Masa Depan itu Feminis


Poedjiati Tan dan Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Hadir dalam perhelatan besar Feminist Festival Indonesia di Jakarta pada Sabtu, 26 Agustus 2017 seminggu lalu seperti menimbulkan kegairahan baru dalam perjuangan perempuan. Banyak melihat perempuan muda di sepanjang selasar, banyaknya acara yang dihadiri anak-anak muda, poster yang penuh dengan gugatan dan kebangkitan perempuan yang dibuat oleh para perempuan muda.

Menggairahkan. Ini sebetulnya kata yang paling tepat.

Belum lagi Feminis Festival ini didesain secara masa kini, kampanye yang marak di sosial media, ajakan untuk melawan kekerasan seksual terasa mendapatkan angin segar. Perjuangan tak hanya dengan peluh dan air mata, tetapi juga kegairahan baru dari perempuan-perempuan muda yang memperjuangkannya.


Belum lagi ruangan diskusi, juga ruang selasar yang dihiasi dengan ciamik. Ruang selasar di SMA PSKD 1 Jakarta pada Sabtu dan Minggu lalu, 26-27 Agustus 2017 yang menjadi tempat perhelatan Festival Feminis dipenuhi berbagai barang dalam pameran mulai dari rajutan, buku, kain, makanan yang menampakkan kegairahan perempuan-perempuan muda dalam memperjuangkan isu feminisme.


Selain pameran, hari itu memang lebih dari 30 pembicara membahas isu-isu perempuan dan minoritas, seperti perempuan dan pekerjaan, kekerasan berbasis gender, orientasi seksual dan identitas gender, ekofeminisme, kebijakan politik, kelas menulis dan beberapa kelas lain. Semuan dilakukan untuk menentukan masa depan feminisme.

Acara yang digagas oleh Jakarta Feminist Discussion Group, sebuah komunitas yang menyediakan ruang aman di mana kita bisa membahas isu-isu feminisme dan kehidupan kita sebagai perempuan di Jakarta. Diskusinya santai, pengunjung yang mengikuti diskusi bisa memilih duduk di bawah atau duduk di kursi. Panitya juga dengan sigap melayani kebutuhan pengunjung. Pelaksanaan acara tak boleh terlambat karena semua harus sesuai jadwal.

Bagi yang ingin makan dan minum, bisa memanfaatkan bazar-bazar di luar ruangan. Ada lontong, nasi dan makanan ringan yang dijual.


Di kelas menulis misalnya, jurnalis Evi Mariani Sofian mengajak anak-anak muda untuk menulis dengan menggunakan perspektif korban yang disertai dengan teknik penulisan agar tulisan menarik bagi pembaca. Dengan menggunakan perspektif korban atau perspektif perempuan, maka sebuah tulisan bisa digunakan sebagai alat advokasi.

Di kelas perempuan dan pekerja, Ikka Noviyanti dari Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) memaparkan bagaimana perjuangan perempuan pekerja seks di Indonesia.

"Para perempuan pekerja seks umumnya bekerja tanpa perlindungan, tidak ada lokalisasi, bekerja di pinggir rel kereta api dan seringkali harus menghadapi pelanggan laki-laki yang tak mau menggunakan kondom."

Perjuangan juga tak mudah karena mereka juga harus menghadapi kiwir atau pacar dan mucikari yang meminta uang setiap perempuan pekerja seks selesai bekerja. Rantai kerja inilah yang membuat mereka menjadi korban berkali-kali.

Anis Hidayah dari Migran Care memetakan tentang rantai yang menjerat kerja-kerja para buruh migran di luar negeri. Kebijakan yang belum berpihak pada buruh migran di luar negeri seperti belum memberikan masa depan yang baik bagi para pekerja disana. Sedangkan kondisi Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang bekerja di dalam negeri tak sama baiknya, seperti belum diakui sebagai pekerja, harus menghadapi jam kerja yang panjang, tidak diberikan libur dan gaji yang layak serta praktek diskriminasi yang banyak terjadi.

Sedangkan Luviana, pengelola www.Konde.co yang juga aktif di Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) memaparkan kondisi jurnalis perempuan dalam lingkaran media baru. Banyak jurnalis perempuan yang bekerja di media baru merasakan nyaman karena bisa memanage waktu dengan kerja dimana saja, padahal banyak dari mereka yang hanya bekerja kontrak, tanpa status dan tanpa tunjangan.

"Belum lagi tuntutan bahwa seorang pekerja media harus menguasai banyak keahlian, seperti keahlian menulis, memotret, mengambil video dan menyiarkannya secara langsung. Banyaknya tuntutan ini sering membuat mereka justru dieksploitase dalam bekerja. Karena ada tuntutan pada mereka agar bisa bekerja apa saja, namun nyatanya mereka hanya mendapatkan 1 kali gaji. Ini berarti mereka dibayar di bawah keahlian yang mereka miliki."

Di kelas perempuan dan politik, anggota DPRD Depok, Jawa Barat, Sahat Tarida memaparkan bagaimana kiprah perempuan dalam politik. Tak mudah bagi perempuan untuk terjun ke politik, namun Sahat mengajak banyak perempuan untuk terjun ke politik. Karena perjuangan tak bisa diwakilkan, maka semakin banyak perempuan yang berjuang di ruang politik akan semakin bergema perjuangannya.

"Kita bisa memanfaatkan pengetahuan yang kita punya. Buat orang di luar kita, itu adalah hal yang luar biasa. Maka perlu kita informasikan seluas-luasnya, tentang agenda feminisme dan perjuangan menuju keadilan sosial," kata Sahat Tarida.


Feminist Festival yang melibatkan banyak anak  muda  ini memang hadir untuk mendekonstruksi pola pikir masyarakat yang kaku perihal gender, orientasi seksual, kelas sosial, dan disabilitas mengakibatkan peradaban yang tidak setara. Kelompok perempuan, LGBT, penyandang disabilitas, dan buruh migran termarginalisasi dengan sistem kebijakan yang kurang fasilitatif.  Begitu juga kebijakan kesehatan reproduksi serta perlindungan hukum bagi korban kekerasan dan pelecehan masih belum maksimal. Hak pendidikan, ekonomi, dan agama bagi kelompok marginal pun masih jauh dari setara.

Feminisme hadir untuk mengakhiri ketidaksetaraan ini. Paham feminisme kemudian hadir untuk memperjuangkan kesetaraan tanpa memandang gender, orientasi seksual, ras, agama dan hal-hal lainnya.

Hadir dalam perhelatan Festival Feminis ini membuat kita yakin bahwa: Masa depan itu feminis!


(Kegiatan dalam Feminist Festival Indonesia/ Foto: Facebook Feminist Festival Indonesia)