Perempuan Muda dan Anak Muda yang Berserikat


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Mengajak anak-anak muda untuk membentuk serikat pekerja memang bukan perkara mudah, karena mengajak pekerja-pekerja umumnya yang rata-rata berasal dari kelas menengah, juga sama sulitnya. Banyak data yang memaparkan ini.

Misalnya dalam 6 tahun terakhir, jumlah serikat pekerja media yang banyak berisi anak-anak muda tak juga bertambah secara signifikan. Dalam 6 tahun ini hanya ada kurang lebih 25 serikat pekerja, sangat kecil jika dibandingkan jumlah media yang mencapai lebih dari 3 ribu media. Penambahan jumlah perempuan jurnalis yang ikut dalam serikat pekerja mediapun tak juga signifikan, ini sama kondisinya dengan jumlah serikat pekerja media yang tak juga meningkat.

Banyak problem dan persoalannya. Ketakutan jika di PHK merupakan salah satu alasan mengapa jurnalis enggan untuk berserikat. Hal ini karena pemilik media yang mencengkeram terlalu dalam sehingga menjadi momok dalam berserikat.

Winuranto Adhi, mantan pengurus divisi Serikat Pekerja Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyatakan bahwa individualisme yang tinggi merupakan alasan lain yang terkadang membuat jurnalis enggan untuk berserikat. Umumnya para jurnalis lebih senang sendiri dan enggan berorganisasi atau berjuang secara bersama-sama.

Kerja-kerja dalam Serikat pekerjapun tak mudah. Di dalam serikat pekerja, kita harus sering bertemu, meluangkan waktu sebagaimana berorganisasi lainnya. Selain itu, harus melakukan advokasi atau pembelaan terhadap persoalan-persoalan yang menimpa para pekerja. Yang tak  mudah, mengadvokasinya sampai pengadilan, melakukan kampanye kasus secara terus-menerus. Ini memerlukan nafas panjang.

Di dalam serikat pekerja inipun, macam-macam advokasi yang harus dlilakukan, dari mendampingi pekerja yang di PHK, pekerja perempuan yang mendapatkan kekerasan di perusahaan, pelecehan seksual di perusahaan mereka bekerja, lembur tak dibayar, tidak ada kontrak kerja, tentu bukan sesuatu yang mudah karena membutuhkan waktu dan juga energi banyak.

Untuk perempuan muda, advokasi dan berbagai kegiatan seperti ini banyak dilakukan di malam hari. Dan kadang, malam memang tak berpihak pada perempuan. Banyak perempuan yang kemudian enggan untuk bertemu di malam hari karena malam kadang tak aman untuk perempuan.

Mengajak anak-anak muda untuk berserikat ini beragam caranya. Di Belanda misalnya, serikat pekerja FNV mengajak anak-anak muda untuk berserikat dengan cara mengadakan pertemuan ngopi sore, mengajak mereka diskusi di tempat mereka biasa gaul. Perlakuan ini memang berbeda ketika mereka mengajak para buruh pabrik untuk berserikat yang waktu bekerjanya banyak dihabiskan di dalam pabrik. Maka jika dengan buruh pabrik, pertemuan banyak dilakukan di sekitar pabrik di sela-sela waktu istirahat mereka.

Namun mengajak para pekerja muda untuk berserikat, pasti butuh strategi lain.

Di Jakarta ada Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) yang mempunyai pendekatan berbeda dalam mengajak berserikat. Karena sasarannya anak-anak muda jurnalis, para pekerja media dan pekerja kreatif, maka SINDIKASI kemudian membuat sejumlah acara “ngobrol”, misalnya acara: “Ngobrol atau kongkow” yang dilakukan di Taman Surapati yang dilakukan di sore hari setelah mereka bekerja. Ini dilakukan setelah para pekerja selesai bekerja dan agar semua perempuan muda bisa ikut, tak terlalu pulang larut.

Dalam acara “Ngobrol di Taman” ini, para pekerja muda menyampaikan uneg-unegnya dengan pekerjaan yang mereka jalani.

Dalam sebuah diskusi yang diadakan SINDIKASI di labor house Coffe di kawasan Blok M, Jakarta di awal tahun 2017 misalnya, Ellena Ekarahendy,  Ketua SINDIKASI menyatakan bahwa banyak pekerja muda kreatif yang bekerja tanpa dikontrak, menjadi pekerja lepas yang tak mendapat tunjangan kesehatan, bahkan cepat sekali diputus kontrak. Namun, anak-anak muda ini ternyata tak pernah habis akal, karena mereka memahami bahwa serikat akan menjadi salah satu alternatif untuk menyelesaikan persoalan mereka.

Ini tentu memberikan kelegaan, karena di saat banyak anak muda yang tak mau berserikat, ada anak-anak muda yang kemudian mau mengagas serikat dengan cara atau strategi yang lain. 

Strategi lain yang dilakukan SINDIKASI misalnya, mewarnai hari buruh atau May Day pada 1 Mei 2017 kemarin dengan melakukan kampanye-kampanye dengan poster yang berbeda.

Poster bertuliskan "Kurangi Jam Kerja Perbanyak Bercinta" adalah salah satu poster kampanye yang menyita banyak perhatian. Isi poster ini ternyata merupakan salah satu taktik untuk mengajak pekerja muda untuk memperjuangkan 8 jam kerja.

Lalu bagaimana cara anak-anak muda ini mencari uang untuk menghidupkan organisasi?

SINDIKASI seperti halnya serikat pekerja lainnya mewajibkan anggotanya untuk membayar iuran wajib perbulannya. Iuran ini untuk kelangsungan organisasi, misalnya membiayai kegiatan organisasi.

Hal lain yang dilakukan misalnya melakukan pementasan musik untuk penggalangan dana kongres SINDIKASI. Dalam penggalangan dana ini, penonton membeli tiket masuk yang uangnya digunakan membiayai kebutuhan serikat. Sejumlah band yang muncul seperti Efek Rumah Kaca misalnya, Bonita and the Husband atau Maliq & d'essentials dikontak oleh para anggota serikat pekerja ini untuk manggung di acara malam penggalangan dana pada 16 Agustus 2017 lalu.

Aliansi Pemuda Pekerja Indonesia (APPI) juga merupakan serikat pekerja yang isinya anak-anak muda seperti SINDIKASI. Anggotanya anak-anak muda yang menjadi dosen, peneliti, penulis. Banyak perempuan muda yang menjadi anggota serikat APPI.

Sudah 2 tahun ini, APPI mengelola sebuah kedai kopi Labor House di sekitar Blok M untuk menghidupi serikat. Mereka berbagi tugas dalam mengelola kedai kopi. Sejumlah rapat dan diskusi juga beberapakali dilakukan di tempat ini. Pengunjung yang datang akan membeli kopi dan makanan yang kemudian digunakan untuk membiayai organisasi.

Cara-cara ini terbukti efektif untuk digunakan saat ini, jadi anak-anak muda tak langsung dijauhkan dari tempat mereka biasa bergaul, namun mereka justru harus didekatkan dengan banyaknya persoalan yang menimpa mereka, bertemunyapun di tempat mereka biasa ngobrol dan berdiskusi.

Dalam website aktivis serikat pekerja muda di Belanda https://youngunionactivists.wordpress.com/the-netherlands/, misalnya disebutkan bahwa mengajak anak-anak muda untuk berserikat harus berdasarkan pengalaman nyata mereka dan menggunakan strategi khusus, yaitu jangan menjauhkan mereka dari tempat mereka biasa bertemu sehari-hari.

Rata-rata anak muda akan enggan untuk masuk serikat karena kurangnya informasi dan kontak dengan serikat pekerja. Untuk memastikan menarik kaum muda, serikat pekerja harus mencari kehadiran dan visibilitas yang lebih besar di perusahaan-perusahaan tradisional. Hal ini berlaku baik di negara seperti Belanda maupun negara lainnya. Perhatian lebih pada pentingnya 'keamanan' dalam pekerjaan dapat mendukung anak muda untuk menjadi aktif dalam serikat pekerja

Di Belanda, banyak anak muda yang posisinya rentan,  mereka umumnya dua sampai empat kali lebih mungkin menganggur  dan sulit mendapatkan pekerjaan. Jika mereka menemukan pekerjaan, mereka sering memulai dengan kontrak sementara, digaji di bawah keahlian mereka.

Di Indonesia, kondisinya tak jauh beda. Banyak anak-anak muda yang mengalami kondisi demikian, misalnya mereka yang bekerja di industri kreatif. Mereka bekerja di film, pembuatan sinetron, pekerja seni yang bekerja tanpa dikontrak, kebanyakan freelance.  Sering, mereka digaji murah dan di bawah standar keahlian yang mereka miliki.

Kondisi ini menurut Direktur Utama Perum Produksi Film Nasional, Abduh Aziz merupakan kondisi yang susah.  Abduh Aziz menyampaikan hal ini dalam Kongres SINDIKASI yang diadakan pada 26 Agustus 2017 lalu di Jakarta.

“Pekerja kreatif adalah pekerja yang bahagia meskipun susah. Ke depan, harus ada upaya membangun ekosistem yang berjuang untuk pekerja kreatif.”

Abduh Aziz mengatakan bahwa kesadaran membangun ekosistem kerja yang sehat harus lahir dari langkah konkret para pekerja. Jika pemerintah abai, ia merekomendasikan pekerja yang harus mendesak, namun pekerja harus tetap memiliki kesadaran kritis untuk menganalisis masalah sebelum mengadvokasi bahwa industri kreatif merupakan tulang punggung perekonomian ke depan. Kesadaran pekerja bisa dibangun secara kolektif lewat serikat.

Berbagai sektor industri kreatif yang menurut Badan Ekonomi Kreatif mencakup 16 subsektor pun menjadi tantangan untuk para pekerja. Berbagai kerancuan dalam mengukur hasil kerja industri kreatif dikhawatirkan justru berpotensi meningkatkan kesenjangan.

"Dalam pembahasan tenaga kerja, mereka yang tidak berserikat atau tidak punya federasi, isu mereka tak terangkat," ujarnya.

Ketua SINDIKASI sekaligus perancang grafis dan perempuan muda yang mengorganisir anak muda lain untuk berserikat, Ellena Ekarahendy mengakui sistem industri kreatif masih eksploitatif. Desainer grafis misalnya, menghadapi tantangan proses penciptaan yang dikesampingkan sehingga apresiasi penilaian produk desain minim.

"Sebagai pekerja kebudayaan, pekerja mengalokasikan daya pikirnya dari manusia ke manusia lainnya. Kami dalam serikat ingin mendorong sistem kerja yang manusiawi," ujarnya.

Pekerja kreatif yang bekerja mengatasnamakan kecintaan dan dedikasi, kata Ellena harus melihat kembali sistem kerjanya. Pekerja kebudayaan dinilainya harus memiliki tanggung jawab besar terhadap produk budaya yang dipublikasikan karena membentuk nilai di tengah masyarakat.

"Namun sistem yang mengeksploitasi membuat pekerja budaya tercerabut dari makna kerja budaya itu sendiri," ujarnya.

Karena itu, serikat dinilainya harus bisa mendorong budaya tanding atau sistem alternatif terhadap sistem eksploitatif saat ini.


Peneliti Kathleen Azali, melalui sambungan panggilan video dari Singapura dalam Kongres SINDIKASI, menyebut Indonesia sebenarnya mengadopsi konsep ekonomi kreatif dari Inggris.

“Pertengahan 2000an adalah masa di mana kebijakan ekonomi kreatif mulai masuk Indonesia, yang menyerap kebijakan di Inggris,” ungkapnya.

Namun, ia mencatat ada kegagalan mengadopsi sistem tersebut.  Kegagalan itu terletak pada ketidakmampuan sistem menyediakan kesejahteraan bagi para pekerjanya. Ia menceritakan pernah melakukan penelitian di Surabaya, Jawa Timur.

“Pekerja kreatif dibuat seolah-olah mendapatkan angka yang menjanjikan, tetapi angkanya dari mana? 40 persen lebih pekerja dibayar di bawah upah minimum,” rincinya

Dalam situs https://youngunionactivists.wordpress.com/the-netherlands/ ,agar serikat pekerja bisa sukses, penting bagi kaum muda yang cenderung cepat kehilangan pekerjaan, freelance dan kontrak kerja dapat melihat apa yang ditawarkan oleh serikat pekerja. Solidaritas internasional merupakan tema penting di sini bagi anak muda. Selanjutnya, jembatan antara anak muda dan serikat pekerja harus merespons trend. Inilah isu-isu yang semakin banyak ditangani oleh kaum muda di dalam serikat pekerja di Belanda.


Peran terpenting serikat pekerja  adalah mewakili anak-anak muda anggota serikat pekerja dalam hal bernegosiasi untuk kesepakatan bersama. Peran penting kedua adalah mengorganisir pekerja lain untuk berorganisasi, karena tak dapat dipungkiri bahwa dengan jumlah yang banyak, maka solidaritas akan cepat dan banyak dilakukan. Jadi anak-anak muda yang berserikat akan bisa berjuang bersama yang lain.

Di Serikat SINDIKASI  misalnya, perjuangan serikat pekerja ini tak hanya pada bagaimana memperjuangkan ekonomi para pekerja, namun juga mengajak anak-anak muda untuk memperjuangkan isu Hak Asasi Manusia dan demokrasi.  Mereka juga mendorong jumlah anggota dan pengurusnya memenuhi kuota 40% perempuan, memberikan peringatan keras dan memberhentikan anggota serikat jika melakukan pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam pacaran dan lainnya.  Ini membuktikan, perjuangan SINDIKASI tak hanya pada soal ekonomi, namun juga pada soal politik, sosial dan relasi personal yang melanggar HAM.

Mutiara Ika Pratiwi, perempuan muda dan pimpinan Seknas Perempuan Mahardhika yang banyak berjuang untuk buruh perempuan menyatakan bahwa, melihat anak muda yang bergairah, terutama perempuan-perempuan muda untuk berserikat menurutnya sangat inspiratif.

Semangat ini menurut Mutiara Ika telah mampu menunjukkan bahwa daya pengetahuan atau daya kreatif yang dimiliki anak muda dan digeluti menjadi pekerjaan mereka saat ini tidak terlepas dari unsur eksploitatif dunia industri.

“Upaya tersebut tentunya bukan tanpa hambatan, karena industri kreatif ini seakan-akan menawarkan relasi kerja yang setara seperti tidak ada majikan, waktu kerja yang bisa diatur sendiri, dan tempat kerja yang bisa dimanapun.  Gerak maju yang telah dimiliki oleh para anak muda dan perempuan-perempuan muda ini, akan memperkaya strategi dan memberi metode-metode baru bagi pembangunan serikat pekerja dalam menghadapi perkembangan dunia industri saat ini,” ujar Mutiara Ika Pratiwi.

Sedangkan Khamid Istakhori, aktivis buruh Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) menyatakan bahagia rasanya, menyaksikan teman berlawan nambah satu lagi.

“Para desainer, pekerja kreatif, sineas, jurnalis, coppy writer, penulis berita dll berkumpul membuat persengkokolan untuk membentuk serikat. Saya yakin, semuanya keras kepala, susah diatur, menolak diintimidasi dan bermimpi jam kerja pendek. Deadline kerjaan kita yang tentukan. Kurang apa lagi? Tapi satu hal lagi yang menurut saya hebat, serikat pekerja muda seperti SINDIKASI akan menjadi teman buat semua serikat yang hari ini berlawan.”

Khamid Istakhoiri yakin bahwa  serikat pekerja muda seperti SINDIKASI akan menebalkan ‘persengkokolan’, perjuangan dan kasak-kusuk menolak penindasan yang sudah lama diperjuangkan para buruh.

“Saya membayangkan banyak hari HAM, hari buruh yang akan semakin semarak karena akan ada film bagus, desain poster bagus karya pekerja-pekerja muda kreatif.”

Perempuan muda, anak-anak muda, mari berlawan!


(Sejumlah band seperti Efek Rumah Kaca, Bonita and the Husband atau Maliq & d'essentials yang melakukan pementasan di acara malam penggalangan dana Serikat SINDIKASI dan poster aksi May Day SINDIKASI/ Foto: Guruh Riyanto dan Medium.com)