Penghargaan untuk Sutradara Perempuan (2)


Kustiah- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Menjadi sutradara tak pernah menjadi bayangan Ani Ema Susanti. Karena putus sekolah, ia kemudian memutuskan menjadi buruh migran di Hongkong. Karena banyak mendengarkan cerita muram para buruh migran perempuan, maka ia memutuskan untuk menjadi sutradara film.

Di awal-awal bekerja di luar negeri sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT), Ani sempat diliputi ketakutan, karena banyak kawannya yang mendadak diputus kontrak. Alasannya macam-macam, mulai karena PRT tak bisa berkomunikasi dengan majikannya, kerjanya dianggap lambat dan dianggap tak rapi, hingga sederet alasan lainnya.

Untuk menata spring bed saja, kata Ani, waktunya dihitung. Apakah cepat atau lambat. Begitu juga kerapian. Jika bed cover masih terlipat dan tidak rapi, nilainya sudah jelek. Untuk itu perlahan Ani mengevaluasi kinerjanya sendiri dan belajar bahasa secara mandiri.

Sebulan dua bulan ia mengaku menghadapi kesulitan berkomunikasi dengan majikannya karena tak bisa bahasa cantones. Bahkan beberapa kali sering salah paham.

"Saat itu saya menganggap  majikan saya keras. Tapi ternyata semua karena kesalahpahaman karena masalah komunikasi," katanya.

Akhirnya Ani menyadari bahwa dia merupakan salah satu PRT yang beruntung karena memiliki majikan yang baik. Majikan yang memperlakukan Ani laiknya keluarga sendiri, bahkan Ani sering diperkenalkan kepada saudara majikannya yang sebagian besar sedang bersekolah dan lulusan universitas di Amerika. Majikannya sendiri bekerja sebagai dosen di Universitas China. Kemewahan lainnya yang Ani dapat adalah ia  dipersilakan belajar atau membaca buku apa saja yang ada di perpustakaan pribadi milik majikannya.

Dari kehidupan majikannya ini pula Ani makin termotivasi untuk melanjutkan pendidikannya. Ia berkesimpulan bahwa hanya dengan pendidikan hidupnya bisa berubah. Keinginanya untuk melanjutkan kuliah pun makin menguat.

Pada 2003 masa kontrak kerjanya habis. Ia sebenarnya bisa melanjutkan, tetapi ibu dan bapaknya mengingatkan tentang tujuan pertama kali ia berangkat ke Hong Kong.
Tabungannya, sisa dari uang yang biasa ia kirimkan untuk orang tuanya sudah terkumpul Rp.60 juta. Ani merasa telah memiliki cukup bekal jika ingin kuliah atau melanjutkan sekolah.

Lantas ia pulang ke Indonesia dan kuliah di salah satu universitas swasta di Surabaya. Ia mengambil jurusan psikologi karena ia merasa jurusan itulah yang paling bisa membantu mewujudkan mimpinya menjadi penulis.

Tetapi, lagi-lagi Ani menghadapi masalah. Uang yang ia tabung habis saat ia masih duduk di semester enam. Beruntung temannya memperkenalkan Ani kepada salah satu penyandang dana yang biasa memberikan beasiswa kepada mahasiswa kurang mampu di kampusnya.


Mendapat Penghargaan Sebagai Sutradara Perempuan

Di sela-sela kuliah Ani mencoba ikut kompetisi film dokumenter yang diselenggarakan sebuah stasiun televisi swasta. Ia mengajukan proposal tema film dokumenter yang mengangkat cerita tentang kehidupan PRT di Hong Kong yang akhirnya bisa kuliah. Judulnya 'Helper Hong Kong Ngampus'.

Sebenarnya, cerita yang diajukan dalam proposalnya merupakan kisah nyata Ani. Namun, juri menyarankan supaya Ani mengambil cerita rekannya yang masih berada di Hong Kong yang memiliki kesamaan cerita dengannya supaya filmnya lebih hidup. Akhirnya proposal disetujui.

Dari film inilah kepercayaan diri Ani mulai tumbuh. Dengan  ilmu dan pengalaman baru yang didapat Ani terpacu dan makin produktif. Di tahun-tahun berikutnya Ani tak berhenti membuat film dan berhasil memenangkan beberapa penghargaan bergengsi, di antaranya FFI Award dengan film 'Donor Asi', mendapatkan fund scholarship dari School of Audio Engineering jurusan Film Production Institute Jakarta, dan beberapa penghargaan lainnya. Semua filmnya ia buat dari beasiswa.

Ucu Agustin, salah satu sutradara film dokumenter di Indonesia membenarkan bahwa Ani merupakan sutradara film dokumenter yang beruntung. Baru memasuki dunia film, ia sudah mendapatkan banyak kesempatan belajar dan mengaplikasikan ilmunya. Bahkan, mampu mengangkat kisah nyata kehidupan para buruh migran yang juga pernah dialaminya dengan sebuah karya nyata.

"Saya salut dengan motivasi dan spirit Ani yang tinggi. Mulai kuliah hingga menjadi sutradara film dokumenter semua ia perjuangkan dengan kerja dan belajar keras," ujar Ucu yang pernah bekerja bersama Ani dalam pembuatan film dokumenter 'Pertaruhan' melalui sambungan telepon.

Ani, kata Ucu, juga merupakan sosok yang bertanggung jawab. Karena, bisa menyelesaikan karyanya dengan baik di saat banyak yang memutuskan tak melanjutkan proyek
filmnya. Sisi menarik lainnya dari sosok Ani adalah ia merupakan pribadi yang jujur. Jarang ada mantan  buruh migran mau mengakui dan membuka statusnya ke publik. Tetapi, Ani justru sebaliknya.

"Yang dilakukan Ani benar-benar inspiring dan bisa memotivasi teman-teman dan kita semua bahwa cita-cita harus diperjuangkan," ujar sutradara film dokumenter "Di Balik Frekuensi" ini menambahkan.

Meski sukses dan telah memenangkan banyak penghargaan, Ani tak lantas bisa santai hidupnya. Dari ilmu yang ia peroleh Ani membagikannya kepada anak-anak di lingkungan tempat ia tinggal dengan membuat komunitas 'Bocah-bocah Bikin Film'. Komunitas yang beranggotakan  sekitar 20 anak ini sekarang telah berkembang ke beberapa daerah di antaranya di kampung tempat Ani lahir, di Jombang.

"Alhamdulilah, akhirnya ilmu saya bisa bermanfaat untuk anak-anak," ujar ibu dua anak ini.


(Foto: Film "Donor Asi" karya Ani Ema Susanti/ www.youtube.com)