Seksualitas dan Menyusui yang Dianggap Tabu

Kustiah- www. Konde.co

Membaca berita kompas.com tentang foto anak seorang Presiden Kyirgyzstan yang sedang menyusui dan kemudian viral 31 Juli 2017 lalu, membuat saya mengernyitkan kening.

Foto perempuan setengah telanjang yang memperlihatkan aktivitas menyusui anaknya menuai kecaman dari banyak pihak. Bukan melihat seorang ibu yang berusaha memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, pengecam justru menganggap putri presiden dianggap mengunggah foto berpose liar dan tak sopan.

Mereka, para pengecam, tiba-tiba berubah wajah menjadi seorang moralis.

Lalu saya mendadak ingat pengalaman yang pernah saya alami. Saat dalam perjalanan di kereta listrik dari Jakarta menuju Bogor beberapa waktu lalu, anak saya menangis. Ia merengek ingin menetek. Dan ketika saya bersiap-siap hendak menyusui, ada penumpang yang berdiri di depan saya tiba-tiba menghardik.

"Ibu jangan menyusui di sembarang tempat. Ada banyak bapak-bapak. Lihat itu bu (sambil menunjukkan bapak-bapak yang sedang duduk maupun berdiri tak jauh dari saya)," ujarnya seperti memerintah saya untuk tak menyusui anak saya.

Saya yang setengah kaget bergeming.

Pelan-pelan kutarik jarik (kain gendongan) kututupkan ke dada dan kepala anak saya lalu kususui anak saya. Sambil memberinya senyum (sebenarnya urat kening saya sudah menegang) saya katakan bahwa anak saya haus. Dan saya tak mungkin membiarkannya kehausan.

"Ibu tidak pernah lihat kejadian mengerikan? Pernah di pasar seorang ibu menyusui. Ada seorang bapak-bapak melihatnya dan tak lama kemudian terjadi pemerkosaan. Itu akibat perempuan memperlihatkan payudaranya saat menyusui. Saya lebih berpengalaman bu," ujar penumpang itu yang terus berbicara setengah emosi kepada saya.

Lalu saya beri penjelasan dengan sambil menyusui.

"Terima kasih untuk perhatiannya. Saya akan hati-hati. Tetapi, pemerkosaan itu belum tentu karena seorang ibu menyusui. Itu semua terjadi karena si pemerkosa yang otaknya kotor dan kriminal," kata saya sambil memberinya senyum supaya tak terkesan menggurui dan membuatnya tersinggung.

Ini terjadi di kereta. Saya memilih berbicara sesopan-sopannya supaya tak membuat penumpang itu merasa dipermalukan.

Saya sadar bahwa saya hidup di Indonesia. Dengan masyarakatnya yang kira-kira akan memilih bersikap sopan ketimbang memikirkan tenggorokan anak. Yang setidaknya biasa terharu melihat seorang koruptor menangis di kursi sidang dan segera memaafkan kesalahannya ketimbang memikirkan dan melihat dampak korupsi yang dilakukannya.

Masyarakat yang lebih percaya gosip entertainment ketimbang mempercayai informasi seorang penyuluh pertanian. Jadi, saya pun memilih memberinya penjelasan singkat untuk menghindari perdebatan yang bagi saya tidak perlu dan tak akan ada ujungnya.

Dengan mengatakan bahwa perkosaan terjadi bukan karena seorang ibu menyusui, melainkan karena pelaku perkosaan sudah kotor otaknya di kepalanya, saya berharap bahwa penumpang itu tak menjeneralisasi kasus. Juga untuk membantah bahwa perempuan bukan sebagai penyebab perkosaan seperti yang selama ini awam banyak anggap. Tetapi lebih karena perempuan masih dianggap sebagai obyek seks.

Dulu, Fauzi Bowo atau biasa disapa Foke kala menjabat sebagai Gubernur Jakarta pernah mengomentari kasus perkosaan. Foke mengatakan seharusnya perempuan tidak berpakaian seksi di dalam angkot supaya tak terjadi perkosaan.

Setelah menuai banyak kecaman dan kritik Foke meminta maaf. Pernyataan penumpang itu saya kira sama seperti yang dikatakan Foke, jika perempuan tidak ingin diperkosa janganlah mengundang syahwat laki-laki untuk memerkosa. Sekalipun membuka baju di bagian dada sedikit untuk menyusui.

Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Divisi Reformasi Hukum dan Kebijakan Irawati Harsono dalam sebuah pertemuan konsolidasi jaringan perempuan di Jakarta, Jumat (4/8/ 2017) lalu mengatakan, kasus perkosaan, kekerasan seksual, pornografi terhadap perempuan tidak tiba-tiba terjadi. Seseorang tidak akan tiba-tiba memperkosa jika sejak lahir diajari menghormati tubuh perempuan.

"Jokes, guyonan tentang pornografi yang paling banyak dilontarkan itu joke tentang tubuh perempuan. Jadi dia (pelaku kekerasan seksual) menganggap tubuh perempuan itu layak dileluconkan. Dijadikan guyonan dan menganggap tubuh perempuan sebagai obyek seks," ujarnya.

Menurut Irawati, jika seseorang sejak lahir diajari menghormati tubuh maka peristiwa kekerasan seksual, pemerkosaan, pornografi tak akan terjadi.

Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, setiap tahun lembaga ini menerima pengaduan kekerasan seksual sekitar 1.500. Dengan kasus kekerasan seksual yang beraneka ragam. Tentu angka ini bukan jumlah yang sedikit. Dan selama siapa pun masih menganggap perempuan sebagai kaum lemah dan menganggap tubuhnya layak dileluconkan dan dijadikan obyek seksual, maka kasus kekerasan seksual tak akan pernah berkurang.

Jadi, berhentilah menyalahkan perempuan sebagai penyebab pemerkosaan terjadi. Berhentilah menuding perempuan tak bisa menjaga diri dengan tidak menutup aurat sehingga perkosaan tak terjadi. Tanyakan kepada diri sendiri, sejauh mana Anda menghormati tubuh manusia.