Tanda-Tanda Kekerasan dalam Pacaran



*Fetty Fajriatin- www.Konde.co

Barangkali isu kekerasan dalam pacaran adalah isu yang belum diketahui banyak orang, bahkan beberapa teman saya bertanya-tanya "Memang ada kekerasan dalam pacaran?".

Menurut catatan dari Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Tahun 2017  terdapat sekitar 259.150 laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan dalam wilayah pribadi, 56 diantaranya terjadi dalam perkawinan, 21 persen dalam hubungan pacaran dan 17 persen terhadap anak-anak.

Lalu sebenarnya apa sih kekerasan dalam pacaran itu?. Menurut saya, pacaran adalah suatu hubungan yang kadang banyak merugikan. Bukan hanya secara fisik namun juga finansial dan emosional. Lalu bagaimana bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran?

Terdapat 10 bentuk atau tanda kekerasan dalam pacaran:

1. Menggunakan kekerasan fisik untuk menyakitimu 

Jika pasanganmu sering melakukan kekerasan fisik apapun itu, meskipun menurutmu itu hanyalah suatu dorongan, menoyor atau mencengkram, pasanganmu sudah melakukan kekerasan dalam pacaran.

2. Mengecek ponsel, email dan sosial media tanpa izin

Masyarakat kita tahu apa yang baik dan benar tetapi kurang mengetahui tentang hak-hak mereka. Hal sesederhana privasi saja masih dianggap remeh. Banyak yang menganggap mengecek handphone atau sosial media bukanlah suatu bentuk kekerasan. So, kalo pasangan ngecek HP atau sosmed tanpa izin atau dengan paksaan itu bukan tanda sayang, melainkan: TIDAK SOPAN.

3. Posesif atau cemburu yang berlebihan
Kata orang sih cemburu itu tanda sayang, tapi kalo berlebihan apa iya masih bisa disebut tanda sayang?

4. Menguntit secara fisik ataupun digital

5. Menjauhkanmu dari keluarga dan sahabatmu

Kadang banyak pasangan lupa bahwa jauh sebelum pacaran, kita adalah individu dengan segala kehidupan dan aktivitasnya masing-masing. Lalu apa hak pasangan menjauhkan kita dari sahabat bahkan keluarga kita, seolah-olah kita hidup hanya untuk membahagiakan dan melayani dia.

6. Emosi yang meledak-ledak

7. Selalu meremehkan dan mengejekmu

Saya sering sekali melihat teman saya dikatain 'goblok' 'lemot' atau bahkan menjadi bahan tertawaan pacarnya sendiri. Dear, listen to me tidak ada satupun orang yang boleh meremehkan dan mengejekmu apalagi orang yang ngakunya sayang. Everyone worthlife.

8. Memaksa berhubungan seks

9. Menolak menggunakan kontrasepsi

10. Tuduhan tanpa alasan 

Kekerasan dalam pacaran terjadi karena cinta masih dianggap sebagai suatu kepemilikan. Aku cinta kamu, maka kamu milikku. Bagai anak kecil yang memiliki mainan, ia akan marah jika mainannya dipinjam apalagi diambil. ditambah lagi adanya hubungan  yang timpang atau tidak setara antar keduanya.

Hal yang dapat kita lakukan jika kita merasa bahwa kita korban kekerasan dalam pacaran yaitu:

1. Pertama, adalah percaya kata hati dan mengakui  bahwa ada yang tidak beres dengan hubunganmu.

Biasanya para korban melakukan penyangkalan seperti "Ah enggak kok, dia bukan kaya gitu" atau kompensasi seperti "Dia pasti berubah kok" seperti itu terus hingga kekerasan semakin berlanjut.

2. Kedua, yaitu jangan pernah hilang kontak dengan sahabat-sahabat terdekat. Ingatlah bahwa sebelum kamu punya pacar, sahabat-sahabatmu sudah mewarnai kehidupanmu duluan.

3. Yang terakhir adalah pentingnya membangun kesadaran (consent) dalam suatu hubungan. Buatlah kesepakatan dalam hubunganmu, apa yang boleh dan tidak, apa yang disukai dan tidak, sehingga terciptalah hubungan yang setara. Hubungan yang: saling, bukan: paling.

Hal sederhana yang dapat dilakukan agar tidak terjadi Kekerasan dalam pacaran adalah dengan memperlakukan pasangan sebagai manusia, bukan memperlakukannya seperti  benda atau properti.

Penting bagi kita untuk mengedukasi siapapun yang belum tahu dan sadar akan kekerasan dalam pacaran.

Tidak mudah memang, karena barangkali hal yang paling sia-sia adalah menasehati orang jatuh cinta. Namun kita tidak boleh menyerah karena melawan kekerasan dalam pacaran atau dalam relasi apapun adalah tugas kita bersama.


*Feti Fajriyatin, adalah seorang mahasiswi sosiologi yang sedang berjuang memakai toga secepatnya, sekaligus aktivis Rumah Gender FISIP Unsoed.