Kematian Karena Kerja Lembur dan Berlebih


Kematian pekerja di Indonesia, Mita Diran begitu mengguncang dunia. Mita bekerja selama 30 jam tanpa berhenti, ini merupakan peringatan bagi perusahaan yang mempekerjakan pekerja diluar jam kerja, menuntut lebih tinggi hasil.  Hal seperti ini ternyata banyak dialami pekerja-pekerja lain di Asia:


Pekerja Tiongkok

Tidak tersedia data dari International Labour Organisation (ILO) untuk Tiongkok, tapi kematian akibat kerja berlebihan telah dilaporkan juga di sana.



(Mita Diran: Pekerja di Industri Periklanan di Indonesia yang tewas pada usia 27 tahun karena kelebihan kerja)


Salah satu kasus tragis terjadi hanya berselang 12 hari sebelum Takahashi bunuh diri.

Pada tanggal 13 Desember 2015, Li Jumming, seorang pegawai di portal internet terbesar Tiongkok, Tencent Holdings, mendadak meninggal saat sedang berjalan-jalan dengan istrinya di sekitar rumah mereka. Li adalah pekerja teladan, mengepalai tim pengembangan di seksi game di perusahannya meski usianya baru 30-an.

Hanya seminggu sebelum ia meninggal, Li memasang pesan daring yang menggembirakan:

“Aku akan segera jadi ayah, dan kuharap bayi kami tumbuh sehat.”

Dengan kapitalisasi pasar 50 kali lipat lebih besar dibandingkan 10 tahun lalu, Tencent dikenal sebagai perusahaan swasta dengan pertumbuhan tercepat di Tiongkok. Tingkat pertumbuhan perusahaan tersebut, dikenal luas sebagai pembuat aplikasi yang sangat populer WeChat, bahkan melampaui pertumbuhan Toyota Motor, pembuat mobil terbesar di dunia.

Li adalah sosok penting dalam pertumbuhan pesat Tencent. Yakin bahwa Li meninggal akibat kerja berlebihan, sejumlah rekan kerja yang dekat dengan Li membuat petisi untuk menuntut Tencent memperbaiki kondisi kerjanya.

Perusahaan harus “sangat peduli pada kesehatan mental para pekerjanya dan mengizinkan mereka pulang kantor pukul delapan malam mulai tahun depan (2016),” demikian isi petisi tersebut.

Kerja berlebihan tampaknya merupakan masalah bersama yang serius, melihat banyaknya pekerja yang langsung menandatangani petisi tersebut sebelum diserahkan ke pihak manajemen atas perusahaan.

Kematian akibat kerja berlebihan juga terjadi di perusahaan-perusahaan terkemuka Tiongkok lainnya dan dengan frekuensi yang terus meningkat.

Media Tiongkok melaporkan bahwa seorang karyawati di Alibaba Group Holding mendadak meninggal pada April 2014, tepat sebelum ia dijadwalkan melahirkan. Perempuan tersebut belum lama diangkat sebagai operator pengelola di situs perdagangan daring Tmall milik Alibaba, enam tahun setelah ia bergabung dengan perusahaan itu. Orang-orang di sekitarnya menyebut kematian tersebut akibat bekerja berlebihan.

Perempuan tersebut dikabarkan sangat takut akan menerima evaluasi kinerja yang buruk dalam pertumbuhan pesat bisnis Tmall, sampai-sampai ia melewatkan pemeriksaan kesehatan wajib dan terus bekerja dari rumah meski sudah mengambil cuti hamil.

Pada malam sebelum ia meninggal, perempuan tersebut bekerja sampai lewat tengah malam. Pukul empat pagi berikutnya, ia mengalami kejang dan dilarikan ke rumah sakit, tetapi meninggal akibat pendarahan di luar rahim.

Setiap tahun, sekitar 600.000 orang di Tiongkok dilaporkan meninggal akibat bekerja berlebihan, suatu statistik yang oleh banyak ahli dikaitkan dengan laju ekspansi ekonomi negara tersebut. Lu Shangbin, seorang profesor dari Wuhan University, berkata bahwa pekerja berada di bawah tekanan hebat dari perusahaan demi memaksimalkan profit.

Seorang manajer penjualan berusia 35 tahun di Beijing mengalami langsung tekanan tersebut.

“Setiap pagi dimulai dengan rasa takut untuk pergi bekerja,” ujarnya, mengingat-ingat kembali hidupnya pada musim panas tahun sebelumnya.

“Hari-hariku diakhiri dengan malam tanpa tidur dan penyesalan terus-menerus karena telah dipindahkan ke bagian penjualan.”

Kerja keras selama berbulan-bulan, tekanan hebat, dan ketiadaan bantuan cukup untuk menghancurkan ambisi dan kesehatannya.

“Dua puluh hari tanpa tidur dan beberapa kali percobaan melompat dari lantai 20 apartemenku telah meyakinkanku untuk mencari bantuan dokter,” ujarnya.

Namun bagaimanapun, selain tuntutan perusahaan, Profesor Lu juga menunjuk faktor lainnya: hasrat dari si pekerja sendiri untuk mengambil keuntungan dari pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang disebutnya “terlalu cepat.”

Lu menggambarkan situasi tersebut sangat berbahaya, melihat banyaknya orang yang mengorbankan kesehatan dan kebahagiaan mereka demi kesuksesan di dunia yang kian kompetitif.

Undang-undang ketenagakerjaan Tiongkok menetapkan bahwa pekerja tidak boleh bekerja lebih dari delapan jam per hari dan 44 jam per minggu. Namun undang-undang tersebut tidak mengimbangi ekspansi ekonomi yang pesat. Undang-undang yang berhubungan dengan kontrak pegawai dan pekerjaan secara khusus rentan terhadap penafsiran yang ambigu. Sekitar 3.000 gugatan pekerja—termasuk aksi demonstrasi dan mogok kerja—terjadi setiap tahun, dan tren menunjukkan sedikit tanda-tanda akan mereda.


Kerja Berlebihan: Masalah Besar


Kerja berlebihan adalah masalah yang tersebar di seluruh wilayah Asia, tetapi jam kerja yang panjang tidak membuat negara-negara di kawasan ini lebih produktif.

Berdasarkan data dari Organization for Economic Cooperation and Development, pada tahun 2012 produk domestik bruto Jepang dan Korea Selatan per jam kerjanya berturut-turut adalah sebesar $40,10 dan $28,90. Angka ini jauh di bawah Norwegia sebesar $86,60, Amerika Serikat sebesar $64,10, dan Jerman sebesar $58,30.

Roland Berger, pendiri sebuah firma konsultan Jerman yang dinamai berdasarkan namanya, berkata bahwa produktivitas Jepang di sektor jasa relatif lemah dibandingkan produktivitas negara itu di sektor manufaktur.

“Jepang pastinya harus lebih ambisius dalam menerapkan dan memperkenalkan teknologi digital ke para pekerja kerah putihnya,” ujarnya kepada Nikkei Asian Review saat kunjungannya ke Tokyo.

Jon Messenger, seorang pakar senior dalam bidang kondisi kerja di ILO, menyorot sebuah poin penting.

“Secara umum, jam kerja yang lebih panjang berhubungan dengan produktivitas pekerja per jamnya yang lebih rendah, sedangkan jam kerja yang lebih pendek berhubungan dengan produktivitas yang lebih tinggi.”

Messenger merujuk hasil dari kajian empiris yang mencakup 18 industri manufaktur di Amerika Serikat. Kajian tersebut menemukan bahwa peningkatan jam lembur sebesar 10% berdampak pada penurunan produktivitas sebesar 2,4%. Ia menambahkan, sebuah ulasan ilmiah tentang literatur kesehatan dan keselamatan kerja (K3) terbaru, menunjukkan bahwa “jam kerja yang panjang berkaitan dengan peningkatan risiko kecelakaan dan penyakit, yang berarti peningkatan biaya bagi bisnis dan ekonomi secara keseluruhan.”

Messenger berkata, batasan legal terhadap kerja lembur yang dipadukan dengan “penegakan hukum yang efektif” diperlukan untuk mengurangi jam kerja. Penegakan yang dimaksud mencakup pendirian lembaga pengawas ketenagaakerjaan yang kuat serta pemberian sanksi finansial. Gaji yang memadai juga merupakan suatu keharusan.

“Kalau tidak, pekerja harus bekerja lembur sebanyak mungkin hanya supaya kebutuhannya tercukupi,” ujarnya.

Beberapa orang bekerja lebih lama karena memang menyukai pekerjaan mereka, sedangkan yang lainnya termotivasi oleh uang atau kesempatan untuk meningkatkan karir. Namun bekerja lembur tanpa batas merupakan praktik yang tidak sehat, baik bagi si pekerja sendiri dan, dalam jangka panjang, bagi perekonomian.


 
KENTARO IWAMOTO dan YU NAKAMURA
, Staf penulis Nikkei. Nobuyuki Okada, wakil editor Nikkei di Tokyo dan Seiya Tsuji, staf penulis di Tokyo, Mariko Tai di Beijing, dan Joyce Ho di Hong Kong berkontribusi dalam laporan ini.

Tulisan ini diterjemahkan dari http://asia.nikkei.com/Features/Overworked/Karoshi-Economic-prosperity-at-a-personal-cost oleh Priska Nurina dari Task Force Suicide Primary Prevention atau Gugus Tugas Pencegahan Bunuh Diri dari komunitas Into The Light. Terjemahan ini dipublikasikan oleh www.buruh.co paada April 2016 untuk tujuan pendidikan dan pencegahan bunuh diri terutama pada pekerja kreatif.