Haters, yang Tak Kumengerti


Sica Harum- www.Konde.co

Saat menjadi editor sambil mengurus penerbitan buku, saya ingat kami, saya dan teman-teman sering berdiskusi membahas para haters. Semakin tinggi posisi seseorang, maka biasanya semakin nambah juga haters-nya.

Atau semakin ngetop orang di sosial media, jadi seleb tweet misalnya, akan semakin banyak hatersnya.

Kala itu kami mengatakan haters sebagai pengganggu di sosial media, mereka kepo dan pengin mengganggu kehidupan kita.

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan ngobrol sore dengan seorang laki-laki teman kami. Rencananya, kami akan menggarap buku terbarunya. Obrolan yang sifatnya masih tahap awal itu biasanya memang saya manfaatkan sebisa mungkin untuk menggali banyak hal demi menjawab 5W+1H nya.  Terutama motivasi penulisan buku.

Sempat tercetus istilah “thousand friends and zero enemy” yang dipopulerkan orang lainnya lagi saat masih berkuasa di negeri ini.

Bukan sekali dua kali ‘cita-cita’ itu dikritisi sebagai sesuatu yang naif, utopia sekaligus destruktif. Dengan konsep pikir ‘all is well’ tanpa persiapan cukup buat asumsi ‘worst case’, maka sebetulnya kita hanya sedang malas saja.

Dan kata laki-laki teman saya tadi, “Kamu, enggak mungkin mendapatkan apa yang kamu mau dengan sungguh-sungguh, yang kamu cita-citakan dengan sepenuh hati, tanpa ada musuh, tanpa ada orang yang gak suka dengan apa yang kamu kerjakan.”

Betul. Sungguh.

Dalam mengejar sesuatu, saat fokus, maka kita akan selalu bertemu orang yang enggak suka. Haters. Ataupun ‘musuh’. Mereka mungkin siap ‘menjegal’, bahkan dengan cara-cara yang enggak terpikir sebelumnya.

Saya jadi teringat salah satu teman yang menulis pendapatnya ketika ia menolak poligami. Tulisan ini ia unggah di sosial media. Seketika itu juga banyak komentar dan haters yang datang, mereka mengatakan bahwa poligami halal, boleh hidup di Indonesia dan lain sebagainya. Teman saya kemudian banyak sekali dihujat seolah pendapatnya salah, seolah ia tidak boleh berpendapat. Para haters ini juga datang bertubi-tubi menyatakan bahwa poligami halal dalam agama, bahwa orang yang menolak poligami tidak paham hukum di Indonesia.

Pendapat para haters ini seolah poligami itu tidak melanggar hak perempuan.

Cerita yang sama juga terjadi ketika teman saya berpendapat soal kekerasan dalam rumah tangga. Para Haters ini sekonyong-konyong datang dan mengatakan bahwa : menulis soal persoalan di rumahtangga secara terbuka adalah sebuah aib.

Duh. Padahal sudah ada UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Namun komentar para haters ini seolah-olah mereka yang paling tahu isi rumah tangga teman saya.
Jangan terlalu dipikirin karena itu bakal jadi pikiran negatif yang justru malah bisa merusak usaha kita buat maju terus. Tapi cukup dengan ‘aware’ bahwa dalam mengejar impian, dalam  berpendapat, memperjuangkan hak asasi perempuan, kita enggak bisa menyenangkan hati semua orang.

Akan ada orang yang enggak suka atas pilihan-pilihan kita. Itu pasti. Sebab pada akhirnya, ini adalah perjuangan yang mungkin tak kunjung selesai waktunya.