Di Carita, Aku Melihat Banyak Perjuangan Perempuan


Luviana- www.Konde.co

Carita di sore hari. Sabtu, 30 September 2017.  Ini adalah hari, waktu kesekian kalinya bersama sejumlah teman sampai disini. Entah ada keperluan keluarga atau pertemuan rapat dengan banyak organisasi.

Lewat di sepanjang pantai dengan air yang tak lagi jernih ini kami kembali bertemu banyak perempuan. Mereka yang kami temui adalah perempuan yang berdagang pisang, berdagang ikan dan kerupuk, berdagang mie dan kopi juga berdagang baju.

Di sudut sana ada seorang ibu berjualan otak otak.

Hidup tak lagi kemana, kata ibu penjual otak otak. Dagangannya dari pagi belum habis juga sampai sore. Saya bersama teman-teman kemudian membelinya. Walau kami hanya membeli 15 buah otak-otak, ibu ini selalu bersyukur. Lumayan untuk jajan anak.

Sore menjelang matahari terbenam, datang pedagang pisang goreng. ia menawarkan pisang yang lagi panas.

"Habis digoreng,” itu katanya

Kami membelinya walau sedikit, perut kami sudah mulai kenyang karena habis makan sore. Hari ini memang bukan seperti hari biasa. Jika ada pertemuan, kami justru makan lebih banyak dari biasanya, lebih rutin dari biasanya. Ada snack pagi dan snack sore, disamping makan sehari 3 kali.

Ibu penjual otak-otak dan pisang goreng adalah perempuan yang sudah sering saya jumpai ketika datang ke Pantai Carita ini. Di Carita ini memang kami sering menjumpai banyak perjumpaan.  Semua tanpa sengaja. perempuan yang memberikan nafas kehidupan. ombak yang mengantar kami untuk menemui mereka.

Jika pagi para perempuan pedagang ini berjualan di pasar. Maka menjelang siang hingga sore bahkan sampai malam, mereka kembali berjualan di sepanjang pantai. Makanan yang mereka bawa, dijual bagi para wisatawan yang datang.

Kondisi pedagang memang tak juga membaik. Para perempuan pedagang ini  mendapatkan posisi tawar yang lemah.

“Berdagang dengan harga minimpun, pembeli masih sering menawar,” keluh salah satu perempuan pedagang.

Inilah yang kemudian menyebabkan pedagang hanya bisa mengambil untung yang sedikit.


Belum lagi mereka pasti kalah dari pemodal besar. Jika ada pemodal besar datang, maka habis sudah dagangan para perempuan.

Untuk mencoba lebih banyak peruntungan, maka mereka harus berjualan pada lebih satu tempat. Jika pagi berjualan di pasar, maka siang hingga sore berjualan di selasar pantai. Dan menjelang malam, jika dagangan tak juga habis, maka mereka akan berjualan untuk duduk selama beberapa jam di depan hotel dan penginapan, menunggu para penginap atau wisatawan keluar kamar.

“Siapa tahu dagangan kami dibeli.”

Perjumpaan seperti ini selalu mengingatkan saya pada perempuan yang tak pernah lelah berjuang. Yang dengan gigih memperjuangkan hidup.

Dalam catatan Pusat Analisis Sosial AKATIGA, pada pola produksi, perempuan pedagang adalah subyek yang mendatangkan pendapatan di rumah. Dengan nasib yang tak menentu- terkadang semua dagangannya bisa terjual, namun banyak hari-hari dimana ia tak bisa menjual dagangannya karena kondisi yang tak bisa tertebak.  Kondisi ini menjadikan mereka tak bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipercaya untuk pendapatan hidup.

Dan di pola reproduksi, perempuan pedagang ini adalah subyek yang harus menjamin keberlangsungan kegiatan dalam rumah tangga.  Ini karena tidak adanya pembagian pekerjaan yang setara di rumah. Para perempuan pedagang kemudian menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan mengurus anak. Hal ini yang semakin memberatkan perjuangan mereka. Membuat para perempuan pedagang menjadi semakin terlempar dari aktivitas sosial mereka.

Hal ini juga semakin membuktikan bahwa selama ini perempuan berdagang bukan untuk dirinya. Tapi untuk tetap mempertahankan kehidupan bagi banyak orang.


(Foto: Carita beach online dan wisataterindah.net)