Kami Tidak Akan Diam: Peluncuran Buku Karya Perempuan Pekerja Rumah Tangga


Poedjiati Tan dan Luviana - www.Konde.co

Jakarta, Konde.co – Leni Suryani, tampak tegang sebelum maju ke depan. Leni adalah satu dari puluhan Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang bukunya dilaunching pada Kamis, 10 Agustus 2017 lalu di Wisma Antara, Jakarta.

Bersama International Labour Organisation, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan JALA PRT, 31 tulisan PRT yang terangkum dalam sebuah buku berjudul: “Kami Tidak Akan Diam” ini diluncurkan.

Buku ini bercerita tentang kisah hidup para PRT, dari mereka yang dulu tinggal di desa dan kemudian datang ke kota, mencoba kerasnya kehidupan kota dan menjadi PRT. Di sisi lain, buku ini juga menuliskan tentang kehidupan mereka saat ini, lika-liku menjadi PRT dan bagaimana relasi para perempuan PRT ini dengan majikan dan pemerintah.

Yuni Sri adalah ibu 3 anak, seorang single mother yang kemudian bekerja mencuci dan menggosok baju di 3 rumah yang berbeda. Pagi hingga sore ia bekerja. Anaknya yang paling besar bertugas menjaga adik-adiknya. Sore setelah pulang bekerja, Yuni Sri kembali mengasuh ketiga anaknya. Deraan hidup, kegelisahan ini ia tuangkan dalam tulisan Yuni Sri.

Sedangkan sejumlah PRT lain menulis tentang perlakuan yang kurang ramah karena mereka dianggap pekerja rendahan, diupah rendah dan tanpa perlindungan. Tulisan yang sangat menyentuh ini ada dalam 31 tulisan yang terangkum dalam buku karya PRT ini.

Luviana, Salah satu pengelola www.Konde.co yang selama ini membantu, menemani PRT menulis dan menjadi editor buku ini menyatakan, dalam semua pelatihan menulis, banyak PRT yang kemudian bercerita dan menangis.

“Menulis kemudian menjadi ruang untuk sharing antar PRT yang lain. Dan kini ketika buku ini sudah selesai dibuat, maka ruang untuk sharing ini bisa diperluas, yaitu antara PRT dengan pembaca buku ini, dengan pemerintah dan dengan majikan. Karena banyak yang harus tahu tentang lika-liku kehidupan PRT, bagaimana mereka memutuskan sesuatu dan bagaimana selama ini para PRT belum dianggap sebagai pekerja, hanya sebagai orang yang bekerja dan diupah murah.”


Penggunaan Media Baru Bagi PRT

Koordinator JALA PRT, Lita Anggraeni menyatakan bahwa buku ini merupakan kumpulan tulisan yang merupakan bagian dari advokasi sekaligus kampanye PRT. Selama ini PRT selalu identik dengan pekerja rumahan, namun buku ini kemudian menjadi bukti bahwa PRT bisa mengadvokasi sendiri melalui kampanye yang lebih meluas.

Sudah kurang lebih 2 tahun ini PRT kemudian belajar internet, menulis dan menggunakan teknologi untuk membuat film, vlog. Mereka juga mengikuti lomba menulis. Model advokasi dan kampanye inilah yang akan digiatkan oleh PRT.

Dengan kata-kata mereka sendiri, para perempuan PRT kemudian berbicara mengenai kehidupan sehari-hari mereka, ketidakadilan yang harus mereka hadapi, perlakuan semena-mena dan penganiayaan yang harus mereka alami, perjuangan keluarga serta aspirasi dan harapan mereka. Mereka pun mengisahkan keinginan untuk bersatu melalui serikat, aspirasi mereka untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas mereka serta upaya mereka untuk terus melakukan advokasi terhadap para pembuat kebijakan dan masyarakat mengenai pengakuan pekerja rumah tangga sebagai pekerja dan penghapusan pekerja rumah tangga anak.

“ILO meyakini kisah-kisah ini akan menyentuh hati masyarakat Indonesia dan meningkatkan kesadaran mereka dan para pembuat keputusan mengenai sejumlah tantangan yang dihadapi pekerja rumah tangga. Peningkatan kesadaran tersebut akan membantu pengembangan perlindungan kerja dan hak asasi manusia serta peningkatan keterampilan untuk menjadikan pekerja rumah tangga lebih profesional dan dihargai,” kata Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia, mengomentari peluncuran publikasi ini.

Hingga saat ini, lebih dari 60 artikel dan kisah yang ditulis pekerja rumah tangga telah dipublikasikan dan secara luas disebarkan melalui blog, Facebook dan Twitter.

“Melalui media sosial, pekerja rumah tangga dapat mencurahkan kisah mereka, menyuarakan permasalahan yang dihadapi dan memperjuangkan hak dan kehidupan PRT. Melalui kisah-kisah ini, kami berharap dapat mengubah pandangan publik mengenai pekerjaan rumah tangga sebagai pekerjaan dan pekerja rumah tangga adalah pekerja seperti juga profesi lainnya,” kata Lita Anggraini, Koordinator Nasional JALA PRT.

“Peran pekerja rumah tangga belum dihargai dan diakui. Kisah dan artikel yang ditulis pekerja rumah tangga merupakan kekayaan pengetahuan dan informasi yang akan menginspirasi masyarakat termasuk jurnalis dan media massa mengenai hak-hak kerja pekerja rumah tangga yang kerap terlupakan dan harus kita harus hormati,” kata Ahmad Nurhasim, Ketua AJI Jakarta.

”Jurnalis dan media massa perlu mendesak negara untuk melindungi pekerja rumah tangga agar mereka tidak menjadi korban kekerasan di ruang domestik yang sulit dipantau oleh orang luar.”

Dalam peluncuran ini tujuh tokoh publik Indonesia akan meminjamkan suara mereka untuk menyuarakan kisah kehidupan pekerja rumah tangga yang harus menjalani jam kerja yang panjang dengan upah rendah dan tanpa kontrak kerja, hari libur dan cuti, perlindungan sosial dan perlindungan hukum. Sejumlah kisah terpilih dibacakan oleh Lukman Sardi (aktor), Morgan Oey (aktor), Nia Dinata (sutradara/produser), Sari Nila (presenter), Giwo Rubianto (Ketua Kowani).