Sutradara Perempuan yang Dulu Menjadi Buruh Migran


*Kustiah- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co - Ide mengangkat kehidupan para buruh migran di Hong Kong ke dalam sebuah film dokumenter sebenarnya tak datang begitu saja. Ani Ema Susanti sudah lama memikirkannya supaya sisi pedih dan perjuangan kawan-kawan termasuk yang pernah dialaminya diketahui banyak orang.

Mula-mula Ani mencatat semua cerita kawan-kawannya ke dalam sebuah buku diary. Tak ada cerita bahagianya. Semua yang ia dengar dari kawannya adalah kisah pilu, bagaimana kawannya sesama buruh migran harus bercerai karena suaminya di Indonesia selingkuh, anak-anaknya tak terurus, dan banyak yang rela tak berkeluarga karena harus membiayai sekolah adik-adik dan kebutuhan keluarganya.

"Curhatan teman-teman ini membuat saya sedih," kata Ani.

Ani terpikir untuk menuangkan cerita yang dialami kawan-kawannya ke dalam sebuah tulisan berupa novel. Dan upaya itu telah ia lakukan, namun sejumlah media dan penerbit menolak.

Tetapi, setelah ia mencantumkan biodata dan mengatakan bahwa yang ia tulis merupakan kisah nyata dari seorang buruh migran barulah ada respon positif. Bahkan tak tanggung-tanggung, Ani langsung mendapatkan kesempatan mengangkat ceritanya ke dalam film dokumenter yang ia beri judul 'Mengusahakan Cinta'.

Kerja keras Ani berbuah manis. Dari cerita-cerita yang pernah ia dengar dan tulis kini berwujud menjadi sebuah karya yang bisa diketahui banyak orang. Kebanggaan menjadi mantan buruh migran yang bisa menggapai mimpi dan mewujudkannya tak hanya dirasakan Ani, Heni Sri Sundani, mantan buruh migran dari Hong Kong ikut merasakannya.

Sebagai mantan buruh migran Heni mengaku salut dan bangga telah mengenal Ani. Meski bukan seangkatan, Ani lebih dulu bekerja jadi buruh migran di Hong Kong, Heni merasa Ani merupakan salah satu inspirator bagi kawan-kawan PRT di sana termasuk bagi dirinya.

Dulu, kata Heni, TKW yang mau berjuang mengubah hidupnya bisa dihitung dengan jari. Tak seperti sekarang yang sudah banyak TKW melek teknologi dan memiliki wadah menuangkan idenya.

"Mbak Ani ini pengecualian. Dia orang yang punya komitmen dan kesungguhan yang luar biasa hingga hidupnya seperti sekarang ini," katanya.

Mungkin, kata Heni, tak akan ada yang menyangka bahwa dari tangan mantan buruh migran lahir karya-karya hebat.


Masa Lalu, Perjuangan Melawan Stigma
Bagaimana masa lalu Ani? Siapa pun tentu bahagia jika bisa lulus sekolah dengan nilai baik. Namun, justru tidak bagi Ani Ema Susanti, 32 tahun. Ani mengenang, pada tahun 2000 adalah masa-masa terberatnya. Usai dinyatakan lulus SMA bukannya bahagia, Ani justru bersedih karena tak bisa melanjutkan kuliah.

Keinginan kuliah memang sudah Ani pendam sejak ia masuk bangku SMA, bersamaan dengan usaha bapaknya yang bangkrut. Dan ia tak menyangka jika usaha kredit bapaknya tak pernah bangkit lagi, bahkan aset keluarganya habis disita bank karena para peminjam tak bisa mengembalikan pinjaman.

Ani mengenang, untuk kebutuhan sehari-hari dan makan keluarganya bahkan sampai harus disubsidi neneknya. Neneknya hidup bersama anak bungsu, adik ibu Ani, yang lulus sarjana dan menjadi pegawai negeri sipil. Jadi, secara ekonomi tak sulit bagi neneknya untuk membantu memberikan sayur atau lauk untuk keluarga Ani.

"Hidup kami benar-benar susah kala itu," ujar Ani kepada penulis  di Kawasan Ciputat berapa waktu lalu.

Melihat kondisi ekonomi keluarganya, sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Ani memutuskan untuk bekerja di sebuah pabrik snack di bagian pengemasan di Gresik.

Sayang, baru seminggu bekerja sebagai tenaga outsourching Ani dirumahkan karena pabriknya didemo para pekerjanya karena masalah ketenagakerjaan.

Ani akhirnya pulang dan berkonsultasi dengan kedua orang tuanya. Ia mengutarakan keinginannya  untuk tetap bisa bekerja. Dan muncullah ide untuk menjadi buruh migran di luar negeri seperti para tetangganya.

Hampir setiap rumah di kampung Ani tinggal ada anggota keluarga yang menjadi TKW. Dari hasil jerih payah bekerja di Hong Kong beberapa tetangganya ada yang mampu membeli sawah, memperbaiki rumah, dan membeli motor. Namun, di balik cerita sukses banyak pula  sederet cerita pilu. Di antaranya, keluarga TKW berantakan karena perceraiaan, anak tak terurus, dan kasus kekerasan yang dialami para TKW di tempat bekerja.

"Stigma buruk menjadi TKW lebih banyak dan menakutkan ketimbang baiknya," kata Ani.

Mulanya di benak Ani sendiri juga tak pernah terbesit untuk menjadi TKW. Ketika masih sekolah ia berjanji berkata dalam hati tak akan mengikuti jejak para tetangganya. Namun, kenyataan berkata lain. Ani tak punya pilihan.

Karena stigma itu pulalah Ani  diam-diam memutuskan pergi ke Hong Kong hanya diketahui bapak ibunya, tanpa diketahui keluarga besarnya. Jika keluarga besarnya tahu mereka sudah pasti tak akan mengizinkan. Apalagi di kampungnya hanya keluarga besar Ani yang tak ada anggota keluarganya pergi menjadi TKW.

Di benak Ani hanya ada dua tekadnya. Yakni ingin membantu orangtuanya keluar dari kesulitan ekonomi dan kedua ia ingin menabung untuk biaya kuliahnya kelak.
Ani juga ingin membuktikan kepada keluarga besarnya bahwa ia bisa menjadi TKW yang mengharumkan nama keluarga. Maka itu, setiba di Hong Kong Ani  bekerja dengan ekstra hati-hati, bekerja keras, dan tak berhenti belajar.

"Pokoknya yang ada di benak saya saat itu jangan sampai saya dipulangkan karena dianggap kinerjanya jelek, punya masalah dan alasan jelek lainnya," kata Ani. (Bersambung).