Surat-Surat dan Rasa Bahagia Kami


*Almira Ananta- www.Konde.co

Jika tak sedang sibuk dan punya banyak waktu, kami selalu bisa minum teh di hari Minggu sore. Ibu yang selalu menemani kami, 3 anaknya. Namun rutinitas ini sekarang tentu sudah susah dilakukan. Atau hanya bisa kami lakukan ketika liburan datang.

Kakak pertama saya sudah lama tinggal di luar negeri. Kakak kedua tinggal di Jogja, dan saya sendiri di Jakarta. Ibu rumahnya tak jauh dari tempat saya tinggal, hanya beberapa meter saja. Ini memang sengaja kami lakukan agar saya bisa menemani ibu sewaktu-waktu.

Untuk sekedar minum teh sore hari bersama ibu, ini sangat sering saya lakukan. Biasanya ini adalah rutinitas hari Minggu kami di sore hari. Kami bisa bicara apa saja.

Di waktu ini, kami juga beberapakali melakuan komunikasi melalui skype dengan kakak. Walau kadang hanya beberapa menit, paling tidak kami bisa saling menatap dan memberi kabar.

Ibu bercerita bahwa ini merupakan kebahagiaannya. Bayangkan jika ini terjadi di jaman dulu, begitu ibu pernah bilang.

Dulu, hanya untuk memberikan kabar saja, ibu harus menulis surat dan ke kantor pos esok harinya. Biasanya surat baru bisa diterima 3-7 hari. Setelah itu baru ada balasan seminggu kemudian. Kabar mendadak ini juga pernah kami dengar ketika dulu kakek meninggal. Ibu bercerita, waktu kakek meninggal, ibu mengirimkan surat telegram kepada kakaknya. Dan baru sehari kemudian telegram tersebut sampai. Jenasah kakek dimakamkan pada hari kedua menunggu anak-anaknya pulang.

Belum lagi ketika mengirim uang. Ibu harus mengirimkan uang melalui wesel dan baru 3 hari kemudian sampai, itupun dengan mengirimkan secara kilat khusus yang berbayar mahal. Jika tidak dengan kilat khusus maka seminggu kemudian baru sampai. Penerima wesel kemudian akan pergi ke bank dan mengambil uang kiriman.

Di rumah kami, jaman kami kecil juga tidak ada telepon. Kami harus pergi ke telepon umum jika ingin menelepon. Jika ingin melakukan komunikasi jarak jauh dengan interlokal atau sambungan internasional, maka ibu harus pergi ke wartel atau ke kantor pusat Telkom. Dulu ibu melakukannya karena ayah bekerja di Singapura dan kakak sekolah di Jogja.

“Belum lagi jika telepon seperti ini, yang menunggu untuk telepon banyak sekali,” kata Ibu.

Jadi ibu harus menunggu selama berjam-jam hanya untuk bisa menelepon dan menyampaikan hal penting.

Komunikasi memang telah menjadi hal penting selama berabad-abad. Dari mesin cetak Johannes Guttenberg, Graham Bell dengan temuan telponnya, hingga email, facebook dan instagram. Ini selalu mengingatkan bahwa media massa adalah ruang yang dibutuhkan banyak orang. Pada media dan juga komunikasi, orang menjadi tahu kabar bagi orang lain.

Sekarang, facebook, Whats App, Skype dan masih banyak lagi bisa menjadi ruang komunikasi bagi semua orang. Tentu sangat mudah dan tak sesulit dulu.

Di waktu minum teh sore bersama ibu seperti ini, kakak-kakak saya selalu mengenang jasa ibu, upaya ibu. Ibu tidak hanya menjadi jembatan komunikasi diantara kami, namun ibu adalah orang yang menyatukan kami. Dengan alat yang sangat sederhana, ibu tak pernah lupa mengirimkan wesel, telegram penting dan menelepon hanya untuk mendengar suara kami.

Surat-surat ini dan telepon-telepon penting ibu, selalu menjadi penanda kasih sayang ibu kepada kami.



*Almira Ananta,
Traveller dan Blogger