara fisik namun juga finansial dan emosional. Lalu bagaimana bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran?

Terdapat 10 bentuk atau tanda kekerasan dalam pacaran:

1. Menggunakan kekerasan fisik untuk menyakitimu 

Jika pasanganmu sering melakukan kekerasan fisik apapun itu, meskipun menurutmu itu hanyalah suatu dorongan, menoyor atau mencengkram, pasanganmu sudah melakukan kekerasan dalam pacaran.

2. Mengecek ponsel, email dan sosial media tanpa izin

Masyarakat kita tahu apa yang baik dan benar tetapi kurang mengetahui tentang hak-hak mereka. Hal sesederhana privasi saja masih dianggap remeh. Banyak yang menganggap mengecek handphone atau sosial media bukanlah suatu bentuk kekerasan. So, kalo pasangan ngecek HP atau sosmed tanpa izin atau dengan paksaan itu bukan tanda sayang, melainkan: TIDAK SOPAN.

3. Posesif atau cemburu yang berlebihan
Kata orang sih cemburu itu tanda sayang, tapi kalo berlebihan apa iya masih bisa disebut tanda sayang?

4. Menguntit secara fisik ataupun digital

5. Menjauhkanmu dari keluarga dan sahabatmu

Kadang banyak pasangan lupa bahwa jauh sebelum pacaran, kita adalah individu dengan segala kehidupan dan aktivitasnya masing-masing. Lalu apa hak pasangan menjauhkan kita dari sahabat bahkan keluarga kita, seolah-olah kita hidup hanya untuk membahagiakan dan melayani dia.

6. Emosi yang meledak-ledak

7. Selalu meremehkan dan mengejekmu

Saya sering sekali melihat teman saya dikatain 'goblok' 'lemot' atau bahkan menjadi bahan tertawaan pacarnya sendiri. Dear, listen to me tidak ada satupun orang yang boleh meremehkan dan mengejekmu apalagi orang yang ngakunya sayang. Everyone worthlife.

8. Memaksa berhubungan seks

9. Menolak menggunakan kontrasepsi

10. Tuduhan tanpa alasan 

Kekerasan dalam pacaran terjadi karena cinta masih dianggap sebagai suatu kepemilikan. Aku cinta kamu, maka kamu milikku. Bagai anak kecil yang memiliki mainan, ia akan marah jika mainannya dipinjam apalagi diambil. ditambah lagi adanya hubungan  yang timpang atau tidak setara antar keduanya.

Hal yang dapat kita lakukan jika kita merasa bahwa kita korban kekerasan dalam pacaran yaitu:

1. Pertama, adalah percaya kata hati dan mengakui  bahwa ada yang tidak beres dengan hubunganmu.

Biasanya para korban melakukan penyangkalan seperti "Ah enggak kok, dia bukan kaya gitu" atau kompensasi seperti "Dia pasti berubah kok" seperti itu terus hingga kekerasan semakin berlanjut.

2. Kedua, yaitu jangan pernah hilang kontak dengan sahabat-sahabat terdekat. Ingatlah bahwa sebelum kamu punya pacar, sahabat-sahabatmu sudah mewarnai kehidupanmu duluan.

3. Yang terakhir adalah pentingnya membangun kesadaran (consent) dalam suatu hubungan. Buatlah kesepakatan dalam hubunganmu, apa yang boleh dan tidak, apa yang disukai dan tidak, sehingga terciptalah hubungan yang setara. Hubungan yang: saling, bukan: paling.

Hal sederhana yang dapat dilakukan agar tidak terjadi Kekerasan dalam pacaran adalah dengan memperlakukan pasangan sebagai manusia, bukan memperlakukannya seperti  benda atau properti.

Penting bagi kita untuk mengedukasi siapapun yang belum tahu dan sadar akan kekerasan dalam pacaran.

Tidak mudah memang, karena barangkali hal yang paling sia-sia adalah menasehati orang jatuh cinta. Namun kita tidak boleh menyerah karena melawan kekerasan dalam pacaran atau dalam relasi apapun adalah tugas kita bersama.


*Feti Fajriyatin, adalah seorang mahasiswi sosiologi yang sedang berjuang memakai toga secepatnya, sekaligus aktivis Rumah Gender FISIP Unsoed.  

Melly Setyawati - www.konde.co

Pada 17 - 19 Agustus 2017, kemarin, telah diselenggarakannya Festival Film Merdeka (FFM) Pertama di Kota Solo. 

Acara ini memang bertujuan untuk memeriahkan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 dengan mengusung semangat untuk mengembalikan film sebagai tontonan rakyat. 

Film-film yang diputar di FFM memang sudah terseleksi, syaratnya harus mengusung tema toleransi dan bisa ditonton oleh segala lapisan usia. 

Dengan durasi film yang tidak terlalu panjang. Sebab memang FFM juga ingin mengkampanyekan toleransi terhadap keberagaman dengan cara yang lebih menghibur. 

Peserta FFM memang sineas dari hampir seluruh Indonesia, yang paling jauh berasal dari komunitas pembuat film Kaimana di Papua. 

Layar tancap menjadi sarana tontonan, dengan pemutaran pemutaran layar tancap di beberapa titik pemutaran di wilayah Kecamatan Solo. 

Ada 5 kampung yakni  Kampung Purwonegaran dan Kampung Bratan di Kecamatan Laweyan Kampung Setabelan dan Kampung Punggawan di Kecamatan Banjarsari,  Kampung Mojosongo di Kecamatan Jebres, dan Kampung Tirtosari di Kecamatan Serengan

Pemutaran layar tancap di kampung memang sebagai Program Layar Rakyat di FFM yang diputar serentak pada tanggal 17-18 Agustus 2017. 

Dan Program Pesta Film Rakyat, sebagai malam puncak penutupan telah digelar di Plaza Sriwedari pada 19 Agustus 2017 kemarin, berupa pentas musik, bazaar makanan dan pemutaran layar tancap besar. Sriwedari merupakan salah satu tempat berkumpulnya para seniman di Kota Solo dan termasuk bagian ikon budaya yang melekat dengan kota Solo.

Puncak FFM di Plaza Sriwedari, 19 Agustus 2017

Penggerak dari FFM ini adalah Komunitas Kembang Gula yang merupakan kumpulan para pelaku perfilman di kota Solo, kumpulan ini memang punya cita-cita yang besar untuk keberagaman.

Dalam kegiatan tontonan rakyat ini, Kembang Gula juga melibatkan Karang Taruna di perkampungan untuk turut serta dalam kegiatan ini. Sehingga film tidak hanya menjadi tontonan semata namun juga bisa menjadi sarana belajar dan berproses bersama.

"Harapannya FFM yang pertama ini bisa berlanjut menjadi kegiatan rutin tahunan di Kota Solo dengan pemutaran layar tancap di seluruh titik kelurahan di Solo" ungkap Mazda selaku panitia FFM Pertama di Kota Solo.

Persiapan-persiapan yang sedang diupayakan dengan melakukan workshop-workshop produksi film di kampung. Sehingga, masyarakat Solo dapat memiliki dasar-dasar pembuatan film.

Solo menjadi lebih semarak dengan kegiatan-kegiatan seni dan budaya yang lebih beradab dan toleran.

sumber foto: Panitia FFM


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co – Anak-anak di Indonesia Timur, termasuk anak-anak perempuan disana, terbukti jauh tertinggal. Anak-anak di Papua misalnya, mereka tertinggal dalam mendapatkan akte kelahiran. Bayi dan balita di Papua juga paling rentan terhadap kematian.Mereka juga tertinggal dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Perkumpulan Kaum Muda Merdeka atau Kamuka sangat menyayangkan atas lambannya pemerintah Indonesia dalam pemenuhan dan pemerataan hak dasar anak, khususnya di kawasan Indonesia bagian timur.

Kamuka pada 16 Agustus 2017 lalu, mengeluarkan hasil kajian tentang ‘Indeks Pemenuhan Hak Dasar Anak Berbasis Provinsi di Indonesia’. Kajian ini merupakan agenda tahunan yang ditujukan untuk mengukur sejauh mana pemerintah Indonesia telah mencapai pemenuhan hak dasar anak.

Bagus Yaugo Wicaksono, Direktur Perkumpulan Kamuka dalam pernyataan persnya menyatakan secara keseluruhan, hasil penghitungan ini telah menempatkan masing-masing provinsi kedalam 4 kategori yaitu: kategori sangat tinggi, tinggi, menengah dan kategori rendah.

Provinsi yang menempati peringkat tertinggi adalah DI Yogyakarta, dengan skor 0,887. Sedangkan peringkat terendah adalah Provinsi Papua, dengan skor 0,235.


Pengakuan Kewarganegaraan Pada Anak-anak Papua Masih Rendah

Dalam dimensi pemenuhan hak kewarganegaraan, indikator yang digunakan adalah proporsi anak usia 0-17 tahun yang memiliki dan dapat menunjukan akta kelahiran dari kantor catatan sipil.

Dari 34 provinsi se Indonesia, berdasarkan pengkategorian, menunjukan bahwa 7 provinsi mendapat kategori pemenuhan hak kewarganegaraan Sangat Tinggi; 4 provinsi masuk dalam kategori Tinggi; 8 provinsi masuk kategori Menengah; dan 15 provinsi masuk dalam kategori Rendah.

Kepulauan Bangka Belitung menempati peringkat tertinggi, dengan skor 1,000. Nilai aktual dari  proporsi pemenuhan atas hak kewarganegaraa di Kepulauan Bangka Belitung adalah 75,10%.2 Sedangkan skor terendah adalah Provinsi Papau, dengan skor 0,000. Nilai aktual proporsi pemenuhan hak kewarganegaraan di Papua adalah 17,64%.


Bayi dan Balita di Papua Barat Paling Rentan Terhadap Kematian

Dimensi pemenuhan hak hidup diukur dengan dua indikator, (1) Angka Kematian Bayi (AKB), banyaknya kematian bayi usia dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu; dan (2) Angka Kematian Balita, banyaknya kematian bayi usia dibawah lima tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.

Hasil penghitungan dari dimensi pemenuhan hak hidup menunjukan bahwa 18 provinsi telah masuk dalam kategori Sangat Tinggi. Satu (1) provinsi masuk dalam kategori pemenuhan Tinggi; enam (6) provinsi dalam kategori pemenuhan menengah dan; sembilan (8) provinsi masuk dalam kategori Rendah. Sedangkan 1 provinsi lainya, Kalimantan Utara tidak termasuk dalam penghitungan karena keterbatasan akses data.

Skor tertinggi dari pemenuhan hak hidup ditempati provinsi Kalimantan Timur, 0,983. Sedangkan skor terendah adalah provinsi Papua Barat, 0,035.


Pelayanan Kesehatan di NTT Harus Menjadi Prioritas Utama

Dimensi pemenuhan hak dasar anak atas kesehatan terdari dari 6 variabel. Keenam variabel tersebut terdiri dari (1) gizi buruk dan kurang gizi; (2) imunisasi lengkap; (3) akses sumber air minum layak; (4) kepemilikan sanitasi layak; (5) unmet need terhadap layanan kesehatan; (6) angka kesakitan. Kesemua variabel itu dianggap menjadi landasan dasar untuk mengukur pemenuhan hak dasar kesehatan anak.Dari ke 34 provinsi, hanya dua (2) provinsi yang tergolong dalam kategori pemenuhan Sangat Baik.

Sementara provinsi yang tergolong dalam kategori pemenuhan Tinggi berjumlah lima (5) provinsi. Provinsi-provinsi yang tergolong pemenuhan hak dasar kesehatan kategori Menengan berjumlah tiga (3) provinsi. Sedangkan sisanya, 24 provinsi masih tergolong dalam pemenuhan kategori pemenuhan hak kesesahatan Rendah.

Provinsi yang masuk dalam kategori Sangat Tinggi dalam pemenuhan hak dasar kesehatan adalah (1) Kepulauan Riau dengan skor, 0,818; dan (2) Sulawesi Tengah dengan skor, 0,816. Sedangkan lima provinsi peringkat paling rendah.  Nilai aktual adalah nilai proporsi sebenarnya yang telah dicapai dalam pemenuhan pemberian akte kelahiran  adalah sebagai berikut Papua Barat, dengan skor 0,440; engkulu, dengan skor 0,429; Papua, dengan skor 0,421; Aceh,dengan skor 0,393; Nusa Tenggara Timur, dengan skor 0,189.

Pemenuhan Hak Pendidikan di Sulawesi Barat, Kalimantan Barat dan Papua Harus Ditingkatkan

Variabel yang ada dalam dimensi ini terdiri dari dua jenis yaitu, (1) Angka Partisipasi Sekolah / APS, dan (2) Angka Partisipasi Murni / APM. Kedua variabel tersebut merujuk pada terminologi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dimana keduanya merupakan bagian dari indikator untuk mewujudkan akses pendidikan yang meluas, merata dan berkeadilan.

Pemenuhan hak dasar pendidikan terhadap anak berdasarkan provinsi-provinsi di Indonesia memberikan gambaran bahwa sebagian besar provinsi telah berada pada kategori Sangat Tinggi dan Tinggi. Provinsi yang telah masuk dalam kategori Sangat Tinggi berjumlah 9 provinsi. Selanjutnya, provinsi yang masuk dalam kategori Tinggi berjumlah 11 provinsi. Sedangkan 11 provinsi masuk dalam kategori pemenuhan hak dasar pendidikan Menengah.

Dan provinsi-provinsi yang masuk dalam kategori Rendah berjumlah 3 provinsi. Tiga provinsi yang berada di peringkat paling rendah adalah Sulawesi Barat, dengan skor 0,570; Kalimantan Barat, dengan skor 0,542; Papua, dengan skor 0,000.


Jawa Barat Harus Berbenah Dalam Pemenuhan Perlindungan Anak

Dalam dimensi pemenuhan hak dasar anak atas perlindungan terdiri dari 4 variabel. Keempat variabel ini terdiri dari, (1) Buruh Anak; (2) Pernikahan anak; (3) Kebiasaan merokok; dan terakhir (4) Anak yang menjadi korban kejahatan. Variabel perlindungan yang digunakan di sini sengaja terbatas pada keempat isu tersebut.

Hal itu dilakukan untuk menyesuaikan dengan ketersediaan data dalam isu perlindungan anak.
Penghitungan menyeluruh dalam dimensi pemenuhan hak dasar terhadap perlindungan anak memberikan gambaran mengenai kategori provinsi-provinsi di Indonesia dalam melakukan kewajiban mereka.

Dari 34 provinsi, 4 provinsi masuk dalam kategori pemenuhan perlindungan Sangat Tinggi. Sedangkan yang masuk dalam pemenuhan perlindungan dalam kategori Tinggi berjumlah 8 provinsi. Untuk provinsi yang masuk dalam kategori Menengah adalah 7 provinsi. Selebihnya, 15 provinsi masih masuk dalam kategori pemenuhan perlindungan Rendah.

Pemenuhan perlindungan tertinggi ditempati oleh Provinsi Kepulauan Riau, dengan skor 0,977. Bertolak dengan Kepulauan Riau, Provinsi Jawa Barat Menempati posisi terendah dalam pemenuhan perlindungan terhadap anak, dengan skor 0,400.

Rekomendasi

Berdasarkan kajian ini, Perkumpulan Kamuka mendorong Pemerintah Republik Indonesia, khususnya di tingkat nasional untuk segera melakukan upaya-upaya percepatan terhadap pemenuhan hak dasar anak dalam lima hak dasar berikut:

1.Pemenuhan hak kewarganegaraan, khususnya di provinsi-provinsi berikut, Sulawesi Barat; Jawa Barat; Bali; Maluku; Sulawesi Utara; Sulawesi Tenggara; Banten; Sumatera Utara; Maluku Utara; Nusa Tenggara Barat; Sulawesi Tengah; Nusa Tenggara Timur; Papua Barat; Kalimantan Utara; Papua.

2. Pemenuhan hak hidup, khususnya di provinsi-provinsi berikut, Kalimantan Tengah; Nusa Tenggara Barat; Sulawesi Barat; Sulawesi Tengah; Maluku Utara; Gorontalo; Papua; Papua Barat.

3. Pemenuhan hak kesehatan, khususnya di provinsi-provinsi berikut, Jawa Timur; Sulawesi Selatan; Sumatera Selatan; Jawa Barat; Kalimantan Utara; Sumatera Utara; Riau; Sulawesi Tenggara; Banten; Gorontalo; Nusa Tenggara Barat; Lampung; Sumatera Barat; Kalimantan Selatan; Maluku; Maluku Utara; Kalimantan Barat; Kalimantan Tengah; Sulawesi Barat; Papua Barat; Bengkulu; Papua; Aceh; Nusa Tenggara Timur.

4. Pemenuhan hak pendidikan, khususnya di provinsi-provinsi, Sulawesi Barat; Kalimantan Barat; Papua.

5. Pemenuhan hak perlindungan, khususnya di provinsi-provinsi, Kalimantan Tengah; Sulawesi Tenggara; Banten; Papua; Sulawesi Selatan; Nusa Tenggara Barat; Kepulauan Bangka Belitung; Sulawesi Barat; Jawa Tengah; Sumatera Selatan; Gorontalo; Jawa Timur; Sulawesi Tengah; Jawa Barat; Kalimantan Utara


Luviana- www.Konde.co

Solo, Konde.co - Dewi Chandraningrum, seorang aktivis perempuan, pelukis dan Dosen Kajian Gender yang tinggal di Solo, dalam wall facebooknya mengunggah foto-fotonya bersama para perempuan Jugun Ianfu. Foto-foto ini merupakan hasil lukisannya yang ia pamerkan bersama pementasan teater Jugun Ianfu di Teater Arena Taman Budaya Surakarta, Solo, Jawa Tengah, 14 Agustus 2017 lalu.


Pameran lukisan dan pementasan teater ini dilakukan untuk memperingati hari Jugun Ianfu yang diperingati seluruh dunia tanggal 14 Agustus setiap tahunnya.

Dalam pernyataan sikap yang diedarkan dalam peringatan hari Ianfu internasional di Solo, 14 Agustus 2017 lalu disebutkan bahwa awal keterbukaan informasi dari praktek perbudakan seksual terjadi, ketika seorang perempuan bernama Tuminah dari Solo adalah korban IANFU pertama dari Indonesia yang berani berbicara kepada publik.

Tuminah bersaksi atas semua kebrutalan seksual yang dia alami selama masa pemerintahan Jepang di Solo 1942-1945. Keberanian Tuminah muncul berkat dukungan Dr. Koichi Kimura, seorang aktivis dan teolog Jepang. Kesaksian Tuminah tersebut dimuat di Koran Suara Merdeka yang ditulis oleh Joko Santoso, yang juga dikenal sebagai penyair Solo bernama Gojak.

Kesaksian Tuminah membuat Mardiyem dari Yogyakarta mengucapkan suaranya sehingga mendorong lebih banyak lagi "ianfu" yang selamat dari Indonesia untuk mengambil sikap dan bersaksi atas kebrutalan praktik IANFU yang mereka alami selama perang.

Dalam Konferensi Solidaritas Asia ke-21 2013 di Taipei, Taiwan, telah disetujui oleh konsorsium bahwa Hari Ianfu Internasional akan diperingati setiap tanggal 14 Agustus untuk mengingat keberanian Kim Hak Soon mengungkap kejahatan perang Jepang kepada publik internasional.

Hari Ianfu Internasional pertama di Indonesia dirayakan di Solo dimana perjuangan Ianfu dimulai di Indonesia. Untuk merayakan keberanian Tuminah sebagai sosok Ianfu di Indonesia, sebuah monumen perdamaian dibangun di makamnya di kuburan umum Untoroloyo (Solo) dan sebuah film dokumenter berjudul TUM dibuat oleh para pembuat film independen dari Solo.

Hingga kini banyak organisasi non pemerintah terus memperjuangkan nasib Jugun Ianfu dan terus melakukan melobi ke tingkat internasional untuk menekan pemerintah Jepang agar menyelesaikan kasus perbudakan seksual ini. Upaya penelitian juga terus dilakukan untuk memperjelas sejarah buram Jugun Ianfu Indonesia, berpacu dengan waktu karena para korban yang sudah lanjut usia.

Banyak masyarakat yang merendahkan, serta menyisihkan para korban dari pergaulan sosial. Kasus Jugun Ianfu dianggap sekedar “kecelakaan” perang dengan memakai istilah “ransum Jepang”. Mencap para korban sebagai pelacur komersial.

Mengapa Dewi Chandraningrum melukis para perempuan Jugun Ianfu? Dewi Chandraningrum menyatakan, bahwa pameran lukisan ini sebagai penanda terjadinya kekerasan seksual yang pernah terjadi dalam sejarah politik di Indonesia. Dan kekerasan seksual tersebut tak juga selesai hingga kini, karena hingga sekarang kekerasan seksual masih terus terjadi pada perempuan-perempuaan di Indonesia.

Wajah jugun ianfu adalah sebuah tanda, bahwa perjuangan mereka untuk mendapatkan pengakuan belum usai. Juga perjuangan melawan kekerasan seksual di Indonesia.


Praktek Perbudakan Seksual

Dalam website ianfuindonesia.webs.com misalnya disebutkan bahwa Jepang adalah negara yang pernah melakukan praktek perbudakan seksual ketika menjajah Indonesia di tahun 1942. Kala itu banyak perempuan Indonesia yang kemudian dijadikan Ianfu, obyek perbudakan seksual para tentara Jepang. Dan pemerintah Indonesia tak mengakui ini.

Untuk mendapatkan pengakuan soal kekejaman yang pernah dilakukan pemerintah Jepang, bukanlah hal yang mudah. Mendapatkan pengakuan dari pemerintah Indonesia saja sulit, melampaui jalan yang berliku. Pada kenyataannya "Ianfu" bukan merupakan perempuan penghibur tetapi merupakan praktek perbudakan seksual yang brutal, terencana, serta dianggap masyarakat internasional sebagai kejahatan perang. Diperkirakan 200 sampai 400 ribu perempuan Asia berusia 13 hingga 25 tahun.

Dalam website tersebut juga menyebutkan pertanyaan tentang: untuk apa Jugun ianfu diciptakan? Invansi ke negara lain yang mengakibatkan peperangan membuat kelelahan mental tentara Jepang. Kondisi ini mengakibatkan tentara  melakukan pelampiasan seksual secara brutal dengan  perkosaan masal yang mengakibatkan mewabahnya penyakit kelamin yang menjangkiti tentara Jepang.

Hal ini tentunya melemahkan kekuatan angkatan perang kekaisaran Jepang. Situasi ini memunculkan gagasan untuk merekrut perempuan-perempuan lokal, menyeleksi kesehatan dan memasukan mereka ke dalam Ianjo-Ianjo sebagai rumah bordil militer Jepang

Mereka direkrut dengan cara halus seperti dijanjikan sekolah gratis, pekerjaan sebagai pemain sandiwara, pekerja rumah tangga, pelayan rumah makan dan juga dengan cara kasar dengan menteror disertai tindak kekerasan, menculik bahkan memperkosa di depan keluarga. Yang merekrut "Ianfu" di Indonesia adalah Militer Jepang, sipil Jepang, pejabat lokal sepeti bupati, camat, lurah dan RT.

“Ianfu” di Indonesia ditempatkan secara hirarkis menurut kelas, ras dan kebangsaan. Yang berkulit putih asal Manado, keturunan Cina dan keturunan Belanda melayani opsir yang berpangkat tinggi. Sedangkan yang berasal dari Jawa berkulit kecoklatan ditempatkan di ianjo bagi tentara berpangkat rendah.

Mereka dibawa ke wilayah medan pertempuran untuk melayani kebutuhan seksual sipil dan militer Jepang baik di garis depan pertempuran maupun di wilayah garis belakang pertempuran. Penempatan mereka sangat dipengaruhi lokasi barak  militer.

Dalam website ianfuindonesia juga menyebutkan tentang sebagian besar  berasal dari pulau Jawa yang dijadikan Jugun Ianfu  dan nama asli mereka diganti dengan nama Jepang seperti Mardiyem menjadi Momoye (Yogyakarta, Jateng), Aminah menjadi Shinju (Sukabumi, Jawa Barat), Suharti menjadi Miki (Kediri, Jatim), Emah Kastimah menjadi Miyoko (Kuningan, Jabar), Kasinem menjadi Yako (Solo, Jateng), Sumirah menjadi Kimiko (Salatiga, Jateng), Sutarbini menjadi Miniko (Yogyakarta, Jawa Tengah), Siti Neng Itjuh menjadi Ruriko (Garut, Jateng), Omoh Salamah menjadi Midori (Cimahi, Jabar), Lantrah menjadi Toyoko (Pekalongan, Jateng) dan puluhan ribu orang lainnya.

Mereka diperkosa dan disiksa secara kejam. Dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang sebanyak 10 hingga 20 orang siang dan malam serta dibiarkan kelaparan. Kemudian diaborsi secara paksa apabila hamil. Banyak perempuan mati dalam Ianjo karena sakit, bunuh diri atau disiksa sampai mati.

Bagi yang selamat (penyintas) di masa tuanya penuh derita dengan kerusakan kandungan, pendarahan, sakit jiwa, hidup mengasingkan diri atau dikucilkan masyarakat.

15 tahun lalu, salah satu Jugun Ianfu di Yogyakarta yang didampingi LBH Yogyakarta menceritakan dalam sebuah wawancara yang saya lakukan, betapa sulitnya kehidupan para perempuan Jugun ianfu ini. Hingga akhirnya hidupnya, mereka banyak yang diasingkan karena dianggap sebagai pekerja seks dan hidupnya memburuk secara ekonomi.

Hal-hal inilah yang membuat peneliti jugun ianfu, Eka Hindra terus melakukan penelitian dan mengadvokasi kehidupan perempuan Jugun ianfu, termasuk melakukan pementasan dan pameran lukisan jugun ianfu bersama Dewi Chandraningrum dan Dance Soul and Calm di Solo, 14 Agustus 2017 lalu.



(Sumber bahan dan foto: http://ianfuindonesia.webs.com/ dan  pernyataan sikap CELEBRATION OF THE FIFTH INTERNATIONAL IANFU DAY: Potret Gelap Perempuan Jawa)

(Foto: Pameran lukisan "Dokumen Rahim" karya Dewi Chandraningrum dan pementasan teater "Potret Gelap Perempuan Jawa" pada 14 Agustus 2017 di Taman Budaya, Solo, Jateng)


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Apa arti merdeka bagimu? Apa arti pentingnya kemerdekaan dari kekerasan seksual? Banyak perempuan yang hingga sekarang belum juga lepas dari kekerasan seksual. Perempuan belum merdeka secara seksual.

Selama ini kita tahu kekerasan seksual terjadi dimana saja. Di jalan kita banyak mendengar adanya kekerasan seksual, para perempuan diperkosa dan dilecehkan di angkutan umum dan di jalan umum. Belum lagi di tempat-tempat pribadi seperti di rumah, relasi dengan ayah, paman dan saudara.

Kekerasan dan pelecehan seksual juga menimpa para perempuan buruh, Pekerja Rumah Tangga, perempuan difabel, perempuan buruh migran, anak yang dilacurkan, perempuan dengan HIV-AIDS baik di pedesaan maupun di perkotaan juga menghadapi kekerasan seksual dengan berbagai bentuknya. Dari pelecehan seksual, eksplotasi seksual, pemaksaan perkawinan, pemaksaan kontrasepsi, perkosaan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual hingga penyiksaan seksual. Sehingga, kepedulian bersama untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan seksual menjadi penting.

Dan tahukah kamu bahwa setiap 2 jam, 3 perempuan dan anak Indonesia mengalami kekerasan seksual? Sedihnya para korban seringkali dikucilkan, tidak diberi dukungan, dan bahkan malah disalahkan. Data Komnas Perempuan mencatat bahwa 5.747 kasus kekerasan seksual terjadi di tahun 2016, patut dicatat ini hanyalah kasus yang dilaporkan, sementara 93% penyintas tidak melaporkan kasusnya. Terbayang kan betapa pentingnya kemerdekaan dari kekerasan seksual itu?

Data dari Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (Mappi FH UI) menyebutkan bahwa salah satu bentuk kekerasan seksual yang marak terjadi adalah perkosaan. Perkosaan menempati tempat tertinggi dari banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi dalam ranah personal. Tindak pidana perkosaan telah menyumbang angka sebesar 72 % atau sekitar 2.399 kasus dari 3.325 kasus angka kekerasan seksual yang terjadi di ranah personal.

Senada dengan hal itu, tindak pidana perkosaan juga menempati angka tertinggi dari banyaknya kekerasan seksual yang terjadi dalam ranah komunitas. Dari 5.002 kasus kekerasan seksual dalam ranah komunitas diantaranya terdapat 1.657 kasus yang bentuk kekerasan seksualnya merupakan perkosaan. Sedangkan sisanya terdiri dari 1.064 kasus pencabulan, 268 kasus pelecehan seksual, 130 kasus kekerasan seksual lainnya, dan 55 kasus lainnya.


Angka-angka di atas dapat jauh bertambah, jika berkaca pada tipologi kejahatan perkosaan dimana korban cenderung tidak bersedia untuk melaporkan telah mengalami tindak pidana perkosaan. Bahkan lebih parahnya, beberapa korban perkosaan yang bersedia melapor kepada aparat penegak hukum menjadi korban untuk kedua kalinya (reviktimisasi) saat proses hukum mulai berjalan.

GerakBersama, sebuah jaringan masyarakat sipil dan individu yang bergerak dalam advokasi dan kampanye anti kekerasan seksual di hari kemerdekaan Indonesia kali ini menginisiasi sebuah kampanye anti kekerasan seksual. Merdeka bagi perempuan Indonesia adalah bebas dari kekerasan seksual.

Ayo bantu hapuskan kekerasan seksual dengan mem-post foto di atas beserta tagar #MerdekaItu dan #GerakBersama di tanggal 16-19 Agustus ya! Jangan lupa sertakan caption singkat tentang kenapa #MerdekaItu bebas dari kekerasan seksual


Tunggu apalagi? Ayo #GerakBersama lawan kekerasan seksual


(Foto: Kampanye #GerakBersama)

*Egarianti Nuh- www.Konde.co

"Dari kelahirannya, UU Perkawinan tak pernah luput dari perjuangan gerakan perempuan. Dan saat ini, gugatan atas usia perkawinan dan poligami tak pernah luput dari perjuangan dan gugatan perempuan di ranah hukum."


Sebagai alat analisis, konsep gender merupakan pencapaian terbesar studi gerakan perempuan. Dimana dalam konsep ini, perempuan dan laki-laki ditinjau secara kritis dari bangunan konstruksi sosial, bukan deskripsi biologis. Hak, kewajiban dan peran sosial perempuan dan laki-laki yang tidak berimbang kemudian menjadi urgensi pembahasan organisasi perempuan.

Kontruksi sosial sejak dulu hingga kini mempunyai definisi tersendiri terkait apa yang diharapkan dari perilaku perempuan. Norma ini yang kemudian dipercaya sebagai rumusan untuk menilai perempuan baik dengan  agama, pranata sosial, perangkat hukum sebagai simbolisasi keabsahan. Kodrat Perempuan dideskripsikan sedemikian rupa dan  bersemayam dalam adat tradisional di Indonesia, misalnya dalam adat priyayi Jawa. Keberadaannya merenggut hak perempuan Indonesia. Organisasi perempuan melakukan dekonstruksi atas norma-norma ini.

Dalam konsep priyayi Jawa, Sriati Mangoenkoesomo istri dari Pendiri Budi Utomo  pada ulangtahun Budi Utomo tahun 1918, kala itu melihat bahwa perempuan proletar lebih bebas menyampaikan aspirasi di lingkungannya ketimbang perempuan priyayi dalam struktur sosial mereka sendiri. Ia pernah melakukan perbandingan terkait pembagian tugas dan penilaian suami terhadap istrinya antara kalangan perempuan dan laki-laki tani dengan kaum bangsawan.

Dalam pergaulan masyarakat tani, Istri kadang masih diposisikan sebagai sosok kawan bertukar pikiran dan partner kerja. Namun dalam Struktur sosial masyarakat ningrat, istri hanyalah seorang penguasa ruang domestik yang hampir tak diperbolehkan melangkah ke ruang publik.

Eksistensi perempuan yang diramu sedemikian rupa tersebut sehingga menjelma menjadi istilah “kodrat wanita” mendapat tantangan keras dari para aktivis dan organisasi perempuan. 

Gerakan Perempuan Indonesia menyatakan perlawanan terhadap anggapan bahwa perempuan harus menjadi pelayan laki-laki dengan kepatuhan tanpa jeda. Jauh sebelum itu, Kartini telah mempertanyakan haknya  atas pendidikan dan ketimpangan poligami yang menimpa perempuan jawa termasuk dirinya. Kaum perempuan priayi tidak punya hak kritik atas perlakuan sepihak tersebut. Hal itu dituliskan dalam salah satu suratnya tertanggal 14 juli 1903.


UU Perkawinan, Jauh dari Harapan Perempuan

Problematika perempuan baik dalam bidang pendidikan maupun perkawinan telah menjadi titik primer perjuangan gerakan perempuan Indonesia. Dimulai dari terbentuknya Organisasi perempuan Pertama Poetri Mardika pada tahun 1912, yang mempersoalkan pendidikan, pemberdayaan dan upah buruh perempuan menjadi tujuan organisasi. Hal ini menjadi pemantik hadirnya Organisasi Perempuan Indonesia Lainnya.

Spirit memperjuangkan hak-hak perempuan itulah, yang mempertemukan para perempuan dalam Kongres Nasional Indonesia Pertama di Yogyakarta tahun 1928. Mereka terajut dalam satu kesatuan organisasi bernama Persatuan Perempuan Istri Indonesia (PPII).

Masalah-masalah perempuan pada umumnya menjadi sentral pembahasan dalam kongres ini. Mulai dari pendidikan perempuan, nasib anak yatim dan janda, perkawinan dini, dan reformasi aturan perkawinan dalam agama islam.

Aturan perkawinan dalam kongres tersebut yang diusulkan kaum perempuan tak pernah mendapat respon baik dari pemerintahan kolonial Belanda. Hingga pada tahun 1937 pemerintah Kolonial mulai menyusun Rancangan Undang-undang Perkawinan modern sebagai pereda ketegagangan antara pemerintah dan Organisasi perempuan Indonesia. Namun hal itu hanya sebatas Rancangan yang tak berkelanjutan.

Perjuangan Perempuan Indonesia tidak berhenti sampai disitu. Didirikanlah Badan Perlindungan Perempuan Indonesia dalam Perkawinan (BPPIP) yang diketuai oleh Maria Ulfa untuk mengawal terbitnya aturan tersebut. Tahun 1946.

Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengatur perkawinan dalam UU 1/ 1974. Disana juga mengatur soal perkawinan anak-anak. Dalam UU Perkawinan 1974, batas minimal usia nikah bagi perempuan 16 tahun dan bagi laki-laki 19 tahun. Padahal kalangan aktivis perempuan menyatakan bahwa usia 16 tahun merupakan usia anak-anak dimana anak tak boleh menikah dan ini melanggar UU Perlindungan Anak. Jika perempuan menikah di usia anak, maka ini akan menganggu kesehatan reproduksi mereka. Hal ini yang kemudian dilawan untuk menyelamatkan anak-anak perempuan dari kematian.

Yang kedua, UU Perkawinan memang menganut asas monogami, namun penegasan yang tertuang dalam Pasal 3 ayat (1), juga memperbolehkan seorang laki-laki beristeri lebih dari satu. Hal ini berarti UU ini melanggengkan praktek poligami. UU ini dianggap tidak memberikan sumbangsih signifikan terhadap kondisi yang ada, sehingga gerakan perempuan mengugat UU tersebut.

Dalam prakteknya, pengadilan tidak ketat menerapkan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Acapkali suami melakukan tekanan lewat pengadilan agar istri memperbolehkan suaminya poligami. Cara lain adalah dengan memalsukan identitas. Inilah yang terus memberatkan posisi perempuan. Perjuangan berat dan cukup lama dalam memperjuangkan makna perkawinan agar berpihak pada perempuan.

 
Daftar Pustaka :
Hellwig, tineke. 2007.“Citra kaum Perempuan di Hindia Belanda”. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia


*Egarianti Nuh, Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia Timur

Jakarta, Konde,co - Karlina Supelli, aktivis perempuan, dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara dan seorang astronom perempuan pertama di Indonesia, pada 7 Agustus 2017 lalu memberikan pidato kebudayaan pada peringatan ulangtahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang ke-23 di Jakarta.

Berikut adalah pidato kebudayaan Karlina Suppeli secara lengkap. Dan ini merupakan tulisan kedua dari pidato Karlina Supelli yang kami sajikan pada 16-17 Agustus 2017 sebagai spirit kemerdekaan Indonesia:

"Pertama-tama, kita menyadari bahwa internet membawa perubahan besar pada hubungan antara produsen dan konsumen berita. Karena setiap orang yang punya akses ke internet dapat menjadi produsen dan penyebar informasi, pengertian sumber berita pun berubah.

Setiap orang dapat menjadi pewarta warga [BBC menerima lebih dari seribu foto, empat ribu pesan singkat dan duapuluh ribu surat elektronik hanya dalam rentang enam jam sesudah pengeboman London 7 Juli 2005].

Pewarta warga menjadi sangat populer karena masih banyak orang yang menjadi konsumen informasi berdasarkan kesaksian atau rekomendasi dari orang yang dikenal, dan bukan atastilikan objektif atas isinya. Rekomendasi itu sekarang dengan cepat beredar melalui terusan pesan grup terhubung.

Di tengah tantangan itu, media profesional bertarung keras dalam dinamika budaya digital yang ditandai dengan tegangan antara kecepatan dan kedalaman. Setiap detik informasi barumengalir. Berita kematian Michael Jackson pecah pertama kali melalui Twitter, mendahului jaringan pers terkemuka.

Kedua, dan ini adalah masalah yang serius. Sejak beberapa tahun lalu muncul perdebatanakan dampak penyaringan yang digunakan oleh mesin pencari dan media sosial tertentu di internet. Penyaringan ini mempersempit keragaman hasil pencarian sesuai sejarah kegiatan pengguna. Eli Pariser menyebutnya filter bubble; Alexander Zwissler menamakannya confirmation bias. Sistem penyaring ini bertindak sebagai kurator informasi berdasarkan dugaan tentang apa yang kita suka dan tidak suka, apa yang kita anggap relevan dan tidak relevan, menurut klik-klik kita sebelumnya.

Kendati efeknya masih terus dikaji, algoritma penyaringan membentuk selubung maya yang diam-diam mengisolasi pengguna dari pandangan-pandangan yang berbeda. Sistem itu sebetulnya sekadar memberi rekomendasi. Meski demikian, ada risiko orang yang fanatik menjadi semakin fanatik karena terus menerus terpapar pada informasi serumpun.

Lebih parah lagi, kabar kelakar, berita palsu, dan berita rekayasa beredar jauh lebih cepat dan luas ketimbang kabar burung pada zaman hanya ada media cetak.

Ketiga, konsekuensi teknologi digital terhadap cara pikir dan rasa-merasa jauh melampaui dampaknya terhadap perubahan cara kita berkomunikasi dan berinteraksi. Teknologi digital menghadirkan sebuah antropologi baru. Lugasnya, citra baru manusia. Para futurolog meramalkan hadirnya pascamanusia. Akan tetapi, siapakah sang pascamanusia? Imajinasi dan fantasi apa yang menggerakkan hasrat, emosi, dan motivasinya?

***

Menyimak efektivitas dunia digital dalam membangkitkan aneka hasrat dalam diri pengguna, betapa nyata kebutuhan masyarakat akan jurnalisme yang setia kepada asas-asas jurnalistik.

AJI dengan tegas menyatakan keyakinannya bahwa “pers profesional merupakan prasyarat mutlak untuk membangun kultur pers yang sehat”. Pada hemat saya, dengan budaya digital sekarang ini, pers profesional punya peran lebih mendasar. Pers profesional merupakan prasyarat yang tak dapat ditawar untuk membangun masyarakat melek informasi, melek berita dan melek pengetahuan.

Kita berterima kasih kepada pewarta warga. Kita menghormati jerih payah mereka. Karena itu, tanpa bermaksud mengecilkan peran pewarta warga, kita perlu mengakui dengan rendah hati perbedaannya dengan jurnalis profesional. Jurnalis profesional secara etis terikat untuk menghormati kebenaran dan independensinya. Jurnalis profesional diikat oleh kode etik untuk menimbang secara hati-hati konsekuensi dari apa yang diberitakan dan caranya memberitakan.

5. Godaan populisme dan kejar-kejaran informasi berdasarkan klik per detik kerap meloloskan sebagian besar elemen klasik jurnalistik, 5W + 1H. Persis karena itu, menulis berita bukan perkara mudah. Elemen-elemen itulah yang menjadikan jurnalis bukan sekadar penerus informasi dan pelapor kejadian. Ia meliput, mengolah dan menyajikan informasi dalam bentuk berita. Dengan elemen-elemen itu jurnalis menjelaskan mengapa peristiwa tertentu penting dan relevan, serta apa implikasi pemberitaannya bagi kehidupan orang banyak. Dengan elemen itu membedakan fakta dari opini.

Kematangan pertimbangan semacam itulah yang membuat media pernah menunda publikasi pemberitaan suatu rencana operasi militer di Etiopia (1989) demi keselamatan belasan ribu warga, padahal para wartawan sudah mengetahui akan ada operasi militer tersebut.

Dengan elemen-elemen itu pula pers menggenggam kekuatan untuk ikut membangun masyarakat yang kritis daya pikirnya dan sehat tilikan-tilikannya. Dalam budaya digital, pers ditantang kekuatan persuasifnya agar pembaca tidak sekadar bergerombol mengikuti apa yang sedang viral, tetapi menimbang-nimbang mana yang layak dan tidak layak untuk dikonsumsi; mana yang merupakan informasi, mana yang misinformasi karena isinya tidak tepat, dan mana yang disinformasi alias kebohongan sengaja.

Dengan misi jusrnalistiknya, pers tidak dapat acuh tak acuh dan bersikap toleran terhadap intoleransi. Toleransi memang paradoks, dan karena itu sering disalahpahami sehingga menjadi sasaran kritik kelompok intoleran. Toleransi tidak berarti kita harus menyetujui atau bersimpati kepada nilai-nilai, gagasan, dan praktik yang tidak kita setujui atau kita nilai salah.

Maka, selain paradoks, toleransi juga memunculkan dilema. Bagaimana mungkin kit meminta seseorang menerima suatu argumen yang dalam pendapatnya tidak sahih, atau menerima nilai-nilai yang dalam keyakinannya tidak benar?

Persis di sinilah terletak makna toleransi. Kita tidak diminta menerima atau menyetujui. Kita diminta mengakui dan menghormati hak seseorang atau kelompok untuk menganut dan mengemukakan nilai-nilai yang tidak kita setujui. Toleransi tidak menghalangi kritik dan konflik, tetapi ada batas sejauh mana konflik dapat berlanjut. Kita tidak dapat mentoleransiyang tidak toleran.

Toleransi adalah kesanggupan menahan diri karena kita mengakui bahwa orang tidak kehilangan martabatnya hanya karena ia meyakini dan mengemukakan sesuatu yang kita anggap salah. Sikap toleran juga dibangun dari kesadaran bahwa kita bisa salah. Cukup pasti, mereka yang intoleran adalah kaum pongah yang memutlakkan kebenaran keyakinannya. Ia menyetarakan dirinya dengan Tuhan karena mengklaim ia tahu persis apa yang Tuhan mau. Mereka adalah orang-orang pengecut yang takut menghadapi kemungkinan bahwa pihak yang berbeda boleh jadi benar.

***

Perkenankan saya menutup paparan ini dengan sebuah harapan dan tantangan. Harapan kepada pers, sebatas yang saya kemukakan di atas, bergerak di tataran simbolik.Itulah lapisan tempat teman-teman jurnalis bekerja dengan fakta, data, simbol dan persuasi.

Kerumitan realitas tentu bukan hanya di lapisan simbolik. Seperti sudah disebut di atas, kalangan intoleran memanfaatkan teknologi digital untuk dua lapis kepentingan lainnya, yaitu perekrutan dan pengorganisasian serta penggalangan kekuatan fisik/material.

Pada lapis pengorganisasian, kelompok intoleran merekrut pengikut di semua lini yang mungkin, baik publik maupun privat; baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Ihwal yang terang-terangan mudah dikenali. Lain halnya dengan penyusupan sembunyi-sembunyike pelbagai lembaga, mulai dari lembaga pendidikan, lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat sampai ke rumah tangga. Di lembaga publik, tujuannya jelas: mempengaruhi dan mengubah kebijakan. Penghimpunan kekuatan fisik/material juga bervariasi, mulai dari penggalangan dana dan senjata, sampai orang-orang yang siap merangsek jalanan dan bertempur di medan perang.

Sementara di lapisan simbolik mereka aktif dalam pertarungan gagasan, di lapisan kedua dan

ketiga mereka tidak peduli dengan apa yang dikatakan media.

Tampaknya, inilah saat kita menantang pers untuk berjuang lebih keras lagi di lapis keduadan ketiga tersebut. Selama ini pers telah menunjukkan sumbangannya yang besar dalam ikut membongkar kasus-kasus korupsi. Dapatkah teman-teman jurnalis membongkar sampai ke akar penyusupan elemen-elemen intoleran di lembaga-lembaga publik?

Pada hemat saya, semua itu penting dan perlu dilakukan. Mengapa? Intoleransi bukan saja mengancam kemajemukan agama dan aneka gejala hidup sehari-hari. Intoleransi mengancam perkembangan pemikiran, ide-ide baru, sains dan teknologi. Kita pernah dengar ada dosen di perguruan tinggi terkemuka yang menolak teori evolusi diajarkan atas dasar keyakinan agama; mahasiswa menolak konsep demokrasi, dan masih banyak contoh lagi.

Akankah kita biarkan mereka menggiring kita kembali ke Abad Pertengahan, ketika iman berdiri megah tanpa akalbudi dapat mengkritik kekeliruan tafsirnya?

***

Di sekitar kita bertebaran pedagang-pedagang mimpi. Mereka menawarkan mimpi akan kehidupan kekal dengan menghancurkan kehidupan fana di sini dan sekarang. Mimpi-mimpi

itu membuai dan karenanya mudah diperdagangkan. Makelarnya banyak, mulai dari tokoh agama, para konsultan politik, partai politik sampai akademisi yang bertualang ke mana angin membawa.

Tapi saya percaya, dan banyak di antara kita masih percaya. Kita menghendaki mimpi besar. Mimpi akan hidup bersama dalam kekayaan realitas yang bhineka. Mimpi ini tidak bisa diperjualbelikan. Mimpi ini tidak dapat mentoleransi intoleransi. Tidak ada hidup bersama yang tidak majemuk. Mustahil ada kemajemukan bila intoleransi meraja rela.

Jauh sebelum ada Indonesia, Siti Soendari menyampaikan mimpi besar itu ke hadirin dan hadirat Kongres Perempuan Pertama, 22 Desember 1928. Perkenan saya mengedepankannyakembali malam ini:

“Pantaslah kita lebih dahulu memperhatikan cita-cita kita bersama ... yaitu hendak membangun Indonesia Raya. Marilah Tuan biarkan pikiran naik ke udara dan memandang ke bawah ... tergambarlah Indonesia seperti taman bunga yang luas sekali, tiap pulau terbentang seperti petak tempat tumbuhnya bunga. Taman itu tidak akan selamat sempurna kalau yang tumbuh hanya kembang melati ... Bukankah kita menghendaki membuat bunga rampai.”

Marilah kita memeluk, menghidupkan, merawat dan menjelmakan mimpi besar ini." (Selesai)


(Foto: salihara.org)