Nyanyi Sunyi SK Trimurti


KABAR duka itu kubaca di Internet, Rabu pagi itu. Ia meninggal di RSPAD Jakarta, Selasa kala itu, tepat saat Indonesia memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional. Ia juga pergi bersama dengan mantan gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Sebuah kebetulan yang aneh.

Aku jadi teringat kunjunganku ke RS. Cikini, dua tahun lampau, juga di bulan Mei. Berdiri di sisi pembaringannya, ia mendendangkan sebuah lagu Belanda untukku. Perawatnya, seorang perempuan muda, mengatakan padaku bahwa keluarga sendiri jarang menengoknya. Yang kerap menengok justru Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, yang kemaren turut meninggal bersamanya. Ah, sebuah kebetulan yang aneh.

Di bawah ini tulisan yang kubuat untuk SK Trimurti, pahlawan perempuan, pejuang bagi buruh-buruh perempuan, menteri perburuhan pertama di Indonesia.


*Fransisca Ria Susanti- www.Konde.co

JAKARTA – Waktu bergulir 30 menit dari pukul 13.00 WIB saat tiba di depan gerbang di area rawat inap Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat. Jam bezuk sudah habis. Petugas jaga baru saja mengunci gerbang.

Namun tak mungkin berbalik arah, saya harus menemuinya. Wajah perempuan yang terbaring di paviliun Anggrek 6 itu terbayang di mata.

Perlu waktu beberapa menit membujuk petugas jaga, sebelum pintu gerbang itu dibuka. “Janji, cuma lima belas menit ya...,” ujarnya.

Saya mengangguk. Tapi jelas itu anggukan tak jujur. Mana mungkin menemui mantan Menteri Perburuhan itu hanya dalam hitungan menit.

Bayangan duduk berbincang dengannya membuat perjanjian 15 menit dengan petugas jaga tersebut seperti sulit ditepati. Saya membayangkan bisa mengobrol dengan kawan dekat Soekarno itu tentang peringatan 1 Mei yang meriah dua pekan lalu atau pers yang mulai gamang dalam tarik-menarik antara kepentingan publik dan desakan pasar.

Namun, semua keinginan itu buyar ketika pintu Anggrek 6 terbuka. Tubuh renta dengan wajah pucat yang terbaring di atas kasur itu membuat ajakan berbincang dengannya terlalu muskil. Matanya terpejam, kedua tangan terikat di samping kanan dan kiri tempat tidur besi.

“Ia sering menggaruk wajahnya sampai lecet,” kata seorang perempuan usia belasan yang tengah mengepel lantai di kamar tersebut, menjelaskan alasan ikatan tangan tersebut.

Tak ada kawan dan kerabat di ruangan itu. Mira, perempuan yang dibayar oleh pihak keluarga untuk menjaganya, tengah keluar makan siang.

Televisi yang menggantung di langit-langit ruangan memutar telenovela. Suara dialognya terlalu keras diterima gendang telinga, namun di ruang sepi ini, barangkali suara tersebut bisa jadi penghilang sunyi.

Butuh waktu beberapa menit sebelum menyapa perempuan yang tergolek lemah itu, memastikan bahwa ia tak tidur meski matanya tengah terpejam. “Tolong tamunya dipersilakan masuk. Mana Sainah. Tolong tamunya disuruh masuk,” ujarnya.

Meski berkali-kali saya katakan bahwa saya sudah berada di dekatnya, perempuan dengan nama Surastri Karma Trimurti ini tetap tak menyadarinya. Ingatannya meloncat-loncat.

Ia merasa masih berada di rumahnya di Jalan Kramat Lontar H7, Kramat, Jakarta Pusat. Ia terus mencari Sainah, perempuan yang telah mengabdi padanya selama 30 tahun.

Ia bahkan mengajak pergi ke Jakarta Selatan. Ingatannya mencatat, ada pertemuan para wartawan perempuan yang harus ia hadiri.

“Aku mau pergi ke Selatan. Kamu jangan pulang. Nanti siapa yang akan menemaniku. Aku akan bertemu Herawati Diah dan kawan-kawan wartawan lainnya. Nanti kita bisa bicara banyak.”


Wartawati Pejuang

Lahir di Sawahan, Boyolali, pada Sabtu 11 Mei 1912, Surastri Karma Trimurti yang kemudian lebih dikenal dengan nama SK Trimurti menolak dibesarkan dalam alur perempuan zamannya yang dipaksa oleh sistem budaya feodal untuk sekadar berurusan dengan dandan, masak, dan beranak.

Ia memilih untuk menjadi guru setelah lulus dari Sekolah Rakyat dan Sekolah Guru Putri. Tapi tak cuma itu, di sela-sela waktu mengajarnya, ia juga aktif dalam Partai Indonesia (Partindo) dan menjadi pendengar setia pidato Soekarno yang selalu inspiratif itu.

Hingga kemudian, ia diminta menulis di Fikiran Ra’jat, majalah yang dipimpin oleh Soekarno. Trimurti tak sanggup menolak karena Soekarno sendiri yang memintanya. Tulisannya tajam, mengecam kekuasaan kolonial, mencurigai setiap motif penguasa di Hindia Belanda.

Kecaman ini ternyata berdampak. Penguasa kolonial merasa terancam, Trimurti pun dipaksa merasakan dinginnya dinding penjara. Namun, ia tak pernah surut. Ia semakin aktif menulis, bahkan membuat penerbitan sendiri dan menyebarkan pamflet antikolonialisme. Meski untuk itu, ia kembali dijebloskan di Penjara Perempuan di Bulu, Semarang.

Sayuti Melik, sang penulis naskah Proklamasi, yang ia nikahi pada tahun 1938 menjadi pendukung utamanya. Buah cinta mereka, Moesafir Karma Boediman, pun terpaksa ia lahirkan di lorong sempit penjara Belanda gara-gara sikap kerasnya terhadap sang kolonial.

Keluar dari penjara, pemerintahan baru Republik Indonesia di bawah kabinet Amir Sjarifuddin yang baru berusia dua tahun, menawarinya kursi Menteri Perburuhan.

Pensiun jadi menteri, Trimurti menjadi anggota Dewan Nasional. Ia juga melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan tamat tahun 1960.

Pada tahun 1962 hingga 1964, ia diminta pemerintah untuk pergi ke Yugoslavia, mempelajari Worker’s Management. Ia juga pergi ke negara-negara sosialis lainnya di Eropa untuk mengadakan studi perbandingan mengenai sistem ekonomi.

Keberpihakan Trimurti terhadap buruh sangat jelas. Tiga tahun setelah turun dari jabatan Menteri Perburuhan, ia menerbitkan ABC Perdjuangan Buruh, sebuah buku yang mengupas hakikat perjuangan buruh sebagai sebuah kekuatan kelas.

“Kaum buruh harus mempunyai kesadaran bahwa mereka bekerja untuk kepentingan kelas buruh dan kepentingan seluruh anggota masyarakat, bukan untuk kepentingan kaum kapitalis, yang menjalankan eksploitasi,” demikian dia menulis. Sebuah analisis yang kini kerap dikutip oleh sejumlah serikat buruh sebagai suatu inspirasi.

Namun kini, inspirator kaum buruh dan wartawati tiga zaman itu terbaring sakit. Dokter menyatakan tak ada penyakit serius yang dideritanya, hanya saja usia senja telah menggerogoti tubuhnya secara sistematis. Ia tampak demikian renta dan begitu sendirian.

Mira, perempuan yang menjaganya, mengatakan bahwa satu-satunya putra Trimurti yang masih tersisa, Heru Baskara, lama tak menjenguknya. Sementara itu, Moesafir Karma Budiman yang ia lahirkan di lorong penjara sudah lama tiada.

Satu-satunya kawan yang menemani Trimurti di rumah sakit—selama sembilan bulan terakhir—hanya perempuan asal Cibinong itu yang mendapat gaji rutin dari pihak keluarga.

Sesekali, beberapa kawan dan sejumlah pejabat datang menjenguk. Sejumlah politisi pun berkunjung, sekadar memperingati sebuah hari nasional yang membawa kenangan pada Trimurti, atau hanya membuat janji untuk memberikan bantuan.

Syukurlah, pemerintah tak cuci tangan. Hingga saat ini, janji pemerintah untuk membiayai rumah sakit dan perawatan Trimurti bisa dipegang.

“Aku ingin ke Selatan. Siapkan bajuku. Jangan pulang dulu, kau harus temani aku ke Selatan. Aku ingin bertemu Herawati Diah dan kawan-kawan. Kau harus menemaniku. Aku lupa jalan ke sana,” katanya berkali-kali saat saya mengucapkan selamat tinggal.


(S.K. Trimurti/ Foto: rilis.id)

* Fransisca Ria Susanti, seorang penulis dan jurnalis. Tulisan ini pernah dimuat di Sinar Harapan, 11 Mei 2006 di hari kelahiran SK Trimurti, dan dimuat kembali dengan seijin penulis.