Perempuan yang Menyalakan Energi Hingga ke Pulau


Kustiah- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co - Di tangan perempuan Nurana Indah Paramita, kini, Perusahaan energi PT T-Files telah memiliki 30 karyawan dan proyeknya berkembang tak hanya pada PLTAL. Melainkan meluas ke bidang design engineering, niodigester water treatmen, dan beberapa bidang lainnya. Perusahaan ini dibangun dengan ketekunannya, dirintis sejak ia kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Melalui temuannya bersama tim turbin arus laut, ia sudah mengubah jalan gelap masyarakat pulau menjadi jalan terang. Siapa sangka tugas akhir kuliah bisa mendatangkan uang banyak? Bahkan bisa menjadi sebuah proyek besar yang diincar negara lain. Itu pula yang tak dipikirkan Nurana Indah Paramita, 32 tahun ketika itu.

Beberapa proyek yang terakhir dibangunnya sifatnya lebih komersiil. Saat ini T-Files menjalin kerjasama dengan Singapura MRT (SMRT) untuk mengerjakan Mass Rapid Transport (MRT) yang ada di Bandung. T-Files lolos tender bersama PT Wika.

Nurana Indah Paramita atau Mita puas atas beberapa proyek yang dikerjakannya. Namun ia mengaku tak akan berhenti dengan teknologi yang dicapainya saat ini.

"Jangan sampai kalau meninggal nanti saya tak punya apa-apa yang saya tinggalkan untuk masyarakat," kata Mita menambahkan


Senyum Masyarakat Pulau Berkat Kerja Keras 

Para petani rumput laut dan masyarakat di Pulau Nusa Penidai, Bali kini bisa tersenyum lega. Karena, telah ada penerangan dan pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) yang bisa menggerakkan ekonomi mereka. Pada 2007 sejak sebuah bank pelat merah menggunakan proyek PLTAL bekerja sama dengan PT T-Files kini listrik bisa diakses dengan mudah.

Sebelumnya di pulau hanya beberapa orang dan di beberapa tempat saja yang memiliki penerangan. Itu pun tak bisa digunakan secara maksimal karena penerangan bergantung dengan genset.

"Listrik tak bisa menyala sampai tengah malam karena dayanya terbatas," ujar Mita.

Akibatnya, para petani rumput laut sering merugi karena hasil panen rumput lautnya banyak yang tak bisa langsung diangkut dari laut dan dibawa ke daratan.

"Sering terjadi rumput laut yang sudah dipanen hilang terbawa arus laut karena setelah panen tak bisa dibawa karena gelap," ujar Mita menambahkan.

Setelah ada listrik yang bersumber dari energi  arus laut kini pasar dan pelabuhan bisa beroperasi hingga 24 jam. Berbeda dengan pasar dan pelabuhan, penggunaaan listrik untuk rumah tangga masih dibatasi untuk jam-jam tertentu. Misal hanya bisa digunakan tak sampai tengah malam. Jika tidak, pembangkit bisa konslet.

Mita bercerita, pernah suatu kali listrik sekampung mati karena terjadi konsleting.Penyebabnya beberapa rumah mencuri-curi menyalakan televisi hingga pagi.

"Biasanya itu pas world cup champion," kata Mita.

Akibatnya, karena melebihi daya penggunaan pembangkit listrik mati. Dan salah satu tim T-Files harus datang untuk mengontrol dan memperbaiki.

Kesuksesan menggunakan listrik dari pembangkit arus laut di  Pulau Nusa Penindai cukup membuat Mita dan tim merasa bangga. Apalagi ekonomi di pulau-pulau terpisah tergerak. Namun, rupanya sukses di satu tempat membuat tempat lain iri. Mereka yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani rumput laut merasa dianaktirikan menuntut fasilitas yang sama kepada Mita.

Pada masa-masa ini Mita mengaku kuwalahan menghadapi sikap masyarakat yang protes.

"Soalnya yang saya kerjakan kan juga perlu dana yang tak sedikit dan tidak bisa saya kerjakan sendiri," katanya.

Alhasil, dengan berbagai pendekatan Mita akhirnya bisa menjelaskan bahwa ia bisa menyediakan listrik jika pemerintah turun tangan langsung. Atau jika tidak salah satu solusinya dengan transfer knowledge.

"Jadi, lebih banyak masalah sosial yang dihadapi saat mengaplikasikan teknologi T-Files ketimbang masalah teknis," ujar Mita.

Dibandingkan dengan penggunaan genset, PLTAL menurut Mita jauh lebih hemat. Untuk satu proyek pembangkit biasanya Mita hanya memerlukan dana sekitar 70-80 juta. Sementara jika menggunakan genset bisa lebih mahal.

Kadang genset pun tak bisa menjangkau ke pulau-pulau terpencil. Maka tak heran, jika hanya proyek Mita yang bisa menjangkau pulau-pulau terpencil dan terpisah. Biasanya PLTAL bisa digunakan untuk dua desa, pasar malam, pelabuhan dan pasar bagi para petani rumput laut.

Untuk kerjasama PT AL dengan swasta sejauh ini belum pernah dilakukan. Mengingat BUMN dan kementerian selalu memperpanjang kontraknya yang sekali masa kontrak hanya berlangsung selama tiga tahun.

Namun Mita sudah membuktikan bahwa ia adalah salah satu perempuan yang tak mau pergi, lebih memilih membangun negerinya dan menyalakan energi dalam gelap (Selesai)