Menikah Adalah Pilihan, Bukan Paksaan


Poedjiati Tan - www.konde.co

Di masa kini, jaman yang sudah serba modern ini, mungkin orang tidak akan percaya bila ada orang tua yang memaksa anaknya untuk menikah.

Beberapa hari yang lalu mahasiswi saya datang dan bercerita sambil menangis. Dia merasa gamang dengan kuliahnya yang sudah mendekati semester akhir. Dia takut bila cepat lulus, maka dia akan segera dinikahkan dengan laki-laki pilihan Ayahnya. Padahal dia masih ingin berkarir dan tidak ingin cepat-cepat nikah.

Tapi tekanan itu makin lama makin kuat. Laki-laki yang dijodohkan dengan dirinya memang terlihat alim dan rajin beribadah jika bertemu orangtuanya. Walau sudah beberapakali kalau berkomunikasi dengan mahasiswa saya ini, kalimat-kalimatnya selalu berbau porno sampai dia merasa jijik.

Ketika saya tanya kenapa orang tuanya ingin menikahkan dia?, ia mengatakan, Katanya supaya dia tidak nakal dan ada yang melindungi.

“Saya memang suka berpakaian yang modis dan agak terbuka bu! Tapi bukan berarti saya cewek nakal yang suka berhubungan seksual seperti pikiran Ayah saya dan laki-laki yang hendak dijodohkan ke saya!,” ujarnya diantara isak tangisnya.

”Ayah juga bilang, katanya ayah malu dengan tetangga, kok saya belum memiliki jodoh! Padahal saya masih umur 20, ketika saya bilang saya masih 20 dan ayah saya mengatakan, Ibu waktu menikah sama ayah juga umur 20! Padahal saya tahu ibu tidak pernah bahagia dengan ayah! Ibu juga takut membela saya karena takut dipukul sama ayah!,” katanya sambil menangis.

Kejadian seperti ini sebetulnya banyak terjadi, tidak hanya di pedesaan tetapi juga di perkotaan. Kadang saya berpikir kenapa orang tua punya kecenderungan menyuruh anak perempuannya untuk cepat-cepat  nikah, atau dijodohkan dengan laki-laki kenalan mereka tanpa memikirkan anaknya suka atau tidak? Ingin menikah atau tidak?

Apakah mereka merasa kalau anak perempuanya sudah menikah berarti tanggung jawab pindah ke suaminya? Kalau anak perempuan dianggap sebagai beban lalu kenapa mereka punya anak? 

Bila terjadi sesuatu dengan perkawinan anaknya, misalnya kekerasan dalam rumah tangga, apakah orang tua akan lepas tanggung jawab dan diam saja? atau mungkin meminta anaknya untuk patuh dan menurut kepada suami karena dianggap itu sudah kewajiban istri?.  Seperti yang dikatakan kedudukan istri pada suami itu seperti suargo nunut, neroko katut! (ke surga numpang dan ke neraka ikut)

Tak jarang, orang tua memaksa anak untuk segera menikah karena takut dengan gunjingan tetangga sebab anaknya belum menikah? Sebetulnya mana yang lebih penting omongan, orang atau kebahagiaan anak?

Ada beberapa orang yang memang mempunyai kecenderungan untuk bergunjing, tetapi bukan berarti itu dijadikan standart apa yang baik atau tidak buat anak kita. Bukankah kebahagian dan kesejateraan anak kita lebih penting daripada gunjingan orang. Kenapa kita harus hidup dengan standart orang lain? Kenapa kita tidak melihat kebutuhan dan kepentingan masa depan anak kita? 

Ada juga orang tua yang menikahkan anaknya agar mendapatakan fasilitas ekonomi dari menantu? Berharap suami dapat membantu perekonomian keluarga. Adapula yang berharap dari sumbangan yang akan diterima dari pesta pernikahan tersebut.

Bukankah ini sama saja dengan menjual atau menukar anak kita dengan uang? Sebetulnya dengan memberikan pendidikan yang baik buat anak perempuan dan mengajarkan dia mandiri secara ekonomi akan bisa membantu atau mencukupi keluarga juga.

Seringkali anak perempuan dianggap sebagai beban orang tua yang harus dijaga, dan dientaskan. Bila anak perempuan belum menikah maka tanggung jawabnya berada di orang tua, padahal anak perempuan juga bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan masa depannya. 

Banyak Orang tua yang beranggapan bahwa keberhasilan mereka bila sudah menikahkan anak perempuannya dan dianggap tugasnya sudah tuntas. Mereka beranggapan itu adalah salah satu cara mengentaskan anak perempuannya meskipun tanpa sadar memasukan mereka dalam perangkap yang merugikan sang anak.

Kadang orang tua tidak sadar dan tidak belajar dari pengalamannya sendiri. Ketika perkawinan mereka tidak bahagia dan tidak sejahtera, lalu kenapa membiarkan anaknya mengulangi nasib yang sama dengan mereka.

Kenapa mereka menjerumuskan atau mewariskan kesengsaraan kepada anak mereka. Kalau mereka tidak pernah lulus SMA kenapa tidak mempunyai keinginan anaknya untuk lulus SMA dan kuliah? Atau para ibu yang mengalami ketidakbahagiaan karena pemaksaan pernikahan atau mengalami kekerasan dalam pernikahannya, kenapa membiarkan anak perempuannya mengalami hal yang sama dengan dirinya?

Kenapa para orang tua tersebut tidak pernah memikirkan masa depan anaknya agar lebih baik dari kehidupan mereka? Menempuh pendidikan yang lebih tinggi dari mereka, merencanakan masa depan yang lebih baik.

Mempunyai anak bukan hanya sekedar beranak karena sudah takdir atau kewajiban orang menikah untuk beranak pinak. Tetapi memiliki anak yang terencana dan menjadikannya manusia berkualitas dan penuh kasih sayang adalah pilihan ketika seseorang memutuskan untuk mempunyai anak.

Janganlah menjadikan pernikahan itu sebagai kewajiban, tetapi jadikanlah pernikahan itu kesepakatan cinta dua orang manusia yang ingin saling membangun dan mengisi satu sama lain. Dan ketika dua orang sepakat untuk menikah, mereka juga tidak memiliki kewajiban untuk beranak pinak.

Marilah menghentikan pemaksaan anak untuk menikah. Dan beri ruang untuk mereka agar memilih sesuai dengan pilihan hidupnya. Orangtua adalah teman, busur dimana anak panah dilepaskan.