Kapan Seharusnya Perempuan Menikah?


*N. Irnawati- www.Konde.co

Kapan seharusnya perempuan harus menikah? Pertanyaan ini lalu lalang dalam telinga banyak perempuan ketika mereka menginjak umur 30 tahun. Jika umurnya lebih dari 30 tahun, pertanyaan yang sama akan berulang, hilir mudik, seperti angin ribut yang tak juga reda. Tak banyak orang tahu bahwa ini menyiksa batin banyak perempuan. Apakah semua perempuan harus menikah?


Perempuan Sebaiknya Segera Menikah?


Kisah ini dialami oleh teman saya yang usia pernikahannya belum genap satu tahun. Sebut saja namanya Lisa, usianya 28 tahun. Saya mengenal Lisa sejak saya memutuskan untuk lanjut studi di kota Yogyakarta.

Setelah selesai studi kami kembali ke kota masing-masing dan tetap berkomunikasi lewat telepon. Hingga pada suatu hari Lisa menghubungi saya dan memberi kabar bahwa dia akan menikah dengan laki-laki dari hasil perjodohan oleh salah satu kerabatnya.

Saya bertanya, “Apakah tidak terlalu terburu-buru?.”

Ia terlihat pasrah dan hanya melakoni proses yang ada.

Saya menyarankan apakah tidak lebih baik menunggu beberapa waktu dulu untuk saling mengenal satu sama lain atau lebih tepatnya menjalani proses pacaran sembari mencari pekerjaan.

Namun ternyata tidak bisa, tanggal pernikahan sudah ditetapkan.

Kabar bahwa Lisa akan segera menikah cepat tersebar ke tetangga desanya. Berbagai anggapan miring pun dialamatkan padanya. Beberapa tetangga  langsung berkomentar, “Kok nikahnya buru-buru, kamu hamil ya?.”

Ada juga yang saat melihat Lisa memakai baju kedodoran langsung mengatakan, “kamu terlihat gemukan, jangan minum jus nanas nanti keguguran lho”.

Berbagai hal memuakkan seperti ini dia hadapi menjelang hari pernikahannya.

Saya paham betul setelah selesai studi dan baru menjajaki proses mencari pekerjaan Lisa banyak dihadapkan pada tekanan yang berasal dari pihak keluarganya sendiri. Orang tuanya terus menerus mendesaknya untuk segera menikah, padahal Lisa belum ada calon sama sekali dan ia ingin meniti karir terlebih dahulu.

Di desa asal Lisa, kebanyakan perempuan memang harus menikah pada usia muda saat baru lulus SMA. Setelah lulus, mereka langsung dinikahkan.

Dalam lingkup keluarga Jawa, persoalan anak perempuan menikah menjadi hal yang sangat krusial ketika ia dianggap sudah melewati cukup umur. Di satu sisi perempuan ingin meraih cita-citanya, namun disisi lain ia menghadapi gempuran stigma sosial bahwa di usianya yang matang namun belum menikah ia akan dianggap perawan tua.

Ditambah lagi adanya anggapan yang membenarkan bahwa anak perempuan sebaiknya segera menikah, jika tidak, maka keluarga akan mencarikan jodoh untuk anak gadisnya.


Yang Saya Tangkap di Awal Pernikahan

Diawal pernikahan ada ketidakbahagiaan yang saya tangkap dari cerita-cerita yang Lisa sampaikan. Kenyataan bahwa ia tak cukup mengenal pribadi sang suami membuatnya kesulitan beradaptasi, bahkan kebebasannya terenggut dengan pernikahan tersebut.

Lisa menjadi sering uring-uringan dan menangis ketika berdebat dengan suaminya, ia tak punya kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri kedepan. Berbagai pertengkaran kecil sering terjadi dan Lisa tak punya keberanian untuk mengadu ke orang lain.

Sewaktu kuliah, Lisa punya kebiasaan untuk luluran dan pakai cream wajah yang ia beli dari klinik dokter kulit. Kini setelah menikah justru, ia tak punya waktu untuk merawat diri dan bersenang-senang. Kesehariannya ia abdikan untuk melayani suami dari bangun tidur hingga tidur lagi. Suami juga membatasi aktivitasnya, kalau keluar harus dengan melalui suami, ingin melamar pekerjaan pun suami melarangnya. Sebaliknya, suaminya seringkali tak pernah meminta ijin dan atau menanyakan pendapat Lisa tentang rencana liburan bersama teman kantor.

Roda kehidupan Lisa benar-benar berubah 180 derajat setelah menyandang gelar istri, gelar yang tak jauh lebih baik dari gelar akademik Lisa sebagai lulusan sarjana. Ia bukan lagi perempuan bebas yang berhak punya cita-cita tinggi, kini ia menjadi perempuan yang “wajib lapor dan ijin suami.”

Pagi hari Lisa selalu bangun duluan untuk menanak nasi dan menyiapkan sarapan sebelum suaminya berangkat kerja. Setelah suami berangkat kerja, Lisa pun disibukkan dengan berbagai urusan domestik seperti memasak, menyapu, mencuci, menjemur, menyeterika baju dan beres-beres rumah. Sore hari ia mulai memasak lagi untuk makan malam suami saat pulang kantor.

Bukankah mengurus pekerjaan domestik seharusnya menjadi tanggung jawab berdua, bukan tanggung jawab istri saja?

Dalam hubungan pernikahan memang menunjukkan adanya sebuah relasi yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Namun jaman sudah modern, pengetahuan mudah diakses, jadi selayaknya hubungan yang tidak setara tersebut seharusnya bisa dirubah menjadi lebih adil gender.

Saya sering mendengar cerita Lisa membiarkan dirinya kelaparan menunggu suaminya pulang untuk makan malam. Apakah para suami tidak tahu kalau istrinya rela menyiksa perutnya sendiri untuk menunggu suami makan malam bersama di rumah?

Wahai kalian para suami, ajaklah istrimu makan malam diluar menikmati indahnya langit dan rembulan, pesan makanan yang enak, jangan hanya menyuruh istrimu makan tempe dan sambal saja di rumah. Istrimu perlu perbaikan gizi setelah seharian lelah membersihkan dan membereskan rumah yang kalian berdua tempati.

Romantisme itu perlu dibangun karena istrimu juga butuh hiburan, dimanjakan dan bersenang-senang.

Saya seringkali menemukan kenyataan pahit bahwa perempuan yang tak segera menikah akhirnya diburu-buru oleh lingkungan sosial dan keluarganya untuk segera menikah demi status dan melanjutkan proses reproduksi. Katanya, nanti kalau tidak segera menikah lalu mau punya anaknya kapan? Padahal urusan mau punya anak atau tidak adalah keputusan perempuan, tak seharusnya ada intervensi dari pihak luar tentang otoritas tubuh dan rahim perempuan (Bersambung)


N Irnawati,
Lahir di Sukoharjo pada tanggal 15 juli 1985 dengan zodiak cancer adalah alumni Pascasarjana UGM yang mengambil jurusan Sosiologi. Saat masih dibangku SMA ia aktif mengikuti latihan bela diri karate di sekolahan. Setelah lulus SMA ia melanjutkan kuliah di UNS Surakarta dengan mengambil jurusan FKIP Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi. Skripsi yang pernah ia tulis ialah mengenai perilaku komunitas anak punk di kota Solo.

Selesai selesai menempuh pendidikan sarjana kemudian dia melanjutkan studi S2 di UGM dan berhasil menulis thesis tentang remitan migran sirkuler yang bekerja pada sektor informal di kota Yogyakarta. Ia pernah bekerja sebagai asisten riset membantu dosen yang sedang menyelesaikan disertasi dengan lokasi penelitian di kabupaten Gunungkidul. Sebagai asisten riset, ia bertugas terjun ke lapangan mengumpulkan data lapangan baik data primer maupun sekunder melalui interview dan obervasi.

Perempuan yang dibesarkan dalam keluarga tradisional Jawa ini selain menyukai karate, ia adalah pecinta kuliner, tertarik pada issue-issue seputar perempuan dan tidak suka jika tubuhnya didekte. Tubuhnya, sepenuhnya adalah otoritas miliknya sendiri.